Share

Menepis Tirai Masa Lalu
Menepis Tirai Masa Lalu
Author: Diaz Arwi

Bab 1

"Tapi…Rio?” Suara Sisi nyaris tidak terdengar.

Rio perlahan melepaskan jemarinya yang sejak tadi menggenggam erat jemari tangan halus Sisi. Bola mata Sisi berkaca, benar-benar ia tidak percaya dengan semua ini, dan tidak sanggup lagi bibirnya kembali menyebut nama “Rio”.

Air mata Sisi perlahan menetes, dan makin deras mengaliri pipinya.  Rio berdiri dari kursinya dan meninggalkan Sisi, tanpa sepatah katapun. Sisi hanya bisa diam terpaku.

Langkahnya terlihat gontai, namun Rio tetap melangkah menjauh dari tempat duduk Sisi. Air minum orange juice kesukaan Sisi dan Cappucino kegemaran Rio yang mereka pesan masih utuh. Dan tampaknya Capucinnonya sudah mulai dingin.

Ya..memang inilah kenyataan yang harus Sisi terima pada akhirnya. Rio adalah kekasihnya yang amat ia cintai, Rio harus melakukan itu demi melanjutkan keinginan dan cita-cita almarhum Papanya.

“Ahh betapa indahnya pemandangan di sini May..aku suka banget," kagum Sisi sambil sesekali ia hirup udara segar dan menghembuskannya seraya memejamkan kedua matanya, meremas-remas lembut syal yang melingkari lehernya yang jenjang itu. Maya hanya tersenyum menyaksikannya.

Menganggukkan sedikit kepalanya, kemudian kembali tersenyum untuk sahabatnya itu.

Memang setelah kejadian dua minggu yang lalu, membuat Sisi sempat terpuruk, hubungannya dengan Rio sudah berjalan cukup lama, menurut Sisi.

Rio Hananto Pujiatmoko (nama belakang diambil dari nama Almarhum Papanya), sudah 5 tahun mereka menjalin kasih, tidak pernah ada sedikitpun masalah, pertengkaran yang biasa mereka bisa atasi, bahkan pertengkaran yang besar sekalipun. Mereka selalu bisa mengatasinya dengan baik.

Tapi buat masalah yang satu ini sungguh amat berat bagi Rio maupun Sisi. Mereka sudah tidak dapat berkutik, mereka menyerah, bukan karena mereka tidak dapat mengatasinya, tapi karena Rio sudah berjanji menepati janji kepada papanya, Rio mencintai Sisi.

Mereka saling mencintai. Dan Rio akan menikahi Sisi secepatnya, namun semua kandas, dan memang harus begitulah. Rio tidak bisa berbuat apa-apa hanya ingin memenuhi keinginan almarhum ayahnya. Sisi pun tidak mau dianggap seperti mengajak Rio untuk durhaka pada orang tua.

“Hey!" Tiba-tiba suara Maya mengejutkan lamunannya.

“Kamu nangis, Si?" Maya menatap mata Sisi.

“Ah, tidak kok.” Sisi langsung mengusap matanya dengan telapak tangannya.

“Kelilipan angin sepoi-sepoi sepertinya.” Sisi berusaha menutupi.

Di situ memang Maya mengajak Sisi untuk sekedar refreshing saja. Demi melihat setiap harinya Sisi murung di kantor, tidak konsentrasi, setiap di depan laptopnya, hanya bengong, entah apa yang sedang ditatapnya begitu lama di depan layar laptopnya. Hanya membuat laptopnya lowbat saja, tanpa mengetik suatu apapun.

Maya minta ijin akhirnya kepada atasan minta cuti beberapa hari bersama Sisi sambil sekalian mencari bahan tulisan untuk tulisan pada Media tempat mereka bekerja.

Itu memang alasan Maya saja supaya diperbolehkan. Dan memang diperbolehkan.

Sisi dan Maya bekerja sebagai penulis sekaligus wartawan freelance pada suatu media cetak yang berlokasi di Jakarta. Ditambah Sisi yang setuju dengan ajakan Maya.

“Sudahlah, Si. Kita senang-senang di sini, lupain deh Rio, kalau memang itu keputusan yang harus ia jalani, ya…kamu pun harus turuti, aku yakin Rio masih mencintai kamu sampai detik ini, meskipun ... meskipun ia harus ...” Maya tidak meneruskan ocehannya.

“Maaf, Si, bukan maksudku ....” Maya merasa tidak enak. Sehingga tak meneruskan kalimatnya.

“Gak apa-apa May …” Sisi menggeleng, giliran ia yang melempar senyum simpulnya.

“Aku yang salah, May, tidak seharusnya aku murung begitu, padahal kau sudah berusaha mengajakku kemari, supaya aku melupakannya. Makasih loh, May.” Sisi merangkul pundak Maya, seraya mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi kebun teh yang amat sejuk itu.

Maya memang senang ke tempat itu, sejuk dan jauh dari kebisingan kota, alamnya asri dan tidak terjamah oleh polusi. Tempatnya memang berdekatan dengan pegunungan, wilayah Jawa Barat.

Kebetulan memang nenek Maya tinggal di situ, sekalian sudah lama Maya merindukan ingin bertemu dengan neneknya. Rindu masakannya yang paling enak sedunia bagi Maya. Tempe goreng, ayam bakar, tahu,  dengan sambal dan lalapan yang segar, membuat Maya makin lapar membayangkannya. Itu makanan khas Jawa Barat, lalapannya, dan sambel terasi pedas. Mantapnya!

“Yuk, Si! langsung ke rumah nenekku dulu lah, pasti beliau senang deh ketemu kita.” Maya menarik pelan lengan Sisi. Sisi menurut saja. Karena memang mereka di sini sedang ingin melepas segala penat, di Jakarta, dengan setumpuk pekerjaan.

Di sini mereka seperti bebas lepas, tak boleh ada yang bisa mengganggu. Walaupun hanya beberapa hari saja.

Mereka berjalan menyusuri lekukan anak bukit, menyusuri kebun teh, Yang dikelilingi setiap pepohonan teh dengan para perempuan-perempuan, ibu-ibu, juga ada anak gadisnya yang sebaya dengan Sisi dan Maya. Dengan caping-caping yang nyaris menutupi wajah mereka. Menggendong keranjang yang penuh terisi daun-daun teh hijau segar di pundak mereka.

“Itu rumah nenekku!” seru Maya menunjuk lurus telunjuknya ke arah rumah mungil yang amat sederhana. Namun terlihat damai, dikelilingi pohon-pohon tanggung yang hijau dan bersih. Sisi mengikuti Maya dari belakang, membiarkan Maya berjalan lebih dulu di depannya.

Sisi sangat mengagumi wilayahnya. Segar dan masih bersih. Aroma alami pedesaan.  

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Charlotte Lee
menarik ceritanya.. boleh tau akun medsosnya gaa biar bisa aku follow?
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status