Share

Istri Dipelet Dukun Bertindak
Istri Dipelet Dukun Bertindak
Penulis: LuCIE

Mbah, tolong terawang Istri saya.

"Mbah, tolong terawang Istri saya. Akhir-akhir ini dia jadi pendiam dan selalu mengacuhkan saya, hampir setiap pulang kerja, saya tak menjumpai dia di rumah," ujar Aldo dengan sedikit gugup di hadapan pria berjanggut putih yang mengaku sebagai dukun sakti mandraguna di daerah itu. 

"Hm ..." Dukun itu berdehem seraya mengelus janggut panjangnya. 

"Berat Pak, ini berat sekali ...," lanjut Dukun itu kemudian. 

"Kenapa Mbah? Apa yang salah dengan Istri saya?" tanya Aldo gelisah. 

"Istri sampean dipelet seseorang," ujar sang dukun pendek. 

"Apa dipelet seseorang? Pria mana yang tertarik dengan wanita kucel seperti dia!" Aldo meraup wajah dengan kasar seraya mengepalkan tangan di atas meja. Pria itu mulai berfikir keras serta mulai mengingat-ingat siapa saja yang berinteraksi dengan sang Istri belakangan ini.

Sang dukun menatap pria di hadapannya dengan tatapan tajam, sorot matanya menjelaskan bahwa ada tujuan lain dari setiap ucapannya. 

"Apa kamu sangat mencintai Istrimu?" tanya dukun itu kemudian. 

Aldo tampak berfikir, dalam hatinya ia sebenarnya tak terlalu penting mencintai atau dicintai karena yang paling penting baginya saat pulang ke rumah ia harus dilayani dengan baik dan semua kebutuhannya harus disiapkan. Masalah kepuasan bathin, ia bisa dapatkan dengan mudah dari wanita simpanannya di luar sana.

Toh tak masalah, selama ini ia mampu memberi makan anak Istrinya tiga kali sehari serta jatah bulanan sebesar satu juta lima ratus, itupun sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga serta biaya sekolah putranya. 

"Sepertinya kamu tidak benar-benar mencintai Istrimu?" selidik dukun itu tanpa berkedip. 

"Aduh Mbah, bagi saya yang terpenting saat saya pulang ke rumah, Istri saya harus melayani saya sebaik mungkin, itu saja, hal sederhana, bukan?" Aldo berujar seolah semua yang ia lakukan selama ini selalu benar. 

 

Dukun itu manggut manggut seraya kembali mengusap janggutnya. 

"Lalu apa yang kamu mau?" tanya dukun itu kemudian. 

Aldo  menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. 

"Saya mau, Istri saya kembali patuh seperti sebelumnya, berada di rumah setiap saat dan menuruti semua kemauan saya," terang Aldo. 

 

"Baiklah, soal itu gampang saja, hanya saja maharnya berat ...," sang dukun berujar seraya memperhatikan jam tangan mahal serta mobil mewah yang tengah terparkir di luar rumahnya. 

 

"Apa itu, Mbah? tinggal sebut saja nominalnya!" Aldo menerangkan kesanggupannya dengan yakin dan penuh kesombongan. Benar-benar tipe pria yang populasinya harus segera dimusnahkan dari muka bumi. 

"Begini, Mbah punya keris, keris ini bernama cempaka gading, fungsinya untuk mengikat Istri kamu agar kembali patuh dan semakin cinta padamu, saja jamin Istrimu akan sangat  tergila gila padamu dan tidak akan menolak semua keinginanmu,"

Sang dukun mengeluarkan sebuah benda pipih dari bungkusan kain putih yang terlihat sudah usang dan memberikannya kepada Aldo. Dengan hati-hati Aldo meraih benda itu dan menelitinya sejenak. 

"Bagaimana cara kerjanya?"tanya Aldo kemudian. 

"Sangat gampang, celupkan ke dalam minuman yang akan diminum Istrimu, paham?" sang dukun berujar sambil menatap Aldo, meminta persetujuan. 

"Paham, Mbah! Bagaimana dengan maharnya?" tanya Aldo lagi. 

"Dua puluh juta," ujar sang dukun seraya memperhatikan ekspresi pria di depannya. 

Mendengar mahar yang lumayan besar, seketika jiwa pelit Aldo meronta ronta tapi ia segera menyanggupinya karena sudah terlanjur koar-koar seakan mampu memenuhi semua syaratnya. 

