Share

BAB II: Don't Cry

" Melarat melekat luka duka.

Pilu ini ku telan sendiri.

Merengsek merengek lubangi hati.

Merasuk menyatu melebur dalam diri "

ー Optimusrain

.

.

.

Bunga hydrangea biru masih segar dalam genggaman. Bahagiaku membuncah tanpa perintah. Tungkaiku terus melangkah melewati setapak di antara rumput hijau segar ini. Cinta, aku kembali.

Begitu senang aku melihatnya. Bersiap begitu banyak dan lama di rumah, menuliskan rincian hal yang akan aku curahkan. Namun saat sampai aku hanya diam. Bisu karena rindu. Hal pertama yang aku lakukan tentu saja memindahkan bunga cantik ini ke pangkuannya. Senyumnya indah dalam pikirku. Jiminku selalu tersenyum manis dengan mata segaris saat aku beri bunga ini dengan pelukan. Satu paket lengkap kebahagiaan, kata Jimin diringi tawa.

"Ume, aku rindu padamu. Bagaimana kabarmu? Apa kau baik? Ada banyak yang ingin aku ceritakan. Aku berhasil masuk kampus impianku. Coba tebak jurusan apa yang aku pilih? Tentu saja seni. Kau bilang ingin aku terus bermusik dan membuat lagu kan? Aku berhasil membuat beberapa lagu. Untukmu dan tarianmu"

Kesayanganku diam mendengar ceritaku. Dia selalu menjadi pendengar yang baik. Mata kucingku terus menatapnya, terputar kenangan dalam kepala bagaimana aku berjumpa dengan dia.

"Hyung! Aku mau cerita! Aku sering melihat Hyung disini, karena Hyung selalu diam dan tidak pernah bicara aku berani berbagi! Jadi tolong diam saja ya saat aku cerita, karena aku pikir kita itu sama!"

Gumpalan mochi dengan pipi merah jambu itu tiba-tiba mendatangiku. Aku hanya menaikkan alis melihat orang asing dengan berani datang dan bersikap sok akrab. Tidakkah dia tau jika aku ini ditakuti.

Aku terkekeh pelan mengingat itu.

Gila juga anak ini. Dia terus mengoceh tanpa peduli aku mendengarkan atau tidak. Earphone masih menempel gamang di telingaku. Terkadang aku fokus pada lagu yang ku dengar dan terkadang pada ceritanya.

Masih jelas dalam ingatakan bagaimana dia berkata jika ada terlalu banyak hal untuk dia hadapi seorang diri.

"Bocah, jangan khawatir. Kau sangat berani datang kesini. Kalau begitu datanglah lagi. Ada aku saat kau merasa pilu"

"Wah! Keren sekali! Yoongi Hyung ternyata bisa bicara"

Tawaku terdengar keras mengudara. Jimin diam membiarkan. Tidak berniat menyela atau menggoda seperti yang sudah-sudah. Entah bagaimana akhirnya aku setuju untuk berteman.

Setiap hari dia menyempatkan untuk bertemu. Bercerita banyak hal tentang dia dan hidupnya yang menyedihkan, teman kelasnya yang bertingkah menyebalkan hingga dia yang menjadi bahan bullyan.

Aku menghela nafas panjang. Menghentikan tawaku yang tidak jelas lalu menatapnya dalam.

Saat itu hujan deras. Aku tengah belajar untuk persiapan ujian kenaikan kelas. Dering ponsel memutus lagu yang aku dengarkan. Jimin menelpon, biar aku tebak, dia pasti mau bercerita bagaimana dia suka hujan dan ingin bermain dengan teman-temannya.

"Ya Jimin-ah?"

"Hyung, aku merasa buruk sekali. Tidak ada yang mau mengerti rasa sakitku"

Aku mengernyit mendengar ucapannya. Derasnya hujan mengaburkan pendengaranku. Samar-samar aku mendengar isakan namun dengan segera aku enyahkan. Aku diam menunggu dia kembali bersuara.

"Orang tuaku tidak pernah mau mendengarkan Hyung. Jimin pikir- Jimin lebih baik mati daripada hidup dan merasakan seperti ini"

Ini bukan pertama kali. Dia menangis di depanku sudah terlalu sering. Terlampau hapal aku dengan kelakuannya yang satu itu. Aku sering memberinya ember dengan niat bercanda saat tiba-tiba dia datang dan menangis. Saat itu tangisnya mereda dan terganti oleh tawa.

Cerita ini juga bukan yang pertama. Aku sudah cukup puas mendengarnya. Aku melangkah mendekati jendela meninggalkan buku Sains-ku yang terbuka dengan pena biru di sampingnya. Menatap hujan di luar sana, mencoba menerawang bagaimana keadaan Jimin sekarang.

"Hey, jangan menangis. Juga jangan mati Jimin-ah. Dua tahun okay? Tersisa dua tahun lagi bagimu untuk lulus dan melanjutkan kuliah denganku. Itu memang lama jadi tolong sabarlah"

Aku tidak mendengar jawaban apa-apa selain isakan dan suara napas yang tidak begitu jelas. Tanganku terulur membuka jendela. Membiarkan wajahku terciprat air dan dihembus angin dingin.

