Share

Menikahi Anak Presdir
Menikahi Anak Presdir
Penulis: Resa Anisa

01. Putri Presdir

"LEPAS!"

"LEPAS!"

"Jangan keras kepala, Arawinda! Saya tidak mengijinkan kamu pergi kemana pun!"

Mata bulat Arawinda menatap sinis pada sosok tinggi di hadapannya. Seolah mengobarkan api merah panas, Arawinda, untuk kali ini, mencoba memberanikan diri melawan Kaivan. Suaminya. "Kamu tidak berhak sama sekali mengatur-atur saya!"

Arawinda sudah terlalu muak dengan Kaivan. Semenjak menikah, lelaki itu tak membiarkannya keluar satu langkah pun dari rumah. Arawinda diperlakukan seperti seorang tahanan gila yang harus tetap diam di dalam kamar.

"Ingat? Pernikahan kita terjadi karena kamu menginginkan harta Maheswara Group kan? Jadi cukup jalankan misi kamu dan pergi dari sini," titah Arawinda.

Cengkraman jari-jari panjang milik Kaivan semakin erat mengitari pergelangan tangan Arawinda.

Ya, Arawinda adalah anak dari Presdir Meheswara Group. Rajendra Maheswara.

"Laki-laki murahan dan gila harta seperti kamu, saya betul-betul jijik melihatnya."

Dan tanpa aba, Kaivan langsung menarik tangan Arawinda. Menggusur tubuh kurus gadis itu ke arah kamar.

"Lepas!"

Kaivan seolah tuli, ia tak mendengarkan ocehan Arawinda sama sekali. Lelaki itu terus melangkah sampai ke kamar Arawinda dan melempar tubuh istrinya kasar ke atas pembaringan. "Diam dan menuruti perintah saya adalah tugas kamu, Arawinda."

Setelah berkata dengan nada dingin, Kaivan yang masih mengenakan jas abu-abu di tubuh kekar berototnya itu melangkahkan tungkai untuk keluar dari kamar sang istri sembari berpesan pada penjaga di depan untuk tidak melepaskan atau membiarkan Arawinda keluar dari dalam sana.

Melihat hal tersebut, Arawinda pun menangis. Ia sudah sangat frustasi menghadapi Kaivan. Ia sudah sangat frustasi dengan pernikahan ini.

Kenapa Papi tega menikahkan ia dengan sosok laki-laki yang begitu dingin dan jahat seperti Kaivan?

Sungguh, karena Kaivan, hidupnya bertambah hancur.

Padahal ia telah kehilangan Mami sejak umur tujuh tahun, lalu ia tak pernah diperhatikan oleh Papi selama 25 tahun sejak lahir ke dunia, dan tiba-tiba saja ia juga harus menikahi sosok sekeji Kaivan Yudhistira.

Apa yang sebenarnya Papi pikirkan? Kenapa paruh baya itu melempar Arawinda ke dalam pernikahan seperti neraka ini?

"Nyonya Arawinda."

Sosok yang memakai baju khas pekerja di rumah datang menghampiri Arawinda dengan tubuh gemetaran takut.

Menghadapi Arawinda yang tengah menangis gila dan habis bertengkar dengan Kaivan sama dengan menyerahkan diri ke kandang macan.

"Nyonya Arawinda membutuhkan sesuatu?"

Mata merah basah Arawinda menatap sosok di depannya, penuh dengan kemurkaan sampai-sampai kepala pelayan tersebut mundur dengan bulu kuduk yang sudah berdiri.

"Bawakan saya alkohol!"

Alkohol?

Jelas-jelas Kaivan melarang Arawinda untuk minum bahkan laki-laki itu menyingkirkan semua alkohol yang ada di rumah ini.

"Tapi, Tuan Kaivan sudah—"

Dan jeritan keras Arawinda terdengar, gadis itu dengan asal menjatuhkan barang-barang di meja riasnya ke lantai sampai terdengar suara-suara pecahan kaca dari sana.

Kenapa ia harus menikahi laki-laki yang tak ia cintai? Kenapa ia harus menikahi laki-laki yang tak menghargainya?

Demi apapun, Arawinda membenci Kaivan sampai ke tulang, Arawinda ingin Kaivan mati secepat mungkin!

"Keluar dari kamar saya!" teriak Arawinda pada kepala pelayan. Gadis itu menunjuk pada pintu keluar kamar. "Keluar sekarang juga!"

Kepala pelayan langsung menganggukan kepala dan kemudian bergerak keluar dari kamar Nyonya-nya. Meninggalkan Arawinda sendirian dalam tangis pedih yang bergema menyelimuti ruangan tersebut.

