Share

8

Aroma lantai kayu yang khas menyeruak masuk kedalam indra penciuman. Angin dingin menerpa wajah pucat seorang gadis kecil yang tengah melihat seseorang melukis. Laki-laki paruh baya di hadapannya memperlihatkan gestur yang tenang dari belakang. Ia sedang mengamati dua kupu-kupu yang sedang menari indah di hadapannya. Kelihatannya ia tak banyak menunjukan pergerakan karena tidak ingin mengusir kedua kupu-kupu yang sedang menjadi objek seninya itu.

Mata Naya menyipit, memperhatikan sosok itu.

Siapa dia?

Maniknya mencoba mengedar ke kanan dan ke kiri. Ini jelas rumah yang ia tempati, tapi mengapa rasanya tidak asing seperti perasaannya selama ini tinggal di sini. Lantai kayu di rumah ini begitu dingin.

Kenapa ia bisa tertidur di sini? Terakhir kali ia ingat berada di dalam kamarnya. Naya melihat ke bawah dan mendapati dirinya memakai gaun putih bercorak bunga matahari, tangan dan kakinya juga menjadi lebih pendek dan kecil dari biasanya. Ia mencoba meraba rambutnya yang ternyata di kepang rapi sedari ia bangun.

Apa aku berubah menjadi anak kecil? Mimpi? Gumam Naya dalam hati.

'Wah, anak ayah sudah bangun ternyata! Kemari sayang, kau pasti lelah, ya? Menunggu ayah sampai ketiduran begitu. Maafkan ayah, ya? Sebentar lagi kita jalan-jalan, sesuai janji. Kemarilah,' laki-laki paruh baya itu berlutut sembari membuka lengannya lebar-lebar.

Manik hazel nya bertatapan lurus dengan manik milik Naya yang juga senada. Gadis itu tidak bisa bergerak, tubuhnya menjadi kaku sekarang. Hanya air mata yang bisa mengalir dari sudut matanya ketika melihat sosok kecil bergaun putih dengan corak bunga matahari berlari ke arah pria itu sembari bersorak. Gadis itu sudah menjadi normal kembali ketika ia melihat kedua tangannya yang ukurannya kembali.

Kenapa ia tiba-tiba merasa sentimental seperti ini?

Siapa pria itu?

'Terima kasih. Ayah rindu sekali denganmu,'

Pria itu berujar lirih sembari menatap Naya dewasa sebelum semuanya menjadi gelap.

***

Piiip! Piiip! Piiiip!

Kelopak mata Naya terbuka perlahan mendengar kebisingan alarm ponselnya. Tangannya mengusap mata nya yang basah. "Wah, apa aku benar-benar menangis? Mimpi tadi aneh sekali...sekarang perasaan ku jadi sedikit tidak enak. Ayah..? Tapi mukanya...sangat berbeda dengan Ayah. Siapa dia?" Monolog Naya sembari berusaha mendudukan dirinya. Ia meraih jaket yang ia letakkan sembarang di lantai, lalu memakainya. Gadis itu merasa hari ini cukup dingin di dalam rumah. Setelah mematikan alarm yang berbunyi bising sedari tadi, ia keluar menuju dapur.

Saat ia melewati ruang makan, ia mendapati sosok Gavin yang tengah tertidur dengan posisi menelungkupkan kepalanya di antara kedua tangan yang ia tekuk di atas meja makan. Ia masih menggunakan jas putihnya.

"Hm? Kenapa ia tertidur disini dengan masih mengenakan jas? Bukankah kemarin ia masuk ke kamarnya duluan? Mungkin ada pasien semalam...."

Naya menghela napas, tubuh laki-laki ini bisa sakit semua kalau posisi tidurnya begini. Kenapa ia tidak tidur di klinik saja semalam? Dasar. "Gavin. Bangun...kenapa kau tertidur di sini?"

"Emm, jam berapa sekarang? Agh! Sakit semua rasanya," ucap Gavin sembari meregangkan tubuhnya. Sementara Naya menggelengkan kepalanya sembari mengambil teh instan dan gula. Ia akan membuatkan Gavin teh juga, karena pasti laki-laki itu juga membutuhkan teh untuk merelakskan dirinya.  Sebentar lagi ia juga harus berangkat ke klinik.

