Share

Magical!
Magical!
Author: Frasadelia

BAB I: Oh Holy Life.

What if we rewrite the stars?

Say you were made to be mine

Nothing could keep us apart

You'd be the one I was meant to find "

ー Zendaya ft. Zac Efron

.

.

.

Ketukan sepatu dengan lantai keramik memenuhi seisi koridor kampus yang lengang itu. Kaki kecil seorang pria mungil terus dipaksa untuk melangkah. Berjalan mengikuti pria pucat berkacamata yang berjalan tepat di hadapannya. Min Yoongi bukan tidak mengerti jika Park Jimin sejak tadi membuntuti tapi dia tidak memiliki keinginan untuk berhenti.

Jimin berdecak keras, ia pantang menyerah dan terus melangkah. Sesekali tangan kanannya berusaha meraih bagian belakang kemeja Yoongi meski pada akhirnya gagal juga. Manusia pucat itu berjalan begitu cepat.

"Hyung, sebentar Hyung- tunggu-"

Dengusan malas dikeluarkan Yoongi. Mau apalagi bocah ini. Apa dia tidak lelah terus mengejarnya? Yoongi berusaha menutup telinga. Biarlah ia berpura-pura tuli untuk sementara. JIka dengan itu ia bisa bebas dari si mungil kenapa tidak?

"Yoongi Hyung tunggu-"

Ia menabrak mahasiswa sejurusannya beberapa kali. Untuk sejenak Yoongi berhenti, ia menghela nafas begitu panjang. Lelah diikuti bocah mochi ini hampir setiap hari.

"Yoonie Hyu-"

"Apa?! Apa yang kau inginkan dariku Jimin-ssi?"

Si mungil mendadak berhenti mendengar suara serupa bentakan itu dari pria yang dia kejar sedari tadi. Lidahnya kelu untuk sekedar berucap sesuatu.

"Apa kau tidak malu? Semua mata memandang ke arah kita, ke arah ku. Kau tidak bisa melihat tatapan sangsi mereka? Apa kau sudah buta? Sebenarnya apa maumu?'

Jimin menoleh, melihat kanan dan kiri. Yoongi tidak berbohong, memang banyak yang melihat ke arah mereka. Pandangan mereka terlalu abu-abu bagi dirinya. Memang apa yang salah? Ia hanya ingin mengejar kekasih yang ia miliki.

"Sudah cukup! Berhenti mengikutiku dan kembalilah ke gedung fakultasmu Jimin."

"Yoongi Hyung- aku-"

Yang lebih tua hanya bisa mendesah lelah. Mata cantik itu berkaca-kaca menatapnya. Yoongi tidak tega. Ia sedih melihat pria yang ia cinta menitikan air mata. Namun dirinya bisa apa?

"Pergilah Jimin. Kembali ke fakultasmu atau pulanglah ke mansion besarmu itu."

"Hyung-"

Ia kembali berjalan. Yoongi sudah muak dengan tatapan mahasiswa disana, ia tidak suka jadi pusat perhatian. Bisikan berisi hinaan pun menusuk rungu juga hati kecilnya. Benar, dia memang dingin, manusia batu. Namun untuk hati itu tidak berlaku.

Pulang dan tidur menjadi pilihan terbaik saat ini. Sejenak menjauh dari kehidupan sesak berasap yang setiap hari membakar hati juga diri.

Jimin tidak menyerah dengan mudah. Ia rindu. Rindu berat pada pujaan hatinya yang kini murka. Ia ingin bertemu, Jimin ingin merengkuh. Ditolak Yoongi bukan sekali ia hadapi, sejak menjalin hubungan dua tahun lalu Jimin sudah mendapatkan ribuan penolakan dari si Pangeran. Namun ia tidak menyerah. Semangatnya belum patah. Cinta yang dirasa masih begitu membara.

"Yoongi Hyung sebentar- tunggu-"

"Astaga Park Jimin! Apalagi yang kau inginkan sebenarnya?!"

Yoongi menarik tangan mungilnya dengan kasar menuju taman. Ia berusaha mencari lokasi yang benar-benar sepi. Sepi sekali. Jauh dari mata mahasiswa lain atau teman mereka sendiri.

"Hyung- aku hanya rindu padamu. Hampir sebulan ini kau terus saja mengabaikanku. Aku rindu- rindu sekali."

Yoongi mengusap wajah dengan kasar. Ia melepaskan kacamata yang dipakai lalu menarik Jimin lebih dekat. Kekasihnya hanya ingin mengutarakan kerinduan. Tapi Yoongi terus saja menyulitkan. Ia juga terluka. Ia pun merasakan rindu yang setara.

Tanpa ragu Yoongi memberikan sebuah pelukan hangat yang erat. Mereka berdua sama-sama terluka. Mereka masih sama-sama cinta. Namun Yoongi ingin memilih berhenti. Ia ingin menyerah sebab tak lagi bisa.

"Maafkan aku Sayang. Kita tidak bisa lagi Jimin. Ini sudah takdir kita. Aku tak bisa melawan kuasa orang tuamu. Aku tak bisa melawan lingkungan di sekitarku. Aku hanya musisi jalanan yang berusaha membawa seorang pangeran pergi jauh dari kerajaan. Aku tidak sanggup. Tanganku seolah terikat dengan kuat. Mengertilah Sayang."

