Share

EMPAT

"Pasien kritis, Dok!" seru salah satu perawat. 

Abdul memalingkan wajah dari paras mungil keponakannya menuju sang kakak. 

"Teteh!" pekik bocah itu yang mulai paham kakaknya sedang tidak baik-baik saja, sebab ia sering melihat keadaan gawat semacam ini dari sinetron yang ditontonnya di televisi. 

Salah satu perawat menyuruh Abdul agar keluar ruangan, tetapi anak itu bersikeras ingin melihat sang kakak yang jantungnya tengah dialiri kejut listrik. Ia memberontak karena takut setelah ini tak bisa melihat Rina lagi. 

Dengan sedikit dipaksa akhirnya Abdul keluar dari ruangan itu, lantas sang perawat mengunci dari dalam karena khawatir terlalu banyak orang yang tidak berkepentingan bisa memperburuk keadaan pasien.

"Sabar, Jang. InsyaAllah si Teteh baik-baik aja, kita do'akan semoga ia bisa melewati masa kritisnya," nasihat Bu Santi sambil sesenggukan memeluk anak bujangnya.

"Mah, Abdul takut Teteh meninggal kaya di tivi-tivi itu. Soalnya tadi alat yang deket Teteh bunyi nyaring. Mah, gimana kalau Teteh gak ada, siapa yang nanti ngurus dedek lucu." Abdul berkata tersendat-sendat bersama air mata yang mengalir kian deras. 

Sampai tak lama Pak Maman--suami Bu Santi datang dengan tergesa. Pria paruh baya itu semakin didera cemas kala melihat keluarganya menangis sesenggukan.

"Bapaak! Si teteh, Pak!" pekik Abdul yang langsung menghambur ke pelukan lelaki yang selalu menjadi panutannya itu. 

"Kumaha sekarang si Rina, Mah?" tanya Pak Maman sambil memeluk putranya yang masih sesenggukan. 

"Anak kita sedang kritis, Pak. Ini semua gara-gara si Malik, dia yang udah bikin anak kita jadi kaya gini," racau Bu Santi sambil memukul-mukul dadanya yang kian sesak, sama seperti Rina wanita paruh baya itu juga memiliki riwayat asma tetapi tak terlalu parah.

"Gimana ini maksudnya, Mah? Bapak gak paham, terus Jang Malik-nya ada di mana sekarang?" cecar Pak Maman yang tentu belum tahu duduk permasalahannya, sebab dari kampung seberang langsung meluncur menuju rumah sakit.

Bu Santi tak kuasa menceritakan aib menantunya, bibirnya hanya mampu bergetar tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari lidahnya yang mendadak kelu. Ia berhenti meraung, tetapi air mata yang deras terus saja keluar tanpa mampu dicegah.

"Jang, aya naon ieu teh? Sok ceritain semuanya ke bapak," pinta Pak Maman pada Abdul yang mulai tenang dalam pelukannya.

"Kang Malik digerebek warga di masjid, Pak." Bocah lelaki itu menjawab dengan suara lemah, ingatannya masih tentang bayi mungil dan sang kakak. 

Tentu ia tak begitu mengerti apa arti penggerebekan dan masalah lainnya, Abdul hanya mengatakan apa yang dia dengar dari warga. 

"Digerebek kumaha ieu teh? Kakang iparmu maling kotak amal apa gimana? Jangan-jangan malah salah ngambil kotak kritik dan saran kaya yang viral di tiktok itu," ucap Pak Mamat dengan mimik wajah serius. 

"Bapak tong sok ngabodor, mana ada menantu kita yang kaya maling kotak amal. Dia teh udah maling anak gadis orang," sanggah Bu Santi yang kesal karena suaminya malah membahas lagi berita viral di tiktok. 

Padahal wacana itu pernah menjadi perdebatan di antara mereka. Pak Maman yang keukeuh kalau itu cuma hoax, sementara Bu Santi yang sedang PMS menghujat si pencuri.

"Nu bener ini teh, Mah? Lain fitnah?" tanya Pak Maman yang agar ragu sebab menantunya terkenal baik dan tak pernah macam-macam selama menjalankan rumah tangga dengan Rina.

