Share

Bab 8. Mengantar Laporan

"Siapa Sal? Coba kamu angkat!" ucap mama Risa. 

Kebetulan ponselnya ada di antara duduknya Salma dan mamanya. Karena perintah mamanya, Salma pun mengangkat telepon tersebut. Salma kaget karena orang yang menelpon langsung menyebutkan namanya. 

"Halo," ucap Salma dari telepon. 

"Halo, ini Salma bukan? Benar ini Salma?" 

"Mmm, iya Tante, saya Salma," jawab Salma. 

"Ma, ini siapa? Kok tahu nama Salma, mama namainnya Cabe, siapa Ma?" Salma menjauhkan ponselnya dan bertanya ke Mamanya mengenai sosok itu. Ternyata yang menelpon ialah maminya Fariz. 

Salma terpaksa mengangkat teleponnya lagi. Entah apa yang akan dikatakan oleh maminya Fariz. Salma hanya akan menyimak dan menjawab singkat dalam obrolan itu. 

"Iya Tante," jawab Salma sembari meraih ponsel mamanya. 

"Kamu sudah pernah ketemu sama Fariz? Dia bagaimana sikapnya?" tanya mami Reva. 

"Dia peduli," jawab Salma. 

"Peduli? Alhamdulillah, lalu bagaimana kalian? Sudah akrab?" tanya mami Reva. 

"Biasa kok, Tante," jawab Salma. 

Salma juga tidak menceritakan hal buruk yang terjadi dalam pertemuan mereka. Dalam batin Salma ingin segera mengakhiri telepon tersebut. Tapi, maminya Fariz masih terus punya kata untuk ditanyakan. 

***

"Permisi, Pak CEO, ini laporan dari Madrasah Aliyah Al-Jabbaar," ucap Salma. 

"Wah, kamu datang sendiri lagi?" tanya Fariz. 

"Nggak, saya sama Freya," ucap Salma. 

"Naik apa? Bus lagi?" tanya Fariz. 

"Tidak, saya naik motor sama Freya," jawab Salma. 

"Memangnya kamu bisa menyetir?" Fariz tersenyum samar. 

"Bisa dong, buktinya sampai sini," jawab Salma. 

Fariz mengangguk dengan memandang Salma. Namun, Fariz malah mengajak Salma untuk mengikuti dirinya. Salma pikir mungkin akan bertemu dengan panitia lombanya. 

"Ikuti saya!" perintah Fariz. 

"Katanya kemarin nggak mau di ruangan berdua, sekretaris saya masih keluar," ucap Fariz. 

"Tapi mau kemana?" tanya Salma. 

"Salma, ikuti saja!" Kini Fariz bicara dengan lembut tak ada bentakan. 

Ternyata Fariz mengarah ke cafe kantornya. Salma ingin rasanya berbalik arah karena menjadi pusat pandangan dari banyak karyawan Fariz. Tentu Salma tidak ingin dengan keadaan tersebut. 

"Pak CEO, kita balik aja deh, saya pakai seragam sekolah ini," ucap Salma. 

"Hahaha … memangnya kenapa kalau pakai seragam? Kamu kan bukan sedang keluyuran atau tawuran, kamu malu dilihat mereka? Anggap saja belajar, kamu besok akan dilihat lebih banyak dari orang-orang ini, dan termasuk orang-orang ini juga, duduklah!" ucap Fariz. 

"Tapi," 

"'Kenapa? Kamu takut kita dikira pacaran? Mikir kamu jangan kejauhan, cepetan duduk! Mau urusannya cepat selesai apa tidak? Kalau tidak sih, nggak masalah kamu berdiri terus sampai jam dua belas malam," ucap Fariz. 

'Hhhh, parah ini,' batin Salma segera duduk. 

"Kan cuma nganterin ini doang Pak, mau bicarain apa?" tanya Salma. 

"Bicarain perjodohan kita," jawab Fariz. 

"Mau bicarain model apa? Pak CEO kenapa menyetujui pernikahan itu?" tanya Salma dengan kesal. 

"Dengar Sal! Saya juga manusia yang punya cita-cita, kamu punya prestasi yang baik, saya nggak tega lihat kamu gagal kuliah." Fariz menghadang Salma yang terlihat ingin lari dari tempat itu. 

"Jangan halangi saya! Kalau memang mau membantu, buktikan! Tapi saya nggak suka cara Bapak yang membuat kita menambah dosa," ucap Salma. 

"Saya bingung dengan gadis seperti kamu, apalagi yang salah?" tanya Fariz. 

"Nggak usah pura-pura nggak tahu deh, Pak." Salma beranjak untuk berdiri. 

"Makanya tunjukin dong, mana bentuk salahnya?" tanya Fariz. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status