"Kau pulang jam berapa kemarin? Sampai tak sadarkan diri di meja makan." Ujar Naya sembari menyodorkan teh yang ia buat. "Terima kasih. Sekitar pukul tiga dini hari aku di panggil karena salah satu warga mengeluh muntah tak berhenti. Setelah selesai dengan pemeriksaan aku langsung pulang. Tak ingat pulang jam berapa," Gavin mulai menyeruput teh nya.

"Kenapa tidak tidur di klinik saja?"

"Kau di rumah sendirian,"

"Apa?"

"Apa? Memangnya aku bilang apa?"

Naya menghela napas panjang, tapi jantungnya kembali berdegup cepat ketika Gavin mengucapkan kata yang seolah kalau ia mengkhawatirkannya. Ia bisa mendengar suara lirih Gavin. "Omong-omong, kenapa wajahmu pucat? Mata mu juga sedikit bengkak,"

"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit kedinginan,"

Gavin beranjak dari kursinya untuk menyentuh kening Naya. "Jangan berbohong. Ini namanya kau terkena demam. Jangan bekerja hari ini, kau ingin tinggal di klinik sampai aku pulang?"

Laki-laki ini aneh. Semakin hari kenapa semakin bertingkah manis dengan Naya. Yah, meskipun itu kadang-kadang saja. "Tidak bisa, Gavin. Aku harus bekerja hari ini. Aku sudah mulai mendapat kepercayaan di desa ini. Aku tidak ingin terlihat seperti anak manja, sementara mereka melakukan pekerjaan yang lebih berat tanpa mengeluh,"

"Kau memang benar-benar tidak bisa memikirkan dirimu sendiri, ya? Menjaga kepercayaan orang lain terhadap kita itu bagus, tapi kau harus tahu, kau tidak bisa mengabaikan diri sendiri yang selalu tahu apa yang tepat untukmu. Jangan terlalu memperdulikan penilaian orang lain terhadapmu, akan lebih baik jika kau peduli dengan dirimu terlebih dahulu," ujar Gavin panjang lebar. Mungkin ini kalimat paling serius yang ia pernah ucapkan kepada Naya.

Sementara gadis itu hanya terdiam. Gavin mungkin benar, tapi selama ini ia tidak hidup seperti itu. Ia butuh orang lain menyukainya dan menaruh rasa percaya padanya, maka dari itu ia selalu mengutamakan orang lain. Naya juga memendam seluruh emosi dan luka yang merupakan dampak 'mendahulukan orang lain' itu sendirian. Ia ingin orang lain memandangnya sebagai sosok yang positif dan ramah. Gadis itu selalu menyesuaikan orang lain, ia tak ingin orang lain yang menyesuaikan diri dengannya.

Bisa di bilang ia ingin dekat dengan seseorang, tapi juga tak terlalu dekat dengan membangun dinding pembatas diantara mereka. Ia tak ingin tahu banyak mengenai dunia orang lain, tapi jika orang itu ingin berkeluh kesah, Naya akan mendengarkannya dengan terbuka dan memberi saran jika ia di minta. Sementara Naya sendiri, ia tak ingin membicarakan masalah yang mungkin dapat membuatnya bersedih atau marah kepada orang lain. Bahkan kedua sahabat Naya dan keluarganya sekalipun tidak tahu semua hal tentang Naya. Ia jarang membicarakan masalahnya, seakan-akan hidupnya berjalan mulus. Ini semua karena pemikirannya ingin membuat orang di sekitarnya merasa nyaman dengan dirinya. Di dalam pikirannya juga tertanam bahwa orang lain pasti memiliki suatu masalah yang bisa saja lebih berat dari masalahnya, maka dari itu ia menyimpan hampir semua masalahnya sendiri.

Masalah ia kabur dari pertunangannya dengan Kian adalah bentuk rasa lelahnya dari 'mendahulukan orang lain' saat ini. Ia mencoba mendengarkan dirinya sekali ini saja.

