Share

bab 33. Arif versus Narendra

Flash back on.

Arif menutup teleponnya dengan perasaan yang campur aduk. Ini kesekian kalinya, Ana menelepon nya dan menanyakan kapan Arif pulang.

Dan Arif juga sudah kesekian kalinya berbohong bahwa Arif masih sangat sibuk dengan pekerjaannya dan belum bisa pulang.

"Kenapa kamu?" tanya maminya sambil membawa piring besar berisi ayam dan tahu krispi.

Arif menghela nafas panjang dan menatap mamanya dengan pandangan bingung.

"Aku kangen Ana, Mi."

Maminya menarik kursi di hadapan Arif dan menduduki nya.

"Ya sudah. Kalau begitu kamu jenguk saja anak kamu. Ayo, mami juga ikut."

Arif menopang dagunya dengan tangan. "Apa mami pikir akan semudah itu untuk menjenguk Ana? Arif bisa berbohong kalau lewat telepon. Tapi kalau bertemu langsung dengan Ana, Arif tidak akan berani berbohong. Arif tidak tega untuk mengatakan bahwa ayah dan ibunya sudah bercerai."

Maminya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Terus kamu maunya apa? Itu kan semua menjadi salah kamu. Seharusnya sebelum kamu selingk
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status