Share

SATU

Alunan melodi elegi memenuhi ruangan mewah bernuansa emas itu, menyempurnakan rasa lara pada hati sang wanodya yang tak berkata apa-apa.

Di sana, atas bangku bundar, Pearl terus mengusap air matanya. Bibirnya terus merengek, mengeluarkan suara-suara lirih yang seperti tanpa makna. Netranya tak bisa berhenti untuk memandangi jasad Papa Mamanya yang dibaringkan dalam dua peti nan tertutup sepenuhnya. Ia merasa hancur, tetapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Dua sosok yang amat dicintainya itu telah tiada.

Lemari jam antik itu pun telah berdentang ke dua belas kalinya—mengartikan bila kini telah tengah hari. Namun seolah tak mau peduli, Pearl malah berhamburan ke arah peti; hendak membukanya dan menyaksikan orang tuanya ke sekian kali.

Sebelum itu terjadi, tubuhnya telah ditahan oleh satu tangan. Pergerakan Pearl berhenti seketika, tetapi sedu-sedannya tak kunjung berhenti juga.

“Sudah, Pearl! Berhentilah menangis!”

Gadis itu menggeleng cepat-cepat, enggan mendengar segala ocehan teman-temannya yang terus mengusap pundak mungilnya.

“Ini semua ... ini semua salahku! Aku membiarkan mereka pergi ke Kyoto hanya karena keegoisanku,” racaunya. Kembali menangis leluasa.

“Jangan begitu, Pearl!”

Nancy, salah satu temannya itu meremas pundak Pearl yang kembali bergetar. “Ada kami di sini. Jadi jangan khawatir, oke?”

“Ya, kami akan membuatmu menemui Magma setelah semuanya berangsur membaik.”

Pearl menoleh ke arah Nancy, lalu pada Jane yang tersenyum penuh makna. Sebenarnya ada tiga teman Pearl lainnya, hanya saja mereka memutuskan untuk menyaksikan saja. Mereka muak akan sikap kekanak-kanakan Pearl yang kerap kali melelahkan.

“Sungguh?” Pearl menganjurkan bibirnya, ingin mendengar jawaban dari dua temannya segera.

“Eugh ... euhm, tentu saja! Apa pun yang terjadi, kami akan selalu ada!” celetuk Jane lantas memeluk lengan Pearl erat-erat; beralih tertawa dan memasang senyuman penuh kepalsuan.

“Aku tak yakin ....” lirih Pearl, sedikit mendorong kepala Jane dari lengannya.

“Euhm ... Percayalah! Kami akan menjagamu, setidaknya sampai kau menemukan cinta sejatimu.”

Pearl menjeling pada Jane yang terkenal akan sikap muka duanya itu, akan tetapi karena lelah ia memutuskan tak meresponsnya dengan apa-apa.

🥂

“Kenapa kita di sini?”

“Tentu untuk bersenang-senang!” jerit Jane guna mengalahkan suara musik yang amat keras dan memekakkan telinga.

“Bersenang-senang akan apa? Apa kau bahagia setelah tahu Papa dan Mamaku telah tiada?” seru Pearl tanpa nada. Beberapa orang yang terus menabrak dan menyenggol tubuhnya jelas membuatnya tidak ceria. Tempat ini sama sekali tak cocok untuknya.

Jane mendelik, menggeleng sekuat tenaga. “Kau harus merelakan kepergian mereka, Pearl! Dan alkohol adalah salah satu cara instannya!”

Jane menyodorkan satu botol whisky di hadapan sang wanodya. Namun Pearl segera menyingkirkannya.

“Aku tidak menginginkannya.”

Mendengar jawaban itu, Jane hanya mengendikan kedua pundaknya—menenggak minuman keras itu dengan merawak rambang seakan telah terbiasa.

HEYY, KALIAN SEMUA MINUMLAH SEPUAS-PUASNYA! AKU AKAN MENTRAKTIR KALIAN SEMUA!” jerit Jane setelah menghabiskan sebotol whisky dalam genggamannya. Melantarkan ratusan orang berseru senang karenanya.

Seperti apa yang Jane ‘perintahkan’, orang-orang itu tak segan untuk memesan berbotol-botol alkohol dan menikmati dunia malam mereka. Jelas Pearl terkejut akannya, apalagi melihat Jane yang terlihat baik-baik saja atau bahkan tak mempermasalahkannya.