"Kenakan ini terlebih dahulu, lalu kita akan ke klinik bersama. Aku ingin mandi sebentar," Gavin meletakkan syal tebal miliknya di atas tangan Naya. Udara di luar sangat dingin hari ini, karena mungkin sudah musim penghujan. Langit di pagi hari ini juga terlihat mendung.

"Gavin, tapi -"

"Tidak ada kata 'tapi', kita akan ke klinik sebentar lagi. Jika kau bertambah sakit, siapa yang akan repot coba? Tentu saja aku. Aku juga tidak ingin tertular, kelihatannya kau sedikit flu."

Naya mendengus kesal. Baru saja laki-laki itu bersikap manis, sifat aslinya keluar lagi setelahnya. Memang sikap manisnya itu adalah bentuk agar Naya tidak sering merepotkannya.

***

"Pak Danar, tumben pagi-pagi sekali berkunjung ke klinik..." Gumam Gavin yang sedang berjalan dengan menggenggam tangan Naya. Laki-laki itu menggenggam tangan Naya dengan alasan 'agar hangat', dan gadis itu hanya membiarkannya saya. Toh, mereka akan terlihat seperti pasangan asli jika begini.

Naya mendengar gumaman laki-laki di sebelahnya, dan mulai menyipitkan mata nya ke arah klinik yang sudah tidak jauh lagi. Hati nya mendadak merasa tidak enak melihat sosok yang ia panggil 'paman'. Hari ini pertama kalinya ia membolos dari tugas nya, dan pertama kalinya juga bertemu setelah Naya meminta Pak Danar merahasiakan kabar pernikahannya dari Tian di sana. Ia membuat alasan tidak ingin merusak kejutan untuk Tian.

Yap, Naya berbohong lagi. Ia mengatakan keluarga Naya sudah mengetahui hal ini dan menghargai keputusan mereka untuk menunda acara resepsi karena tugas Gavin di sini. Mereka juga berbohong, jika keluarga Naya telah menyaksikan dua insan itu mengikat janji suci di hadapan penghulu. Untuk Gavin, tak ada yang perlu di pikirkan. Laki-laki itu tak memiliki keluarga besar. Dahulu ia tinggal bersama ayah dan ibunya, Pak Danar mengenal mereka dengan baik. Naasnya, kedua orang tua Gavin sudah tiada.

"Ah, aku sudah menunggumu Dokter Gavin. Bisa kita bicara sebentar? Omong-omong, Nak Naya tidak ada tugas hari ini?" Danar menyambut mereka berdua dengan senyuman. 

"Ehm, maaf paman. Aku merasa tidak enak badan hari ini." Ujar Naya dengan tidak nyaman karena berbagai macam hal yang ada di pikirannya saat meilhat Danar.

"Oh, begitu. Tidak apa-apa, jangan meminta maaf. Aku tidak akan memarahimu juga, haha. Aku malah merasa beruntung bisa bertemu Nak Naya juga, karena aku akan menanyakan pendapat penting dari kalian berdua. Bisa kita semua bicara di dalam?"

Genggaman Naya mengerat pada telapak tangan laki-laki yang masih setia menggenggam tangannya itu. Gavin tahu apa maksud dari genggaman itu. "Baiklah, mari kita bicara di ruanganku."

"Terima kasih atas waktunya. Aku janji ini tidak akan lama. Ini mengenai festival panen yang akan datang sebentar lagi,"

***

Kian menatap kosong laptop yang ada di hadapannya. Ia tidak berniat mengerjakan pekerjaannya sekarang. Banyak pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya. Salah satunya adalah tingkah aneh Tian yang benar-benar sulit di hubungi akhir-akhir ini. Ia ingin menanyakan mengenai keberadaan Naya, tapi laki-laki itu selalu sibuk.

Terlebih lagi, Gavin bersamanya. Ia tak pernah mendengar kabar si brengsek itu sama sekali sejak ia berada di luar negeri, tapi mengapa ia tiba-tiba muncul?

Naya adalah gadis yang tak pernah si brengsek itu pedulikan sama sekali. Padahal ia tahu Naya sedang membutuhkan seseorang yang membantunya saat itu, tapi Gavin menolak dan malah memutuskan untuk pergi dari kehidupan Naya.

