Share

Kehilangan Terbesar

“Gimana kalau kita buat perjanjian? Biar Om Beni enggak kecewa, kita ikutin aja keinginan Om Beni ... hanya sampai aku lulus kuliah lalu mendapatkan kerja dan bisa menghidupi diri sendiri, trus kita bercerai, menolak keinginan Om Beni lebih sulit dari pada mengajukan perceraian ke pengadilan ... setelah nikah nanti, hidup kita pasti akan menjadi miliki kita sendiri, kita mau cerai pun ... Om Beni enggak akan bisa ngelarang, gimana?” 

Bee mengungkap ide yang tersimpan di benaknya.

Sejujurnya ia telah menduga bila anak dari sahabat mendiang sang Ayah akan menolak pernikahan ini karena mereka tidak saling mengenal apalagi saling mencintai.

Bee hanya tidak ingin membuat Beni kecewa dan melanggar wasiat Johan sehingga ia telah membuat rencana lain bila lelaki yang akan dijodohkan dengannya menolak pernikahan ini.

“Trus cewek gue gimana?” tanya Akbi sambil menyandarkan tubuh pada sandaran kursi.

Ia menolak tapi juga ingin mendengar solusi lain dari Bee bila keadaannya seperti itu.

“Kamu masih boleh berhubungan sama pacar kamu, asal jangan ketauan Om Beni ... bilang sama pacar kamu, hanya satu tahun ... aku usahakan lulus tahun depan, kamu enggak perlu mencintai aku, kita hanya menikah di atas kertas aja enggak perlu menikah sesungguhnya,” kata Bee lagi menjelaskan.

Akbi tertawa bahkan terbahak setelah mendengar solusi dari Bee yang diucapkannya dengan raut wajah serius.

“Jangan berharap gue jatuh cinta sama lo, dan sekalipun lo jatuh cinta sama gue nanti ... lo harus lari sejauh mungkin biar lo enggak sakit hati,” ucap Akbi setelah tawanya mereda.

“Terserah kamu,” balas Bee sambil tersenyum dengan ekspresi tenang.

Ia juga tidak berminat mencintai lelaki sombong seperti Akbi.

Bagi Bee, cinta hanya akan menjerumuskannya ke jurang kesakitan.

“Oke, gue ngomong dulu sama Anggit ... kalau dia bersedia, nanti Papa yang akan ngehubungin lo,” putus Akbi sambil beranjak dari kursinya.

Lelaki itu kemudian pergi begitu saja meninggalkan Bee sendirian tanpa pamit.

Bee mengembuskan nafas lelah, kemudian meraup wajahnya dengan kedua tangan.

“Oh ... Hidup, apakah mungkin akan ada yang lebih menyedihkan lagi dari kehilangan kedua orang tua?” gumam Bee.

Bee tidak pernah menyangka pertemuan tidak sengaja di rumah sakit dengan Beni akan membawanya pada pernikahan dini bersama lelaki yang tidak ia cintai.

Beberapa hari lalu dokter memberitahu bila Johan harus di operasi untuk pengangkatan kanker pada pankreas, saat itu Bee sedang bertanya biaya operasi sang Ayah ketika bertemu dengan Beni.

FLASH BACK ON

“Mba, boleh saya tau berapa biaya operasi Ayah saya?” tanya Bee pada seorang wanita di balik meja bertuliskan administrasi.

Ekspresi sendu menghiasi wajahnya, membuat siapa saja terenyuh.

“Untuk pasien atas nama siapa?” wanita cantik berseragam itu bertanya lagi.

“Bapak Johan Elwie Wijayakusuma,” balas Bee cepat dan wanita itu langsung mengetikan sesuatu pada keyboard komputer.

“Biaya operasi untuk Bapak Johan sekitar lima puluh juta tapi ini baru biaya kasarnya saja, bisa kurang bisa juga lebih ... bisa DP terlebih dahulu setengahnya dan sisanya dilunasi setelah operasi selesai,” wanita administrasi berkata dengan jelas.

