Share

4. MASALAH BARU

“Selamat, ya,” ucap seorang laki-laki dengan rambut belah tengah ala-ala cowok dari negeri gingseng. Dia memberikan bunga mawar berwarna putih dan merah muda pada Irene yang tengah memakai toga wisuda.

“Eh? Ma-makasih, Reno.” Irene segera menerima buket bunga pemberian dari laki-laki jurusan ilmu komputer itu.

Terlihat wajah Irene memerah. Bahkan, sesekali dia menjilat bibirnya yang tidak kering sama sekali.

Ah, sial! Entah kenapa Irene merasa dirinya jadi salah tingkah. Padahal, dia hanya diberi bunga oleh pria itu.

“Doakan aku cepat menyusul ya,” tambah Reno sembari melemparkan senyum manisnya.

Oh my good! Hati Irene meleleh tatkala melihat senyuman yang begitu menghangatkan hatinya.

Irene memang sudah menyukai Reno sejak dari semester tiga. Mereka bertemu saat mata kuliah olahraga. Kebetulan, jurusan ilmu komputer mendapatkan jadwal yang sama seperti jurusan sejarah. Dan, di sana pun Irene mengenal Aldi. Ketiganya pernah berada di satu kelompok yang sama.

“Ah, tentu. Aku selalu doakan yang terbaik untuk kamu dan Aldi,” timpal Irene.

“Nggak buat aku sendiri aja? Harus ada Aldinya?” goda Reno.

Alamak! Jantung Irene tak bisa dikontrol lagi sekarang. Dia benar-benar ingin berlari mengelilingi fakultasnya sekarang.

“Ya … kan, kalau doa itu—”

“Ren!”

Tiba-tiba seorang laki-laki menginterupsi. Sontak Reno yang tadi sedang menatap Irene langsung menoleh ke belakang.

“Udah beres, belum? Ini kita diminta balik ke fakultas, udah mau mulai acaranya,” kata teman dekat Reno.

Reno melirik ke arah Irene tidak enak. Namun, gadis itu hanya mengangguk–mempersilakan Reno jika dia harus segera pergi.

“Oh, oke. Kita caw,” balas Reno pada Alfi, kemudian kembali melihat Irene, “Nanti, aku chat, ya. Kita makan malem bareng. Ok?”

Apa? Makan malam bersama dengan Reno? Serius? Irene tidak salah dengar, kan? Bagaimana ini? Rasanya, wajah Irene semakin memanas. Bukan karena marah, tapi malah sebaliknya, dia merasa sangat bahagia sekarang.

“Oh, i-iya. A-aku tu-tunggu,” sahut Irene yang mendadak gagap.

Reno hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Irene.

“Siapa?” Suara bass di telinganya berhasil mengejutkan Irene. Mendadak, perempuan itu kembali pada mode normal.

“Hah? Siapa, siapa?” tanya Irene pada laki-laki yang terlihat lebih muda darinya. Dia nampak bingung ketika ditanya pertanyaan seperti itu.

“Cowok tadi,” timpalnya dengan nada dingin. “Pacar? Atau masih kecengan?”

“Oh, itu … temen doang. Nggak usah dipikirin, Gie.”

“Nggak yakin kalau cuman temen, Kak. Pasti kalian lagi deket, kan? Soalnya sampe ngajak makan malem gitu,” terang Irgie–adik dan keluarga inti satu-satunya yang Irene punya.

“Apaan, sih, Gie? Nggak, kok! Udah nggak usah dihiraukan, sekarang antar kakak ketemu keluarga Kak Gita, yuk!” ajak Irene mencoba mengalihkan pembicaraan adiknya itu.

“Denger, ya, Kak. Pokoknya, kalau Kakak sampai dekat atau pacaran sama dia, Irgie nggak akan restui. Dia tuh vibes-nya bukan cowok baik-baik,” kata Irgie memberikan sebuah peringatan pada Irene mengenai Reno.