Tapi, apa sekarang?

"Memikirkan sesuatu?"

Manik biru Kian langsung bergulir ke arah asal suara. "Kau.."

Terlihat pria berusia lima puluh tahunan dengan setelan jas mahal sedang berdiri di hadapan Kian. Pria itu tersenyum. Senyum pertama kali yang ia tunjukkan pada Kian setelah sekian lamanya. Hanya wajah datar pria itu yang ia ingat sebelumnya.

"Kenapa tidak mengabari kalau kau pulang kemarin? Sudah terlalu lama kau tinggal di negara lain. Pria tua ini merindukanmu.."

Kian menatap mata sayu ayahnya. Pria itu sudah terlihat tua sekali baginya. Entah berapa lama ia meninggalkan negara ini karena merasa terbuang. Sejujurnya, Kian membenci pria ini.

"Aku rasa tidak ada yang harus di beritahukan kepadamu. Memangnya kita keluarga? Sudah bukan lagi Pak Tua," sarkas Kian.

Johan menatap putranya sedih. Rasa bersalah yang selama ini menyayat hatinya selama bertahun-tahun Kian pergi telah kembali lagi sekarang. "Apa yang kau bicarakan? Kita ini keluarga. Aku ayahmu bukan?"

"Ayah macam apa yang tidak bisa menjaga keluarga kecilnya. Jika aku bisa memilih, aku tidak akan pernah sudi menjadi anakmu. Kau tak pernah menginginkanku sebelumnya," Kian memalingkan wajahnya menuju jalanan yang tengah ramai di bawah sana.

"Kian, maaf-"

"Aku tidak butuh maafmu. Sekarang apa yang kau inginkan dariku? Kau datang kemari pasti ingin sesuatu bukan?"

"Tidak, tidak ada. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kau kemari dengan masih menyandang statusmu sebagai putra seorang Alterio Johan,"

"Haha, lucu sekali. Kalau bukan seseorang yang spesial aku tidak akan pernah menanggapi surat-surat mu yang meminta ku untuk kembali. Selamanya kertas itu akan menjadi sampah di sana, jika aku tidak mengingat ada seseorang yang harus ku jaga di sini. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang gagal menjaga orang spesial dalam hidupnya sepertimu. Oh, atau...kau tidak pernah menganggap kami spesial sebelumnya?"

Kian melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya. Meninggalkan Johan yang sekarang terdiam dan kembali menyesali semua perbuatannya. Anak itu sudah terlampau membenci sosoknya sebagai ayah.

***

"Hmm..tidak. Ini tidak bisa,"

"Tapi, jika begini..."

"...maka bisa begitu..."

"Lalu.."

Naya berjalan mondar-mandir di depan kamar Gavin. Ia ingin mengetuk pintu kamar laki-laki itu, tapi tak tahu bagaimana ia harus memulai percakapannya.

Percakapannya mengenai masalah tawaran dari Pak Danar tadi pagi. Gadis itu memikirkannya hingga badannya sudah terasa sehat kembali. Otak yang harusnya istirahat, malah ia gunakan untuk berpikir. Seorang Naya kurang nyaman berpikir jika ia berdiam diri saja, maka dari itu ia menghabiskan berjalan-jalan di sekitar klinik Gavin dan mendapat kringat dari kegiatannya. Keringat itu membuatnya sehat kembali.

Semua ini salah dari Gavin yang benar-benar tidak berpikir panjang. Kenapa ia mengangguk setuju saja tanpa berdiskusi dengan Naya yang juga terlibat dalam penawaran?

Uh, sudahlah Naya ingin sekali rasanya merasakan tidur yang cukup panjang sekarang. Setidaknya saat ia menutup mata, sekali-kali Gerald mengunjunginya.

"Ah, sudahlah aku mau tidur saja.."

Klek!

"Berisik sekali dari tadi di depan kamar ku. Kau ini kenapa, sih?" Terlihat sedikit wajah Gavin dari celah pintu yang ia buka sedikit. Muffin yang tahu pintu kamar tuannya terbuka, langsung saja keluar dari sana.

"Eh, memangnya kedengaran?"