“Mbak, bisa enggak operasi dilakukan dulu baru saya bayar biayanya karena untuk saat ini saya belum punya uang,” ucap Bee, memohon dengan genangan di pelupuk mata.

Wanita itu menggelengkan kepala seraya menipiskan bibir menampilkan ekspresi penuh penyesalan karena tidak bisa mengabulkan keinginan Bee.

Sementara Bee sendiri tidak tau harus kemana mencari biaya operasi untuk sang Ayah.

Semua aset telah dijual untuk menutupi utang-utang Johan.

Terakhir hanya tersisa sebuah rumah yang terpaksa harus Bee lelang untuk membayar kuliah dan biaya berobat Johan selama satu tahun terakhir.

Bahkan Bee harus mengontrak rumah kecil di dalam gang sebagai tempat tinggalnya.

Semua teman-temannya menjauh, tidak sudi kenal dengan Bee yang sudah jatuh miskin.

Mereka jelas-jelas memutuskan hubungan pertemanan dengan Bee yang saat itu pergi ke kampus menggunakan angkutan umum karena mobil kesayangannya harus disita pihak Bank.

Bee menundukan kepala sambil menghembuskan nafas kasar, nyaris putus asa hingga air mata luruh begitu saja membasahi wajahnya.

“Kamu ... anaknya Miranda?” 

Sebuah pertanyaan membuat Bee menoleh, menghapus air mata di pipinya dengan punggung tangan, Bee pun menjawab, “Betul ... Bapak siapa?” 

Pria tua itu membisikkan sesuatu di telinga sekertarisnya, beberapa kali pria bertubuh tinggi besar itu mengangguk memberi tanda bila ia memahami apa yang sedang diinstruksikan sang Bos.

“Siapa nama kamu?” tanya Beni setelah selesai memberikan instruksi kepada Aldo-sang sekertaris.

“Bee ... Aurystela Akkeu Quinbee,” jawab Bee melirih.

Beni tersenyum, setelah mendengar nama panjang Bee.

“Ayo antar Om ke kamar Johan, biar Aldo yang menyelesaikan pembayaran biaya operasi Ayah kamu,” ucap Beni sambil merentangkan tangan menunggu uluran tangan Bee.

Bee mengerjap, begitu terkejut mendengar ucapan pria tua yang tidak dikenalnya itu bersedia membayar biaya operasi sang Ayah.

“Nama saya Beni ... saya adalah teman sekolah Miranda dan Johan ...,” imbuh Beni menjawab pertanyaan yang ada di benak Bee.

Mendengarnya Bee merasa lega kemudian mengulas senyum tipis sambil beranjak dari kursi, meraih tangan Beni untuk ia kecup punggung tangannya sebagai tanda sopan santun. 

“Makasih Om,” ucap Bee, dijawab anggukan dan sebuah senyum oleh Beni.

Meskipun Bee masih ragu dengan keajaiban yang baru saja terjadi, tapi ia sangat bersyukur karena Tuhan mengutus malaikat untuk menyelamatkan sang Ayah.

“Di mana Miranda?” tanya Beni ketika mereka berjalanan beriringan menuju ruang ICU tempat Johan terbaring tidak berdaya.

“Bunda sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu karena kecelakaan mobil di jalan tol, mobilnya terhimpit mobil kontainer yang berada di depan dan belakangnya,” jawab Bee sambil menundukan kepala.

Pertanyaan itu sungguh menggerus hatinya karena harus mengingat kejadiaan nahas yang menimpa sang Bunda.

Langkah Beni terhenti, tubuhnya mematung menatap Bee dengan mata yang sudah berkaca-kaca, bibirnya bergetar dengan nafas tersendat.

“Apa kamu bilang?” Beni bertanya seolah tidak percaya dengan indera pendengerannya.

Bee menatap Beni lekat, nampaknya pria paruh baya yang telah membantunya ini memang sahabat dekat Ayah dan Bundanya terlihat dari ekspresi duka yang ditunjukan Beni.

Bee mengangguk memberi keyakinan, membuat satu tetes air mata lolos dari sudut matanya.

