Share

Part 4 Bukan Prioritas 1

Waktu yang Hilang

- Bukan Prioritas

"Mbak, ayo makan dulu!" ajak Ana setelah mengambil piring dan sendok dari rak pantry kantor.

"Kamu makan dulu. Aku belum lapar ini, An," jawab Melati. Masih sibuk meneliti deretan angka yang tertera di layar komputernya.

"Aku ambilin, ya."

Melati menatap saudaranya. "Aku belum lapar. Aku makan nanti saja."

"Kalau waktunya makan harus makan, Mbak. Biar nggak sakit, biar kuat menghadapi kenyataan," canda gadis muda itu.

"Apalagi kenyataan hidup Mbak Melati yang membuatku nyaris gila meski hanya melihatnya saja," tambah Ana.

"Bisa saja kamu." Melati berdiri dari duduknya, kemudian mendekati Ana yang tengah mengambil nasi di meja kosong sudut ruangan.

Biasanya ada karyawan yang mengambilkan makan siang untuknya, sekalian untuk para pekerja lain. Tapi sudah beberapa waktu ini, Melati membawa bekalnya sendiri

"Kita makan di belakang, yuk, Mbak!" ajak Ana.

Keduanya melangkah ke belakang. Duduk di tempat biasanya. Sebuah balai-balai dari bambu yang ada di bawah pohon mangga.

Melati diam sejenak. Menghirup udara siang yang segar seraya menatap di kejauhan. Pada hamparan tanaman teh yang menghijau. Juga memandang Gunung Arjuno yang berdiri megah di hadapan. Gunung kokoh yang ingin ditaklukkan para pendaki.

Siang yang cerah. Namun tetap saja terasa sejuk, karena suasana di pegunungan memang seperti itu.

Angin siang meriapkan ujung jilbab warna hijau sage yang dipakai Melati.

"Mbak, buruan di makan. Nanti lembek malah nggak enak," tegur Ana menunjuk pada piring saudaranya.

Melati mengangguk kemudian mulai menyuap nasi. Dulu dia kerap makan bersama dengan Akbar di tempat itu. Sambil ngobrol dan bercanda.

Waktu hamil Moana, Melati sering tiduran dengan berbantalkan pangkuan suaminya di balai itu. Ada saja bahan percakapan yang membuat mereka tergelak bersama, hingga perut besar Melati terguncang. Akbar akan mengelusnya penuh cinta. Tiga tahun mereka menunggu hadirnya buah hati, akhirnya Melati hamil juga yang disambut suka cita oleh Akbar.

Namun kebahagiaan itu tidaklah lama. Semua terenggut oleh kehadiran perempuan bernama Nara. Segalanya berubah dalam sekejab saja.

Biasanya ke mana pun Akbar pergi, pasti akan memberitahu tujuannya pada Melati. Jadi sang istri tahu posisi suaminya ada di mana. Tapi sekarang, tak penting lagi untuk memberitahu. Yang penting sudah pamitan kalau hendak ke luar. Hanya sesekali saja Akbar bilang tujuannya hendak ke mana.

Apakah jika tidak memberitahunya, bermakna dia tengah mencari perempuan itu? Kekasih hatinya?

Melati menarik napas dalam-dalam.

"Mbak, makan dulu. Jangan sampai Mbak tumbang dan sakit. Apapun masalahmu, tunjukkan kalau kamu kuat dan hebat. Jadi perempuan tangguh jangan setengah-setengah. Kalau kamu kuat hidup berbagi, jangan biarkan tubuhmu rapuh. Rawat diri, biar tetap cantik dan glowing. Ini bukan untuk suamimu yang tega menduakanmu. Tapi untuk dirimu sendiri. Sayangi dirimu sendiri, Mbak."

Senyum merekah di bibir Melati. Saudaranya ini masih sangat muda. Tapi pemikirannya dewasa. Mereka berdua memang perempuan-perempuan yang digembleng oleh keadaan. Kerasnya hidup yang harus ditanggung, membuat mereka belajar dari kondisi yang dihadapi. Menjadi dewasa oleh keadaan yang menuntutnya untuk bisa berpikir lebih jauh dari usia mereka.

