Share

DUA

"Kang Malik digerebek warga di masjid, Mah!"

Abdul berteriak kencang dari luar rumah sambil meraup udara dengan rakus karena berlari terbirit-birit dari masjid sampai rumah. 

"Ada apa ini teh, Abdul? Kamu jangan ngawur kalau ngomong! Malu atuh didenger tetangga," tegur Bu Santi yang baru saja keluar menghampiri sang putra, ia melirik sekilas tetangga kepo yang juga ikut keluar di sebelah rumah.

Bocah berusia tujuh tahun itu merenggut karena merasa disalahkan. Lalu tangan mungilnya diseret dan diminta duduk di ruang tamu untuk menceritakan keadaan kakak iparnya.

"Jadi gimana, Jang?" tanya Bu Santi tak sabar, sebelumnya ia berlalu ke dapur untuk mematikan kompor karena sedang memasak.

"Warga teh pada bilang kalau Kang Malik melecehkan teteh-teteh di WC masjid, Mah." Abdul berkata keras mengundang seseorang yang tengah rebahan di kamar tamu untuk menguping.

Dialah Rina, perempuan berusia 39 tahun yang tengah hamil besar. Seketika dadanya terasa sesak kala mendengar penuturan sang adik tentang suaminya. 

"Stttt! Jangan keras-keras atuh, nanti si teteh denger!" bisik Bu Santi yang membuat Rina mengurungkan langkah untuk memasuki ruang tamu. 

Saat Abdul berteriak di luar rumah, Rina sedang tidur siang hingga tak menangkap jelas apa yang dikatakan adiknya. Wanita yang tengah hamil itu terbangunkan suara keras Abdul yang menyebut-nyebut suaminya.

"Mendingan Mamah hayu kesana, soalna Kang Malik lagi digebukin sama warga. Kasian atuh, Abdul takut Kang Malik meninggal." Panik Abdul dengan napas yang masik tak beraturan terus meracau dengan suara lumayan keras. 

Sementara Rina yang punya riwayat asma langsung gelagapan mencari udara sebanyak-banyaknya. Jantungnya yang lemah menciptakan degupan dahsyat hingga wanita itu tak kuasa berdiri. Rina lunglai dan tangannya yang mencoba berpegangan malah menjatuhkan gelas kaca yang ada di nakas dekat pintu.

"Astaghfirullahalazim!" Bu Santi berteriak kaget dan segera menuju kamar sang putri. 

Ia begitu khawatir mengingat anaknya hamil di usia yang tak lagi muda dengan riwayat penyakit parah menggerogoti tubuhnya. 

"Teteh! Mamah si Teteh pingsan!" teriak Abdul yang lebih dulu sampai di kamar kakaknya.

"Allahu Rabbi! Abdul cepetan telepon Bapak!" perintah Bu Santi. 

Sayangnya saat ini bapaknya Rina sedang berada di kampung sebelah karena acara hajatan adik bungsunya. Bisa jadi lelaki berusia setengah abad itu baru selesai shalat jum'at dan belum memegang ponsel.

***

3 jam sebelum kejadian ....

"Bapak kenapa kusut gitu mukanya?" tanya Elrima sambil menyuguhkan kopi hitam kesukaan bapaknya. 

Gadis itu tampak heran melihat sang bapak tampak kesal setelah pulang dari warung. 

"Bapak teh kesel sama Bi Siti. Dia ngusulin yang enggak-enggak hanya karena kamu belum juga menikah," curhat Pak Hamid sambil menghela napas berat. 

Matanya menerawang bunga sepatu kesukaan almarhumah istrinya dulu. Andai wanita yang sangat dicintainya itu masih ada, mungkin bisa menjadi pelipur lara. Sayangnya beliau lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa saat melahirkan Elrima.

"Emangnya dia teh ngomong apa, sampe Bapak semarah ini?" tanya gadis itu hati-hati. 

Pasalnya Pak Hamid adalah lelaki yang tak mudah marah dan lebih banyak bersabar dengan apapun. Termasuk saat putrinya dicap perawan tua padahal baru berusia 28 tahun. Namun, hidup di kampung apapun bisa jadi omongan termasuk usia seseorang. 

