Share

Kemarahan Arana

Suara ibu memanggilku dari luar kamar. Dengan malas, aku membuka mataku lalu beranjak duduk. Hampir semalaman aku tidak bisa tidur. Baru setelah sholat shubuh aku bisa tertidur. Aku memilih tidur di kamar kak Raka setelah keluar dari kamarku semalam.

"Ya Bu."

"Bangun Na, sudah siang," kata ibu sebelum terdengar langkah kakinya menjauh.

Aku turun ke bawah setelah membersihkan diri.

"Sarapan dulu, Na," Ibu menarik tanganku untuk duduk di meja makan. Aku hanya mengambil sebungkus roti rasa coklat yang dulu biasa aku makan untuk sarapan saat masih sekolah.

"Kamu tidak kangen masakan Ibu, Na?" tanya ibu dengan wajah sedikit kecewa.

"Kangen, Bu. Nanti, aku makan nasi. Sekarang, lagi pengen makan roti," jawabku lalu mengigit roti coklat yang kupegang.

Baru gigitan kedua kak Raka mendekatiku lalu berkata, "Arana, kalau sudah selesai sarapan, keluarlah! Orang tua Saga sudah menunggu di ruang tamu,"

Aku pun mengangguk sebagai jawaban. Segera kuletakkan roti coklat yang masih tersisa setengah. Tiba-tiba perutku terasa kenyang.

"Na, pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan. Apa pun keputusan kamu, kali ini Ibu akan mendukungmu," tutur ibu sebelum aku menuju ruang tamu.

Di ruang tamu, sudah ada Saga, Papa dan Mama Mertuaku, serta Ayah dan Bunda. Aku sedikit terkejut melihat kehadiran Bunda. Sejak pernikahanku dan Saga, Bunda tak mau berbicara kepadaku karena Bunda pikir aku telah merebut Saga dari Mbak Kiara.

Melihat kedatanganku mama mertuaku langsung menyongsong dan memelukku erat. "Bagaimana kabar kamu?"

"Aku baik, Ma. Maafin Arana ya, Ma," ucapku saat mama melerai pelukannya.

Mama Miranda mengangguk lalu mengelus rambutku sayang. Setelahnya, aku menyalami ayahku dan papa mertuaku.

Bunda memelukku saat aku menyalaminya, tapi aku tak membalas pelukannya. Terlihat ada rasa kecewa di wajahnya, tapi aku tak peduli. Rasa sakit hati yang aku rasakan selama ini jauh lebih sakit dari rasa kecewa yang kini mungkin terasa dihatinya.

"Sekarang, Papa ingin tahu bagaimana hubungan kalian?" tanya papa Bima kepada ku dan Saga.

"Saya dan Arana tidak pernah bercerai, dan kami tidak akan bercerai." Suara Saga begitu tegas. Aku hanya diam menatap lurus ke meja yang ada di depanku.

"Lalu bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu itu?"Ayah kini ikut berbicara, hingga membuatku menatapnya. Rasanya, aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Sejak kapan dia peduli padaku? Ayah masih memandang Saga tajam.

"Kalau kamu tidak bisa lepas dari kekasihmu itu, ceraikan Arana!" tegas ayah yang masih mengarahkan pandangannya ke Saga.

Apa? Aku tak menyangka ayah bisa berkata seperti itu? Selama ini, ayah tak pernah peduli dengan perasaanku. Dialah orang yang memaksaku untuk menikah dengan Saga demi sebuah perusahaan yang sangat di impikannya. Padahal, saat itu, aku ingin sekali melanjutkan pendidikanku agar bisa menjadi desainer. Namun, ayah tidak peduli.

"Saya sudah tidak berhubungan lagi dengan Tania. Saya dan Arana akan kembali bersama," jawab Saga.

"Kamu yakin? Saya tidak mau Arana terluka lagi. Jika memang tidak bisa dilanjutkan, tidak perlu memaksakan diri!" sahut Bapak yang duduk di sampingku.

"Saya yakin, Pak. Saya minta maaf untuk semua kesalahan saya di masa lalu. Saya janji tidak akan mengulanginya kembali," tutur Saga seperti orang yang penuh tekad.

'Cih, tekad?' Aku tersenyum sinis. Rasanya, aku ingin tertawa dan bertepuk tangan untuk akting Saga yang sangat alami. Pembohong besar, itu kata yang ingin sekali aku teriakkan di depan wajah Saga.

Aku melirik bunda yang terus menatapku dengan pandangan sulit diartikan.

"Bagaimana menurut mu, Di?" tanya Papa Bima ke Ayah.

"Aku tidak masalah, asalkan Saga tidak melukai hati Arana lagi," jawab Ayah yang sungguh membuatku tak percaya.

"Aku juga setuju jika mereka berdua mempertahankan pernikahannya. Iya kan, Ma?" ucapan Papa Bima pun langsung mendapat anggukan dari istrinya.

