Share

Bab 3

PoV Rizka

Wajah Bang Hans benar-benar pias karena petugas mengatakan menemukan bungkus kon--dom dan juga kon--dom bekas pakai. Nggak salah lagi merekalah yang tadi melakukan hubungan terlarang di mobil bergoyang itu. Saat itu hatiku bagaikan dihantam balok kayu. Walaupun aku tahu mereka itu sudah berbuat zina dalam mobil. Namun, tetap saja barang bukti membuat diriku terguncang karena aku tidak menyangka pengkhianatan yang bertubi-tubi seperti ini kurasakan dalam Rumah tanggaku.

"Bapak gak bisa mengelak lagi. Bapak harus segera kami bawa ke kantor untuk dimintai keterangan. Bapak dan Ibu mari ikut kami ke kantor. Kami akan meminta keterangan dari kalian berdua atas laporan ini karena ini bukan pelaporan main-main. Ini harus ditindak lanjuti."

Petugas itu dengan sigap menyuruh Bang Hans masuk ke dalam mobil. Petugas juga yang akan membawa mereka ke kantor Polisi Syariat. Di sana mereka akan dimintai keterangan atas apa yang telah mereka lakukan. Mungkin saja mereka terkena Qanun dan akan dicambuk 100 kali seperti yang terjadi ketika ketahuan berbuat zina di daerah ini.

Hukum cambuk dilakukan di depan semua masyarakat dan masyarakat boleh melihat mereka di cambuk. Lelaki dan wanita biasanya ketahuan berzina bila telah berumah tangga sebenarnya hukum dalam Islam itu lebih kejam. Mereka harus di rajam sampai mati. Namun, di daerah yang menganut syariat seperti ini mereka hanya dicambuk 100 kali dan algojo yang mengerjakannya.

"Sebentar, Pak. Kenapa kami harus ikut ke kantor? Bukankah tadi Bang Hans sudah menjelaskan kalau kami tidak punya hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas teman saja tidak lebih. Jadi tolong lepaskan sajalah kami. Tolonglah, Pak."

Delia terlihat muram. Dia ketakutan ketika akan digiring ke kantor setempat. Dia tidak ingin pergi ke sana tetapi Polisi wanita menariknya agar dia segera ikut juga untuk dimintai keterangan.

"Ibu. Mari jelaskan di kantor karena masalah ini tidak bisa dijelaskan di sini. Ini jalan raya dan orang-orang melihat perbuatan kalian. Kalian juga melanggar syariat. Kalian harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang kalian kerjakan."

"Tapi kami tidak melakukan apa-apa. Untuk apa kami pergi ke sana. Tolong lepaskan saja kami, Pak. Saya akan bicara dengan istri saya. Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita ini. Kami hanya berteman saja dan mobil kami mogok."

Bang Hans juga berupaya melakukan hal yang sama. Dia tidak ingin pergi ke kantor tetapi polisi terus menyuruhnya untuk naik ke dalam mobil. Bang Hans dan juga Delia nampak ngeyel tidak ingin perbuatannya tercium oleh Lembaga di mana mereka bekerja.

"BAPAK DAN IBU BISA GAK IKUT ATURAN. MASUK!"

Perintah kepala tim yang menangani kasus ini. Ketua Tim membentak mereka berdua. Bang Hans dan juga Delia terdiam tidak bisa berkata-kata lagi. Tidak bisa menolak keinginan dari tim untuk masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke kantor setempat untuk dimintai keterangan.

Kini mereka berdua sudah ada di dalam mobil yang akan membawa mereka ke sana. Sementara aku dan juga Mila masih berdiri di pinggir jalan raya ini. Kemudian aku mendengarkan instruksi selanjutnya dari kepala tim yang akan menjelaskan apalagi yang harus ku kerjakan.

"Begini, Bu. Ibu melakukan pelaporan dan ibu adalah istri dari Bapak Hans Irawan. Jadi kami minta ibu juga ikut untuk memberikan keterangan. Serta bawalah bukti-bukti yang ada."

"Baik, Pak. Terima kasih atas kerjasamanya."