“J-jane! Memangnya kau membawa uang?” desis Pearl penuh tanda tanya.

“Ah? Oh iya, aku lupa membawanya.” Jane tertawa terbahak-bahak, ia sudah kehilangan kesadarannya. “Kau saja, ya—aku akan menggantinya nanti. Kau membawa black card-mu, bukan?”

“T-tapi—”

“Aku janji!” Pearl tersenyum kecut, memutuskan untuk berdiam diri saja. Jane ini selalu saja berhasil ‘menjebaknya’. “Terima kasih Pearl sayaang! Kau yang terbaik!” seru Jane seraya memeluk lengan Pearl yang masih menutup mulutnya.

Lagi-lagi sinar mencolok itu menyuluhi netra sang wanodya, membuatnya tersadar bahwa sepatutnya ia tak mengiyakan ajakan Jane begitu saja. Peristiwa ini bukan kali pertama, untuk menolak pun tidak bisa—dan ia muak akannya.

🥂

Ting tong

Pearl terjaga seketika. Namun bukannya langsung berdiri lalu membuka pintu rumahnya, Pearl malah memejamkan kedua netra—memeluk guling di sebelah tubuhnya.

Ting tong!

“Eungh ....”

Pearl membalikkan posisi badannya, menghadap pada Nancy yang mendengkur tanpa jeda. Hal itu cukup mengganggu sebenarnya, tetapi lantaran mengantuk—ia mengacuhkannya.

Ting tong! Ting tong! Ting tong! Ting tong!

Mengetahui bila suaranya makin membabi buta, Pearl terpaksa bangun dan melesat ke ruang utama. Menuruni anakan tangga secepat-cepatnya dengan gerutuan yang nyata. Padahal ia tengah bermimpi di saat indah-indahnya.

“Siapa, y—”

“Apakah anda Pearl Carmina, anak dari Dhika Birendra?”

Sosok itu langsung bertanya saat pintu sepenuhnya terbuka. Kontan itu mengejutkannya. Netra dan mulut gadis itu membulat di saat yang sama, lebih lagi saat mendapati beberapa mobil polisi terparkir rapi di pekarangan rumahnya.

“In—”

“Bapak Dhika Birendra terlambat membayar utang yang seharusnya lunas pada waktu yang telah ditentukan! Beliau telah meminjamnya sejak lama dan mengingkari perjanjiannya.”

Jelas Pearl terkejut lantaran papanya tak pernah mengatakan apa-apa mengenai hutang—atau hal semacam padanya. “HAH? T-tapi Papa saya tidak pernah memiliki—”

“Jika memang tidak ada yang bisa menjaminnya, kami akan menyita rumah keluarga Rendra!”

Pearl mendelik, mulutnya makin membulat sempurna—lalat mungkin tertarik untuk masuk ke dalamnya.

“Nancy! Bodoh, bangunlah!” Nancy akhirnya terbangun juga, segera bertanya-tanya pada Jane yang tengah menatapnya. “Segeralah kemasi barangmu! Kita akan pergi sekarang juga!”

“Tapi, Pak, saya sama sekali tidak mengerti akan masalah ini! Bapak juga tahu, bukan, bila Papa saya telah tiada—”

“Masalah itu di luar kendali saya, utang itu harus terbayarkan segera,” tegas pria berjas biru tua itu.

Pelupuk mata gadis itu segera membendung air mata, ia bahkan tak tahu harus mengatakan apa. Justru ia makin tersara bara kala mendapati Nancy pun Jane berlari tunggang langgang bersama barang-barang mereka. Keduanya tak peduli dengan seruan Pearl yang sepenuhnya putus asa.

“Kau—maksudku, kita sungguh-sungguh akan pergi? Tapi bagaimana kalau dia sendiri? Bahkan dia tak bisa memasak mie!” desis Nancy di sela langkah mereka.

“Apa peduli kita? Dia sudah tak punya apa-apa, dan kita tak bisa lagi bersamanya! Berpikirlah, bodoh!” ketus Jane. Menggeret koper yang dicekalnya sekuat tenaga. “HUH! Membuang waktu saja.”

Nancy menggaruk kepala, menoleh sekejap pada kediaman Pearl lantas melesat pergi mengikuti Jane yang beberapa langkah mendahuluinya. Mereka meninggalkan Pearl beserta janji mereka.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status