Share

Bab 6

Setelah sampai pada jembatan kecil, dan membuat Sisi sedikit ngeri. Karena di bawahnya, adalah kali yang airnya deras namun jernih, Sisi agak sedikit takut.

“Pegangan yang erat, Si!” seru Maya sambil meraih tangan Sisi, dan mereka bebarengan bergandengan tangan hingga sampai di ujung jembatan. Sisi tidak berani melihat ke bawah.

Sesampai di ujung jembatan, Sisi bernafas lega. Membayangkan arus deras di bawah jembatan yang ia lalui bersama Maya tadi. Ditambah, jembatannya sempit dan agak bergoyang-goyang membikin dada Sisi berdegup. Karena mereka kan membawa tas yang cukup berat, juga ransel yang Sisi dan Maya bawa di pundak mereka.

“Sampai juga.” Maya membetulkan posisi ranselnya dan tas goddie bagnya yang ia tenteng lumayan berat.

“Itu, rumah Damar!” seru Maya tiba-tiba. Sontak membuat Sisi langsung menyimak. Tentu saja itu yang sejak tadi ia tunggu-tunggu, yaitu melewati rumah Damar.

“Yuk, kita mampir dulu sebentar saja ke sana," ajak Maya. Sisi mengekor saja, tanpa berkata apa-apa.

Mereka sampailah di depan rumah Damar. Nampak di situ seorang pemuda sedang mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di halaman depan rumahnya, tanpa menyadari ada dua gadis cantik yang hendak mendekatinya. Namun, keburu Damar lebih dulu menyadari ada yang berjalan ke arahnya, ia pun menoleh.

“Hei kalian!” Damar langsung saja menyapa.

“Maaf lagi berantakan, ni.”

“Tidak apa-apa, Mar, kami cuma mau pamit nih. Mau ke Jakarta, sudah cukup libur cutinya,” Maya nyengir simple.

“Oh iya, aku sampai lupa,” kata Damar sembari bergegas meletakkan aritnya meminggirkannya ke pojokan tembok dekat teras.

“Bisa aku mengantar kalian sampai naik angkot?” tawar Damar. Maya menggeleng pasti.

“Tidak usah, Mar, kami bisa sendiri kok." Sahut Maya segera. Dengan senyumannya.

“Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati ya, Si...” Langsung suara itu menyetrum hati Sisi yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Damar mengobrol dengan Maya. Dengan senyuman penuh arti buat Sisi.

Ternyata dia tidak lupa mengucapkan kata untukku, bathin Sisi.

“Iya!” Sisi mengangguk. Sisi tersipu amat malu, ada sepintas dipikirannya untuk meminta nomor telepon Damar.

"Pesan hati-hatinya buat Sisi aja, nih?" Maya menyelutuk, sembari mengedipkan sebelah matannya ke arah Sisi. 

“Aku boleh minta nomormu?” ternyata Damar lebih dulu memintanya. Sisi terlambat, dan membuat Sisi mengawang-awang. Namun senang hatinya.

"Waduh, bisa telepon-teleponan, nih," kembali Maya menggoda.

Segera Sisi mengeluarkan telepon genggamnya, dari dalam tas selempang kecilnya yang berwarna merah jambu. Untuk memberikan nomornya kepada Damar. Tanpa perdulikan Maya yang masih menggodanya, dengan senyuman khasnya.

Akhirnya, Sisi merasa lega mendapatkan nomor handphone Damar, setidaknya ia bisa menghubungi Damar kapan saja. Meskipun mereka terpisah antara Jakarta-Bandung.

“Terima kasih ya,” ucap Damar kepada Sisi, setelah ia mencatat nomor Sisi dan menyimpan di handphonenya.

“Sama-sama," Sisi membalas.

“Ya sudah yuk, mari Damar kami duluan ya, salam buat ibumu, ya.” Maya menarik lengan Sisi. Karena kalau tidak begitu ini akan lama, sepertinya Maya paham sekali. Mereka berdua saling menyimpan perasaan. Biarlah, Maya setuju-setuju saja. Biar Sisi bisa melupakan sosok Rio yang sudah membuat hatinya sakit.

Rio memang harus menuruti pesan dari Almarhum papanya untuk menikahi Cecilia, dan Rio menuruti. Sisipun sama sekali tidak memaksa, merengek Rio untuk tidak menuruti pesan papanya sebelum meninggal.

Sisi tahu diri. Walau teramat sakit, Sisi berusaha kuat. Meski selalu masih terlihat murung di kantor. Makanya Maya mengajaknya ambil cuti untuk sekedar refreshing, demi melihat Sisi yang terlihat berubah menjadi pendiam. Dan selalu tidak mood jika diajak bercanda.

Dan, syukurlah setelah ini Maya merasa berhasil membuat Sisi melupakan Rio barang sekejap. Lihat saja, sekarang sepertinya Sisi terpikat dengan Damar, dan Damarpun Maya lihat sepertinya juga menyukai Sisi.

Tentu sajalah, Sisi itu sangat manis. Lelaki mana yang tidak menyukainya. Dengan rambut panjangnya yang lurus, hidung mungilnya, bibir tipisnya, juga bicaranya yang lembut. Dan yang pasti Sisi sangat pemalu. Jadi tidak mungkin dia memulai duluan menunjukkan menyukai Damar. Sebelum Damar yang lebih dulu suka Sisi. Dan Damar, nampaknya menaruh hati pada Sisi. Maya tahu sekali itu.

“Maafkan aku Si, aku sudah berjanji pada Papa, beliau ingin sekali aku kelak bisa menikah dengan Cecilia, dan meneruskan usaha Papa, karena aku ini anak lelaki penerus satu-satunya yang beliau harapkan."

Sisi kaku terdiam mendengarkan penjelasan Rio yang membuat hatinya amat sakit.

“Aku mencintaimu, Si, tapi maafkan aku. Ini semua bukan keinginanku.” Rio terus bicara, sementara Sisi tetap pada posisi diam. Rio meremas jemari Sisi, tanpa memberi kesempatan Sisi untuk mengeluarkan suaranya. Tanpa menunggu dan melihat Sisi mulai menangis, Rio langsung saja beranjak dari tempat duduknya dan berlalu dari Sisi.

Sama sekali tidak punya hati, dia langsung saja meninggalkannya sendiri menangis di Kafe itu menahan sakit hatinya. Serta, suara lirih Sisi yang memanggil namanya. Tetapi, Rio sudah jauh.

Sakit sekali rasa yang Sisi alami saat itu. Dengan sekuat tenaga Sisi berusaha kuat. Mencoba mengerti dengan perjodohan ini.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status