"Beneran, Pak. Sampe Kang Malik digebukin warga abis jum'atan," ujar Abdul yang lagi-lagi hanya mendengar dari orang dewasa tanpa tahu yang sebenernya. 

"Bapak teh sama sekali gak percaya kalau Jang Malik bisa berbuat sebejad itu, sebagai sesama lelaki bapak tahu dia tak pernah macam-macam dan terkenal dingin sama perempuan, mungkin cuma salah paham aja. Setelah ini kita harus cari tahu dulu kebenarannya." Pak Maman berkata bijak sambil mencoba mengatur napas, pandangnya beralih pada ruang operasi yang didalamnya Rina masih ditangani tenaga medis.

"Mamah gak peduli mau bener atau hoax beritanya, yang pasti mamah teh gak akan pernah maafin si Malik yang udah buat anak kita kritis kaya gini." Bu Santi kembali menangis tersedu sambil sesekali mengelap matanya dengan ujung hijab.

"Mah, jangan dulu baper atuh. Bapak yakin semuanya sudah ketentuan Allah. Jikapun menantu kita memang bersalah, kita hanya bisa mendo'akan semoga Rina baik-baik saja. Tak ada gunanya sekarang emosi malah membuang-buang energi. Sekarang Rina butuh kita, Mah. Kalau salah satu dari kita sakit, nanti siapa yang akan jaga Rina," nasihat Pak Maman demi meredam suasana. 

Meski dalam sudut hatinya ada rasa was-was bisa jadi berita itu nyata adanya. Namun, tugasnya sebagai kepala keluarga saat ini adalah menenangkan yang lainnya.

Tak lama dokter yang mengani Rina datang dengan wajah sedih, hal itu membuat keluarga pasien menerka hal yang bisa jadi kabar buruk bagi mereka.

"Beruntung pasien sudah bisa melewati masa kritis, tetapi ...," jeda dokter dengan kacamata tebal itu untuk menghela napas berat, "pasien saat ini mengalami koma dan perlu dirawat sampai sadar dan pulih kembali," lanjutnya sambil menatap Pak Maman dengan sorot sayu.

Bu Santi kembali melanjutkan tangisnya yang tadi terjeda dan kini lebih kencang, ia menukul dadanya yang begitu sesak sampai nyaris kehabisan napas. 

"Astaghfirullah! Eling, Mah. Semoga Rina bisa cepat sadar," nasihat Pak Maman sambil menopang tubuh istrinya yang mulai lunglai dan langsung tak sadarkan diri di pelukan suaminya.

"Mamahhh! Pak mamah kenapa, Pak?" Abdul bertanya sambil sesenggukan. 

Pak Maman melepaskan istrinya untuk dibawa perawat wanita menuju ruang pemeriksaan, lalu lelaki paruh baya itu berjongkok dan memeluk putranya. 

"Mamah kamu cuma kaget, Jang. Ayo do'akan Mamah dan Teteh agar cepat pulih biar kita bisa pulang ke rumah," bujuk Pak Maman yang juga diam-diam meneteskan air mata di bahu anaknya. 

Di tempat lain di waktu yang sama, akhirnya Malik mengucap akad dengan terpaksa setelah beberapa kali mendapat desakan. Hatinya tak ada sedikitpun niat mendua, tetapi keadaan saat ini begitu memojokkannya, padahal Malik tak seutuhnya salah.

Pria itu sejak masa bubar terus saja merenung, bingung harus bagaimana pada istri barunya. Kini Malik, Pak Hamid dan Elrima tengah duduk bertiga dalam kebisuan.

"Jang Malik, bapak titip Rima. Dia mungkin masih banyak kekurangan dan keadaan ini sungguh tidak ada yang mengharapkan. Banyak hal yang ingin bapak sampaikan--"

"Cukup! Bagaimana bisa kalian semua memperlakukan saya seperti ini?! Kalian pasti tak tahu siapa saya." Malik menjeda kalimatnya untuk menunjukkan sebuah seringai menakutkan.

"Saya pastikan kalian semua yang terlibat dalam masalah ini akan saya jebloskan ke penjara, " lanjutkan dengan nada dingin tetapi menusuk. 

Meski terlihat arogan tetapi hati Malik dipenuhi penyesalan karena tak mengambil langkah tegas ini sebelum akad digaungkan. 

Lalu setelah ini bagaimana?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status