Share

Bab 3

“Damar? ini pasti Damar.” Maya berdiri menghampiri pemuda yang ia yakin sekali namanya Damar.

“Iya, Neng Maya.” jawab pemuda yang bernama Damar itu.

“Alah! Pake Neng sagala euy, panggil saja Maya. Dulu kamu masih kecil, sekarang sudah segini, loh.” Dengan logat sunda kentalnya Maya, seperti nampak sudah akrab dengan pemuda itu.

Pemuda bernama Damar itu tersenyum.

“Tadi Nenek yang suruh kemari,” kata Nenek menyela obrolan mereka.

“Saluran air di belakang kadang macet, Nenek menyuruh Damar membetulkan, tadi kebetulan ketemu waktu Damar mau ke mesjid,” terang Nenek. Maya mengangguk mengerti.

Sisi yang menyaksikan obrolan mereka terbengong-bengong sampai lupa untuk minum. Sejak tadi tangannya hanya memainkan pinggiran piring makanannya. Itu pemuda yang tadi pagi Sisi lihat mengobrol dengan Nenek. Jadi Damar ternyata namanya. Batin Sisi.

”Waduh, aku sampe kelupaan, kenalin ini Sisi temen kantorku di Jakarta.” Ternyata Maya baru sadar kalau ia harus kenalkan Damar ke Sisi. Sisi menganggguk sedikit. Namun pandangan mata Sisi sempat beradu pandang cukup lama dengan Damar. Pada saat mereka bersalaman, begitupun Damar. Sisi seperti terhipnotis mata tajam Damar, yang seolah hendak menyentuh kelopak mata Sisi.

“Sisi,” ucap Sisi lirih memperkenalkan diri.

Setelah melihat dari dekat, memang penglihatan Sisi tadi pagi tidak berbohong. Damar memang pemuda tampan, sopan, dan ramah. Walau agak sedikit tidak terawat, namun Sisi yakin jika Damar dirapikan sedikit saja bisa mirip artis-artis ibukota. Fedy Nuril. Tutur katanya juga lemah lembut, tidak urakan, seperti kebanyakan pemuda-pemuda di kota.

“Damar...” suara Damar memperkenalkan diri juga, membuat hati Sisi lupa segalanya, bahkan lupa ada Maya dan Nenek di situ.

Hari pertama di rumah Nenek, membuat Sisi betah dan makin kerasan. Ia menurut saja setiap Maya ajak jalan keliling-keliling kampung. Sambil melihat orang-orang kampung situ yang selalu ramah menyapa Sisi juga Maya setiap berpapasan dengan mereka berdua.

Seakan Sisi lupa semua masalahnya, lupa kegundahan dan kesedihannya, dan tentunya lupa akan, Rio!

Rio meninggalkannya demi pesan almarhum papanya sebelum meninggal, bahwa ia harus pindah menetap ke Australia untuk bekerja dan menikahi Cecilia. Merupakan putri dari seorang konglomerat, teman sejawat papanya Rio sejak kecil.

Dan itulah yang membuat Sisi dan Rio harus memaksakan untuk berpisah. Karena Rio sangat tidak ingin mengecewakan almarhum papanya. Begitu juga Sisi, ia merasa harus ikhlas dengan semuanya itu. Meski berat saat itu, melepas Rio.

Hari kedua, Sisi masih berada di situ menikmati suasana desa yang sejuk bersama sahabatnya, Maya. Sejenak ia tidak terpaku dengan sosok Damar yang sehari penuh kemarin mengelilingi pikirannya. Bagi Sisi, Damar itu sempurna. Sempurna dalam arti bahwa, berbeda dengan pemuda kota yang berani dan kadang brutal, bahkan yang sering orang bilang “MODUS” entahlah, seperti itulah istilahnya. Selintaspun ia tidak tebersit nama atau bayangan RIO, ya “RIO”

Sisi lupa sama sekali.

Padahal baru saja dua hari di sini, pikiran Sisi segar, sesegar ia kali pertama melihat Damar. Dan kini hingga detik ini telah membawanya ke awang-awang, sehingga membuatnya betah berlama-lama di tempat ini.

