Share

Duda Tampan Canduku
Duda Tampan Canduku
Penulis: Chaerani T

1 Ternodai

Langkah Ardian terhuyung ketika ia berjalan menuju kamar putrinya. Ia juga mendengar suara bising dari lantai dasar. Suara musik mengalun keras, sebab sebuah pesta yang digelar saat ini sudah direncanakan oleh anaknya.

Selang beberapa menit, Ardian merasakan pusing akibat terlalu berlebihan mengkonsumsi minuman beralkohol.

Duda berusia lebih dari kepala tiga itu sangat merasa haus. Sehingga ia tidak sengaja mengambil gelas berisi air tawar yang ditaruh di atas meja belajar milik Siska, putri kesayangannya. Tanpa berpikir lama, Ardian segera meminumnya sampai tandas.

Rasa pusing terus membuatnya merasa berat untuk membuka matanya, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan tangannya meraba sesuatu. Ia membuka kedua matanya, lalu tersenyum senang melihat seorang wanita yang sedang tertidur pulas disampingnya.

"Istriku Sekar, apakah kau kembali lagi padaku?" ucapnya dan membuka kancing kemeja miliknya.

Ardian merasakan sesuatu yang menggugah hasratnya, wanita yang terbaring itu hanya terbalut selimut tebal, sehingga Ardian membuka selimut itu dan kedua matanya membulat sempurna. Jelas ia tidak bisa menahan diri lagi untuk menumpahkan segala gairah yang selama ini tidak pernah ia lakukan selain bersama dengan Sekar.

"Sekar, aku sangat merindukanmu, kali ini kau harus kembali menjadi istriku lagi," tuturnya, dan menumpahkan segala rasa rindu terhadap mantan istrinya.

Seketika, ia merasa senang dan puas setelah apa yang dilakukannya bisa membuat Sekar kembali ke dalam pelukannya lagi. Setelah beberapa tahun Sekar menghianati cintanya dan memilih pria idaman lain dan meninggalkan dirinya.

"Aku berjanji akan membahagiakan kamu!" tuturnya, setelah merasa puas menumpahkan hawa nafsunya.

Ayu, gadis itu terbangun lalu merasakan sakit di sekujur badannya. Ia mengedarkan pandangannya, terkejut melihat sosok seorang pria tengah tertidur dan memeluk tubuh polosnya.

Ayu merasakan kulitnya tersentuh hangat, lantas dengan cepat ia melihat tubuhnya yang tertutupi selimut. Cepat-cepat ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pandangan tidak percaya dan spontan berteriak.

"Tidak, tidak mungkin aku ...."

Mendengar suara wanita disebelahnya berteriak histeris, Ardian sontak bangkit terduduk mencari suara wanita yang sudah mengganggu tidurnya. Sama-sama terkejut, Ardian baru menyadari jika wanita yang tidur bersamanya bukanlah Sekar.

"Siapa kamu? berani masuk ke rumahku? Apa yang kamu lakukan di kamar putriku?" tanya Ardian.

Justeru ia baru tersadar dengan jelas jika, dirinya sudah menyetubuhi seorang gadis muda yang tidak ia kenal.

Ayu terus berteriak, air matanya berlinang mengalir, menolak kenyataan yang menimpanya. Ia menangis meratapi kesuciannya yang kini terenggut dalam keadaan yang salah.

"Siska, di mana Siska? Siska dan Sintia mereka yang membawa ku ke kamar ini! Ya, Siska juga yang memberikan minuman kepadaku sehingga aku tertidur disini!" jelasnya, menangis terisak.

"Maaf saya juga tidak tahu kenapa saya bisa melakukan itu semua!" ucap yang mencoba menjelaskan agar tidak terjadi salah paham.

Ayu masih menangis, ia berusaha menutupi. semua urat malunya. Namun, kenyataannya ia sudah terjamah entah dengan pria yang tidak pernah ia kenal.