Ketika tengah asyik makan, muncul Saga sambil membawa kantung plastik. "Aku cari di dalam, rupanya kalian ada di sini," ujar laki-laki itu seraya duduk di bangku kayu sebelah mereka. Lantas memberikan apa yang dibawanya pada Melati.

"Apa ini?" Melati melihat isinya. "MasyaAllah, kamu ingat aku ini Moana yang suka lolipop dan es krim."

Saga tersenyum. "Sekali-kali menghibur diri dengan berlagak menjadi anak kecil, Mel. Jaga kewarasan."

Ganti Melati yang tersenyum kecut seraya membagi pemberian Saga kepada Ana. Gadis itu meletakkan piringnya yang sudah kosong dan membuka es krim rasa cokelat.

Tiap hari ada saja penjual es atau makanan keliling yang datang ke perkebunan mereka.

"Kamu sudah makan?" tanya Melati pada pria yang menyalakan rokoknya.

"Sudah tadi."

Melati menggeser satu botol air mineral untuk Saga. "Perbanyak minum. Badanmu masih demam, nggak?"

"Udah mendingan."

"Minum obat lagi. Kamu bawa obatnya?"

Saga menggeleng.

"Wajahmu masih pucet gitu. Jangan remehkan sesuatu yang terlihat sepele, Ga. Obati betul-betul lukamu. Pergilah ke dokter. Untuk kasusmu sebaiknya papa harus dikasih tahu. Selama ini beliau hanya tahu perkelahianmu saja. Tanpa tahu bagaimana mereka berhasil melukai tubuhmu."

Pria muda yang tengah merokok itu hanya menjawab dengan senyuman. Membuat Melati tambah geram. "Ga, ayolah bertindak. Sudah berapa kali kamu dibuat seperti ini? Dan orang rumah serta orang lain tahunya kamu emang suka tawuran dan bikin masalah. Bersihkan nama baik kamu."

"Sebersih apa?" tanya Saga santai.

"Jangan bercanda. Aku serius. Menjaga nama baik itu perlu, Ga."

Tatapan Saga menerawang pada langit lepas yang biru jernih. Bibirnya meniup asap rokok hingga meliuk-liuk di embus angin.

"Aku tidak takut dibenci, Mel. Oleh siapapun itu. Aku juga tidak berharap untuk disukai. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku juga tidak ingin mengemis simpati dari siapa pun." Saga berhenti sejenak. "Aku sudah terbiasa dengan lingkungan ini sejak aku masih dalam kandungan ibuku. Aku biasa dibenci dan menyembuhkan lukaku sendiri. Menyemangati diri untuk terus berjuang semampuku. Mungkin sampai aku tumbang karena tak mampu lagi bertahan. Banyak hal yang mengajariku untuk diam. Diam tapi tahu segalanya."

Melati diam, kalimat Saga bermakna sangat dalam. Bahkan Ana pun menunduk, terharu.

"Kamu tahu apa yang membuatku bertahan di sini?" Saga menoleh pada Melati. Mereka bersitatap. "Papa yang membuatku tidak bisa pergi. Papa yang bisa membuatku bisa merasakan, memiliki orang tua seperti anak-anak lainnya. Hingga suatu hari nanti, ada waktu di mana mengharuskanku pergi, angkat kaki dari sini."

Ya, ketika Saga menikah dengan Alita. Sudah pasti akan pindah dari perkebunan. Melati yakin. Jika menikahi gadis itu, sudah pasti Saga akan pergi. Lalu, Melati akan kehilangan teman untuk berbagi kisah.

"Aku doakan, pernikahanmu dengan Alita nanti bisa memberikanmu kebahagiaan," ucap Melati tulus dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.

Saga diam lantas mengalihkan perhatian.

Hening menerpa mereka bertiga. Ana ikut sedih dalam arus permasalahan yang mereka hadapi. Ikut prihatin dan merintih dalam hati. Namun melihat mereka berdua, Ana bisa merasakan betapa tangguh dua orang di sebelahnya itu.

Komen (3)
goodnovel comment avatar
Cilon Kecil
kok curiga sama ubu tirinya ya yg sengaja mau menyakitibSaga lahir batin
goodnovel comment avatar
Indah Wirdianingsih
dalem bnget kata2 nya saga
goodnovel comment avatar
miss calla
Rasanya seperti aku ada di sana jadi Ana melihat mel dan saga dgn mata berkaca
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status