Tidak berdaya mendengar kenyataan tersebut, Beni mendudukan tubuh di bangku yang berada di dekat sana.

Tangannya mengelus dada dengan tatapan mata kosong ke arah taman yang luas.

“Kamu tau arti nama Akkeu ditengah nama kamu?” 

Suara pelan Beni itu masih terdengar ditelinga Bee.

Bee yang telah duduk di samping Beni menoleh kemudian menggelengkan kepala karena memang ia tidak mengetahui kenapa harus ada kata Akkeu di tengah namanya.

“Ak ... keu ... Akuntansi Keuangan, kamu tau ‘kan kalau Ayah dan Bunda kamu lulusan Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi di Universitas Negri terbaik di Kota ini?” 

Bee mengangguk.

Ia memang tau percis tentang hal itu karena sang Bunda memiliki kantor Akuntan Publik sendiri yang kini diambil alih rekannya setelah beliau meninggal dunia.

“Om juga kuliah di jurusan yang sama dan kami satu kelas hingga lulus di waktu yang berbarengan, dulu kita bersahabat baik ... ada dua orang lagi, Anita dan Ferry ... mereka juga menikah lalu tinggal di Swiss.” 

Mata Beni kembali menerawang, bibirnya nampak tersenyum simpul. 

“Om juga punya anak laki-laki yang Om kasih nama mata kuliah akuntansi ...,” Beni berujar kembali tanpa mengalihkan tatapannya dari taman rumah sakit yang luas.

Seolah bunga-bunga yang bermekaran di sana begitu menarik perhatiannya.

“Akbi ... Akuntansi Biaya, saking kami mencintai almamater kami sehingga memberi nama mata kuliah yang rata-rata dibenci mahasiswa akuntasi,” sambung Beni yang bibirnya mengulas senyum tipis tapi dengan sorot mata penuh duka.

“Ayo, kita lanjutkan perjalan kita,” imbuh Beni kemudian berdiri.

Tidak berapa lama mereka sampai di ruangan Beni.

“Be .. Ni ... .”

Susah payah Johan mengeluarkan suara ketika membuka mata, pandangannya langsung menangkap sosok Beni dan sang anak. 

“Jangan banyak bergerak Johan, keadaanmu masih belum stabil!” Beni berseru pelan seraya menyentuh tangan Johan.

Ekspresi yang ditunjukan sang Ayah nampak penuh tanya disertai sorot mata berbalut bahagia.

“Tadi aku bertemu anakmu di bagian administrasi, sudah aku lunasi biaya operasimu dan sekarang kamu bisa segera mendapat penanganan, tapi kamu harus cerita setelah sembuh nanti kenapa kamu bisa sampai seperti ini,” Beni menjelaskan dengan tenang.

Johan menoleh ke arah Bee yang tersenyum tipis sambil menggenggam tangannya.

Setelah itu Johan mengembalikan tatapan matanya kepada Beni.

“To ... long jaga ... anak sa ... ya,” ucap Johan terbata.

“Tidak Jo, kamu harus hidup lebih lama untuk menjaga anakmu,” balas Beni seraya meraih tangan sahabatnya yang nampak lemah.

Johan menggelengkan kepala pelan kemudian menoleh kepada Bee yang tengah meneteskan air mata.

Beberapa detik kemudian, layar monitor yang menampilkan detak jantung Johan berbunyi.

“Tolong ja ... ga ... Bee, demi Miranda,” ucap Johan lagi.

“Jo ... saya akan menjaga anakmu, tapi kamu harus bertahan, suster ... panggil suster!” perintah Beni entah kepada siapa.

Pria tua itu panik mencari tombol yang disambungkan ke ruangan suster.

“A ... yaaaah,” Bee menjerit tertahan ketika suara yang dihasilkan alat penunjang kehidupan itu semakin berbunyi nyaring.

“Menurut lah ... sama Om ... Be ... Ni, jaga ... diri baik ... baik, kamu harus lulus kuliah ... jangan sampai berhenti,” sekuat tenaga Johan mengeluarkan kalimat itu.