"Mbah," Aldo tampak ragu seraya memandang sang dukun yang tengah mengantarnya ke parkiran mobil. 

"Ada apa?" sang dukun menatap tajam sambil melipat kedua tangan di dada. 

"Apa ...  apa tidak bisa nego?" Akhirnya dengan semua keberanian yang tersisa, Aldo menanyakan prihal keberatannya. 

Sang dukun tampak kaget tapi berusah tetap tenang. 

"Bisa, tapi kualitas kerisnya juga akan berkurang," 

Mendengar ucapan sang dukun, Aldo sedikit terkejut namun buru buru minta maaf dan segera berpamitan. 

"Dasar laki laki pelit," gerutu sang dukun sembari berbalik arah menuju teras rumahnya. 

 

Namanya Aldo Suganda, pria berumur 37 tahun dengan perawakan tinggi kekar serta berjambang. Dia tampan dan begitu menggoda, tatapannya tajam, setajam silet. 

Dari sekian banyak kesempurnaan fisik yang dimilikinya, Aldo nyatanya adalah sosok Suami dan juga seorang Ayah yang  gagal. 

Pelit, perhitungan, serta doyan selingkuh merupakan tabiat buruknya yang telah mendarah daging. 

Anjani, Istri yang telah dinikahinya hampir 10 tahun lamanya itu sampai kewalahan menghadapi tabiat buruk sang suami.

Sampai pada suatu hari, ia berniat membalas semua perbuatan  suaminya dengan bantuan pamannya yang baru datang dari luar kota. 

Dukun palsu dengan kemampuan akting yang totalitas, demikian strategi yang akan di pakai Anjani dan sang paman untuk mengeruk habis tabungan Aldo yang telah cukup lama menyengsarakannya  selama ini. 

Tak lama setelah kepergian Aldo, sang dukun tampak bersantai di teras rumah sambil menikmati semburat senja di ufuk barat. 

Beberapa menit berselang, seorang wanita dengan daster lusuh serta rambut yang terlihat gimbal muncul dari dalam rumah sambil membawa nampan berisi segelas kopi hitam kesukaan sang dukun. 

"Ini, ambilah .... pakai lah untuk perawatan dan membeli pakaian yang mahal, Suamimu itu benar benar pelit!" ujar sang dukun yang terlihat kesal. 

"Terima kasih, Paman. Berkat ide Paman, aku juga bisa segera melunasi biaya tunggakan sekolah Rio," ujar Anjani, binar bahagia terlihat jelas dari kedua netranya. 

"Ngomong ngomong, keris apa yang Paman berikan pada Mas Aldo?" tanya Anjani penasaran. 

"Keris mainan, paman beli selusin dari pasar malam. Tadinya ingin Paman berikan untuk mainan Rio," terangnya sembari terkekeh. 

"Tapi jagalah rahasia ini sebaik mungkin, Paman masih ingin menerima banyak amplop  tebal dari suamimu."

Anjani menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Ia tak menyangka kalau pamannya begitu totalitas dalam membantunya beserta putra kesayangannya. 

Wanita dengan wajah kusam itu sudah begitu lama kehilangan rona merah di pipinya, sudah tak bisa mengingat dengan jelas kapan terakhir kali ia merasakan hangatnya pelukan sang suami, bahkan terkadang sekedar rasa ingin bercengkrama pun ia tak bisa mengutarakannya

Suaminya sibuk dengan kehidupannya, pekerjaannya dan tentu selalu sibuk dengan wanita wanita cantik di luar sana tanpa peduli bahwa dirinya semakin hari semakin layu, redup dan kehilangan semangat hidup. 

"Paman, jangan terlalu keras padanya," ujar Anjani di sela-sela lamunannya. 

Pria berjanggut panjang itu menoleh sebentar kemudian menggeleng lemah. 

"Kamu yang terlalu lemah padanya," balas sang paman kemudian. 

"Bukankah semua orang pernah khilaf, jika nanti Mas Aldo berubah dan ingin memperbaiki hubungan kami, aku akan memberi kesempatan padanya, Paman." Anjani berujar dengan kedua netra berkaca kaca, ada sesak di hatinya serta keraguan bahwa suaminya akan berubah di kemudian hari. 

"Terserah pada mu saja, Paman hanya sekedar membantu," ujar sang paman lembut.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status