Share

Mencari cinta

Andrew menahan lengan Luna. “Lalu mau kamu apa?”

“Kita menikah.”

“Kalau itu aku belum bisa.”

“Kenapa?”

“Karena Alan belum ditemukan, bagaimana pun dia adikku. Mana mungkin kita menggelar pesta pernikahan sementara adik iparku masih berduka karena kehilangan suaminya.”

“Sudahlah Andrew, kamu selalu saja memiliki alasan untuk mengulur waktu pernikahan kita.” Luna menarik lengannya dengan kasar lalu melangkah ke kamarnya dan menutup pintu dengan sedikit kencang.

Di dalam kamar, wanita itu hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang tak kunjung mendapat kepastian dari Andrew. Tiga tahun lamanya ia bersabar menanti kekasihnya itu untuk segera menikahinya, hingga saat ini adiknya menghilang membuatnya semakin mengulur waktu untuk segera meresmikan hubungan mereka.

“Entah apa yang ada di hatimu Andrew, kenapa aku selalu merasa kamu tidak pernah mencintaiku,” batin Luna menangis.

“Maafkan aku Luna, meski kita telah bertunangan tapi aku belum siap untuk menikah denganmu,” gumam Andrew kemudian beranjak pergi dari rumah Luna tanpa pamit.

**

“Bagaimana Pak, apa ada perkembangan terbaru tentang pencarian suami saya?” tanya April saat dirinya mengunjungi kantor polisi untuk menanyakan tentang kelanjutan proses pencarian Alan.

“Masih belum Bu, mobil yang kami temukan sudah terbuka pintunya di bagian kemudi dan tidak kami temukan siapa pun di dalamnya kecuali barang-barang yang sudah kami serahkan kepada pihak keluarga untuk memvalidasi bahwa mobil tersebut memang milik Bapak Alan. Namun—“

“Ada apa Pak?” potong April cepat karena merasa sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan pihak kepolisian tersebut.

“Begini, karena pintu mobil kami temukan terbuka ada dua kemungkinan tentang hilangnya bapak Alan. Yang pertama beliau berhasil melompat keluar sesaat sebelum mobilnya masuk ke dalam jurang atau ... yang kedua beliau berhasil membuka pintu saat mobilnya sudah terjatuh namun ... tidak berhasil menyelamatkan diri.”

“Maksud Bapak, suami saya tenggelam dan—“ April tidak sanggup meneruskan perkataannya, tiba-tiba dadanya terasa sesak jika memang kemungkinan kedua adalah hal yang terjadi sebenarnya.

Namun hatinya masih belum mau menyerah, keinginannya menemukan sang suami dalam keadaan selamat menjadi penyemangat tersendiri untuknya agar tak mudah menyerah dalam pencarian suami tercintanya itu.

Begitulah kegiatan April selama satu tahun ini, setiap minggunya ia akan datang ke kantor polisi untuk mengetahui sejauh mana mereka melakukan pencarian pada suaminya. Ia pun telah mengerahkan beberapa orang untuk mencari suaminya itu, namun hingga saat ini tak satu pun dari mereka yang berhasil menemukan jejak Alan.

**

“Alan, aku sangat yakin kamu pasti selamat dari kecelakaan itu. Tapi harus kucari ke mana lagi kamu, tolong beri aku petunjuk untuk menemukanmu,” gumam April seraya menatap menara jam Big Ben yang berdiri kokoh di hadapannya dengan tatapan sendu, jika merasa lelah dengan pekerjaannya ia selalu mengunjungi menara itu untuk sekedar melepas penat. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang dengan setia mengawasinya dari kejauhan.

Drrrt... Drrrt...

Dering ponsel menyadarkan April dari lamunannya, segera ia merogoh tasnya untuk mengambil benda pipih itu. Tampak panggilan dari pengasuh anaknya mengharuskannya untuk segera menjawab panggilan itu, ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan panggilan pun tersambung.

[Halo Mami, Mami kapan pulang? Alana ingin makan di lual cama Mami.]

[Ah, iya Sayang. Maafkan mami ya karena pulang agak terlambat, bersiaplah sebentar lagi mami akan menjemputmu untuk makan malam di luar.]