"Saya mohon maafkan saya! Saya akan bertanggung jawab untuk menikahi kamu, saya janji!" Jelasnya.

"Ini bukan masalah janji, ini masalah harga diri! Apa Anda tahu bagaimana rasa sakitnya di perlakukan seperti ini? Apa yang harus saya katakan kepada orang tua saya? Karena Anda, hidup saya sudah berada dalam ambang kehancuran, hidup saya berakhir!" pekiknya kesal.

Pria dewasa itu hanya bisa terdiam, ia terus mengutuki dirinya sendiri karena ceroboh.

"Tolong beri saya kesempatan untuk menjelaskan kepada orang tua kamu! Saya berjanji akan menikahi kamu! Secepatnya."

Ardian segera bangkit dan pergi untuk membersihkan dirinya, ia juga mengganti pakaiannya dan menyuruh Ayu untuk berganti pakaian. Ia berinisiatif untuk menyelesaikan masalah ini dengan cepat, agar tidak melebar ke ranah luar.

Ayu pun segera beranjak untuk melangkah menuju ke kamar mandi, ia merasakan sakit, ketika sedang berjalan.

Hatinya remuk dan pilu. Apa yang akan ia perbuat, jika keluarganya mengetahui kejadian ini. Tidak mungkin, jika selamanya ia menyimpan aib ini dari orang-orang yang mencintainya.

Tentu saja Ardian menjadi prustrasi, ia tidak bisa berbuat apapun saat ini. Gadis itu tetap diam tidak mau memcari jalan keluar bersama.

"Siapa dia? Apa dia teman Siska? Apa semua ini ulah Siska?" pikirnya sesaat.

Ayu merasakan tubuhnya lemas, ia tidak sanggup melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah.

Ia sudah tidak gadis lagi, kini hanya penyesalan yang ada atas kebodohannya, tidak bisa menjaga diri.

“Ya Allah, ampuni aku!”

Ardian menahan lengan Ayu, ketika gadis itu ingin pergi dari rumah ini. Kedua netranya berbinar, menyesal untuk dimaafkan. Tentu merasa sangat bersalah telah menodai seorang gadis, teman anaknya sendiri.

"Saya antar pulang, saya akan bertanggung jawab, dan memberitahu hal ini pada keluargamu."

"Tidak perlu, saya bisa mengurusi hidup saya sendiri! Dan Anda, tidak perlu ikut campur!" kelakarnya.

"Dengarkan sebentar! Tolong maafkan saya, saya benar-benar merasa bersalah! Saya harus bertanggung jawab atas semua yang saya lakukan!"

"Kamu bertanggung jawab pun tidak akan pernah bisa menghapus semua rasa bersalahku kepada kedua orang tua ku!" teriak Ayu menatap bengis ke arah Ardian.

Ayu melangkah pergi, dan terus menangis, disaat itu hujan pun turun membasahi tubuhnya selama ia berjalan.

"Apa yang harus aku katakan? Bagaimana kalau aku hamil? Lalu ayah, dan ibu, apa mereka akan mengusirku dan tidak menganggap aku sebagai anaknya?"

Ardian merasa gusar, ia memukul dinding sehingga tangannya membiru, setelah Ayu pergi.

Hatinya sedang tidak baik-baik saja, hingga bisikan setan merajai pikirannya.

“Apa aku harus mengakhiri hidupku? Dengan cara itu, mungkin ayah, ibu, dan abang tidak pernah tahu tentang aibku ini?!”

Sebuah bisikan berhasil membuatnya pergi melangkah, dan berdiri di tengah jalan. Mau tidak mau, ini jalan yang akan membuatnya terbebas dari aib dan rasa malu. Ia berusaha menguatkan diri untuk mengakhiri hidupnya.

Sampai terlihat lampu mobil truk mengangkut muatan datang melaju dengan kecepatan sedang, karena cuaca begitu gelap gulita. Sehingga sopir tersebut terkejut dengan sosok perempuan yang menghadang mobil truk.

Tiba-tiba ....

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status