Share

Part 7 Aku Bukan Malaikat 2

Astagfirullahaladzim. Melati beristighfar dalam hati. Apa suaminya benar-benar sudah memahami apa itu poligami? Yang tidak hanya membahas hubungan biologis saja, tapi banyak lagi hal-hal yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di alam akhirat.

Melati menengadah. Menatap bayang-bayang malam di penghujung senja ini. Ternyata sudah cukup lama mereka berada di tengah kebun sayur itu.

"Mel, jika kamu mengatakan hal ini dikala Nara pergi. Apakah ini semacam ancaman agar mas nggak lagi mencarinya?"

Senyum paling getir menghiasi bibir pucat Melati. "Ancama apa? Kenapa aku harus mengancammu, Mas? Hati itu milikmu, bagaimana aku bisa mengendalikan apa yang kamu inginkan dan rasakan di dalam sana." Melati menunjuk dada Akbar dengan gerakan dagunya.

"Sedangkan mas sendiri bilang nggak bisa mengawalnya lagi. Apalagi aku ...." Nada suara Melati mengambang.

"Mungkin kemarin aku sanggup menyetujui keinginanmu. Namun setelah Nara pergi dan Mas sekalut ini, berarti rasamu hanya milik dia sekarang. Dia nggak ada di depan mata saja membuat mas kebingungan seperti ini, mengabaikanku seolah aku bukan siapa-siapa. Apalagi kalau Nara ada. Kamu akan menganggapku apa, Mas?

"Aku bukan malaikat. Aku manusia biasa. Tolong pahami ini. Aku akan menunggu sampai kamu menemukan gadis itu lagi. Setelah itu lepaskan aku. Biarlah aku mencari kebahagiaanku sendiri. Maafkan jika aku akhirnya menyerah dan nggak bisa mendampingimu lagi. Aku hanya titip Moa. Sayangi dia meski pada akhirnya kelak

mas akan memiliki anak dari Nara. Mungkin denganku dia nggak akan sebahagia bersama kalian. Aku nggak punya apa-apa. Tapi aku minta, tetap izinkan aku bertemu dengannya sekali waktu." Melati menunduk. Bicara tentang anak, membuat hatinya tersayat parah. Ibu mana yang sanggup berpisah dengan buah hatinya? Moana sekarang juga sedang lucu-lucunya.

Akbar menatap lekat istrinya. Begitu tenang Melati bicara kali ini, bahkan tak ada lagi air mata yang kerap membasahi netra beningnya dalam beberapa bulan ini. Apa hatinya sudah setawar itu?

"Mel, tidakkah kita bisa berdamai dalam keadaan ini? Mas tak bisa kehilangan kamu?"

Melati tersenyum meski melihat lelaki itu berubah sendu. Lelaki yang masih mengaku mencintainya tapi menyimpan perempuan lain di hatinya.

"Sudah berbulan-bulan aku membujuk hati, Mas. Aku bisa bertahan menemanimu. Tapi aku akhirnya sadar ketika Nara pergi dan Mas sangat patah hati. Dari sini aku mengerti, apa artinya diriku di hadapanmu sekarang ini."

"Apapun anggapanmu, mas nggak bisa kehilangan kamu."

Apa ini ketulusan atau omong kosong? Melati tersenyum kecil di sudut bibir.

"Kita pulang, Mas. Sudah mau Maghrib ini."

Akbar diam beberapa saat, kemudian menekan pedal gas dan meninggalkan tempat itu.

Setelah percakapan sore itu, masihkah adakah keinginan Akbar untuk mencari Nara lagi. Atau jik Nara kembali, apa mereka akan tetap melanjutkan pernikahannya?

***LS***

Melati termangu di dekat kulkas dapur. Dia sedang merebus air untuk mengisi termos. Sebab kalau malam, Moana sering terbangun minta dibuatkan susu.

"Biar saya saja yang nungguin airnya, Mbak," kata Tini sopan.

"Nggak apa-apa, Tin. Biar aku yang nungguin. Nanti kuantar ke kamar."

Tini mengangguk. Ketika hendak berbalik, Melati mencegahnya. "Mas Saga belum pulang?" Sejak dirinya pulang menjelang Maghrib tadi, Melati tidak melihat Saga. Apa dia jadi pergi atau masih belum pulang dari perkebunan. Sebab biasanya Saga juga sering tidur di sana.

"Jam empat tadi pulang, Mbak. Sempat ngajak Mbak Moa bermain sebentar. Tapi setelah mandi pamitan sama Bapak, katanya mau pergi."

"Oke."

Tini pergi, Melati duduk di kursi. Saga benar-benar tidak takut setelah beberapa kali nyawanya terancam. Sepasrah itukah hidupnya?

Terbuat dari apa hatinya. Setelah diperlakukan dan dihajar habis-habisan oleh penghakiman dari kesalahan yang tidak pernah ia lakukan, Saga masih bisa tertawa. Tersenyum lebar untuk menghiburnya.

Siapa yang salah dan siapa yang dihakimi sepanjang hidup? Saga mana tahu akan dilahirkan di tengah keluarga seperti apa? Ibunya istri nomer berapa? Pelakor apa bukan?

Melati mendesah pelan. Mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Jujur saja ia khawatir jika terjadi sesuatu dengan adik iparnya. Mungkin dialah satu-satunya orang di rumah itu yang peduli pada Saga. Bagaimana dengan papanya?

Kodisi kesehatan Pak Norman yang tak stabil, membuat ruang geraknya terbatas. Tidak segesit dua tahun yang lalu. Namun Melati tahu, betapa papa mertuanya sangat menyayangi Saga.

Netra tuanya menunjukan segenap rasa yang ada dibenaknya. Walaupun tidak bisa mengungkapkan.

Melati membawa termos masuk ke kamar. Kemudian bercanda dengan Moana. Mengajari bocah itu menyanyi lagu Bintang Kecil, Balonku, dan beberapa lagu anak-anak lainnya. Membacakan cerita tentang si Kancil yang cerdik. Entah cerdik entah licik. Hingga mereka sama-sama tertidur di kasur lantai, tempat biasa Moana bermain.

Tini tidak berani membangunkan. Hingga Akbar mengetuk pintu kamar.

"Mbak Melati ketiduran, Pak. Saya nggak berani membangunkan," ucapnya sopan pada bos yang berdiri di depan pintu.

Akbar masuk, duduk di sebelah Melati yang meringkuk memeluk kaki Moana. Wajahnya terlihat lelah.

Kemudian ia bangkit untuk memindahkan Moana ke tempat tidurnya, ketika hendak mengendong sang istri untuk pindah kamar. Ponsel di genggaman berdenting

* * *

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Indah Wirdianingsih
nara tuh yg telpon...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status