Share

7

"Siapa laki-laki itu?"

Tanya Gavin saat melihat tangan Naya sibuk menggambar wajah seorang laki-laki. Saat ini mereka sedang bersantai menghabiskan sore hari di teras kayu yang berada tepat di dekat tenda Gavin.

Mereka berdua memutuskan pulang dari kota saat Naya kembali merasa kecewa pada sang kakak yang sampai sekarang ini tidak bisa di hubungi. Menyebalkan.

Omong-omong mengenai negosiasi kamar kosong untuk Gavin sudah di pertimbangkan oleh gadis itu. Mereka sepakat akan membersihkan kamarnya besok. Untuk sementara malam ini Gavin masih tidur di tendanya.

Naya tersenyum melihat sketsa yang ia buat. "Namanya Gerald."

"Siapa Gerald? Kenapa rambut dan wajahnya mirip denganku?" Gavin meraih buku sketsa Naya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi sembari mengamati lekuk wajah Gerald.

"Hei, kembalikan!!"

Laki-laki itu semakin mengulurkan tangannya ke atas untuk mencegah Naya merebut kembali buku sketsanya. Di lihat dari manapun sketsa ini memang mirip dengan dirinya. Hanya warna mata nya saja yang beda. "Jangan bilang selama ini kau suka padaku? Aku tidak menyangka ini.." Gavin menatap horor wajah Gerald yang ada pada buku sketsa gadis itu.

Tangan Naya berhasil meraih buku sketsa nya dari Gavin, lalu menyahutnya dengan kasar. "Percaya diri sekali! Kau ini bukan tipe ku. Maaf saja, ya, Gerald tidak mirip denganmu."

"Kalau tidak mirip denganku, berarti orang itu benar-benar ada? Kau pernah menemuinya?"

"T-tidak sih...tapi aku percaya dia adalah seseorang yang nyata!"

Laki-laki di hadapan Naya itu mendengus pelan. "Untuk apa menyukai hal yang tidak nyata? Sungguh tidak waras. Masih banyak hal yang nyata tapi kau malah memilih yang tidak nyata. Ckckck."

"Kenapa jadi kau yang cerewet sih? Aku yakin ia berada di suatu tempat. Tidak usah berkomentar apapun,"

Gavin menekuk wajahnya, ia memilih bermain dengan Muffin daripada berdebat dengan gadis yang ada di hadapan nya itu. Mengapa seorang Gavin harus membuang energinya untuk berdebat, apalagi dengan Naya yang tidak mau mengalah dan tidak akan pernah mengalah. Laki-laki itu beranjak menuju halaman depan sembari menjinjing kucing hitam kesayangannya. Terkadang terlalu dekat dengan Naya membuat hormon serotonin Gavin turun dan akhirnya membuat laki-laki itu merasa emosi.

Sementara Naya masih melanjutkan kegiatannya. Memandangi hasil sketsanya dengan senyuman di wajah, tak jarang juga menambahkan detail-detail pada sketsa miliknya tersebut. "Enak saja menyamakan Gerald dengan dirinya. Gerald bahkan lebih tampan dari darinya," omel Naya sendiri di tengah-tengah kegiatannya.

Setelah selesai dengan detail nya, gadis itu meletakkan buku sketsanya. Tubuhnya ia rebahkan di atas lantai kayu yang memiliki aroma khas. Sebenarnya aroma ini sangat mengganggu sejak pertama kali Naya menginjakkan kaki di rumah ini. Ada perasaan hangat sekaligus terganggu saat menghirupnya. Seperti deja vu tapi ia tak bisa mengingat kapan ia pernah menghirup aroma ini. Ia juga tidak bisa mengingat aroma ini familiar dengan apa.

Sembari menatap langit-langit yang sudah mulai di penuhi sarang laba-laba, pikirannya melayang kembali pada pembicaraan yang ia lakukan dengan kedua sahabatnya melalui video call tadi. Mengetahui bahwa mantan calon tunangannya itu adalah anak dari seorang pemilik perusahaan digital terbesar tidak membuatnya tercengang sama sekali.

Mantan calon tunangan, ya.....

....apakah sekarang Naya boleh memanggilnya begitu?

Sekarang ia sudah menikah bukan?

Gadis itu terkekeh. Ia masih merasa lucu saja karena menikah di saat berusaha kabur dari pertunangan. Dari sekian banyak laki-laki juga, ia menikahi orang asing menyebalkan seperti Gavin. Pernikahan kontrak pula. Padahal bukan pernikahan seperti ini yang ia impikan. 

