Share

Elo jual, gue beli!

"Bulek lupa siapa aku?" tanya Nita sengit. "Aku istri Mas Adam, aku juga punya hak atas rumah ini!"

"Kamu ikut andil apa memangnya?" sahut Bulek sinis. "Sudahlah, lagipula Wati cuma ambil ...."

"Cuma?" seru Nita semakin kesal. "Semua yang Bulek lihat di lantai itu hanyalah cuma buat Bulek?"

Bulek Murni menelan ludahnya kasar sementara Wati melengos melihat Nita yang semakin menjadi.

"Jangan diambil ribut lah, Nit!"

"Keluar!" teriak Nita, "Keluar sekarang juga!"

"Nit, kamu sudah keterlaluan ...."

"Aku nggak peduli!" sela Nita cepat. "Keluar atau aku seret tubuh kalian berdua!"

Bulek Murni menyikut lengan Wati. Keduanya saling pandang dan mengangguk samar.

"Nasib buruk apa yang menimpa kita, Wat. Bisa-bisanya Adam punya istri seperti dia," gerutu Bulek Marni. "Seharusnya dulu Bulek kekeuh saja jodohkan dia sama Melani, dia berpendidikan, bisa menghormati yang lebih tua."

Wati mengangguk takut. Wanita berusia tiga puluh tahun itu menunduk hendak memungut beberapa bahan dapur yang berceceran di lantai dapur Nita.

"Jangan ambil apapun dari rumahku!" Nita menyentak kasar tangan Wati. "Berani ambil satu barang saja, aku injak tangan kamu, Mbak!"

"Nita!" bentak Bulek Marni. "Dia istri kakak ipar kamu, jaga sikapmu!"

"Aku hanya akan menjaga sikap pada orang-orang yang juga bisa menjaga sikapnya di depanku, Bulek. Bulek pikir selama ini aku tidak menghargai Mbak Wati sebagai ipar?" Nita menarik napas panjang. "Apa kurang kebaikan yang sudah aku berikan selama ini? Tapi lihat, apa balasan Mbak Wati ... dia semakin menjadi-jadi bahkan ingin menyetarakan putranya dengan posisiku!"

"Oh, jadi kamu marah gara-gara ...."

"Aku tidak butuh sanggahan apapun, Mbak!" sela Nita lagi. "Cepat keluar dari rumahku!"

Wati mendengus kesal. Dia menarik tangan Bulek Marni dan meninggalkan rumah Nita yang terlihat berantakan karena bahan-bahan dapur yang berceceran.

"Tidak tau diri! Dia pikir harta Adam akan jatuh ke tangan siapa nanti? Dasar mandul!" gerutu Wati dengan suara yang sengaja dikeraskan. "Pantas saja gak bisa punya anak. Pelit!"

"Lihat saja, aku adukan sama Mas Hadi nanti!"

Bulek Marni mengangguk setuju. "Ipar serakah begitu memang seharusnya dikasih pelajaran, Wat. Kalau Hadi yang turun tangan, pasti Adam tidak akan bisa berkutik!"

Blam ...!!!

Nita menutup pintu dengan keras ketika tubuh dua wanita pengacau itu keluar dari dalam rumahnya. Bu Marni terlonjak, begitupun Mbak Wati, mereka mengumpati tingkah Nita yang dianggap kurang ajar.

Di dalam rumah, Nita terduduk di ruang tamu sembari sibuk mengusap air matanya yang meluncur bebas di pipi. Kata mandul selalu saja terngiang-ngiang di telinganya seakan-akan itu adalah aib yang begitu menyakitkan baginya. 

    

Wanita cantik dengan rambut sebahu yang ia kuncir asal itu meremas baju yang melekat di dada. Sakit. 

Bukankah selama ini dia sudah berusaha menjadi ipar yang baik?

Ternyata benar apa kata orang, tidak selalu kebaikan dibalas dengan kebaikan yang sama karena banyak manusia yang ingin dinomor satukan tapi selalu menyakiti manusia yang lain.

Nita menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Berharap sesak di dalam dadanya berangsur berkurang. 

Jam di dinding masih anteng di angka 15.00 WIB, itu artinya kurang satu jam lagi Adam pulang dari kantor. Nita bangkit, untuk yang kesekian kalinya dia menghela napas kasar dan mencoba membesarkan hati atas cibiran yang Wati lontarkan padanya.

Kaki yang semula terasa lemas kini kembali berpijak kuat di lantai rumahnya. Nita berjalan menuju dapur dan membereskan semua kekacauan yang Wati sebabkan. Benar-benar ipar yang menguras emosi.

Mencoba mengenyahkan sakit hatinya pada Wati, Nita memilih untuk menyiapkan makan sore untuk Sang Suami yang sebentar lagi akan pulang.

"Tante."

Nita hampir saja terlonjak. Sosok Farhan berdiri di depan pintu dapur yang sengaja Nita buka agar dapurnya tidak pengap ketika ia memasak.