"Kau bodoh atau apa? Kaki mu saja suara hentakannya bisa terdengar jika jalan, apalagi jika sedang mondar-mandir," ujar Gavin. Terlihat bahwa laki-laki itu sedang mencoba beristirahat dengan menggunakan kaos putih oblong dan celana training nya.

"Maaf, tapi...agh! Sudahlah mari lakukan itu. Aku sudah tidak peduli lagi dengan semua ini. Dari awal kau yang membuat rencana ini dan sekarang kau mulai tidak ingin mendengar pendapatku. Jika semua rencana mu ini bocor, kau yang akan tanggung jawab. Aku hanya merasa ini terlalu jauh untuk kita, juga kebohongan yang kita buat untuk mereka," ujar Naya panjang lebar.

Gavin mengedipkan matanya berkali-kali karena mencerna kata-kata protes Naya yang kecepatannya seperti kereta. Laki-laki itu menghela napas lalu berkata, "Okey, kita memang salah di awal. Seharusnya aku tak pernah tinggal di rumah ini meskipun hanya menumpang di halamannya. Kau pasti memikirkan banyak hal termasuk keluargamu, kan? Jadi, kau mau kita bercerai sekarang?"

"Ha?! Bukannya itu tambah membuat orang-orang merasa curiga? Keluargaku mungkin tidak akan pernah tahu jika kita bercerai sekarang, tapi orang-orang desa?"

"Jadi, kau mau menikah sungguhan denganku?"

"Kenapa arah pembicaraan ini menjadi aneh?! Tentu saja tidak. Kita akan berpisah saat aku berhasil kembali ke rumah tanpa di paksa bertunangan," ujar Naya sembari membawa Muffin ke gendongannya. Membelai bulu hitam Muffin dapat menghilangkan beban pikiran terkadang.

"Pertunangan apa? Jadi, ini yang kau maksud kabur dari sesuatu?" Gavin mulai tertarik dengan pembicaraan ini. Ia menyenderkan tubuhnya di dinding.

Naya menggigit bagian bawah bibirnya. Ia keceplosan karena beban pikirannya sudah bertumpuk-tumpuk.

"Apa dia orang yang pernah ku blokir nomornya?" Muka Gavin berubah menjadi serius saat menanyakan hal itu.

"I-iya, memangnya kenapa?"

"Menikahlah sungguhan denganku."

Hening di antara Naya dan Gavin. Gadis itu menghentikan kegiatan tangannya yang mengelus bulu Muffin. Mereka hanya saling pandang dengan Naya yang menatap Gavin terkejut, dan Gavin yang menatapnya santai.

"Haha, lucu sekali. Kau bercanda Gavin,"

"Ya, memang aku hanya bercanda. Sudahlah, mari lakukan resepsi itu di saat festival. Setelah resepsi itu di laksanakan, aku yakin sembilan puluh sembilan persen warga sini percaya dengan hubungan kita,"

"Lalu satu persen nya?"

"Nol koma lima adalah Zoe, dan nol koma lima lainnya adalah keluargamu. Aku sarankan kita pertahankan kontrak ini hingga tunanganmu benar-benar menyerah. Laki-laki sepertinya tidak baik untukmu dan terlihat tidak bisa di percaya," ujar Gavin.

"Sok tahu sekali? Bagaimana kau mengenal baik orang yang hanya kau blokir nomornya?" Naya memutar bola matanya malas.

"Firasatku tak pernah salah," Gavin beranjak dari tempatnya. Ia ingin melanjutkan istirahat yang tertunda akibat kecemasan Naya.

Namun, Naya teringat sesuatu dan cepat-cepat gadis itu menarik tangan Gavin.

"Apa lagi sekarang? Kau benar-benar ingin menikah denganku atau apa?"

"Bukan, astaga! Aku ingin tanya, seingatku kemarin waktu kita membersihkan kamar ini.....ada sebuah lukisan yang tertutup kain putih. Aku bilang lakukan sesukamu dengan lukisan itu...apa benda itu masih di sini?" Tanya Naya ragu.

"Oh, benda itu...hmm. Aku menggantungnya di kamar, kau mau lihat?"

***

~TBC~

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status