Ini juga kebohongan terbesar yang pernah ia lakukan seumur hidupnya. Ia merasa agak bersalah sekarang karena membohongi seluruh desa ini, dan sebentar lagi juga akan membohongi keluarganya jika kakak tersayangnya mengetahui hal ini. Kenapa hidupnya yang tenang berubah menjadi seperti ini?

Seperti yang Naya pikirkan tadi, ia sama sekali tidak tercengang dengan fakta bahwa Kian berasal dari keluarga hebat. Sudah tidak di ragukan lagi jika pemuda itu adalah pilihan ibunya. Namun, ia masih terganggu dengan sorot mata laki-laki itu. Maniknya yang sebiru lautan sedikit mengganggu pikirannya.

Apakah ia Gerald di dunia ini?

Apakah ia bisa mengisi sesuatu yang hilang dari diri Naya?

Naya ingin mencari tahu, tapi tentunya tidak sekarang. Ada rasa ragu menyelimuti hatinya.

***

"Kak Naya!"

Zoe berlari ke arah Naya dengan napas tersengal-sengal. Anak laki-laki itu kali ini mengenakan seragam sekolah nya untuk pertama kali di hadapan Naya. Beberapa hari yang lalu sekolah Zoe memang sedang libur di karenakan masalah renovasi gedung sekolah.

Naya yang sedang membersihkan kandang ayam langsung menoleh ke asal suara. "Zoe? Astaga kau sangat tampan mengenakan seragam sekolahmu! Apa hari ini menyenangkan di sekolah?" gadis itu melepas sarung tangan yang ia kenakan dan meletakkannya. Sementara Zoe yang di puji tampan langsung mengembangkan senyuman.

"Ah, benarkah? Kak Naya bisa saja. Hari ini sangat-"

"-tunggu! Kenapa jadi membicarakan tentang aku. Aku kesini ingin bertanya tentang Kak Naya dan dokter sialan itu. Apakah itu benar? Katakan kalau bohong!" Wajah Zoe sekarang terlihat seperti anak kecil yang merajuk. Setelah insiden Hunter dan selama beberapa hari Zoe libur kemarin, ia menjadi sangat menempel pada Naya. Gadis itu merasa memiliki adik laki-laki yang lucu sekarang.

"Eh? Kau sudah dengar ya..." Naya menggaruk belakang kepala nya yang memang terasa gatal. Di hadapannya sekarang berdiri Zoe yang akan ia bohongi juga. Ia merasa tidak ingin membohongi remaja laki-laki itu, tapi ia harus.

"Jadi itu benar?" Ujar Zoe menatap Naya tidak rela.

Naya yang melihat Zoe tertunduk langsung menarik tangan remaja laki-laki itu untuk ke luar dari kandang ayam. Mereka sekarang menuju ke wilayah perkebunan milik Pak Jaya yang jaraknya tak jauh dari peternakan. Naya mendudukan Zoe di bangku kayu.

"Mau mendengarkan cerita ku? Aku minta maaf karena ini begitu mendadak dan terkesan seperti aku membohongimu kalau sejak awal sebenarnya aku dan Gavin memiliki hubungan. Maaf..." ujar Naya. Sekarang gadis itu sedang menarik kedua telinganya dan mengangkat salah satu kakinya. Persis seperti murid yang sedang di hukum.

"Kak Naya sedang apa?"

"Ku kira kau akan merasa lega kalau aku di hukum karena kebohongan ku?"

Zoe terkekeh. Ia menarik tangan Naya dan mendudukan gadis itu di sampingnya. "Kakak konyol sekali. Aku hanya sedikit tidak rela karena orang sebaik kakak harus tinggal selamanya dengan orang semenjengkelkan Gavin itu,"

"Panggil Kak Gavin, Zoe...."

"Biar saja, aku juga tidak pernah memanggilnya dengan embel-embel 'kakak'. Aku juga sedang kesal sekarang, hmph!"

'Anak ini menggemaskan sekali!' Gumam Naya dalam hati.

"Ahaha, jangan seperti itu. Meskipun menyebalkan dia juga lebih tua darimu. Zoe sebagai permintaan maaf, apakah kau mau makan malam di rumah kami?" Tanya Naya sembari mencubit gemas kedua pipi Zoe.

"Lihat itu! Sekarang Kak Naya menyebut rumah kakak dengan 'rumah kami'. Agh! Aku tidak relaaaa, tapi aku akan ikut untuk mengawasi Gavin. Kakak juga harus bercerita kepadaku awal mula kenapa kalian bersikap seperti orang asing di sini!" ujar Zoe menggebu-gebu.

