Share

Bab 4. Jalan Dakwah

"Ya, pastinya Papa sudah tahu." Salma ngambek dengan keadaan yang sangat tidak ia inginkan itu. 

"Papa tahu kamu gadis yang baik, kuliah kamu saja mau jurusan dakwah, kamu tentu sudah tahu bahwa sebaik-baik manusia itu yang bagaimana, mau kan berdakwah?" tanya papa Rohman dengan senyum manis. 

"Iya Pa, yang bermanfaat bagi manusia, apa hubungannya perjodohan ini dengan dakwah?" tanya Salma keheranan. 

"Kamu jawab dulu, Sayang, memang konsep kamu bagaimana?" tanya papa Rohman. 

"Konsep Salma ya kuliah dululah, Pa, kan Papa tahu sendiri kalau Salma itu nggak ingin nikah muda, Salma ingin selesaiin kuliah dulu, baru tuh Salma mau menikah, mau banget dengan CEO, tapi nanti, dengan catatan bukan sama CEO brengsek yang aku ceritain ke Mama itu," jelas Salma. 

"Husss! Salma nggak boleh bilang itu CEO brengsek, itu anak sahabatnya Mama dan Papa," ucap Mama Risa. 

Salma nggak tahu arah pembicaraan orang tuanya itu. Karena memang itu adalah kenyataan yang Salma alami pada hari teraneh yang ia jumpai dalam hidupnya. 

"Memangnya, kenapa kalau anak sahabat Mama dan Papa? Lebih percaya sama mereka daripada anak sendiri? Salma sudah seperti Tom and Jerry loh dengan CEO itu, dia menyebalkan!" ucap Salma. 

"Hahaha … ingat kartun kesukaan kamu waktu kecil jadinya, Tom and Jerry, justru kita percaya sama kamu, Sal, makanya CEO itu yang akan menjadi jalan dakwah kamu," ucap papa Rohman. 

"Jalan, ja … jalan dakwah?" Salma ingin ngomel tentang itu tapi pikiran dan hatinya masih sangat shock dan hanya terbengong tidak jelas. 

Salma paham, bahwa maksud dakwah tersebut untuk menyadarkan Fariz yang terindikasi gay itu. Kedua tangan Salma memegang tangan orang tuanya. Ia menangis dan memohon maksud tersebut tidaklah benar. 

"Ma, Pa, Salma mohon katakan! Katakan ini hanya mimpi, katakan kalian hanya bohong! Dia itu bukan orang baik, dia suka membentak, dia gampang emosi, apa dengan dia Salma akan bisa lebih aman? Itu mustahil, Pa, Ma! Apakah jalan dakwah harus dengan menikahi orang yang terindikasi gay? Salma," keluh Salma dengan isakan tangis yang terpotong ucapannya oleh papanya. 

"Cukup! Cukup kamu menjelek-menjelekkan orang lain, dibalik kekurangan pasti ada kelebihan, kamu jangan lihat sisi buruknya!" ucap papa Rohman. 

"Iya Sayang, kami yakin kamu akan lebih aman kuliah jika sudah menikah, tolong jangan bikin Papa dan Mama khawatir, biar kamu tenang juga dalam kuliah, percayalah itu," ucap mama Risa penuh harap. 

"Ya sudah, Papa sama Mama jangan sedih dan khawatir tentang apapun keputusan Salma, tapi Salma belum bisa menanggapi hal itu sekarang, apa CEO itu juga sudah setuju? Belum kan?" Salma tersenyum manis supaya orang tuanya tidak terlihat sedih. Meskipun, dalam hatinya sangat perih. 

'Ini nih, bakal jadi PR tipe forever, bukan tipe besok dikumpulkan beres,' batin Salma. 

***

"Fariz, kamu nikah aja ya?" ucap Mami Reva. 

"Entar aja deh Mi," jawab Fariz sambil menghadap laptopnya. 

"Riz, Papi sudah sepakat untuk jodohin kamu," ucap Papi Vero. 

"Bregh." 

Fariz menghentakkan kakinya ke lantai. Ia paling tidak suka dengan perjodohan itu. Tanpa bicara, namun matanya melotot dan wajahnya begitu kesal. 

"Yaa, biar kamu nggak sendiri terus Riz, coba aja udah nikah, biar rumah segede ini bakal lebih lengkap, kamu mau kan?" tanya Mami Reva. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status