Share

LIMA

"Jujur saja, kau menerima pekerjaan itu karena penginapan tadi pernah menampung Magmaā€”idol yang membuatmu tergila-gila itu, bukan?" seru Alaric seraya membanting pintu mobil di sandingnya. Ia melangkah pergi dengan cepatnya, meninggalkan Pearl yang masih berusaha mencerna.

"Eā€”yaa, itu salah satu alasannya. Tapiā€”"

"Sudah kuduga. Kau memang tak pernah berubah. Kau bodoh dan berpikir dengan jangka pendek saja, sama seperti enam tahun lalu. Kau masih dan selalu manja. Tidakkah kau sadar jika itu menyebalkan?"

Pearl melangah, tetapi tungkainya terus membuntuti langkah Alaric yang tergesa. Namun seolah tak peduli, lelaki itu semakin mempercepat langkahnya. Mengabaikan Pearl yang tengah berusaha menyusul dirinya; meninggalkan area parkiran apartemen mereka.

"Memang apa salahnya menggemari orang yang sama bertahun-tahun?" tanya Pearl dengan napas tersengal.

"Tak ada yang salah." Alaric melirik sekilas pada Pearl yang kini berdiri di sandingnya. Setelah memusatkan iras kembali ke depan, ia berujar, "Orang gila yang kau pilih untuk kau gemariā€”itulah yang salah."

"Magma tidak gila!" jerit Pearl tidak terima. "Dia baik, tampan, apa adanya, bersahaja, bijaksana! Tak ada kekurangan sedikit pun dari dirinya."

"Kapan aku mengatakan dia gila?"

"Kau pikir aku bodoh dan tak bisa memahami maksudmu, huh?"

Alaric tersenyum tipis, tetapi enggan untuk memalingkan kepala atau menoleh pada sang wanodya.

"Diamlah!"

"Kau yang harusnya diam! Orang dingin dan kejam sepertimu ini sangat tidak cocok menjadi seorang psikolog! Tidakkah semua pasienmu terkena mental akan semua ucapan yang keluar dari mulutmu?"

"Diamlah!"

Pearl menggeleng sekuat tenaga. "Tidak, aku tā€”"

"Diam atau aku akan mengusirmu."

Bibir Pearl mengerucut tajam, terpaksa untuk kembali bungkam. Suram sudah roman jelita itu lantaran meratapi nasibnya yang selalu terancam.

šŸ„‚

"Kau ingin apa, hm?"

Gadis berlesung pipi itu tersenyum tipis, menggeleng dengan manis. "Tak perlu membeli apa-apa, aku hanya ingin bertemu denganmu."

"Sungguh? Serindu itukah kau dengan diriku?" Lelaki berjas biru tua itu terkekeh, mengalungkan lengannya pada pinggang gadis di sampingnya. "Kau tahu? Aku pun sangat merindukanmu."

Iara, gadis tadi tersenyum sekali lagi. Membenamkan kepalanya pada pundak lelaki itu yang terasa hangat dan berbeda. Dan ia menyukainya.

"Ah, iya!" Tiba-tiba gadis itu tersadar dan membuka tas tangannya. Mengacak-acak isinya sekejap, lalu menyembulkan lengannya setelah mencari cukup lama. "Aku membelinya di salah satu toko busana di Paris. Aku menemukannya dan menyukainya seketika, juga teringatā€”bahwa sepertinya kau akan suka."

Terulur satu kotak kecil yang dibalut dengan pita berwarna merah terang; nan entah mengapa, dengan segera lelaki itu gapai tanpa berlama-lama. Mungkin baginya, benda seindah itu akan sia-sia jika tak lekas dibuka.

Seperlahan mungkin, lengan sang lelaki membuka kotak mungil dengan kedua jari. Senyuman tampan tersungging tipis dengan senang hati ketika netra almond itu mendapati sebuah dasi. Satu-satunya aksesori yang bisa membuatnya sebahagia ini.

"Kenapa? Kau tak menyukainya?" tanya gadis itu karena sang lelaki tak juga menunjukkan ekspresi atau pun reaksi.

Lelaki itu mendelik tajam. "Jangan bercanda, aku amat-sangat menyukainya!"

Diangkatnya dasi bercorak kelabu itu dengan segera; yang lagi-lagi menciptakan senyuman lainnya. Lantas, setelah menghabiskan beberapa saat untuk memandang benda itu, lelaki itu kembali menyodorkannya di hadapan sang wanodya.

"Ada apa?"

"Aku ingin kau memasangnya untukku."

Iara menggapai dasi itu, sedang kekasihnya gegas melepas dasi hitam yang melingkar pada leher jenjangnya.

"Tapi sebelum itu bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Iara, menghentikan gerakan lelaki itu yang sedang membenarkan kerah kemejanya.

"Boleh, Iara. Apa pun yang kau mau."

Iara tersenyum sekali lagi seraya membentangkan kedua tangannya. Yang segera lelaki itu tanggapi dengan gelak tawa. Arkian, tak butuh waktu lama, kekasihnya itu melangkah mendekatinya; mendekap raga Iara yang tertawa bahagia.

šŸ„‚

Dua tahun kemudian--

"Segeralah pulang! Aku sedang bebas dan tak ada pekerjaan."

"Iyaa, aku tahu!" Pearl memindahkan posisi ponsel ke pundak di sisi kiri tubuhnya. Beralih menghimpit benda pipih itu dengan telinga kirinya, sementara kedua lengannya kembali menyapu permukaan kayu berwarna cokelat muda. "Tapi aku sedang sibuk sekarang."

