Share

4. Dimas dan Hendra

Pukulan tangan Dimas, yang sebelumnya tak pernah Hendra duga, kini tepat bersarang di pelipisnya, hingga membuat ia terjatuh dari sofa yang belum sempat ia duduki lagi tadi.

Belum sempat berdiri sempurna. Dimas kembali menyerang perut Hendra dengan tendangan kaki kanannya. Hingga membuat Papa kandung dari Evan itu kembali mencium lantai. Sempurna!

Sangat mudah bagi Dimas, pemegang sabuk hitam karate ini untuk mengalahkan lawannya. apalagi lawan yang tak mempunyai dasar tentang pembelaan diri.

Hendra dengan susah payah bangkit dan duduk kembali di kursinya. Sambil terus memegangi perut yang mungkin kerasa sangat sakit.

"Bajingan, kamu Dimas!" ujar Hendra, matanya terpejam sambil  menyandarkan punggungnya. Mungkin untuk mengurangi sakit di bagian perut.

"Bajingan?!" ejek Dimas sambil kembali duduk di sofa.

"Aku kasih tahu kamu, siapa yang bajingan di antara kita!!?" Dimas menyilangkan kaki kanan ke atas kaki kirinya. Matanya menatap tajam Hendra.

"Aku tahu, kamu pasti sudah mengira siapa yang membantu Bastian dan Mieke menikah? Namun apa alasanmu, dengan tak berperasaan, kau guna-guna istriku, kau hancurkan rumah tanggaku dengan Sinta. Kau tak terima, Mieke lebih memilih Bastian yang miskin daripada kamu yang punya segalanya-"

Dimas tiba tiba menghentikan ucapannya, lelaki itu terlihat tak se semangat di awal.

"Kamu punya segalanya, Hen. Kamu gagah dan tampan, kamu kaya, banyak orang yang menghormatimu! Tapi sayangnya kamu nggak punya hati!"

Dimas berkata sambil menahan emosi, pandangan mata itu memerah dan tajam seakan ingin merobek robek laki laki yang berdiri di depannya, sangat fokus pada lawannya.

"Di mana kamu, saat Sinta yang mulai menyayangimu dengan hati, perempuan yang dengan guna guna mampu kau rebut, malah kau biarkan bersusah payah sendirian, saat melahirkan anak kalian? Atau pada saat dia meregang nyawa?"

Ada getaran kesedihan dalam nada suara Dimas yang tak bisa disembunyikan. Mengingat perempuan yang paling dia cintai dan masih bertahta di hatinya walaupun sudah tak ada lagi di antara mereka.

Bayangan masa lalu saat dia menemani mantan istrinya melahirkan, berlari memutar satu persatu di kepalanya.

"Tapi yang satu hal yang tak bisa kuterima, perlakuanmu pada Evan. Dia anakmu, darah dagingmu. Salah apa dia hingga cintanya kau hancurkan? Hanya karena Nilla anak dari Mieke, wanita yang telah menolak cintamu. Tidakkah kau merasa bersalah telah membunuh Mieke dan Bastian dengan sengaja menabrakkan mobilmu pada warung mereka?"

Kaget nampak jelas di raut muka Hendra, seperti tak percaya Dimas mengetahui segalanya. Namun itu hanya sesaat, karena kini wajah itu kembali datar dalam diam.

Entah apa yang sedang di rasakan oleh lelaki berpenampilan bois itu, dari awal hanya menunjukkan raut datar, walau sesekali terlihat mengerutkan kening, Namun itu hanya sesaat.

"Aku juga tahu, bagaimana dengan begitu tak berperasaannya Nilla kau ancam untuk putus dari Evan. Papa macam apa kamu?"

Dimas menggenggam ke dua tangannya, menahan amarah.

"Lepaskan, Evan. Biar aku yang akan menjaganya. Kan kucintai dia seperti anakku sendiri."

Ada senyum tipis yang ditunjukkan oleh Hendra, yang tak dimas ketahui saat mendengar apa yang di ucapkan.

Dimas berdiri dan melangkah keluar. Namun tiba-tiba terhenti di depan pintu, dan berbalik.

"Bila nanti, ada sesuatu yang menimpa Evan dan Nilla. Aku yang akan membunuhmu. Ingat itu, Hendra!" ucap Dimas sebelum berlalu pergi dari rumah besar itu.

