Share

TIGA

"Itu bukan salahku, ā€˜kan?"

"Mana kutahu," desis Alaric.

ā€œKau ini bagaimana, sih? Katamu kau sudah menjadi Psikolog sekarang! Apa sedaritadi kau tak mendengarkan celotehanku?! Belum lagi sejak hari pertama kau menyuruhku untuk membersihkan seisi rumahmu!" berondong Pearl. "Dasar tak tahu diri!ā€

ā€œCk, maksudku ....ā€ Alaric menghentikan ucapannya.

ā€œApa? Apa maksudmu sebenarnya?" seru Pearl dengan iras yang berlelehan air mata.

"Y-yaa ... kau ini terlalu fanatik dan mengikuti kehidupan Magma, idol aneh itu sampai kau tak peduli oleh kehidupanmu sendiri. Perlu kuakui orang tuamu terlalu memanjakanmu. Mereka salah membiarkanmu selalu mendapat apa yang kau mau."

Pearl memalingkan muka.

"Lihatlah sekarang! Anak mereka jadi bodoh, manja, dan seenaknya. Perbaikilah kepribadianmu, lalu aku boleh mengatakan bahwa ini bukan salahmu."

Gadis itu merengut seketika. Terlihat tidak suka.

"Bagaimana bisa seperti itu?!"

"Bisa. Jangan berani menyangkal suatu pernyataan Psikolog!" desis Alaric, menunjuk iras Pearl yang terduduk di hadapannya.

"Kurasa itu bukan masalah jika orangnya kau."

"Apa kau bilang?"

Pearl tersenyum, tetapi kini malah tertawa. Kehangatan itu, kehangatan yang biasa dirasakannya pada dua orang tua tercinta, kini kembali ia rasa setelah kembali bersatu dengan sahabatnya. Sahabat yang telah lama dirindukannya.

Alaric tersenyum sekilas, "Sekarang makanlah. Aku sudah membuatkanmu soup juga kudapan."

Pearl mengangguk lemas. "Tapi setelah itu ... dapatkah aku pergi tidur?"

Alaric menganggut. "Itu terserah padamu."

šŸ„‚

"Hei, bangunlah bodoh!" satu seruan menyapa rungu Pearl, bertepatan dengan satu tepukan kasar yang mendarat di punggungnya. "Bangun! Sudah jam sembilan!"

Pearl tak menyahut. Hanya menggeliat dan menaikkan selimut tebal itu sampai menutupi sekujur tubuhnya. Menolak untuk lekas terjaga dan terlena oleh bunga tidurnya.

"Bangun, atau kuusir kau sekarang juga!"

Bak mendapat suatu mantra ajaib, Pearl langsung terduduk dalam satu sentakan. Netranya terbelalak kaget. Kentara syok dengan respons alam bawah sadarnya yang tanpa diduga-duga.

"H-hei, bagaimana kau bisa masuk ke kamarku begitu saja?!" pekik Pearl nyaring. Menghempaskan tubuh Alaric yang ada di hadapannya. Sementara ia sendiri beringsut mundur dan memojokkan diriā€”mendekap selimut cokelat tersebut erat-erat.

"Jangan konyol, ini rumahku," desis Alaricā€”bersikeras duduk di ranjang yang sama.

"Apa maksudmu? Hanya karena ini rumahmu, jadi kau bisa semena-mena, begitu?"

Alaric menghela napas panjang. Mengejapkan dua netra rapat-rapat. Pearl ini menguras habis kesabarannya. "Cepat mandi!"

"Untuk apā€”"

"Aku tak mau mendengar apa pun lagiā€”kau harus segera mandi dan mencari pekerjaan!" desis Alaric penuh ketegasan.

"Pekerjaan apa lagi? Akuā€”"

Pearl memekik tertahan, baru mengingat satu hal yang harus ia penuhi secepatnya. Rasa getir dan nestapa mendadak memeluk suasana di sekitarnya. Kebahagiaan atau ketentraman yang sempat ada lekas hilang begitu saja.

"Jika kau ingin cepat-cepat terbebas dari lilitan utang itu, kau harus mencari pekerjaan, bukan?"