Tapi tidak mungkin Sisi berlama-lama juga di sini. Dia kan harus bekerja, di Jakarta. Dan kembali ke Jakarta, kembali ke rumah. Di rumahnya yang ada hanya mama dan kakaknya yang amat bawel, Sena. Namun Sisi amat menyayanginya. Kak Sena amat perhatian meski tegas dan sedikit cerewet.

“Sisi!” suara Maya mengejutkannya yang sedang memperhatikan anak-anak kecil yang berlari-lari berkejaran bersama teman-teman sebayanya. Mereka anak-anak kecil desa ini begitu polos dan alami. Sambil bermain permainan yang masih tradisional di daerah sini. Senyum Sisi amat lepas memperhatikan mereka dari jauh.

“Sisi!” panggilan Maya semakin dekat.

“Si, kau tau gak?” tanya Maya. Sisi menggeleng cepat, karena memang tidak tahu apa yang dimaksud pertanyaan Maya.

“Kenapa memangnya, May?” tanya Sisi kembali.

“Masih ingat Damar?” Sisi mengangguk dua kali dengan cepat. Dengan mata sedikit mendelik, memandang langsung ke arah mata Maya. Seperti menunggu kata-kata Maya selanjutnya tanpa sabar.

“Damar itu tinggal di sana Si," kata Maya sambil menuding kecil jemari telunjuknya. Sisi langsung spontan menengok ke arah yang ditunjuk Maya. Sisi mengangguk berkali-kali sambil membatin, “Jauh juga ya."

“Karena mesjid kan dekat sini saja yang ada Si,” ucap Maya seolah mengerti apa yang dipikirkan Sisi.

“Nah, Damar memang sering sholat di Mesjid sini Si, makanya kenal Nenek, dan nenek amat dekat dengan Damar. Karena Damar suka menolong ibu-ibu di sini, atau orang tua di sini, dan dia selalu membantu mereka. Damar tinggal dengan ibunya di sana, dia anak baik." Maya menjelaskan sambil menyengir, disambut cengiran Sisi juga.

Ada-ada saja Maya, ceritanya. Berarti memang Damar benar-benar pemuda sopan, ramah dan suka menolong. Wah, hebatnya masih ada ternyata pemuda seperti itu di zaman modern ini. Maklumlah di desa. Beribadah juga meski harus menempuh jarak yang sangat jauh dari tempat tinggalnya. Sisi kagum.

“Oh ya, Si,” lanjut Maya lagi. “Dia itu pernah bilang ke Nenek kepingin kerja di Jakarta loh. Hnya saja nenek bilang, Jakarta tidak seperti yang kita bayangkan, enak, gaji gede. Jakarta itu keras begitu kata nenek ke Damar,”

“Hahahaha!” Maya tertawa terpingkal, diikuti Sisi tertawa juga. Menurut mereka berdua itu menggelikan, karena ditambah sekarang hati Sisi seperti baru, lebih fresh.  Pikiranpun seperti lepas bebas. Ingin rasanya lebih lama lagi di sini.

“Padahal Jakarta gak seperti itu juga ya May, tergantung bagaimana manusianya,” lanjut Sisi sembari senyum simpul.

“Sejak itu Damar sepertinya gak lagi minat ke Jakarta, Si." Maya mengerlingkan matanya.

“Masa?” tanya Sisi heran.

Sisi menyatukan jari jemarinya sembari sedikit terlihat berpikir keras. Ah sudahlah, pemikiran yang tidak ada gunanya. Buat apa ia sampai punya pikiran untuk mengajak Damar melamar kerjaan, bahkan membantunya mencari pekerjaan di Jakarta. Kantor ia bekerjapun belum mencari calon karyawan baru, apalagi ia menjanjikan pekerjaan di Jakarta. Buat Damar?

Ahhh sudahlah, kembali Sisi menepisnya, berpuluh pemikiran itu tidak akan ada jalannya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status