Share

2 Benci yang terasa.

Ayu lantas berteriak, merasakan seseorang datang meraih tubuhnya.

Seseorang memeluk tubuhnya  dan membawa Ayu sampai terguling untuk menghindari mobil yang ingin menabrak Ayu.

Spontan Ayu meronta, ia memukul tubuh pria yang sudah menolongnya.

"Ayu!" Suara pria itu membuat gadis itu langsung menoleh dan terkejut melihat  kehadiran Dika, guru mengaji Ayu.

"Kak Dika?" desisnya terisak.

Ayu mendorong tubuh Dika, ia mencoba bangkit dan meninggalkan Dika yang terlihat bingung.

Pria itu merasa heran dengan keberadaan Ayu, di jalan raya dalam waktu tengah malam seperti ini. Sehingga muncul banyak pertanyaan dalam benaknya, yang tidak mampu ia ungkapkan.

"Aku antar pulang ya Yu," ajaknya, berlari sedikit menyamai langkah muridnya itu.

Ayu merasa lemas, kakinya sudah tidak kuat untuk berjalan. Dengan sigap ia menopang tubuh Ayu dan menggendongnya lau membawa masuk ke dalam mobilnya.

Karena merasa tidak kuat, Ayu pingsan saat Dika membantunya duduk didalam kursi mobil.

"Ya Allah, kamu kenapa Yu?"

Secepatnya Dika melajukan mobilnya menuju ke rumah Ayu. Prasangka kian menebak di benaknya.  “Apa yang terjadi dengannya?”

Ia pun mengantar Ayu pulang ke rumahnya. Sesampainya, mobil pajero tiba dan terpakir di halaman luar keluarga Sandi. Dika melihat kedua orang tua Ayu, sudah berdiri di teras depan pintu rumah.

Dika membuka pintunya dan menggendong Ayu. Melihat hal itu, lantas membuat kedua orang tua berlari mendekat ke arah Dika.

"Ya Allah Ayu!"

Dika mengantarkan sampai di dalam kamar Ayu. Setelah merebahkan tubuh Ayu, Dika langsung pergi keluar dari kamar diikuti langkah pak Sandi yang mencoba mencecar Dika.

"Apa yang terjadi dengan Ayu? Kenapa dia bisa pingsan?"

"Saya tidak tahu Pak, saya bertemu Ayu dan ia sudah terjatuh pingsan di jalan!"

Dika tidak dapat menjelaskan dengan detail, nyantanya ia menemukan Ayu yang berusaha menghadang mobil truk. Tentu, jika ia bercerita akan membuat Ayu dalam masalah besar.

"Kalau begitu terima kasih ya Dika, saya tidak tahu harus berkata apalagi, karena kamu sering menolong Ayu!" balas Sandi, meski ia sedang menghilangkan rasa curiga kepada Dika.

"Kalau begitu saya permisi!"

Dika pamit untuk pulang, ia merasa tidak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya tadi. “Semoga kamu baik-baik saja Yu!”

Dika pergi dengan mengendarai mobilnya.

"Bu, apa dia sedang ada masalah?" tanya Sandi, justeru pertanyaan itu membuat Dewi, ibu kandung Ayu merasa heran.

"Ibu juga tidak tahu Pak, tadi pagi masih baik-baik saja!" balasnya.

Keduanya sibuk dalam pemikiran masing-masing. Jalan satu-satunya, yakni bertanya langsung kepada Ayu,  apa yang membuatnya menjadi aneh seperti ini.

*

Ayu menceracau ketika ia tidur. Justeru jiwanya tengah terluka dan sedang tidak baik-baik saja. Ia bukanlah gadis nakal yang mencoba mencari musuh. Namun, mengapa Tuhan membuatnya hancur seperti ini?

Saat kedua matanya yang terpejam, lalu terbuka. Ia pun ia lega setelah mengamati suasana nyaman di ruang kamarnya.

"Apa aku harus mengatakan semuanya pada Ayah dan Ibu? Tidak ... mereka tidak boleh tahu, tapi bagaimana jika aku hamil?"

Ayu menjambak rambutnya prustasi, ia membuang semua bantal dan selimut ke lantai hingga berserakan. Sampai ia masih terbayang sosok Ardian, pria yang menyentuhnya dan itu membuat Ayu semakin merasa jijik dengan tubuhnya, hingga sesekali ia berteriak histeris.

"Ay, Ayu, Ayu!" Suara berat, membuatnya kaget dan memilih diam, menggerakan kedua tangannya menutupi kedua. telinganya.

"Dek, kamu enggak apa-apa kan? Ay, Ayu, Kakak masuk ya?" tanya Saka lagi, ia cemas akan keadaan sang adik, setelah sang ibu menceritakan kondisi Ayu, semalam.