"Jangan membuatku menunggu, kau pastinya tahu bahwa aku membenci itu.ā€

ā€œIyaaa, Ibu Tiri! Tunggulah sebentar, aku hanya perlu memindahkan jerami lalu membeli beberapa kardus susu, atau mungkin benda lain." Gadis itu menghela napas. ā€œIngat, bukan, bila posisiku (dan beberapa O.G lain) telah berubah menjadi Resort Keeperā€”yang berarti aku bertanggung jawab akan semua tugas di sini? Kau pastinya juga tahu meski Natal telah berlalu penginapan masih tetap ramai. Sialnya beberapa karyawan lain pun menikmati liburan mereka!ā€

Dengkus lirih terdengar pada ponsel mungil itu, yang berarti sang penelpon menyetujui untuk menunggu lebih lama.

ā€œOke, aku mempercayainya.ā€ Terdengar sedikit jeda sebelum kemudian, ā€œAku akan menghubungi Alisha untuk memastikan kau benar-benar bekerja, bukannya keluyuran untuk mencari Magma-Magma itu ke kantornya!ā€

ā€œBaiik, Ibu Tiri. Pearella mengerti.ā€

Kali ini kekehan singkat yang terdengar pada ponsel Pearl yang masih pada posisi semula.

ā€œBerhati-hatilah. Aku akan menunggumu.ā€

ā€œIyaa. Tapi seperti yang aku sampaikan sebelumnyaā€”aku tak pernah janji bahwa aku tak akan lama," tekan Pearl sekali lagi. Menghentikan gerakannya dan mencekal ponselnya dengan leluasa. Berancang untuk mematikannya segera sebelum aksinya tertangkap basah oleh Alisha atau mungkin pegawai lain.

"Hm. See you."

"Too."

Gegas setelah menutup sambungan teleponnya, Pearl memasukkan ponsel itu pada saku seragamnya. Bersilih mengangkat jerami dan berjalan cepat menuju perkebunan belakang gedung penginapan. Melintasi salah satu kamar bernomorkan 17; yang tanpa ia sadari telah ditempati oleh seorang pemuda nan menenggak puluhan botol alkohol dan tak sadarkan diri.

"Hei, kenapa kau terburu-buru seperti itu?"

Pearl menyeka peluh yang melintasi dahinya, terduduk dan memandangi Kanna yang ada di depan mata. Perempuan dengan rambut berwarna hijau terang itu menyadari betapa pucatnya iras Pearl yang sedari tadi tak berkata-kata.

Sesuai peraturan yang mengatakan 'dapat pergi kapanpun setelah mengerjakan semua tugas', jadilah Pearl melakukan semua kewajibannya secepat yang ia bisa. Ia berhasil menyelesaikan sisanya dalam dua jam saja, meski itu sangat cukup menguras tenaga. 

"Aku harus segera kembali, sebenarnya. Jadi aku sedikit terburu-buru."

"Kenapa harus? Belum juga sore hari."

Pearl mendengkus lirih, "Alaric akan membunuhku jika aku tak melakukannya. Lagi pula, aku memang ada janji dengannya."

"Alaric?" Netra Kanna memicing sesaat. Berpikir sekejap. "Oooh ... pacar kau itu, ya? Yang psikolog muda dan selalu kemari sebelum pergi kerja?"

Dengkusan kembali terdengar dari Pearl yang kini merebahkan punggungnya pada dinding. "Kenapa semua orang selalu menganggap kami berdua punya hubungan?" Tendas gadis itu menggeleng dua kali. "Kami hanya sahabat lama, dan tak akan ada yang mengubahnya."

"Hei, jangan salahkan aku! Maksudku, wajar saja semua orang punya spekulasi seperti itu. Lebih lagi perhatian Alaric padamu yang kadang berlebihan. Iya, bukan?"

Apatis, Pearl hanya mengendikan kedua pundaknya.

"Lalu, kalau kau terburu-buru ... kenapa kau masih di sini?" tanya Kanna keheranan.

"Aku masih menunggu kak Alisha. Dia sedang membuat daftar benda yang harus aku beli nanti. Tapi karena aku tergesa-gesa, sepertinya aku akan mengantarnya besok."

Kanna mengangguk kecil. Merasa tertarik untuk meneruskan percakapan. Adanya sistem privasi yang masih diterapkan seolah menciptakan suatu sekat, memisahkan gadis itu dari Pearl atau bahkan para karyawan lainnya. Terutama peraturan yang melarang keras para karyawan untuk berbicara di tengah pekerjaan.

"Kau ini pekerja keras, ya?"

Pearl tersenyum, "Tentu saja. Aku punya utang ratusan juta yang tengah menanti untuk segera dituntaskan."

Netra Kanna mendelik seketika. Terkejut dan bahkan kehabisan kata.

"Sungguh? Bagaimana bisa? Memang di usia muda seperti kita ini, apa yang telah kau beli?"

"Bukan, aku hanyaā€”"

"PEARL!"

Jeritan itu berasal dari ruangan Alisha, penanggung jawab Resort yang memimpin Pearl ataupun Kanna sejak lama. Kontan, hal itu membuat Pearl berdiri dari duduknya; bermaksud beranjak secepatnya.

"Euhm ... aku pergi dulu, ya? Aku akan menceritakannya lain waktuā€”" Kanma membuka mulutnya, hendak mencegah Pearl untuk pergi atau meninggalkannya. "ā€”tenang, ini adalah sebuah janji. Kita bisa bicara lagi lain kali."

Melihat kesungguhan dalam netra Pearl, akhirnya Kanna bersedia untuk menganggukkan kepala.

"Hati-hati, ya?" lirih Kanna seraya melambaikan lengannya.

"Terima kasih! Semangat kerja, ya?"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status