Kepala tim itu pun berlalu ketika mengatakan itu kepadaku. Aku juga harus datang ke sana sebagai saksi atas apa yang terjadi dengan suamiku.

"Kamu udah tahu, 'kan, Rizka. Kasus ini akan berat, dan semua akan tersorot. Keluarga Hans dan juga kamu akan tersorot media lokal mungkin masuk berita nasional. Kamu harus sabar untuk semua ini. Kamu bisa menghadapinya!"

Mila menepuk bahuku lembut. Dia menyemangatiku. Aku berterima kasih kepada Mila karena tanpa batuan dia. Mungkin Bang Hans tidak akan bisa kena hukuman seperti ini.

Suamiku itu memang pantas untuk dihukum atas apa yang sudah dilakukannya. Aku nggak tahu lagi cara apa yang harus aku lakukan untuk membuat dia jera. Karena bila aku bertanya lebih lanjut tentang hubungan dia dengan Delia serta Aplikasi hijaunya yang aku sadap. Pasti aku akan mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga. Bang Hans mungkin gelap mata dan akan memukulku.

Karena dia sudah biasa bersikap kasar kepadaku. Berkata yang kasar dan berkata yang buruk serta melayangkan bantal dan kain-kain diarahkan dengan keras pada diriku. Jadi aku harus mencari cara yang terbaik dan inilah cara yang terbaik ketika dia ketahuan. Cara yang terbaik adalah di harus dicambuk di depan semua orang agar dia jera.

Aku pun masuk ke dalam mobil bersama Mila untuk menuju kantor setempat di mana aku akan menjadi saksi Bang Hans dan gundiknya berbuat mesum.

Setiba di sana mereka langsung dicecar dengan berbagai pertanyaan dan tetap saja mereka itu tidak mengakui apa yang mereka perbuat di dalam mobil yang bergoyang. Beberapa masyarakat juga dijadikan saksi atas apa yang mereka kerjakan di dalam mobil.

Masyarakat mengatakan kalau mobil sudah beberapa kali terparkir di sana dan mereka yang kebanyakan berprofesi sebagai petani melihat sendiri kalau mobil itu memang bergoyang dan mereka tidak peduli sama sekali saat itu.

Karena berbagai bukti yang didapatkan. Dinyatakanlah Bang Hans dan Delia itu bersalah karena sudah berbuat mesum di dalam mobil yang bergoyang. Keduanya dinyatakan terbukti melanggar Qanun Jinayat atau Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Aceh Nomor 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat. Walaupun mereka berusaha menyangkal semuanya. Mereka tetap mengaku hanya teman.

Karena pertanyaan bertubi-tubi dan sikap keras Polisi syariat kepada mereka. Mereka akhirnya mengaku juga sudah berbuat terlarang diantara keduanya. Saat pengakuan itulah hatiku rasanya bagaikan diremas. Tetap saja rasanya sakit dan hancur ketika suamiku dengan bibirnya sendiri mengakui perbuatan zinanya dengan wanita lain.

"Tolong, Pak. Jangan datangkan keluarga saya. Saya minta tolong, Pak. Jangan beritahu suami saya, Pak."

Delia mohon kepada petugas agar tidak menghubungi keluarganya terutama sang suami kalau dia sudah berzina dengan lelaki lain. Mungkin Delia ketakutan akan rumah tangganya yang hancur.

"Kami harus memberitahu keluarga anda karena perbuatan ini akan disaksikan oleh banyak orang. Perbuatan yang sudah kalian lakukan bukan perbuatan main-main dan memang harus diketahui oleh keluarga anda sendiri."

Tangisan mengiba dari Delia tidak meluluhkan hati para petugas untuk tetap menghubungi keluarganya. Menghubungi suaminya dan memberitahukan perbuatan yang sudah dilakukannya dengan Bang Hans. Begitupun Bang Hans. Keluarga besar juga sudah diberitahu.

Ibunya beserta Bang Zaki, Abang kandungnya akan datang ke sini. Aku sudah tidak sabar Bagaimana reaksi ibunya mengetahui kelakuan dari Bang Hans.

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status