Si manis menggeleng keras. Pelukan itu ia lepaskan dengan sedikit dorongan. Pipi gembilnya memerah bukan karena merona tapi karena amarah. Jimin tidak percaya jika kekasihnya akan menyerah sebegini mudah.

"Tidak tidak- kita masih bisa Hyung! Takdir ini kita yang menentukan. Kita bisa menulis ulang takdir kita sendiri. Tolong jangan pergi, berjuanglah untukku sekali lagi, untuk kita. Kita tercipta untuk satu sama lain Hyung- kita pasti bisa melawan Ayah- aku yakin kita bisa. Aku percaya jika kau adalah takdirku."

Yoongi terkekeh sarkas mendengar ucapan pria mungil di depannya ini. Takdir? Tercipta untuk satu sama lain? Melawan? Bullshit. Untuk Yoongi itu semua hanya omong kosong. Tak ada yang benar-benar bisa berjuang hingga sejauh itu.

Yoongi hanya manusia biasa. Derajat mereka jauh berbeda. Sudah cukup ia merasakan babak belur karena berusaha melawan Ayah kekasihnya. Sudah cukup Yoongi dihina teman juga orang di sekitar mereka.

Bukan sekali ia dicibir. Sesuatu soal kasta juga harta begitu menghujam dada. Meremat jantung juga menghancurkan hati yang memang sudah tersisa setengah.

Pria kecil ini tau apa soal berjuang sebenarnya? Ia hidup nyaman di dalam istana. Pakaian mewah juga makanan serba ada. Keamanan terjaga masa depan pun dijamin cerah.

"Aku tau jika Hyung juga menginginkanku. Ingin kita selalu bersatu. Hyung tidak perlu pura-pura. Hyung tidak perlu sem-"

"Kau pikir ini mudah? Kau pikir aku tidak ingin berlari ke arahmu? Mata kecilmu itu tidak bisa melihat gunung besar yang menghalangi kita berdua. Aku tau kau pasti bertanya-tanya. Tapi aku bisa apa Jimin. Bangunlah. Buang mimpi juga takdir yang kau percayai itu. Buka matamu selebar dunia maka kau akan sadar."

Sakit. Sakit sekali mendengar rentetan kalimat Yoongi. Seolah pedang tak kasat mata, kalimat itu sukses menusuk dada. Hatinya hancur. Jimin menatap Yoongi tak percaya. Jadi sampai disini?

"Hyung-"

"Di dunia ini bukan hanya ada kau dan aku Jimin. Jika kau terus memaksa semua akan tetap berakhir sia-sia. Percuma Jimin, percuma. Tidak ada yang bisa menulis ulang takdir. Kau tidak bisa terus berkata dengan mantap dan bangga jika aku adalah milikmu. Aku bukan satu-satunya. Aku tidak tercipta untukmu saja. Begitupun sebaliknya."

Langit perlahan mendung bersamaan dengan sakit yang ia rasa di hati. Air mata mengalir deras membasahi pipi. Ia tidak sanggup terus mendengar kalimat menyakitkan yang keluar dari bibir tipis Yoongi. Sudah cukup. Ia sudah cukup terluka disini.

Jimin pikir ia dan Yoongi bisa terus berjuang bersama untuk hubungan mereka. Ia ingin meyakinkan Yoongi jika ia tidak sendiri. Jimin ada untuknya dan bersamanya. Kenapa jadi begini?

Yoongi berusaha mengeraskan hati. Jangan kira jika ia baik saja. Tidak. Yoongi tidak merasakan baik saja saat ini. Ia sakit hati. Dunia yang dia genggam kini hancur lebur. Rumah yang selalu ia tuju kini runtuh.

"Aku tau jika kau dijodohkan. Jeongguk lebih baik untukmu. Dia bisa menjadi pasangan yang baik untukmu Sayang. Terima dia sebagai takdirmu. Buka hatimu untuknya dan lupakan aku. Dunia kita berbeda Jimin. Sekeras apapun kita memaksa kita tetap tidak bisa."

"Tidak! Kita bisa Hyung! Aku percaya itu- aku mohon. Aku hanya mencintaimu Yoongi Hyung. Itu mungkin. Kita bisa bersatu dan itu bukan hal mustahil-"

"Itu tidak mungkin Park Jimin! Buka matamu dan mengertilah! Kita tidak bisa bersama! Sudah cukup. Aku menyerah Jimin. Aku menyerah. Aku lelah. Ikatan di tanganku ini semakin erat. Aku semakin tidak mungkin menggapaimu. Kita berakhir disini. Jangan temui aku lagi. Aku pergi."

Netra kecoklatan itu menatap nanar kepergian pujaan hatinya. Yoongi bahkan tidak memberikan pelukan perpisahan. Semua terlalu menyakitkan. Terlalu berat untuk ia hadapi sendirian. Jimin kehilangan sandaran. Semesta yang selama ini ia jaga dengan cinta kini hilang entah kemana.

Lututnya terasa lemas. Ia tak lagi peduli pada guyuran hujan. Tetesan air yang sebelumnya begitu menyenangkan berubah menyedihkan. Jimin menangis, terisak di tengah derasnya hujan.

"Kau tau jika aku menginginkanmu Sayang. itu bukan rahasia yang berusaha aku sembunyikan. Tapi aku tidak bisa memilikimu Jimin, aku tidak bisa-"

.

.

.

[ F I N ]

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status