[Benal Mi? Yeay! Oke Mi, aku ciap-ciap dulu. Dah Mami i love you.]

[Love you too, Sayang.]

Panggilan pun mereka akhiri, April memasukkan ponsel kembali ke dalam tasnya lalu melangkah menuju mobil untuk segera pulang dan makan malam bersama putri tercintanya. Melihat April pergi dari tempatnya, orang yang sejak tadi mengawasinya pun ikut pergi meninggalkan tempat itu.

**

Sesampainya di apartemen, April melihat bi Mia sudah bersiap untuk pulang. Lalu ia pun menghampiri wanita paruh baya itu.

“Terima kasih Bi Mia sudah menjaga Alana dengan baik hari ini,” ucap April saat pengasuh anaknya berpamitan untuk pulang.

“Sama-sama Non, kalau begitu bibi pamit pulang dulu ya,” ujar bi Mia.

April menyalami bi Mia seraya menyelipkan sebuah amplop di tangan wanita paruh baya itu. “Bonus untuk Bibi,” katanya sambil tersenyum.

“Wah ... terima kasih banyak ya Non, saya pamit selamat malam,” ucap bi Mia penuh syukur kemudian segera berlalu meninggalkan April dengan putri kecilnya, Alana.

Sepulang bi Mia, April melangkah ke kamar Alana dan melihat putri kecilnya yang sedang menyisir rambutnya sendiri. April duduk di pinggir ranjang Alana, lalu membantunya menyisir dan memakaikan bando dengan warna pink yang terlihat sangat cantik di kepala gadis kecil itu.

“Mami aku mau makan klabby patty ya nanti,” celoteh Alana sambil menyunggingkan senyum manisnya.

“Krabby patty? Maksud Alana hamburger?” tanya April memastikan.

Alana mengangguk pelan. “Iya, Mami.”

“Oke Sayang, tapi setelah kita makan makanan utama ya. Kamu mau spageti, steak, atau ....”

“Alana mau coto ayam ada tidak Mi?”

April terlihat mengerutkan kening. “Soto ayam?”

Lagi-lagi gadis kecil itu mengangguk. “Iya Mi, Alana kangen coto ayam buatan oma cama nenek,” ujarnya sambil menunduk.

“Kalau Alana mau kan mami bisa buatkan, Sayang. Apa kita makan di rumah saja, mami yang akan memasak bagaimana?” tawar April membuat Alana mengangguk diiringi senyum manis menghiasi wajah kecilnya yang cantik.

Akhirnya April dan Alana tidak jadi makan malam di luar dan lebih memilih untuk memasak sendiri, tak sampai 30 menit April sudah selesai menghidangkan dua mangkok soto ayam sesuai permintaan putri kecilnya itu.

“Alana kenapa tiba-tiba ingin makan ini, apa Alana kangen sama rumah ya?”

Gadis kecil itu terlihat mengangguk. “Alana kangen cama oma, opa, kakek, nenek, uncle Zac, aunty Emily, kak Miquel, cemua teman Alana juga,” tutur Alana.

Mendengar penuturan putri kecilnya membuat hati April sedih, ia terpaksa membawa Alana pindah ke London selain untuk menemaninya ia juga tak bisa berjauhan terlalu lama dengan putrinya itu. Terlebih Alan masih menghilang dan belum ditemukan sampai saat ini, ia tak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya jika Alana juga menjauh darinya. Karena saat ini hanya gadis kecil itulah yang membuatnya tegar dan menjadi penyemangat dirinya selama suaminya belum ditemukan.

“Setelah makan nanti kita video call mereka ya Sayang, tapi kalau tidak dijawab besok kita coba lagi ya,” ujar April menghibur putrinya.

“Benal ya, Mami?” tanya Alana dengan mata yang berbinar.

April mengangguk pelan lalu tersenyum. “Iya Sayang, sekarang habiskan dulu makannya ya,” ujarnya sambil mengelus dengan lembut kepala putrinya.

“Oke, Mami,” sahut Alana sambil memakan soto ayamnya dengan lahap.

**

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status