"Kenapa juga harus mengawasi, Gavin? Tapi, baiklah aku akan menceritakannya nanti." Naya menautkan kelingkingnya pada jari Zoe.

"Yah, hanya ingin mengawasinya. Aku tidak seratus persen percaya dengan Gavin. Oh, ya, omong-omong apa kakak tahu sebentar lagi akan ada festival panen?"

"Festival panen? Aku tidak tahu mengenai hal itu,"

"Festival panen di sini cukup menyenangkan! Kita bisa makan masakan gratis yang bahan-bahannya berasal dari hasil panen orang-orang di desa bulan ini. Nanti juga akan ada penghargaan untuk orang yang berhasil memanen sayuran dengan kualitas terbaik. Malamnya nanti, desa ini akan di hiasi banyak lampu dan..."

Zoe melanjutkan deskripsi mengenai festival panen yang akan datang dengan semangat. Naya memperhatikan remaja lak-laki itu dengan senyuman. Masih ada rasa bersalah di dalam hati Naya karena nyatanya ia mengatakan kebohongan yang di pikir oleh Zoe adalah kebenaran sekarang.

"Maaf, ya, Zoe.."

"...dan di malam nanti -. Eh, kenapa kakak tiba-tiba minta maaf?" 

"Hanya ingin minta maaf padamu, hehe,"

"Kakak aneh, kan tadi sudah minta maaf. Jangan minta maaf lagi, aku sudah memaafkannya,"

Naya tersenyum mendengar itu. Mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu di perkebunan hingga matahari tenggelam sepenuhnya.

***

Jam kerja Gavin sudah selesai sekarang, ia memutuskan untuk pulang. Klinik hari ini buka dua puluh empat jam, tapi untuk sekarang tidak ada keluhan yang datang. Ia akan segera ke klinik jika ada keluhan nantinya. Sementara di klinik akan ada perawat saja yang berjaga malam termasuk Daisy. Jarang juga penduduk sekitar mengeluhkan suatu penyakit di jam malam.

"Hey,"

Daisy muncul di ambang pintu ruang kerja Gavin. Laki-laki itu menghela napasnya, lalu meletakkan jas putih nya di atas kursi. "Ada apa?"

"Aku tahu kalau rumor tentang mu dan Naya yang menikah itu tidak benar," ujar Daisy. Sebenarnya wanita itu merasa bersalah karena mendukung Gavin keluar dari asrama dengan penuh semangat dan berakhir dengan gosip aneh tentangnya dan Naya yang beredar. Ia hanya berpikir hidup damai saat itu, tidak berpikir fakta bahwa laki-laki dan perempuan yang memiliki hubungan tak jelas tinggal dalam satu rumah adalah hal yang tabu. Meskipun Gavin tinggal di pekarangannya tapi tetap saja tidak pantas.

"Kami memang sudah menikah sekarang," ujar Gavin sembari menunjukkan jari manisnya.

"APA?! Tapi, kan...bukannya kau tidak pernah memiliki kekasih? Aku tidak pernah tahu?"

"Memangnya kau harus tahu semua tentang diriku? Kami bertengkar saat aku memutuskan bekerja di desa ini, maka dari itu baik Naya maupun aku berlagak seperti orang asing di awal. Sampai pada akhirnya, kejadian saat Naya memintaku mengantarkannya ke kota. Kami berbaikan disana dan memutuskan untuk segera menikah tanpa resepsi. Itu bisa di adakan nanti," ujar Gavin dengan wajah datar. Kebohongannya sama sekali tidak bisa terlihat dengan wajah datarnya.

"Wow, selamat? Tapi, apakah kalian memang bertengkar selama itu? Selama tiga tahun?"

"Yah, kau tau aku laki-laki seperti apa. Lagipula aku juga dokter yang bisa di bilang sibuk meskipun penempatanku ada di desa ini. Kau tahu juga kalau di desa ini tidak ada internet," ujar Gavin santai.

Daisy berdecak, "Jadi kedatangan Naya kemari adalah untuk meminta kalian berbaikan? Di mana harga dirimu sebagai laki-laki? Sudah hilang selama tiga tahun, dan sekarang yang meminta berbaikan adalah pihak perempuan? Wow," ejek Daisy.

"Bukan begitu. Aku mengiriminya surat setelah tiga tahun lamanya, meminta agar ia datang ke desa ini sesuai janji ku. Aku akan menikahinya ketika aku siap. Itu janjiku, dan dia juga masih setia menungguku," ujar Gavin setelah memutar otaknya untuk menemukan suatu kebohongan yang keren.

