Share

6. Tujuan Hans

Kimi menatap wajah Hans dengan rasa tak percaya. ‘Laki-laki

ini … pasti ada yang salah dengan isi kepalanya,’ bisiknya dalam hati. Dia tentu saja merasa tersinggung dengan perkataan Hans. Kimi memang merasa gugup sebelumnya karena berada di situasi yang asing baginya. Namun, dia tak berpikir jika penampilannya seburuk itu hingga bisa disebut mengecewakan.

“Kau tahu berapa yang kuhabiskan untuk terlihat seperti ini?”

Hans tertawa pendek. “Ooh, itu bahkan lebih mengecewakan lagi! Mengingat akulah yang harus membayar tagihannya nanti,” tukasnya tanpa perasaan.

Mendengar itu, emosi Kimi jadi ikut tersulut. “Astaga! Aku tak tahu lagi bagaimana penampilan terbaik menurut versimu, Mr. Perfect!” balas wanita tersebut, dengan masih bertahan di tempatnya berdiri. Ia tak beranjak sedikit pun, bahkan ketika Hans berdiri dari tempat duduk dan maju selangkah ke arahnya.

“Kau datang ke sini sebagai pasanganku. Jadi, perhatikan kata-katamu!” desis pria berbadan jangkung dan berbahu lebar itu.

Kimi mengerutkan dahinya, lalu memandang Rob dan Jeff secara bergantian. “Kalian lihat? Siapa yang pertama kali bicara tak menyenangkan, dan siapa pula yang memperingatkan,” dengusnya kesal.

Hans sudah menggerakkan kaki kanannya hendak maju ke arah Kimi untuk melontarkan kata-kata pedasnya, tapi dengan sigap Rob menahan dirinya. “Tuan, sebaiknya kita tidak usah meributkan penampilan Nona Kimi sekarang. Kita bisa melakukan evaluasi nanti. Kulihat tamu-tamu penting juga sudah masuk ke lift.”

Sejenak, Hans tampak menghela napas, seolah-olah ingin menenangkan dirinya sendiri. Kemudian, dengan nada suara yang tak jauh berbeda dari kecamannya beberapa saat lalu, ia berkata pada Kimi, “Saat di dalam nanti, jangan sekali pun menjauh dariku. Mengerti?”

“Kau butuh rantai untuk mengikat tangan kita?” balas Kimi tanpa repot-repot menutupi kekesalannya.

“Mulutmu tak selihai itu, saat aku pertama kali melihatmu diperdaya di depan umum.” Setelah mengucapkan hal itu, Hans berbalik dan berjalan menuju lift.

Sebelum Kimi menyusul langkah pria tersebut, Rob lebih dulu berpesan dengan bicaranya yang terburu-buru. “Jangan terlalu diambil hati kata-katanya! Dan seperti yang Tuan Hans bilang, Anda harus terus berada di sisinya selama acara.”

Meski Kimi masih agak bingung dan jengkel, ia tetap menganggukkan kepala. Setelah itu, ia bergegas merendengi langkah Hans yang tengah berjalan menuju lift terdekat. “Kau ingin aku menggandeng tanganmu?”

Hans hanya melirik Kimi sekilas dan tak mengatakan apapun. Sikapnya diartikan Kimi sebagai tanda setuju. Karena itu, ia pun melingkarkan tangannya di lengan Hans dan berusaha mengimbangi langkahnya.

“Hei … lihat siapa yang datang ini?”

Seorang pria yang sebaya dengan Hans dan sedang berdiri menunggu lift, tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya, setelah tak sengaja melihat kedatangan Kimi dan Hans. Sayang sekali, sapaan hangatnya diabaikan begitu saja oleh pimpinan Wira Property.

Namun, bukannya tersinggung, pria itu justru hanya tertawa dan beralih memandang Kimi, mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki. “Kurasa aku sedang melihat wajah baru. Siapa dia, Hans? Apakah kau akhirnya menyingkirkan Rob tuamu dan beralih mencari tenaga profesional muda yang sangat menyegarkan ini?” celotehnya tanpa menghiraukan kesantunan.