Pintu yang terkunci, terpaksa harus ia dobrak dengan kencang, sebelum terjadi sesuatu dengan sang adik. Ia terkejut melihat Ayu sedang meringkuk di lantai dan menangis.

"Ayu, kamu kenapa?" Sang kakak mendekati Ayu dan menuntun Ayu, untuk duduk di sofa kamarnya.

Gadis itu menatap manik Saka, berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengatakan segalanya.

"Kak, aku tidak mau hidup, aku ingin mati saja!" tuturnya, membuat Saka bingung dengan keadaannya.

"Kamu bicara apa sih Ay? Kamu kenapa?"

"Kak, aku sudah ternodai, aku ... ingin mati saja!"

"Seorang pria sudah menyentuhku, aku sudah tidak suci lagi, Kak!"

Saka menelan salivanya, hatinya merasa pilu. melihat adik kandungnya menangis histeris seperti ini.

"Katakan siapa yang sudah berbuat seperti itu, kepadamu?"

"Ayah Siska, Kak!"

Saka meradang, ia mengepalkan tangannya dan berusaha untuk pergi.

"Jangan Kak, jangan katakan ini pada Ayah dan Ibu!" pinta Ayu.

"Ay, mereka harus tahu, masa depan kamu sudah dirusak oleh orang itu, dia harus bertanggung jawab atas semua yang ia lakukan padamu"

Saka meninggalkan Ayu yang masih berteriak histeris, Ayu mencoba menghentikan Saka namun Saka sudah pergi menjauh.

“Pria jalang, bisa-bisanya ia merusak hidup Ayu! Pria itu harus kuberi pelajaran!”

Saka mengenal Ardian, Ardian sendiri terkenal sebagai seorang pengusaha yang sukses. Saka pernah bekerja sama dengan Ardian beberapa tahun yang lalu dalam mengelola bisnis sang teman.

Saat ini ia melajukan mobilnya menuju kantor di mana Ardian sedang  bekerja. Setelah sampai, Saka berlari masuk ke dalam kantor dan berteriak memanggil nama Ardian sehingga membuat banyak pegawai yang ikut panik.

"Dimana Ardian?" tanya Saka pada seseorang pria.

"Pak Ardian belum datang Pak! Tolong jangan buat keributan ya Pak, kami sedang bekerja!"

Ardian masuk ke dalam menyapa para pegawainya, langkahnya terhenti melihat, Saka seseorang yang ia kenal, datang menghampirinya

Saka meraih kerah baju milik Ardian, terlihat tatapan tajam Saka yang memandang wajah Ardian.

Satu pukulan di wajah Ardian membuat Ardian tersungkur, beberapa pegawai menahan Saka yang masih ingin melampiaskan kekesalannya.

"Orang ini! Dia yang sudah membuat hidup adik saya hancur, masa depannya hancur, karena pria ini adik saya berniat untuk bunuh diri!" teriaknya begitu murka.

"Kita bisa bicara di ruangan saya, tolong tenangkan diri kamu!" pinta Ardian baik-baik.

"Saat ini saya tidak bisa tenang , saya butuh penjelasan apa maksud kamu ingin merusak hidup adik saya?"

"Saka, saya benar-benar minta maaf, saya tidak tahu jika ada adikmu yang sedang tertidur, di saat itu saya dalam keadaan mabuk, dan maafkan saya terlanjur melakukannya!"

Saka menjadi lebih murka, satu pukulan akhirnya mendarat di wajah Ardian, yang tersungkur dihadapan para pegawainya.

"Malam ini juga kamu harus datang kerumah! Katakan yang sejujurnya kepada orang tua kami, dan kamu harus menikahi Adikku! Kamu yang berbuat, kamu juga harus bertanggung jawab. Kalau memang kamu tidak datang malamini, dengan senang hati saya akan membawa kasus ini menuju jalur hukum!" ucapnya dan berlalu pergi.

*

Rasa bersalah masih membuatnya terus bersikap uring-uringan. Ia takut untuk menghadapi semuanya sendirian. Ia tidak mau dibenci oleh keluarganya. Ia juga tidak sanggup di bully oleh teman satu sekolahnya.

“Baiklah, jalan satu-satunya adalah aku harus pergi selamanya dari dunia ini!”

Langkahnya terus bergerak sampai ia berdiri menghadap balkon dan melihat kebawah, menyiapkan hati untuk melompat dari lantai tiga rumahnya. Suasana rumah sedang sunyi, ia tidak bisa membuang waktu. “Lebih baik aku lompat sekarang!”

Satu kaki kanan terangkat, disusul Ayu menggerakkan kaki kirinya. Kedua tangannya mencoba untuk dilepaskan. Ia berharap setelah menutup mata, ia sudah berada di tempat yang berbeda.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status