Share

3. AMARAH JUNA

“Kenapa kaca mobil lo? Tadi gue parkir di samping mobil lo, dan lihat kacanya pecah.”

Saat ini, Juna sedang berada di sebuah lounge mewah di kota kembang. Dia memiliki janji untuk bertemu dengan Stefan–teman baiknya sejak duduk di bangku perkuliahan.

“Insiden,” jawab Juna irit sembari meneguk whisky dalam sloki.

Kemudian dia melirik ke arah pergelangan tangan kirinya–melihat jarum jam pada arloji yang sedang ia kenakan. “Cih. Ada ya, orang yang ngajak ketemuan itu yang telat dibanding orang yang diajaknya.”

Stefan menyandarkan punggungnya pada kursi. “Sorry, gue tadi ada masalah dulu sama istri. Biasalah, agak gimana kalau gue pergi malam.”

Juna memutar bola matanya malas sembari membuang napas kasar.

“Ah, sorry lagi.” Mendadak Stefan tidak enak karena menyinggung soal istri. “Makanya deh, Jun. Lo cepet cari cewek lagi yang bisa diajak serius,” saran sahabat Juna itu.

Juna hanya mendengus dan membuang muka. “Lo kayak nggak tahu kondisi gue aja, Stef,” timpalnya.

“Belum sembuh juga? Bukannya lo pernah bilang, kalau milik lo itu sekarang udah bisa respon?” tanya Stefan sembari melirik ke arah bawah sana.

Juna menggeleng. “Kecuali dengan suara Bella,” ucapnya dengan suara yang terdengar pelan.

“Ngomong-ngomong tentang Bella. Lo nggak ada niat buat temuin dia? Bukannya dia bilang kalau orang sini? Nah, sekalian aja samperin, siapa tahu bisa diajak serius,” saran Stefan.

Mendengar nama Bella, Juna semakin kesal. Gadis yang tiba-tiba memberikan kabar sepihak itu– pernah memberi tahu kalau dia tinggal di kota ini. Namun, Juna tidak ingin bertemu dengannya. Juna merasa mendapatkan pelayanan via telepon sudah cukup. Terlebih, Juna khawatir kalau pertemuan dengan Bella, tidak berbuah baik.

Memang suara perempuan itu bisa membuat milik Juna tegang. Tapi … belum tentu jika bertemu langsung, bukan?

Dulu, Juna pernah beranggapan kalau dirinya sudah sembuh setelah sering melakukan phone sex dengan Bella. Dia bahkan memutuskan untuk berhubungan dengan seorang perempuan. Namun, ternyata hasil tidak sesuai dengan harapan.

Milik Juna tidak merespon: loyo dan tak bertenaga saat mendapatkan sentuhan dari seorang wanita.

“Ck!”

Mendengar decakan malas temannya, Stefan menggelengkan kepala. “Jun, lo udah coba cek lagi ke dokter? Nanya kabar alat reproduksi lo gitu? Apa nggak ada treatment untuk menyembuhkannya? Kalau gini terus, kapan lo bisa punya istri?”

Stefan menarik punggungnya dari kursi, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Juna. “Ya, mungkin di luar sana banyak yang antre buat dapetin lo. Tapi, kalau kondisi lo kayak gini, yang ada lo gagal lagi gagal lagi dalam pernikahan.”

“Udahlah, lo nggak usah bahas hal itu. Dari dulu, gue juga udah coba segala macam perawatan. Dan, nggak ada yang berhasil. Cuman sama suara Bella milik gue merespon. Gue juga nggak tahu kenapa.”

Juna kemudian menyisir rambutnya kasar.

Di balik wajah tampan, tubuh kekar, dan harta yang tak ternilai–Juna memiliki sebuah kekurangan yang menjadi aib yang dia tutup rapat-rapat. Kecuali kepada dua orang; Stefan dan Amara—mantan istrinya.

Kekurangan ini pun yang menjadi faktor utama kehidupan rumah tangga Juna kandas. Perempuan mana  yang menginginkan suaminya mengidap impotensi?

Kalau ditanya apa penyebab Juna bisa mengidap gangguan dengan alat reproduksinya. Juna juga tidak tahu.

Tiba-tiba saja, lima tahun lalu, dia sudah mengidap penyakit ini. Dan selama lima tahun itu juga Juna tersiksa. Padahal, Juna dulu terkenal bisa memuaskan para wanita yang pernah digagahinya.

“Ya udah, kalau memang cuman Bella. Lo kudu ajak dia ketemu, siapa tahu dia mau juga kasih treatment buat lo secara langsung, dan lo sembuh.”

Juna mendengus dan menyandarkan punggungnya. “Mau ajak ketemu dia gimana? Lagi pula dia bilang kalau nggak bisa layanin gue.”

“Lho, kok bisa? Bukannya setahun ini kalian aman-aman aja. Lo sendiri suka bayar dia, kan?” Stefan sedikit tersentak ketika mendengar kabar tersebut. 

“Dia udah nggak kerja dengan agensinya. Gue juga udah coba hubungi orang yang selalu jadi penghubung antara gue dan Bella, tapi nggak diangkat.”

Tersirat perasaan putus asa dari wajah tampan Juna.

Benar, dia sudah mencoba menghubungi Aldi beberapa kali, tapi hasilnya nihil. Bahkan sepertinya Aldi memblokir nomornya.

Memang sialan! Padahal selama ini Juna merupakan client mereka yang loyal. Tapi, kenapa sekarang diberikan keputusan sepihak? Bagi Juna yang sudah ketergantungan dengan Bella, tentu hal ini tidak adil!

Terlihat Stefan pun termenung. Dia merasa sedikit kasihan pada Juna.

Padahal semasa kuliah, Juna tidak pernah merasakan ditinggal perempuan. Mereka justru siap sedia mengantre untuk temannya itu. Namun, sekarang Juna malah dicampakkan oleh perempuan karena kekurangannya. Bahkan, Juna harus menutup mulut mereka dengan uang–agar tidak menyebarkan aib Juna secara terang-terangan.

“Jun, gimana kalau kita balik ke Yogya?” Tiba-tiba Stefan teringat sesuatu hal di kota pelajar itu.

“Untuk?”

“Kita cari nenek-nenek yang saat itu kita temui di lereng gunung merapi. Gue punya feeling ucapan nenek itu ada benernya.”

Juna mendengus sambil menggeleng. “Kenapa lo masih inget sama omongan si nenek tua itu, sih?”

“Siapa tahu ada benernya, bukan? Sekarang, kalau dipikir pakai logika, secara medis lo baik-baik saja. Mau diobatin ke negara maju sekali pun, kayaknya kondisi lo bakal kayak begini. Dan, siapa tahu omongan nenek tua itu bener. Lagian, lo nggak ngerasa aneh gitu? Pas kita lagi jalan-jalan, tiba-tiba nenek itu nyamperin kita dan bilang hal itu sama lo.”

Juna tidak mengingat secara detail apa yang terjadi hari itu. Lagi pula kejadian itu sudah bertahun-tahun lalu. Namun, saat ini dia merenung, memijat keningnya dan mencoba me-review kembali.

“Coba lo renungi baik-baik. Gue yakin omongan nenek itu ada benarnya,” ucap Stefan meyakinkan.

Melirik ke arah sahabatnya yang sedang memasang wajah serius, Juna pun menghembuskan nafasnya kasar dan termenung.

BERSAMBUNG …

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rainfall
si Juna aneh banget ya. bukannya konsultasi ke dokter malah nganu nganu sex phone. ketauan banget ya jonesnya :"
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status