Ditambah kesempurnaan Elrima dalam hal wajah dan postur tubuh, membuat sebagian mereka ketar-ketir takut suaminya tergoda. Meski nyatanya Elrima bukan perempuan murahan, tetapi tetap saja rasa waswas itu ada.

"Dia bilang kamu susah nikah karena terlalu judes sama bujangan sini. Padahal coba kalau digoda dan hamil dulu diluar nikah, pasti kamu cepet-cepet dikawinin tanpa harus persiapan acara lama," terang Pak Hamid lalu mengusap wajah kasar setelahnya.

"Dasar mulut lemes si Siti! Bisa-bisanya dia teh nyuruh aku buat jadi perempuan murahan kaya anaknya yang kegatelan. Rima gak bisa tinggal diam, Pak. Sekarang Neng labrak tuh si mulut lemes!" kesal Elrima sambil mencak-mencak hendak pergi ke warung yang tak terlalu jauh dari rumahnya itu.

"Tahan, Neng! Ini yang bapak gak suka dari kamu yang hobinya grasak-grusuk. Gak semua masalah harus diselesaikan dengan emosi. Hayu duduk dulu!" pinta Pak Hamid yang menarik tangan putrinya untuk duduk di kursi rotan teras rumah. 

Elrima memang memiliki sikap keras dan tegas yang menurun dari Ibunya, sedangkan fisiknya mirip bapaknya. Berbanding terbalik dengan Pak Hamid yang lebih penyabar dan lembut.

"Aing sumpahin semoga anak si Siti digerebek warga pas lagi zina!" racau Elrima yang kelewat emosi sampai berkata yang tidak-tidak. 

"Hust! Jangan ngomong sembarangan, Neng. Hati-hati kalau bicara jangan seenaknya. Ingat, do'a untuk orang lain ikut diaminkan malaikat, sekarang istighfar. Minta ampun sama Allah karena udah ngomong gak bener," nasihat Pak Hamid sambil terus memegangi tangan putrinya, takut sewaktu-waktu nekad pergi melabrak orang.

"Si Siti yang harus banyak-banyak istighfar. Udah sering ngomong gak bener sama orang dia, arrrggghhh!" Elrima yang tak kuat lagi menahan kekesalan menumpahkan amarah dengan berteriak kencang. 

"Nyesel bapak udah curhat ke kamu. Sekarang cepetan siap-siap ikut bapak dengerin ceramah di Masjid Agung deket alun-alun Cianjur. Kalau bisa bapak mau minta kamu dirukiyah, Neng. Soalnya adat kamu itu udah gak normal," ajak Pak Hamid yang mendapat kabar jika di daerah Cianjur akan diadakan tablig akbar sebelum menyambut kemerdekaan nanti.

Meski jarak desanya menuju pusat kota sekitar satu jam. Namun, ia begitu bersemangat karena ingin membuat Elrima berubah menjadi lebih kalem.

Dengan senang hati gadis itu mau ikut, bukan karena ingin mendengarkan ceramah, melainkan tertarik jalan-jalan di sekitar alun-alun. Memburu waktu yang tak banyak, Pak Hamid dan Elrima pergi menggunakan motor vespa yang dinamai Gojes itu. 

Mereka tiba di tempat tujuan tepat kala waktu shalat jum'at tiba.

Pak Hamid langsung menuju masjid, sementara Elrima lebih memilih mencari bakso di seputaran tempat itu. Dia yang tak biasa mengenakan hijab dan baju gombrang merasakan gerah yang luar biasa, tetapi malu untuk membuka pashmina di tempat umum, ditambah kancing kemeja yang dikacingkan full sampai atas, membuat lehernya tidak nyaman. 

Puas makan bakso Elrima bersiap menuju masjid untuk ngadem dan berniat melepas hijabnya di sana. Sementara di tempat lain, Malik yang mendadak sembelit saat tengah melaksanakan shalat jum'at akhirnya undur mencari toilet karena sudah tak kuat. Namun, sialnya closet di WC pria ada yang mampet dan ada juga yang belum disiram, ditambah bau tujuh rupa yang membuat perut Malik bergejolak.

Mengingat jum'at biasanya jarang ada perempuan di masjid, akhirnya Malik memutuskan pergi ke toilet wanita yang nampak sepi. Ia mengucap syukur dalam hati, tanpa sadar kejadian apa yang akan menimpanya setelah ini.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status