Share

Istri Alim untuk CEO Anti-Wanita
Istri Alim untuk CEO Anti-Wanita
Author: Azizah Bounty

Bab 1. Garang Perhatian

"PERUSAHAAN ZARZO MIKAMILNY."

Salma Ashana membaca nama perusahaan tersebut dengan teliti. Ternyata itu sudah benar sesuai alamat yang diperintahkan dari sekolahnya. Salma merupakan sosok pemberani, santai dan cerdas, yang cocok disebut perempuan multitalenta.

"Aduh, perusahaannya besar banget, ya namanya aja udah perusahaan ternama, kok jadi nervous begini sih aku, pak Mbing kasih tugasnya berat!" omel pelan Salma sebelum masuk ruangan.

Saat Salma akan memasuki ruangan pemilik perusahaan itu, ia tidak sengaja kesandung kursi dan berkas yang dibawanya mengenai seorang laki-laki yang memegang secangkir kopi. Laki-laki itu nampak akan keluar ruangan.

"Anak usia kencur ngapain ke perusahaan ini? Mana pakai seragam putih abu-abu, terus beraninya membuat baju saya kotor!" seru laki-laki tersebut.

"Maaf Pak, saya kesandung kursi, itu artinya tidak sengaja, baju kotor bisa ganti, sedangkan kaki saya sakit begini, siapa yang bisa ganti?" tanya Salma.

"Kamu siapa? Berani sekali bicara seperti itu!" bentak Fariz.

Laki-laki bernama Fariz Abidzar itu sangat geram. Baru saat itu ada orang yang tidak tunduk kepadanya. Apalagi itu adalah seorang perempuan yang setingkat dengan SMA.

"Hhhh, maaf, tapi saya mau bertemu Pak Fariz, sudah dibuatkan jadwal dari pak Mbing," jawab Salma.

"Pak Mbing siapa? Kambing, Belimbing, atau kamu ini orang asing yang perlu dibimbing?" tanya Fariz.

"Hahaha … Bapak ini habis marah, bisa ngelawak juga, bimbing aja kalau bisa," ucap Salma.

Di tengah perbincangan mereka, sekretaris Fariz datang dengan terburu-buru. Ia minta maaf belum menyampaikan kedatangan Salma kepada Fariz karena perutnya sakit dan bolak-balik ke kamar mandi. Fariz memang pernah membicarakan masalah amal dengan pihak sekolah.

Namun, ia tidak membicarakan kalau siswa dari sekolah tersebut akan disuruh menemuinya di perusahaan. Fariz mengajak Salma masuk ruangannya. Salma kaget juga, ternyata orang yang sudah berbincang dengannya itulah yang namanya Fariz Abidzar, pemilik perusahaan ternama tersebut.

"Ini ... Pak, yang disampaikan dari sekolah saya," ucap Salma sambil menyodorkan berkas mengenai amal untuk anak yatim.

"Baiklah, kenapa harus kamu yang ke sini?" tanya Fariz.

"Kenapa memangnya, Pak?" tanya Salma.

"Kamu kan perempuan, anak pesantren, sendiri pula," ucap Fariz.

"Kok tahu kalau saya anak pesantren? Terus alasannya kenapa?" tanya Salma.

"Tahu," jawab singkat Fariz.

"Sok tahu deh Pak Fariz ini," sahut Salma.

"Kerudung kamu aja ada tulisannya, saya itu bisa baca, bukan buta huruf, alasannya kamu kok berani berdua dalam ruangan seperti ini dengan laki-laki? Nggak takut kalau saya ini orang jahat?" tanya Fariz.

Salma baru menyadari dan menyesali hal tersebut. Ia jadi ketakutan kalau Fariz adalah orang jahat. Mulutnya yang selalu bisa menjawab pun kini terdiam.

"Tenang, aku mungkin hanya seperempat saja jahatnya, kamu tadi naik apa?" tanya Fariz.

"Saya, saya naik bus, terima kasih, Pak. Permisi," ucap Salma sambil menerima berkas itu lagi.

"Jangan naik bus! Biar saya yang mengantarkan, sekalian mau bertemu pak Sidar yang kata kamu namanya pak Mbing itu," ucap Fariz.

'Haaa? Dia perhatian juga sih sebenarnya, tapi nggak mungkinlah aku berdua semobil, nggak mau nyesel dua kali, udah nyesel tadi nggak menolak untuk di luar ruangan saja,' batin Salma.

“Gak usah deh, Pak. Saya pulang sendiri aja.“

“Jangan! Saya bilang untuk bersama saya kenapa kamu tetap bersikeras menolak?“

“Ehm …." Salma menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Saya tidak mau berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram saya, Pak. Apalagi di dalam mobil yang tidak dapat dilihat orang di luar sana. Bisa-bisa menimbulkan fitnah berkepanjangan.“

“Hahaha .…“ Fariz tertawa lebar membuat Salma bingung akan ulah laki-laki dengan jas hitam di hadapannya itu. Apa yang salah?

“Gadis seperti kamu? Itu bukan selera saya, paham?“ ucap Fariz kemudian masih dengan sisa tawa yang tersisa.

“Saya tahu, saya paham, tapi saya cuma mau menghindarkan hal buruk yang kemungkinan bisa terjadi. Bapak tahu, ini insting perempuan untuk melindungi diri. Lagipula dalam agama memang tidak diperkenankan untuk pergi berdua saja dan ….“

“Tapi kita tidak pergi berdua, saya bersama dengan salah satu karyawan saya jadi kamu jangan geer duluan.“ Fariz bangkit dari duduk, membenarkan letak jasnya lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana. Melakukan panggilan sejenak, seketika membuat Salma terdiam.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan ucapannya, kan? Memang laki-laki ini saja yang tidak mengerti. Apa dia tak pernah belajar agama?

“Astaghfirullahaladzim Salma, jangan men-judge hanya karena sesuatu yang baru kamu tampak pertama kali. Apalagi ini baru pertemuan pertama,” ucap gadis itu sembari membatin dalam hati seraya mengurut dada yang bercampur pula rasa berdebar.

Ia mengatur nafas dan perasaan serta rasa bersalah yang mulai hinggap, lalu berdiri dari tempat duduknya untuk mengikuti langkah Fariz keluar dari ruangan.

Namun, tiba-tiba saja laki-laki itu berhenti melangkah. Berbalik dan menatapnya dari atas sampai bawah. Membuat Salma risih hingga tanpa sadar mundur satu langkah sembari memainkan ujung hijabnya.

“Satu lagi hal yang mau saya sampaikan sama kamu,” ucap Fariz membuat Salma penasaran.

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Putry Mariyam
fariz, lama lama jatuh cinta ...
goodnovel comment avatar
Ono
Yang sabar Pak Fariz
goodnovel comment avatar
Azril Ibam
Walah... kaki vs baju tuh jadinya? Suka obrolan Salma dan Fariz
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status