"Kamu ngagetin Tante aja sih, Han!" gerutu Nita lembut. "Kenapa masuk lewat belakang?"

"Pintu depan ditutup sama Tante," jawab Farhan jujur.

Nita menepuk jidatnya perlahan. Dia hampir lupa karena setelah Mbak Wati dan Bulek Murni keluar, dia segera mengunci pintu agar gangguan tidak datang lagi.

"Tante lagi masak, aku mau dong!" 

Farhan nyelonong masuk dan duduk di kursi makan. Nita menggeleng samar melihat tingkah keponakan suaminya yang acap kali datang untuk meminta makan.

"Mama nggak masak?" tanya Nita sambil meneruskan acara memasaknya.

Farhan menggeleng. Bocah kelas dua SD itu berpangku tangan sembari menyaksikan Nita yang mulai memasukkan ayam potong ke dalam panci.

"Aku dari siang belum makan, Tante," akunya lirih. "Mama kasih nasi hangat sama kecap terus, Farhan bosan," sambungnya.

Nita menghentikan gerakan tangannya. Dia menoleh ke arah dimana Farhan berada. Bocah yang tidak tau menahu urusan orang tua itu terlihat sedih. Ini bukan yang pertama kalinya, setiap sore Farhan akan datang ke rumah Nita dan mengeluh kalau dirinya lapar karena menolak makanan yang Wati suguhkan.

"Mama tau kalau kamu kesini?"

Farhan mengangguk. "Mama yang suruh Farhan ke rumah Tante. Mama bilang Tante masak enak, oh ya, Mama juga bilang kalau Farhan disuruh ambil lauk di meja makan Tante, nanti Mama tunggu di pintu dapur."

"Mama bilang begitu?" selidik Nita ramah. Bagaimanapun otaknya masih waras untuk tidak menghakimi Farhan. Bocah itu tidak bersalah. Didikan orang tuanya lah yang tidak benar. "Tapi itu namanya mencuri, Nak. Mengambil sesuatu tanpa ijin yang punya itu namanya mencuri dan mencuri itu tindakan yang dilarang sama Allah. Dosa!" 

"Jadi Farhan gak boleh ambil makanan di rumah Tante ya?"

"Nggak boleh," sahut Nita cepat. "Kecuali Farhan ijin sama Tante dan minta baik-baik. Insyaallah Tante pasti kasih buat Farhan. Asal jangan ambil sesuatu tanpa ijin. Farhan paham?"

"Paham, Tante," serunya lantang. "Sudah matang belum? Aku lapar," rengeknya kemudian.

Nita mengusap pucuk kepala Farhan dan menyuruh Farhan untuk menyendok nasi sesuai dengan ukurannya. 

"Tunggu sebentar, sekalian tunggu nasinya agak dingin ya," ucapnya.

Farhan mengangguk. Matanya berbinar ketika melihat Nita menuang kare ayam di dalam wadah beling khusus berukuran sedang. 

"Kenapa Farhan gak jadi anak Tante aja ya? Mama gak pernah masak enak kayak Tante. Kecap terus, kecap terus," gerutunya lucu namun mampu membuat hati Nita kembali nyeri.

"Ayo makan dulu, nanti aja ngomongnya!" Nita mengalihkan pertanyaan Farhan. Dia duduk di depan keponakan suaminya dan menatap betapa lahap bocah itu menikmati masakan yang ada di hadapannya. 

"Tante siapkan sayur buat Mama ya, nanti kalau mau pulang kamu bawa, atau tunggu Mama datang jemput kamu di pintu dapur. Oke?"

"Oke, Tante!"

Nita tersenyum licik. Dia mengambil mangkuk plastik dan menuang sisa kuah yang masih banyak di panci. 

Sengaja, Nita meletakkan mangkuk di atas meja makan dan mengamankan lauk miliknya ke dalam lemari kaca yang sudah ia kunci. 

"Nanti kalau Mama datang, suruh bawa kuah ini ya." Farhan mengangguk patuh. Bocah kecil itu kembali fokus pada makanan di depan mata tanpa peduli kemana Nita akan pergi.

Nita berjalan menjauh dari dapur. Benar saja, tidak lama Mbak Wati datang dan masuk begitu saja sembari mengambil mangkuk di atas meja makan dengan senyuman licik.

"Mana lauk buat Mama?" tanya Mbak Wati sambil berbisik.

Farhan menunjuk mangkuk di depannya, "Itu, Ma. Sudah disiapkan sama Tante Nita. Bawa saja, Farhan masih mau disini, nih nasi Farhan belum habis," ucapnya bahagia karena dua ayam potong sengaja Nita berikan di piring Farhan.

Mbak Wati melenggang pergi tanpa peduli ucapan putranya. Setelah memastikan Mbak Wati keluar dari dapur rumahnya. Nita segera mengunci pintu dapur sambil menahan tawa ketika mendengar suara Mbak Wati mengumpati kelicikannya. 

"Kurang ajar! Ini kuah doang, ayamnya mana? Benar-benar ya kamu, Nita!"

Bersambung 

 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status