Anehnya, Hans masih saja tak menggubris pria tersebut. Matanya tetap terarah lurus ke pintu lift yang masih belum terbuka. Tak kapok oleh sikap Hans, pria itu tetap berusaha membuka obrolan. Kali ini ia tujukan kepada Kimi.

“Nona, perkenalkan namaku Logan. Rekan bisnis Hans, sekaligus CEO dari Athena Property,” ujarnya seraya mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Kimi.

Akan tetapi, sebelum Kimi sempat merespons perkenalannya, Hans sudah lebih dulu angkat bicara, “Aku tidak mengizinkan siapapun, terutama pengusaha kelas rendahan sepertimu untuk mengusik calon istriku, Logan. Fakta bahwa aku ingat namamu saja, seharusnya membuatmu berterima kasih. Jadi, jangan melewati batas!”

Ucapan Hans itu membuat wajah Logan memerah dan tak lagi bicara sepatah kata pun. Bahkan orang-orang di sekitar mereka juga tampak mengkeret, menghindari bertatapan langsung dengan Hans. Ketika mereka semua masuk ke dalam lift, keheningan seperti mengikat semua orang dengan erat.

Kimi yang berada tepat di sisi Hans pun, tak luput dari efek sikap arogannya. Dia jadi seperti orang bodoh yang tetap bersedia menyandingi pria dengan watak kerasnya itu.

Untungnya, situasi kaku itu tak berlangsung lama. Begitu mereka memasuki conference hall Mountain View, perhatian semua orang terpusat pada mewahnya jamuan yang disuguhkan oleh pihak hotel.

Ketika seorang petugas banquet menghampiri dengan membawa banyak gelas berisi minuman warna-warni, Kimi tertarik untuk mengambil salah satunya yang berwarna kehijauan. Namun, baru saja ia menyentuh gelas bertangkai tinggi itu, Hans dengan segera menahan tangannya, lalu berkata, “Kau tidak akan minum absinthe itu, Darling. Tidak, saat kau akan bertemu dengan keluargaku malam ini.”

Pekikan nyaring menyusul kata-kata Hans tersebut. Seorang wanita muda dengan dandanan glamor tersenyum cerah di belakang mereka. Dia jelas mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut Hans. Dan pekikannya sudah tentu menarik perhatian orang lain di sekitar mereka.

“Hans! Astaga, aku hampir tak memercayai telingaku sendiri,” seru wanita tersebut sembari mengedipkan sebelah matanya. Dia kemudian menoleh ke pasangannya. “Kau juga mendengarnya berkata darling ‘kan, Suamiku?”

Berbeda dari sikapnya saat menghadapi Logan, kali ini Hans terlihat lebih manusiawi dengan senyum tipisnya. Dia juga menyambut jabatan tangan wanita itu beserta suaminya. “Bagaimana kabar kalian, Jessy, Frans? Kupikir kalian tidak bisa datang karena urusan ekspansi perusahaan yang kudengar menembus pasar Eropa.”

Wanita bernama Jessy itu menepuk lengan Hans. “Seperti biasa, telingamu ada di mana-mana,” kekehnya. “Tapi mari kita tidak membicarakan tentang perusahaan, sebentar saja. Aku penasaran apa yang terjadi selama sebulan belakangan. Benarkah Desi meninggalkanmu dan bergabung dengan Victor?”

Di ruangan yang dipenuhi banyak orang itu, mungkin hanya Kimi-lah yang tahu perubahan suasana hati Hans. Itu karena ia masih menggandeng lengan pria tersebut. Ketika Jessy membicarakan tentang seseorang bernama Desi, Kimi bisa merasakan tubuh Hans tiba-tiba menjadi tegang dan sedikit menarik lengannya.

Tanpa gerakan mencolok, Kimi mengikuti arah pandang Jessy dan mendapati sosok yang sempat ia kagumi tadi, wanita cantik yang mengenakan gaun warna peach, yang saat ini tengah menggandeng seorang pria yang tak kalah memukau.

Insting Kimi secara refleks menghubungkan semua yang terjadi belakangan ini. Dan ia akhirnya paham untuk apa tujuan pernikahan kontrak yang akan mereka jalani.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status