Share

Bab 2

Tepat sekali di depan pintu yang dibiarkan terbuka lebar, Maya melongokkan kepalanya.

“Assalammualaikum Nek?” Maya langsung memeluk punggung nenek dari belakang, nenek sedikit terkejut dan langsung menyadari itu adalah cucu tersayangnya. Nenek hapal sekali. Wanita setengah baya itupun membalikkan tubuhnya membalas pelukan Maya.

“Tumben kau Maya, kenapa tidak memberi kabar dahulu?” tanya Nenek sembari mencubit pelan pipi halus cucunya itu.

“Maaf, Nek, mendadak. Inipun ijin dari kantor.”

“Ohya, Nek, kenalkan ini temen kantorku Sisi." Tanpa basa-basi Maya langsung memperkenalkan Sisi. Sisi mencium punggung tangan Nenek, sambil dibalas dengan senyuman wanita setengah baya itu.

Setelah beberapa saat mereka mengobrol. Maya pun mengajak Sisi menempati kamar kosong yang akan ditempati mereka berdua.

Setelah sebelumnya Nenek yang menawarkannya.

"Haduh, cape banget!" Maya berseru. Sambil mendudukkan tubuhnya dipinggiran ranjang.

Maya dan Sisi memang tampak lelah sekali, setelah perjalanan dari Jakarta. Lalu mereka berdua masih harus berjalan jauh menuju tempat Nenek. Mereka butuh istirahat, setelah makan siang yang lumayan telat. Yaitu kesorean. Merekapun terlelap, sehabis sholat Isya.

Pagi-pagi buta, kira-kira jam 5 kurang, Sisi terbangun. Seperti mendengar suara perempuan dan seorang lelaki tengah mengobrol, di ruang tengah. Cahaya lampu nampak terang di situ.

Sebenarnya, Sisi tidak mau tahu, hanya saja ia sangat penasaran. Sisi bangun dan sedikit membuka jendela kamar, yang mengarah ke ruang tengah.

Memang jendelanya sudah terbuka setengah, dan tidak pernah terkunci sepertinya. Sisipun tidak perlu membuka lebar-lebar. Hanya cukup mendorongnya sedikit dengan halus.

Sisi melihat wanita setengah baya itu adalah Nenek Maya, sedang berbicara dengan lelaki yang masih muda, dan terlihat malah amat muda. Masih dibilang seumuran dengan Sisi dan Maya. Nenek masih memakai mukena, dan hendak sholat subuh sepertinya.

“Baik, Nek, nanti sekitar jam 7-an saya perbaiki." Kata-kata itu amat jelas Sisi dengar terucap dari mulut pemuda itu. Entah apa urusannya Sisi tidak tahu dan memang tidak mau tahu.

Satu pertanyaan saja, siapa pemuda itu? Ah! sudahlah, mungkin orang kampung sini, ada perlu dengan Nenek. Begitu pikir Sisi.

Ok, sebenarnya bukan hanya itu saja. Baiklah, pemuda itu memang tampan. Entahlah, Sisi malah jadi serba salah sendiri. Banyak kalimat-kalimat mengganggu di atas kepalanya. Mutar-mutar mendengung.

Pemuda itu, sederhana, bahkan amat sangat. Sisi perhatikan dari ujung kaki sampai kepala, dengan kulit sawo matang yang terlihat bersih. Wajahnyapun terlihat bersih, dia juga berbicara dengan Nenek terlihat sangat sopan. Bahkan amat menghormati Nenek.

Siapa ya dia? Sisi melirik ke arah Maya yang masih tertidur pulas, seolah ingin menanyakan Maya langsung, siapa pemuda tampan itu. Lebih baik, ia tunggu nanti kalau Maya sudah terbangun.

Sisi kembali ke tempat tidurnya di samping Maya. Duduk di pinggiran tempat tidur, dan mulai menggoyangkan punggung Maya yang tidur pulas membelakanginya tadi.

“May! bangun. kita sholat subuh, yuk! Sudah telat nih." Sisi menggugah dengan sedikit berbisik.

Maya kelihatan membuka susah payah matanya yang terkatup rapat, karena memang kelihatannya masih mengantuk. “Iya Si…” Maya pun duduk, sambil mengucek matanya. Bola matanya berjalan ke kanan dan ke kiri. Rupanya, ia belum sadarkan diri.

“Kau sudah bangun, Si?” Tanya Maya meski matanya masih terlihat setengah terbuka.

“Iya sudah, cuma belum wudhu,” sahut Sisi sambil beranjak, membuka pintu. Maya menyusulnya dari belakang.

Sisi belum lupa dengan pemuda itu, ia mencari waktu tepat untuk menanyakan kepada Nenek. Saat sarapan, atau ketika selesainya. Sisi ingin menanyakannya langsung ke Nenek. Masih saja belum pas waktunya. Sisi ragu dan sedikit malu juga jika menanyakan hal itu kepada Nenek.

***

“Assalammualaikum Nenek.” Tiba-tiba ada suara lelaki sedikit mengejutkan Sisi, juga Maya, namun Sisi langsung menangkap raut wajah Maya, Maya mengenalnya. Ya Maya terlihat menampakkan wajah senangnya.

Tetapi Sisi tidak asing dengan suara itu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status