"Lalu -"

"Sesi tanya jawab selesai, aku ingin pulang. Seperti biasa beri tahu aku jika ada apa-apa, dan awas saja jika kau mulai menggosip yang tidak-tidak dengan para perawat,"

Setelah itu Gavin meninggalkan ruang kerja nya. Daisy yang di tinggal di sana sendirian berdecih mengejek. "Bisa keren juga ternyata orang aneh itu. Kapan, ya, aku akan menikah dengan Leo?" ujar Daisy sembari menghela napas.

***

"Halo,"

Zoe terenyum paksa saat melihat Gavin membuka pintu utama di rumah itu. Saat ini Zoe sedang bermain bersama Muffin di ruang tamu, sedangkan Naya menyiapkan makan malam di dapur.

Gavin menatap lelah ke arah Zoe. Ia ingin sekali langsung merebahkan dirinya di tempat tidur, tapi kenapa malah bertemu bocah yang selalu membuatnya sebal.

"Nay, apakah kita kedatangan penyusup? Tujuanmu kemari untuk menumpang makan malam, kan?" 

Naya yang mendengar suara Gavin langsung memunculkan kepalanya di ambang pintu yang membatasi antara dapur dan ruang tamu. "Oh, kapan kau pulang? Kemarilah, makanan sudah hampir siap. Kau juga Zoe,"

Zoe tidak menanggapi ucapan Gavin yang tadi, tetapi ia menjulurkan lidahnya sembari menuju ke ruang makan.

"Kenapa kau masak banyak sekali?" Tanya Gavin ketika melihat beberapa hidangan yang memenuhi meja makan.

"Sangat tidak bersyukur. Sudah bagus di masakkan Kak Naya, jika aku jadi Kak Naya aku akan membiarkan manusia sepertimu mati kelaparan," sinis Zoe pada Gavin. Manik Zoe sekarang telah menempel sepenuhnya kepada sosok Gavin yang masih belum ia percayai statusnya sebagai suami dari Naya.

"Sudah-sudah. Kenapa kita tidak mulai makan saja? Zoe juga tidak bisa berlama-lama di sini. Jalanan tangga akan semakin gelap nanti," Naya mulai mengambilkan nasi untuk kedua orang di hadapannya. Kalau boleh jujur auranya sangat mencekam.

Setelah itu, dentingan alat makan terdengar. Zoe sesekali melirik kepada Gavin yang sudah mulai merasa ingin menendang bocah yang menurutnya kurang ajar itu keluar. Bocah itu sungguh sulit percaya kepada Gavin karena memang mereka tidak pernah akur, dan saling berdebat.

Gavin memikirkan sesuatu agar Zoe tidak meliriknya lagi. Ia memikirkan sesuatu yang mungkin akan membuat bocah jomblo seperti Zoe tidak nyaman, contohnya seperti memperlihatkan adegan romantis bohongan ala Gavin. Ia melihat pada Naya yang sedang lahap memakan masakannya sendiri, rambutnya yang terurai kadang membuatnya terganggu.

Aha.

"Sayang, apa kau tidak merasa terganggu dengan rambut panjangmu? Kenapa tidak di ikat saja?"

Semua bunyi dentingan alat makan berhenti. Baik Naya maupun Zoe sama-sama membeku di tempat. Terlihat semburat merah di pipi Zoe.

Gavin terkekeh dalam hati, ia lalu beranjak menuju kursi yang di tempati Naya. Tangannya meraih ikat rambut yang berada di pergelangan tangan gadis itu.

"Padahal ada ikat rambut. Kenapa kau tidak memakainya, sih? Nah, begini kan cantik dan nyaman," ujar Gavin agak memutar tubuh Naya agar wajahnya terlihat. Gadis itu masih bingung dengan perlakuan manis Gavin tiba-tiba.

Sementara yang di tatap bingung tersenyum sangat manis ke arah Naya.

Ah, apakah Gavin memang setampan ini? Kenapa jantung Naya yang tidak pernah berdetak kencang untuk Gavin memulai hal itu.

"Uhuk!"

"Zoe, kau tidak papa? Ingin minum?" Ujar Naya langsung mengalihkan wajahnya dari Gavin dan mengambil segelas air putih.

"Wah, kenapa Zoe? Jangan merasa gugup begitu. Maafkan kami yang selalu seperti ini di rumah. Kebiasaan lama tidak bisa hilang," Gavin tersenyum lalu mengusap kepala Naya lembut.