Gadis itu tak ingin hidup sekarang.

Gadis itu tak ingin lagi melangkah dalam pedihnya siksaan Kaivan.

^^^^^^^

"Apa yang dia lakukan sekarang?"

"Tadi Nyonya minta alkohol, tapi—"

"Alkoholnya sudah saya buang semua." Kaivan menelan ludah. "Apapun yang terjadi, jangan sampai dia minum-minum lagi."

"Baik, Tuan. Saya permisi keluar sekarang."

Kaivan mengangguk dan membiarkan kepala pelayan berlalu dari dalam ruang kerjanya.

Desah napas lelaki itu terdengar. Kaivan menutup tirai mata. Lelah sekali harus mengurusi Arawinda yang keras kepala. Setelah menikah satu tahun, hari ini, kedua kalinya Arawinda mencoba memberontak untuk pergi keluar dari dalam rumah.

Gadis itu ... pantas saja jika Pak Rajendra—Papi-nya—pusing tujuh keliling. Susah diatur, arogan dan keras kepala. Kaivan kembali mendesah dan berdiri. Melangkah ke jendela besar di ruang kerja, ia pun melepaskan jas dan menyisakan kemeja putih yang menutupi tubuh tegapnya. Kulit yang tidak terlalu putih nampak kala Kaivan menggulung lengan kemeja tersebut.

Banyak hal yang harus ia kerjakan hari ini di hotel.

Ya, ia yang kini mengelola Maheswara Group. Sang presidir, atau ayah mertuanya menyerahkan kewenangan tersebut tepat setelah ia menikahi Arawinda.

Maheswara Group merupakan perusahaan yang membentuk Maheswara Hotel, business lounge untuk VVIP yang digadang-gadang sebagai juara untuk memberikan pelayanan bagi pengusaha kaya raya.

Tangan besar Kaivan sesaat kemudian masuk ke dalam saku celananya, mengambil ponsel yang berdering memecah hening. Panggilan dari Rajendra datang. Padahal ia baru saja memikirkan paruh baya itu.

"Kaivan."

"Ya, Pak Rajendra," jawab Kaivan lugas.

"Saya meminta kamu dan Arawinda untuk makan siang besok. Kamu punya waktu untuk membawa Arawinda ke hadapan saya?"

"Baik, akan saya usahakan." Kaivan tak akan pernah menolak apapun permintaan Rajendra.

"Bagaimana keadaanya sekarang? Semua baik-baik saja?"

Kaivan mengerti bahwa kini Rajendra tengah menanyakan tentang putri semata wayangnya. Putri yang terlalu ia manjakan dengan uang selama ini sehingga menjadi sosok egois. "Baik, Arawinda sangat baik."

Tentu saja Kaivan berbohong. Ia tahu kalau kini Arawinda masih menangis liar di kamar sana.

"Syukur kalau begitu, kamu juga, tolong jaga diri sebaik mungkin, Kaivan."

"Saya akan selalu menjaga diri sesuai perintah Anda."

"Lalu hotel? Apa ada masalah dengan perombakan ruangan SUPER VVIP yang sedang kamu jalani?"

"Tidak ada masalah sama sekali. Saya sudah mengontrol semuanya sebaik mungkin Pak Rajendra."

"Saya tidak salah mempercayakan hotel ke tangan kamu, Kaivan."

Kaivan tak menjawab pujian tersebut. Lelaki itu malah menatap langit malam yang nampak pekat diselimuti kegelapan. Baik bintang dan baik bulan tidak menerangi bumi hari ini.

"Saya juga mempunyai pembicaraan lain, ini tentang pesta pertemuan kolega yang akan terlaksa di hotel bulan nanti."

"Baik, saya mengerti Pak Rajendra. Besok akan saya siapkan tempat untuk makan siang dan jemputan bagi Bapak."

"Tidak usah jauh-jauh, kita makan siang di rumah kalian saja. Agar Arawinda tidak perlu pergi keluar. Saya tutup teleponnya sekarang."

Mendengar hal tersebut, Kaivan pun membasahi bibir bawah, lelaki itu menjauhkan ponsel yang sebelumnya menempel di telinga.

Apa yang harus ia lakukan pada Arawinda agar anak itu mau untuk turun makan siang besok bersama Rajendra?

Tangan Kaivan mengerat memegang ponsel. Kepalanya hampir pecah hari ini.

Berbalik, Kaivan pun pergi ke kamar Arawinda secepat yang ia bisa. Dan saat membuka pintu kamar tersebut, tiba-tiba sebuah vas melayang dan menghantam keras kepalanya sebelum jatuh dan pecah di lantai.

Arawinda benar-benar gila!

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status