Tanpa Hendra dan Dimas sadari. Dari balik pintu yang terbuka tiba tiba, Evan sedang menatap lantai dengan ke dua tangan terkepal.

Dengan mata memerah, Evan keluar dari balik pintu, melangkah perlahan melewati Papanya yang ia sadar pasti sedang melihat ke arahnya walau sama sama, dalam diam.

Evan juga merasa tak perlu melihat bagaimana ekspresi lelaki yang selama ini selalu kontra dengannya, terkejut atau tidak, nyatanya selama mereka hidup bersama di rumah ini, tetapi Evan merasa tak punya kenangan berarti.

Evan tetap melangkah perlahan menaiki tangga, sambil memegang sebuah tas ransel yang berada di punggungnya. Menuju ke kamar pribadi yang sudah hampir enam bulan tidak ia datangi.

Tak ada yang berubah di setiap inci kamar pribadinya itu, semuanya terlihat sama dan selalu bersih.

Ya! Sejak pertengkaran besar antara dia dan Papanya, yang baru ia tahu tadi jawaban dari semua masalah yang ia hadapi. Evan memilih untuk keluar dari rumah besar ini dan memilih melanjutkan hidupnya dengan sederhana, sangat sederhana malah.

Dendam Papanya pada orang orang yang di anggap memisahkan dirinya dengan perempuan yang di cintainya, tanpa mau tahu apakah perempuan itu juga mencintai dirinya atau tidak.

Semua bermula dari rasa, begitu pun yang Evan rasakan saat ini, karena rasa pada Nilla.

Mampu membuat seorang King Evan Aizaer yang notabene adalah seorang pewaris tunggal dari kerajaan PT. Drabara Jaya --Sebuah perusahaan yang sudah sangat terkenal namanya dalam bidang pertambangan.

Yang terbiasa hidup terjamin, kini di paksa harus mampu hidup berdikari sendiri, menjadi seorang satpam.

Di bukanya pintu kamar hingga terdengar deritnya halus.

Kemudian dia melangkah, masuk ke dalam dan langsung menuju ke lemari besi di sebelah kanan tempat tidurnya. Di buka dan di masukkannya semua kertas kertas dan uang yang ia keluarkan dari dalam lemari itu, ke dalam tas yang sudah ia siapkan.

Setelah menganggap selesai dengan kepentingannya. Evan kembali melangkah keluar kamar. Tampak Papanya masih duduk di tempat yang sama, seperti saat dia masuk ke dalam kamar pribadinya tadi. Namun, kini dengan mata terpejam.

"Papa, aku minta maaf atas segala kekuranganku selama menjadi anakmu, aku juga meminta maaf untuk Mama yang mungkin juga sudah amat menyusahkan mu. Aku tahu, nggak bakalan bisa seorang Evan Aizaer yang bekerja hanya sebagai satpam untuk mengembalikan uang yang selama ini sudah kau kucurkan untukku. Tolong ikhlaskan."

Evan mengulurkan kedua tangannya hendak mengambil tangan kanan milik Papanya yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan.

"Aku akan pergi, agar tidak lagi memberatkan Papa dengan segala kemauanku yang selalu bertentangan denganmu, maafkan aku, Pa," ujarnya sambil berusaha memeluk lelaki yang masih bertahan dama diam, tak bersuara.

Walau tanpa reaksi dari orang yang sudah ia pamitin dan ia peluk, Namun sepertinya Evan yakin kalau sekarang Papanya pasti akan sangat bahagia karena tidak perlu lagi melihat wajahnya, wajah dari anak yang sebenarnya tidak di inginkan.

Dengan pasti, Evan melangkahkan kakinya keluar dan segera menaiki sepeda motor bekas yang baru saja di belinya dengan menggunakan uang tabungan yang awalnya untuk rencana menikah dengan Nilla.

Sebelum meninggalkan halaman, Evan kembali memandangi rumah yang sudah ia tempati sejak kecil, dengan tatapan nanar.

"Aku berjanji tidak akan datang bila bukan kau yang memanggilku untuk datang, Pa!" ucap Evan lirih, sesaat sebelum dia melajukan motornya.

****

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status