Share

Part 6 : Proses Aborsi

Dalam kondisi hati masih berkecamuk dan belum bisa melupakan kasus putri keduaku, klinik dan pekerjaanku tetap harus berjalan. Mau bagaimana lagi, toh polisi sudah menutup kasusnya. Tak ada yang bisa kuupayakan lagi selain benar-benar ada cara Tuhan yang lain. 

Kehidupanku pun kembali berjalan. Pasien kami masih lumayan, tapi Mia mulai membatasi partus pervaginam alias melahirkan normal. Dan kami memang lebih kebanjiran pasien aborsi. 

"Ras, dua pasien di depan kita ekskusi langsung aja, yuk! Aku sudah mulai ngantuk, biar cepet." Ujar Mia malam itu.

Hari itu memang kami agak banyak terima pasien aborsi. Rata-rata mereka datang dari luar kota, bahkan sampai ada yang datang larut malam sekali. 

Masuklah dua perempuan, kira-kira usianya masih sekitar tujuh belas sampai dua puluh dua tahun. Kulihat sekilas catatan sang pasien. Perempuan dengan rambut sedikit ikal itu masih duduk di bangku sekolah menengah umum, sedangkan yang satunya adalah karyawati di sebuah perusahaan retail.

Si Rambut ikal datang diantar sang pacar sepertinya, karena mereka masih sama-sama menggunakan seragam abu-abu. Sedang karyawati itu datang dengan seorang lelaki paruh baya yang memakai seragam aparat.

Kulihat dua laki-laki itu memotivasi pasangannya agar tidak takut, bahkan di antara mereka ada yang sedikit menggoda.

"Nanti janji deh kalo main gak keluarin di dalam." Ujarnya sambil mencubit pipi sang kekasih.

Kulihat dua remaja ini datang dengan raut ketakutan dan muka tertekan. Aku pernah merasakan bagaimana rasanya hamil tanpa diinginkan. Itu rasanya pahit sekali. Dan kami para perempuanlah yang banyak menanggung kerugian akibat perbuatan ceroboh tersebut.

Setelah masuk, kuminta mereka berganti pakaian selayaknya pasien operasi di rumah sakit. Mereka pun tidur terpisah di atas dua ranjang yang hanya tersekat oleh gorden. Aku mulai memberi tahu posisi eksekusi dengan posisi kaki mengangkat keatas. Kusampaikan beberapa hal yang harus mereka ketahui. 

Setelah mereka siap barulah Mia menyuntikan obat bius. Tugas anastesi pun lagi-lagi Mia yang melakukan. Dengan piawainya dia menyuntik pasien tersebut. Kami menggunakan bius lokal untuk setiap eksekusi. Jadi pasien masih bisa interaksi dengan kami. 

Janin yang akan kami eksekusi ini usianya sekitar enam bulan. Sudah lengkap bentuk dan rupanya. Biasanya kami gunakan dua gunting untuk memotong terlebih dahulu bagian janin, kemudian gunting penjepit untuk mengeluarkan janin tersebut.

Pasien pertama yang akan kami eksekusi adalah Si Ikal, dengan posisi kaki naik dan terbuka lebar. Mia mulai memasukan gunting ke dalam lubang janin tersebut. Merobeknya beberapa inci.

Crek ... crek .…

Gunting itu mulai memotong bagian kaki-kaki si janin. Karena janin usia enam bulan itu masih dengan posisi kaki di bawah, jadi bisa dengan mudah menarik potongan-potongan kaki terlebih dahulu. Dilanjut dengan memecahkan bagian perut dan tangan satu per satu. Di sinilah darah mulai banyak keluar. biasanya di sini Mia butuh kesigapanku. Wadah stainless yang sudah kami siapkan segera menampung isi perut calon bayi tersebut. Setelah usus terburai dan bagian perut sudah berhasil keluar maka eksekusi terakhir adalah memecahkan batok kepala si janin yang masih sangat rangu dan lembek, hanya dengan sekali gunting.

Crek …. kepala berikut isinya itu keluar dibalut darah segar yang cukup banyak. 

Setelah memastikan rahim bersih, Mia mulai menjahit bagian yang robek tersebut. Kami pun memberi obat dan pantangan yang dilakukan setelah aborsi. Di antaranya tidak boleh melakukan hubungan badan selama dua sampai tiga minggu ke depan. Memastikan luka jahitan benar-benar kering. 

Hanya butuh waktu empat puluh menit sampai satu jam, kami mengeksekusi setiap pasien. Setelah itu, bagian pembersihan dan penguburan janin diserahkan pada Pak Kusnadi. Dia biasanya segera mengubur di belakang kebun pisang tersebut. Namun sebelumnya, kami merendam janin tersebut dengan larutan kimia sebelum membungkusnya dengan kain agar bau amisnya tidak menyengat saat dikuburkan. Begitulah setiap hari pemandangan kami. 

Aku yang dulu pernah menjadi korban keguguran, rasanya sama persis dengan proses aborsi. Walau aku sendiri lupa dan tidak sadar. Itulah yang menyebabkan aku bercita-cita menjadi bidan karena profesi ini menyelamatkan nyawa banyak wanita. Bagaimanapun perempuan-perempuan yang melakukan aborsi tersebut adalah korban. Korban dari kebodohan atas nama cinta. Jika hubungan badan di luar pernikahan dianggap saling menikmati, sungguh anda benar-benar keliru. Karena bagiamanapun, efek kerugian tetap ada pada kami para perempuan. Kami yang harus menanggung pesakitan, aib, dan selamanya keperawanan kami takkan pernah bisa kembali dengan cara apa pun. 

***

Mia yang kukira langsung tidur malam itu, ternyata sedang asyik di pantry melahap sebuah hidangan. 

Kuamati dari kejauhan, Mia menjepit usus, kaki, dan potongan tangan mungil itu dengan sumpit. Kulihat Mia sangat menikmatinya sambil sesekali menyeruput kuah hidangann tersebut yang kuyakini adalah darah dan ketuban si janin yang kami eksekusi tadi. Tiba-tiba kepalaku pening, mataku gelap, dan ....

Brug!!

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status