"Ti-tidak papa, siapa yang merasa gugup? Aku hanya tersedak makanan." Ujar Zoe yang kali ini menambah kecepatan makannya.

Gavin yang merasa puas dengan reaksi Zoe kembali menuju kursi nya, lalu menyantap makanannya dengan tenang. Wajahnya kembali datar seperti semula. Mereka selesai makan malam tepat pukul tujuh, dan Zoe memutuskan untuk cepat-cepat pulang.

Sejujurnya ia merasa malu dengan adegan manis di hadapannya tadi. Ia belum pernah memperlakukan seorang gadis semanis itu karena memang ia belum pernah berkencan. Zoe juga terlalu malu untuk memulai.

"Kau yakin tidak ingin di antar?" Ujar Naya yang sekarang mengantar Zoe sampai gerbang depan. Sementara Gavin hanya diam berada di samping Naya. Sesekali memainkan jemari gadis itu untuk membuat Zoe bertambah canggung.

"Tidak usah. Memangnya aku anak kecil? Terima kasih makanannya, Kak. Makanannya sangat lezat, lain kali aku mampir lagi yaa," senyum Zoe mengembang. Sangat menggemaskan. Naya jadi tidak tahan untuk tidak mencubit pipi Zoe.

"Boleh. Kemarilah kalau kau ingin memakan masakanku,"

"Eh, eh, enak saja kemari. Tidak, jangan kemari lagi. Kehadiranmu mengganggu jadwal romantis kami." Gavin meraih tangan Naya yang masih mencubit pipi Zoe, lalu menggenggamnya.

"H-hah! Pelit sekali kau. Aku akan datang setiap hari, lihat saja nanti!"

"Coba saja datang setiap hari. Memangnya bocah jomblo sepertimu kuat memandang kemesraan kami?"

"S-siapa yang jomblo?! Aku sudah punya kok," bela Zoe. Ia merasa sedikit keren setelah mengucapkan kebohongan kalau ia juga memiliki pasangan.

"Ajak dia kesini kalau memang benar ada. Semakin ramai semakin menyenangkan. Iya, kan, sayang? Tapi, awas saja jika kau berani datang kemari sendirian,"

Naya mencubit kecil pinggang Gavin karena jahilnya sudah kelewatan. Di samping itu juga laki-laki itu berhasil membuat jantungnya semakin menggila. Ia ingin menghentikannya.

"Sudahlah. Jangan gubris omongannya. Hari semakin larut Zoe, kau tidak ingin Ibumu khawatir, kan?"

Zoe mengangguk. Ia lupa belum meminta  izin pada kedua orang tuanya kalau ia akan makan malam di rumah Naya. Sebelum pergi juga Zoe meneriakkan pada Gavin kalau ia pasti akan membawa kekasih nya untuk makan malam bersama. Sungguh anak keras kepala.

"Kenapa kau sangat jahil, sih?"

"Aku hanya ingin bocah cerewet itu segera pergi. Ia tipe yang keras kepala, makannya kita tidak boleh lengah. Satu gerakan mencurigakan bisa membuatnya tahu kalau kita berbohong,"

"Begitu, kah? Baiklah."

"Lagipula, hitung-hitung latihan agar akting kita semakin bagus di depan penduduk lain. Kau setuju kan, sayang?" Gavin menaikkan alisnya dan tersenyum manis ke arah Naya.

"Sekali lagi kau mengucapkan panggilan itu, kau akan tidur di luar Gavin. Aku tidak main-main," ujar Naya. Ia tidak mau jantungnya ribut lagi. Rasanya tak mungkin kalau ia memiliki perasaan ke laki-laki tak jelas seperti Gavin.

Bahkan mereka juga sering adu mulut karena hal kecil. Naya juga sering mengejek Gavin karena kebiasaan buruknya.

Tidak mungkin debaran ini merupakan akibat dari perasaan suka, kan?

Ya, tidak mungkin.

Ini pasti karena reaksi alami karena pertama kali di perlakukan manis oleh seorang laki-laki di dunia nyata. Naya tak pernah tertarik mencicipi percintaan di dunia nyata semenjak bertemu Gerald dalam mimpi.

Dunia percintaannya adalah Gerald. Tidak bisa orang lain.

Tapi, kenapa senyum Gavin....

...Ah! Tidak mungkin. Itu pasti hanya kebetulan.

"Loh, kenapa sayang? Mari kita sering praktekkan agar saling terbiasa. Kau juga cobalah, rasanya menyenangkan."

"GAVIN!!"

***

~TBC~

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status