Isak lirih tercipta dari sang gadis yang merunduk dalam. Ia masih tak terima dan pesimis akan hal itu, akan keharusannya untuk menuntaskan hutang dalam jumlah yang tak lagi lazim. Lagi pula, salah apa ia sampai Tuhan memberinya ujian yang terlampau sukar? Bahkan baru dua bulan berselang dari hari di mana kedua orang tuanya pergi dan tak akan kembali.

"Berhentilah merengek atau aku akan mengusirmu!"

Pearl mendengkus. Mengusap kasar tetesan air mata yang menjatuhi pipinya, sementara netranya itu menatap Alaric tajam-tajam.

"Aku akan membantumu mencari pekerjaan. Jadi cepatlah membersihkan diri!" Alaric mendesah lirih. "Entah kenapa aku sebodoh ini untuk bersedia meliburkan diri," desisnya.

"Sungguh?! Apaā€”"

"Aku akan menunggu. Lima menit saja!"

Setelah mendelik dramatis, gadis itu lekas beranjak dari ranjang lembut yang didudukinya. Melesat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan lagi, hal itu menyisakan senyuman misterius dari sang lelaki.

šŸ„‚

"A-aaah, sudahlah kita menyerah saja! Aku lelah!"

"Kenapa kau ini suka mengeluh? Kau baru saja melamar dua kali dan ditolak dengan jumlah yang sama!"

"Ditolak itu menyakitkan!"

"Siapa yang bilang itu menyenangkan?"

Pearl menganjurkan bibir. Memandang Alaric tajam-tajam ketika menemui bahwa sang lelaki sepenuhnya benar. Namun ia telah lebih dulu menyerah. Ia takut lamarannya kembali ditolak mentah-mentah.

Tak acuh akan sorotan netra Pearl, Alaric hanya memutar setir mobilnya ke kananā€”membelokkan mobil mewahnya. Telah dua puluh km dilaluinya, dilalui mereka setelahnyaā€”tetapi Pearl tak kunjung menemukan tempat kerja yang nyaman dan yang sekiranya ia minati. Yang lagi-lagi menjadi pasal dirinya terpojokkan oleh peringatan serta teguran Alaric.

"Iya, aku tahu! Berhentilah membuatku seolah beban terbesarmu!"

Alaric melirik sinis, "Bukannya memang begitu?"

Lagi-lagi Pearl menganjurkan bibirnya, tetapi tak lagi bisa membalasnya.

"Ini sudah lima puluh km lebih dari apartemenku; jika nanti kau mendapat pekerjaan, pakai apa kau untuk ke sana-kemari?"

"Entah. Kenapa lagi-lagi menyalahkanku?"

Alaric melirik Pearl tajam-tajam; yang kembali memilih untuk bungkam. Gusar tetapi tak mungkin untuk mengutarakan, jadilah gadis itu memandang jendela mobil yang ia biarkan terbuka. Menghela napas samar dengan netra jelalatan.

Yeah, harusnya dia bersyukur Tuhan membuatnya kembali pada Alaric: sahabat lamanya yang menghilang begitu saja dan tahu-tahu mengirim kabar yang menyatakan akan tinggal di Jerman cukup lama. Ia kira mereka tak akan bertemu atau lagi saling kirim warta; lantas siapa sangka? Kini mereka malah tinggal bersama.

Bertemu teras dengan beliungā€”satu lagi peribahasa cocok bagi mereka yang sama-sama keras mulut juga keras kepala.

Eh, bicara soal kepala ... Pearl jadi ingin kelapa muda.

"Alaric!"

Dengan mengejutkan, lengan kanan Pearl mendorong bahu lelaki itu dengan kasar. Melantarkan Alaric banting setir eksesif terkejutnya. Mobil itu pun ia hentikan seketika di tepi jalan, yang untungnya tak memberi dampak apa-apaā€”selain frekuensi jantungnya yang melenceng dari normal.

"Berhati-hatilah, bodoh! Sedetik saja aku tak menginjak rem, kita akan terhantam oleh mobil yang lain!" sungut Alaric sungguh-sungguh.

"Terserah, tapi aku ingin itu!" seru gadis itu dengan santainya.