“A ... yaaah, jangan kaya gini,” Bee yang sudah berlinang air mata, mengerang memanggil sang Ayah seakan hal itu bisa menambah panjang usia Johan.

“Ben ... jaga Bee.” 

Kalimat yang merupakan permohonan terakhir Johan tercetus untuk Beni.

Suster berdatangan, meminta Beni dan Bee keluar.

Bee tetap bertahan masih ingin melihat Ayahnya yang ia duga sudah didatangi malaikat maut.

Firasat Bee mengatakan bila waktu sang Ayah tidak lama lagi karena kejadian ini belum pernah terjadi.

“Ayo Bee, kita keluar ... biar para dokter melakukan tugasnya,” ajak Beni seraya menarik tangan Bee namun Bee bergeming.

Beni melingkarkan satu tangannya di pinggang Bee, menyeret gadis itu keluar dari ruang ICU.

“Enggak Om, aku mau liat Ayah ... Bee mau liat Ayah, Om!” Bee berseru sambil meronta.

Kemudian ini merasakan dua tangan kekar merengkuh tubuhnya membuat Bee tidak berdaya.

Dengan mudah Aldo mengangkat tubuh mungil Bee, membawa gadis itu keluar dari ruangan yang terasa mencekam dan pekat dengan hawa kematian.

“A ... yaaah, jangan tinggalin Bee ... cuma Ayah yang Bee punya, A ... yaaaah, Bee mohon ... heu .. heuu ... “ Bee meraung membuat siapa saja tersentuh hingga ada seorang penunggu yang sampai meneteskan air mata tidak terkecuali Beni.

Beni mengambil sapu tangan dari dalam saku celananya untuk mengelap buliran bening yang menetes dari sudut mata, ia sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan Johan.

Aldo baru bisa melepaskan Bee setelah pintu ruangan tertutup. 

Selama beberapa saat Bee masih memanggil nama sang Ayah hingga dokter memberi tahu bila Johan telah berpulang untuk selamanya.

FLASHBACK OFF

“Woooy!” 

Suara Verro membawa Bee kembali dari lamunannya.

“Astaga Verro, kamu ngagetin!” Bee berseru pelan namun Verro tau bila teman sekelasnya itu kesal.

Verro terkekeh lalu duduk di depan Bee. “Udah pesen makan?” tanya lelaki itu sambil memindai buku menu.

“Belum,” balas Bee melakukan hal yang sama, mengamati kertas berwarna yang dilapisi laminating dengan banyak menu makanan.

“Tadi ada Om-Om nyariin lo, Bee ...,” kata Verro setelah memesan makanan.

Bee tersenyum, ternyata Verro juga menganggap Akbi seperti Om-Om lalu tertawa pelan ketika mengingat wajah kesal Akbi saat ia memanggilnya begitu.

“Kenapa lo? Senyum-senyum gitu?” tanya Verro heran.

Bee menggelengkan kepala sebagai jawaban.

“Siapa Om itu?” tanya Verro lagi masih belum menyerah.

“Dia anaknya temen Ayah, by the way ... makasih ya Ver, udah datang ke pemakaman Ayah kemarin.” 

“Sama-sama Bee, jadi sekarang lo mau tinggal di mana? Bukannya kontrakan lo sebentar lagi habis?” 

Bee mendongak dengan ekspresi melongo. “Kamu tau dari mana kontrakan aku mau habis?” 

“Itu kontrakan punya adik nyokap gue!” jawab Verro singkat.

“Tinggal lah dulu sementara di sana, kalo belum ada uang nanti gue bayarin dulu,” tambahnya kemudian.

“Ver, enggak perlu ... sepertinya aku akan pindah ke rumah Om Beni, temennya Ayah ... makasih ya Ver, kamu baik banget padahal aku udah putus sama Erick,” Bee berujar tulus disertai senyum.

Adik sepupu dari mantan kekasihnya ini memang sangat baik meskipun sudah cukup lama ia berpisah dengan Erick-mantan kekasihnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status