Share

Part 2 : Pertemuan di Kereta

Siang itu aku bergegas ke stasiun. Tiket yang sudah kubeli secara online ternyata salah jadwal. Harusnya aku berangkat malam hari. Ini malah untuk jadwal untuk sore hari. Aku dan kedua anakku harus buru-buru sampai di stasiun.

Rencanaku pulang kampung adalah untuk menitipkan dua buah hatiku pada kedua orang tua karena aku sudah tak kuat menyewa kontrakan. Selain itu, anak-anak juga tidak ada yang mengasuh. Atas permintaan ibu dan bapak, akhirnya kuboyong mereka semua untuk sekolah dan tinggal di Solo.  

Jam sudah menunjuk pukul empat sore. Segera kunaiki gerbong yang baru saja berhenti di depan kami. Syukurlah kami tidak terlambat. Hanya tak sempat membeli camilan untuk anak-anak, tapi mereka sudah makan tadi pagi. Semoga saja tidak rewel. 

Kami duduk dengan kursi berhadapan. Dua seat untuk aku dan putri bungsuku. Si sulung duduk bersebelahan dengan seorang perempuan cantik yang usianya mungkin lebih muda dariku. Jika kutaksir, kami hanya beda beberapa tahun saja.  

"Permisi ya, Mbak," ucapku sambil menegur dia yang tengah asyik dengan ponselnya. 

"Iya, silahkan," jawabnya ramah.

Selang beberapa jam kemudian kami pun berkenalan. Awalnya, dia yang menawarkan makanan pada anak-anak. Tentu saja disambut riang oleh si bungsu dan si sulung yang memang sejak naik, kami tak ada makanan sama sekali. Suasana keakraban terjadi. Dia banyak bertanya tentang tujuan kami. Untuk apa, kerja di mana, dan banyak hal lainnya. Kurang lebih delapan jam kami akan tetap duduk berhadapan seperti ini, terbayang akan sangat jenuh jika kami tak saling mengobrol. Untunglah perempuan cantik itu begitu ramah. Sampai akhirnya kami masuk dalam obrolan yang sangat penting. 

Namanya Mia, dokter Mia, begitu panggilanku saat dia menyebutkan profesinya. Mia hendak pulang ke kampung halaman karena sudah hampir enam tahun dinas di luar negeri. Dia adalah dokter yang cerdas sekali. Tampak dari cerita pengalamannya selama berada di luar negeri. Sepertinya, dokter Mia antusias ingin mengajakku berbisnis. Seketika, aku pun membuka jati diriku. 

Profesi kami ternyata sejalur. Hanya beda level pendidikan saja. Mia berprofesi sebagai dokter kandungan, sedangkan aku adalah bidan. Pekerjaan kami sama-sama berurusan dengan proses persalinan. Aku yang saat itu memang sedang mencari peluang tambahan uang langsung antusias dengan apa yang dia paparkan. Katanya, selama di luar negeri dia dan beberpa rekan medisnya pun melakukan bisnis itu. Di sana orang dengan bebas melakukan perbuatan apa pun atas nama hak asasi manusia. Selama dilakukan bukan tanpa ancaman dan tekanan maka sah dan legal.  

Jujur, awalnya aku ragu dengan ajakan Mia. Walau hampir lima tahun aku menjadi bidan, tak tepikir sedikit pun untuk melakukan aborsi pada janin. Apalagi, sampai menjual janin-janin yang tak berdosa itu, seperti apa yang dikatakan oleh Mia di negara sana.  

Obrolan kami semakin serius saat Mia menawarkan pembagian hasil fifty-fifty. Dia menggambarkan skema keuntungan dari buka praktek semacam ini. Tarif yang cukup fantastis. Terbayang di otakku pundi-pundi uang mengalir hanya dengan melakukan sebuah tindakan yang kami namakan dengan istilah 'eksekusi'.

"Apakah ini tidak akan bahaya, Mi?" tanyaku penasaran.

"Tenang,  nanti aku yang atur," jawabnya, "lagipula, aku banyak teman yang jadi pejabat di sini, semua bisa kita atur."

Aku mengiyakan saja semua rencananya yang tampak begitu matang. Mungkin, karena Mia sudah terampil dan berpengalaman dalam menjalankan bisnis ini. Sesekali perutku terasa mual saat mendengar cerita pengalaman Mia di sana. Dia bukan hanya membuka praktek aborsi, tapi juga terlibat perdagangan janin manusia. Katanya, di sana janin-janin bayi itu barang yang paling dicari oleh perusahaan kosmetik juga beberapa restoran yang menyajikan menu sup janin. Janin dipercaya oleh sebagian orang di sana sebagai asupan makanan pembangkit libido laki-laki. 

Entahlah .…

Delapan jam pun berlalu. Kami turun dan saling berpamitan. Mia memberiku sebuah kartu nama, menyuruhku mampir ke rumah orang tuanya jika sempat. Nomor handphone sudah kami simpan masing - masing.

"Jangan berfikir terlalu lama ya, Laras. Kalau kamu tidak berminat,  aku akan ajak partner yang lain." Mia memegang bahu dan menatapku dengan tajam. Aku hanya mengangguk dan tersenyum penuh kepastian. Tak lama kemudian dia pergi bersama dengan supir keluarga yang menjemputnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status