"Ingin apa?"

"Aku ingin itu! Aku mohon!"

"Apa yang kau maksud, hah? Bicaralah yang jelas!"

Akhirnya Alaric sudi memalingkan wajahnya, yang kemudian membuat Pearl menunjuk satu hal yang membuatnya terlampau antusiasā€”gerobak kelapa muda.

"Kita bisa membelinya lain kali, sekarang pekerjaanmu-lah yang terpenting!"

"Jangan begitu! Ayolah, aku hanya ingin satu gelas sajaaa! Aku sudah haus dan muak mendengar celotehanmu!"

"Apa?!ā€”"

"Yaaaa?"

Pearl memandang Alaric lekat-lekat dengan mata berbinarā€”berharap dengan itu sang lelaki lekas mengiyakannya.

"Tidakā€”"

"Yaaaaaa?"

Sekuat tenaga, Pearl mencoba untuk memasang mimik menggemaskan; semampu yang ia bisa. Hingga pada akhirnya, Alaric memalingkan muka dan menyalakan mobilnya. Memutar setir sampai mobil yang mereka naiki kembali ke jalur yang sama.

"Hah?! Kau sungguh-sungguh akanā€”"

"Tapi berhentilah membuat mimik menggelikan seperti itu! Aku muak dan sangat membencinya."

"Ya, aku janji!" seru Pearl yang setelahnya terkikik senang.

šŸ„‚

"IBUU! SATU GELAS LAGI, YA?"

Alaric menarik lengan Pearl lumayan kasar, mendekatkan rungu gadis itu ke bibirnyaā€”yang bersimpuh bersamanya di atas matras; fasilitas stan kelapa muda tersebut.

"Ini sudah yang kelima! Kau ingin mendapat glukosuria?"

"Tapi aku sudah enam tahun tak meminumnya! Kenapa kau sangat kejam begini? Bukannya seorang Psikolog ini bisa lebih mengerti bila keinginan seorang sepertiku ini harus terpenuhi?" desis gadis bersurai panjang itu tak suka.

Alaric menghela napas, melepas cekalannya pada sang dara kemudian kembali memalingkan muka.

"Kalau begitu minumlah sepuasmu. Aku akan pergi."

"Hei, teganya kau mau menelantarkanku di sinii!" seru Pearl setengah memekik.

"Tidak, bodoh!" Alaric menepuk pelan pucuk kepala gadis itu setelah sukses bangkit berdiri. "Aku hanya ingin buang air kecil. Kau membuatku menghabiskan banyak kelapa, kau tahu?"

"Ooh ...." Pearl tertawa bahagia. "Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggu di sini."

Alaric bergumam sebagai jawaban.

"Eh, hei!" Pearl mengangkat lengan kanannya. "Berjanjilah jangan lama-lama!"

Lelaki itu menghentikan langkahnya. Menyempatkan diri untuk menoleh pada Pearl yang melambaikan lengannya tinggi-tinggi. Setelah tersenyum tipis, lelaki itu meninggalkannya seorang diri.

Triiing triiing triing

Dering ponsel mengejutkan Alaric, yang memutuskan segera mengangkatnya.

"Halo?"

"Honeyyy, where have you been?"

Netra lelaki itu mendelik sempurna. Lekas memeriksa siapa nama penelepon yang jelas membuatnya melengung tidak terkira.

"Who's this?"

"Oh Gosh?! Did you just forget me?"

Alaric menghela napas panjang; berupaya tetap sabar. Kehidupannya yang telah lama tenang sepertinya akan kembali kelam.

Suara itu, nada itu, cara bicara itu ... pasti berasal dari salah satu pasien yang pernah dirawatnya beberapa waktu. Pasien yang beralih menganggunya sepanjang waktu.

"Floella?"

"Absolutely!"

Tutt

Alaric memutus sambungan telepon itu tanpa keraguan. Arkian kembali melanjutkan langkahnya untuk mendapati mobil bercorak biru yang ditabungnya setengah tahun alias penuh perjuangan. Namun itu sebelum suatu ingatan mendadak terbesit di otaknya.

"Astaga ... Pearl?!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status