Aku memandang mereka dengan pandangan miris. Apa tidak ada yang memikirkan perasaanku? Tidak adakah satu orang saja yang bertanya pendapat ku?

Dari samping sebuah tangan menggenggam tanganku. Kak Raka mengangguk seolah memberi tahu, lakukanlah! Aku akan mendukungmu.

"Saya tidak mau kembali bersama Mas Saga," ucapku pada akhirnya sambil menatap satu persatu orang yang ada di ruangan ini. Semua orang langsung terdiam menatap ke arahku.

"Mas Saga selingkuh dengan Tania di belakang saya. Dia sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama wanita itu, bahkan membiayai operasi Ayah Tania."

Aku berusaha menahan air mataku yang sudah menggenang di pelupuk mataku.

"Arana, kamu salah paham," sanggah Saga. Namun, tak kupedulikan. Aku tetap melanjutkan ucapanku.

"Tania mengirim foto mereka berdua di ... atas ... ranjang," ucapku sedikit terbata dengan air mataku yang sudah mengalir tak tertahan. "Karena kekasih Mas Saga juga, saya kehilangan calon bayi saya!" Sekuat tenaga, aku berusaha menyelesaikan kalimatku.

Rasanya sangat sakit saat mengucapkannya. Mama Miranda menangis sambil menatapku iba, sedangkan Ayah dan Papa Bima, wajahnya memerah menahan amarah.

"Ceraikan putriku!" teriak Ayah lalu mencengkeram kerah baju Saga.

"Pak lek tenang! Jangan terbawa emosi!" Kak Raka menarik Ayah.

Saga hanya terdiam sambil memandangku dengan pandangan terluka. Aku tak peduli! Rasa sakitku tidak bisa ditebus hanya dengan luka yang ia rasakan sekarang.

Aku bukan lagi Arana bodoh yang akan diam saja saat hidupnya diatur tanpa persetujuanku. "Karena alasan itu juga, saya sengaja membiarkan Arana pergi 4 tahun yang lalu. Saya membantu Arana agar bisa melanjutkan pendidikannya untuk mengobati rasa sakit hatinya karena kehilangan calon bayinya," jelas kak Raka.

Aku tidak percaya melihat ayah bisa semarah itu kepada Mas Saga. Sekarang saja, Kak Raka masih memegangi Ayah.

"Mama pikir Rendra berbohong waktu bilang Tania yang membuat Arana keguguran. Kenapa kamu diam saja waktu itu, Ga? Kenapa kamu melindungi Tania? Mama kecewa sama kamu!" teriak mama Miranda marah.

Mama Miranda yang lemah lembut itu, memukuli Saga yang hanya diam saja. Pria itu tak bergeming menerima pukulan dari mamanya.

Papa Bima berusaha untuk menenangkan Mama Miranda agar berhenti memukuli Saga. Sebenarnya, aku tidak ingin semua ini terjadi. Tapi, aku tak punya pilihan karena Mas Saga yang memaksaku mengungkapkan semuanya.

Bunda mendekati ku lalu tangannya menggenggam tanganku. "Maafkan bunda, tidak bisa menjagamu," ucapnya dengan wajah sendu.

"Aku bisa menjaga diriku sendiri!" ucapku lalu menarik tanganku.

Nampak Bunda terkejut dengan sikapku, tapi aku tak peduli. Aku beranjak dan meninggalkan ruang tamu yang membuatku merasa sesak.

"Kita perlu bicara Arana!" Suara Saga membuat langkahku terhenti saat akan menaiki tangga.

"Aku tidak mau! Rasanya, aku ingin mencek**mu jika mengingat wanita itu," ucapku dingin lalu berbalik melangkah pergi.

"Aku bersumpah aku tidak akan menceraikanmu sampai aku mati!" teriak Saga yang tidak aku hiraukan.

Aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku bisa mencintai laki-laki serakah seperti Saga. Dulu, aku pikir Saga laki-laki yang baik, pintar, pendiam, dan mandiri. Dia juga selalu mengerjakan sholat lima waktu. Hanya dalam waktu satu bulan setelah kami menikah, aku bisa mencintai nya.

Sungguh bodoh karena pernah mengira dia mencintai ku. Tapi, tidak lagi sekarang! Aku tidak akan tertipu lagi! Sudah cukup rasa sakit yang kualami dulu. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Aku akan tetap meminta bercerai dari Mas Saga.

Aku akan melanjutkan hidup seperti 4 tahun ini. Tinggal dan bekerja di kota B. Besok, aku akan kembali ke kota dingin itu. Kemarin malam, aku sudah menelepon atasanku untuk meminta izin dua hari karena ada masalah keluarga yang harus aku selesaikan. Beruntungnya, atasanku sangat pengertian dan memberiku waktu untuk menyelesaikan masalahnya.

🌼🌼🌼

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status