"Lagipula Jiminku ini tidak pernah buruk. Kau selalu cantik dengan senyum cerahmu. Orang tuamu memang tidak pernah mendengarkan tapi aku jamin jika mereka ingin mencoba. Mereka pasti tau jika kau stress dan depresi. Aku tebak, rambutmu sekarang pasti berantakan"

Dia terkekeh di sebrang sana. Aku membalas dengan kekehan yang sama. Mataku terpejam membiarkan air menciprat lebih banyak karena hujan semakin deras.

"Kau juga lucu saat marah dan merajuk. Sudah jangan sedih, berhentilah menangis. Aku disini untukmu dan akan selalu begitu. Aku bosan saat kau terus menangis dan bercerita tentang sekolah juga orang tuamu. Aku tau teman-teman di kelasmu begitu menjengkelkan. Sudah ya? Jangan menangis"

Dia diam. Tidak ada lagi isakan yang aku dengarkan. Berhasil, aku membuatnya berhenti bersedih.

"Yoongi Hyung? Berjanji padaku ya? Hyung akan belajar dengan rajin dan masuk universitas yang Hyung inginkan. Aku tidak sabar belajar menari dengan lagu yang Hyung tulis sendiri. Sebentar lagi ujian, Hyung harus kurangi main bersama Namjoon Hyung dan Hoseok Hyung. Berhenti merokok juga. Jangan terlalu banyak dan sering minum kopi dan cola. Hyung juga harus suka makan sayur. Berjanjilah jika Yoongi Hyung akan menjadi orang yang hebat dan berhasil di masa depan. Aku juga ingin sekali datang ke pernikahan Yoongi Hyung nanti dan ak-"

Bicara apa dia ini. Sudah terlalu jauh dan melantur. Aku memotong ucapannya dengan segera. Menggagalkan dia bicara lebih banyak lagi. Seolah dia tidak akan bicara lagi padaku setelah ini, dasar.

"Okay okay cukup Bocah. Aku akan ingat pesanmu. Sekarang tidurlah Jim. Aku juga akan tidur"

"Iya Hyung. Ume akan tidur sekarang, tidur dengan nyenyak dan mimpi indah. Bermimpi jika nanti Ume yang akan menikah dengan Yoongi Hyung. Selamat malam dan sampai jumpa Hyung. Ume menyayangimu juga mencintaimu. Sangat sangat Hyung, sangat..."

Menggemaskan sekali saat dia menyebut dirinya sendiri Ume. Dia sangat senang saat aku memberinya nama panggilan itu. Dia melompat kesana kemari sembari tersenyum lebar sekali.

"Iya iya Ume. Selamat tidur. Aku juga menyayangimu. Kau adalah teman terbaik yang ku miliki"

Telpon berakhir. Aku pergi tidur dengan senyuman bahagia tanpa tau jika itu adalah terakhir kali aku mendengarnya berbicara.

Aku jatuh berlutut di samping Jimin. Meremat pahaku dengan kuat, sebisa mungkin menahan tangisan. Aku pembohong besar. Harusnya aku dengan jujur bilang jika aku tidak bosan mendengar ceritanya. Aku hanya tidak suka dia bersedih dan terus menangis. Itu menyakiti aku dan hatiku. Terlalu gengsi mengungkapkan seluruh rasaku. Bahkan saat dia dengan lantang mengatakan sayang melebihi teman, aku masih berpura-pura biasa dengan menyebutnya teman terbaik.

"Ume, maaf ya? Hyung hanya terlalu bodoh. Harusnya Hyung sadar jika semua perkataan Hyung tidak menenangkanmu. Itu hanya menambah sakitmu. Hyung menyesal. Maaf Hyung menyakiti dan mengecewakanmu. Maafkan Hyung. Hyung juga sangat menyayangi Ume. Mencintai Ume. Tolong kembali dan bicara padaku lagi. Hyung akan mendengarkan dengan benar, tanpa earphone di telinga atau handphone di tangan. Kembali Ume, Hyung minum kopi banyak sekali. Merokok setiap hari dan sekarang berani minum beer. Marahi Hyung, tolong hiduplah sekali lagi, tolong Jimin-"

Pada akhirnya aku kalah juga. Tidak pernah sekalipun dalam dua tahun ini aku kemari tanpa tangisan lirih. Seandainya aku berani mengutarakan dan bicara dengan benar, Jiminku pasti masih disini. Menemaniku di hari kelulusan, mengantarku sampai gerbang universitas, dan menikah denganku suatu hari nanti.

Pupus sudah. Dia telah pergi. Benar-benar tidur dengan nyenyak tanpa perlu bersedih atau berderai air mata lagi. Jika aku tau malam itu adalah terakhir kali dia bercerita, aku tak akan pernah memotong ucapannya.

Tangisku belum mereda, bahkan hingga hujan dengan deras membasahi rumput pemakaman aku belum juga berhenti. Merindu seorang diri. Menyesal setengah mati. Langit menggelap menandakan aku harus beranjak.

Aku memeluk nisannya. Tersenyum menatap pusara kesayanganku untuk terakhir kali hari ini, karena esok dan seterusnya aku akan kembali. Bercerita pada Jiminku kemudian menangis mengenang hari bahagiaku bersama dia, cintaku yang kini telah tiada. Terus ku lakukan itu hingga nanti aku pergi, menyusul dia disana.

.

.

.

[ F I N ]

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status