Namun, bukannya menanggapi dengan serius, Irene hanya menggelengkan kepalanya.

“Apaan, sih, Gie. Kakak bilang, kan bukan siapa-siapa. Ayok, ah, kita temui keluarga Kak Gita,” ajak Irene.

***

Irene benar-benar tidak mempedulikan saran Irgie.

Malam harinya, Irene tetap pergi menemui Reno..

Biasanya malam setelah wisuda, orang-orang akan berkumpul dengan keluarganya. Namun, hal itu tak bisa dirasakan oleh Irene. Irgie, adik satu-satunya Irene pun harus segera pulang ke kampung halaman, karena besok dia harus kembali sekolah.

Orang tua? Tidak ada. Keduanya menjadi anak yatim piatu sejak Irene lulus SMA. Ibu mereka meninggal saat melahirkan Irgie, atau saat umur Irene tujuh tahun. Kemudian, ayahnya menyusul sebelas tahun kemudian.

Awalnya, Irene bahkan tidak berharap dia bisa kuliah. Dia berniat untuk bekerja, karena harus membiayai adiknya. Namun, dia mendapatkan kesempatan beasiswa di Universitas Wastukencana. Selain itu, Bibinya bersedia untuk mengurus Irgie di Tasikmalaya.

“Kita makan di sini aja, gapapa?” tanya Reno–menyadarkan Irene dari lamunan.

Saat ini, mereka berdua sedang berada di parkiran salah satu tempat steak yang lumayan terkenal di sana. Tempatnya pun tidak jauh dari tempat kosan Irene.

“Nggak papa, santai di mana aja,” jawab Irene dengan cepat, sembari memberikan helm pada Reno.

“Oke.”

Reno dan Irene pun jalan bersamaan memasuki tempat makan tersebut. Namun, belum juga mereka berdua tiba di pintu masuk—mungkin jaraknya masih enam meter lagi. Tiba-tiba Irene melihat sosok laki-laki tampan nan gagah yang dua hari lalu bertemu dengannya.

“Mampus!” ucap Irene pelan yang tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat Juna. Namun, ternyata ucapannya itu terdengar oleh Reno.

“Hah? Kenapa, Ren?” tanya Reno.

Irene tak langsung menjawab. Kedua bola matanya masih sibuk melihat ke arah tempat makan–memperhatikan Juna yang sedang kebingungan.

“Irene?” panggil Reno karena tak kunjung mendapat jawaban dari Irene.

“Hah?” Irene mengerejap, melihat ke arah Reno. “Oh, Ren, gimana kalau kita pindah tempat makan. Kalau kamu mau makan steak, kita ke daerah ….” Irene mencoba mengingat tempat steak yang tidak jauh dari sini. “Daerah DU aja gimana?” tanya Irene.

“Memangnya kenapa?” Reno balik bertanya karena penasaran.

“Mmm … kayaknya di sini lumayan penuh. Kita ke daerah DU aja, yuk!” Irene menarik lengan baju Reno, dan membawanya kembali ke parkiran motor.

Sebisa mungkin, Irene tidak bertemu dengan Juna. Hari ini adalah hari bersejarah untuk Irene. Dan, dia tidak ingin hari indahnya harus dirusak oleh Juna dan fakta tentang hutang Irene padanya.

Untungnya, Reno tidak banyak protes. Laki-laki itu pun menurut dengan apa keinginan Irene. Keduanya gegas pergi  ke arah parkiran dan langsung pergi ke daerah DU–sesuai saran dari Irene.

***

Di sisi lain, Juna baru saja memasuki tempat makan khusus steak itu. Dia melirik ke kiri dan ke kanan, seperti sedang mencari seseorang. Sedetik kemudian pandangannya terhenti, tatkala melihat sosok laki-laki dengan kaos putih berbalut jaket levis sedang memainkan ponselnya.

Tak menunggu lama Juna pun menghampirinya.

“Mas Aldi?”

BERSAMBUNG ….

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status