Share

Merasa Lebih Cantik

Kedua lengan Phey bersandar pada kusen jendela, dan matanya menatap ke area sekitar rumah Pak Yono. Rasa bosan menerjang, selama seharian penuh Phey hanya tinggal di dalam rumah. Dia tidak boleh membantu di dapur oleh istri Pak Yono. Otomatis, tidak ada kegiatan apa pun yang dapat Phey lakukan. Tetap saja, pada akhirnya dia lagi-lagi hanya tinggal di kamar.

Sebentar lagi hari akan berganti, tampak matahari sudah memerah di ufuk barat. Lalu Phey mendengar sayup suara celoteh, yang makin mendekat. Rupanya rombongan anak-anak yang baru pulang mengaji. Phey memperhatikan dengan saksama, mereka tampak senang. Bahagia, tanpa beban. 

Memang, anak-anak tidak tahu menahu dengan masalah apa yang terjadi. Namun, Phey melihat bahwa dia ingin berada di tempat yang nyaman, seaman anak-anak itu yang tak memiliki kekhawatiran lebih. 

Phey bergegas keluar dari kamar, ia melihat Pak Yono dan istrinya sedang duduk di ruang tengah sembari berbincang pelan. Melihat Phey, keduanya langsung berhenti mengobrol. 

“Pak, Bu,” sapa Phey sebelum membuka pembicaraan. Gadis itu segera duduk di samping Bu Puji. “Saya boleh minta tolong, enggak?”

“Ada masalah apa, Non Phey?” tanya Pak Yono.

“Saya mau pakai pakaian yang dipakai oleh Ibu,” Phey terdiam sebentar, “Ibu siapa itu yang pakai cadar?” 

“Bu Halimah?” seloroh Bu Puji.

Phey mengangguk. “Kalau bisa, tolong carikan saya pakaian yang persis sama.”

Tentu saja Pak Yono beserta istri tersentak kaget mendengarnya. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba Phey mengungkapkan keinginan yang cukup absurd.

“Kenapa Non Phey tiba-tiba pengin baju muslimah?” tanya Pak Yono.

Lalu Phey menjawab dengan lugas, “Saya cuma mikir, sepertinya dengan pakaian itu saya lebih nyaman, dan leluasa.”

“Non Phey, pakaian itu biasanya untuk wanita muslim,” timpal Bu Puji.

“Lantas kenapa? Enggak boleh saya pakai?” tanya Phey penasaran.

“Bukan enggak boleh, hanya saja ….” 

Suara Pak Yono menggantung di udara. Sebetulnya sang supir pun bingung mengenai hal ini, masalah boleh atau tidak, karena dia tidak memiliki pengetahuan lebih akan hal tersebut. Itu merupakan sesuatu yang identik dengan muslimah, sedangkan Pak Yono jika menjelaskan pada Phey, apa tidak akan jadi isu yang sensitif nanti.

“Saya enggak niat mau macam-macam, Pak Yono. Cuma pengin melindungi diri,” jelas Phey. “Ya, mungkin dengan berpakaian tertutup saya merasa jauh lebih aman.”

Pak Yono dan istrinya saling bertatapan, tetapi tidak mengatakan sepatah kata pun.

“Enggak ada niatan saya mau mempermainkan mengenai arti pakaian itu sendiri. Anggap saja, saya merasa itu yang bisa membantu saya merasa nyaman.” Phey menatap sungguh-sungguh pada Pak Yono dan juga sang istri. “Tolong bantu saya, Pak, Bu.”

“Mungkin besok, saya coba tanyakan ke Bu Halimah, ya Non?” kata Bu Puji.

“Iya, Bu. Saya ada simpanan uang, jadi semisal ada, nanti saya langsung berikan ke Ibu uangnya.” Ada binar bahagia terpancar dari mata Phey. “Terima kasih sebelumnya, Pak, Bu.”

*

Bu Puji duduk di kursi ruang tamu, dan menunggu. Matanya mengitari interior ruang tamu, yang disulap menjadi tempat menjahit. Ada lemari pakaian kayu besar, dengan barisan pakaian yang penuh di dalamnya. Tumpukan kain, di atas nakas sudut. 

Tirai yang menutupi pintu penghubung ke ruang tengah tersingkap, seorang wanita keluar dari sana membawa beberapa potong pakaian tersampir di lengan.

“Ini kira-kira cukup enggak, ya?” tanya Bu Halimah, sembari menyerahkan beberapa potong pakaian tersebut pada Bu Puji. “Habis, kenapa enggak dibawa ke sini aja saudaranya, biar saya ukur sekalian. Supaya saya bisa tahu ukurannya.”

Sebetulnya Bu Puji datang ke sana hanya ingin bertanya, di mana Bu Halimah membeli pakaian dan niqab-nya. Akan tetapi, Bu Halimah justru menjahit semua pakaiannya sendiri, malah menawarkan ada pakaian-pakaian yang sudah selesai ia jahit.

“Sepertinya cukup, sih, Bu,” jawab Bu Puji melihat salah satu pakaian berwarna coklat polos. 

“Ini untuk saudara Pak Yono yang dari luar kota?” 

Bu Puji mengangguk.

“Dicoba aja dulu, Bu. Kalau terlalu kebesaran, nanti saya betulkan lagi jahitannya.”

“Jadi kira-kira, ini semua berapa, Bu Halimah?” Bu Puji bertanya agak malu-malu.

Bu Halimah tersenyum. “Enggak usah, Bu. Lagipula, itu contoh seragam untuk ponpes, pesanan.”

“Yang betul, Bu? Ini enggak apa-apa untuk saudara saya?”

Ada anggukan singkat ditunjukkan Bu Halimah. “Ini ada beberapa model, ada yang memakai niqab, cador, dan burqa. Masih ada beberapa potong pakaian lain, nanti bawa saja mau yang mana.”

“Oh, memang beda?”

Tawa renyah Bu Halimah terdengar. “Makanya nanti saya jelaskan.”

Selepas dari rumah Bu Halimah, Bu Puji bergegas kembali ke rumah. Dengan perasaan gembira membawa pakaian untuk Phey-Phey. Melihat Bu Puji sudah pulang, Phey langsung menyambut antusias. 

“Ini semua dikasih gratis sama Bu Halimah,” ucap Bu Puji.

“Yang bener, Bu?” Phey hampir-hampiran tak percaya.

Lalu Bu Puji mengembalikan uang milik Phey. “Iya, katanya dipakai aja. Bu Halimah senang, ada yang mau pakai baju muslim,” kata Bu Puji. “Ya, saya bilang kalau Non Phey itu, saudara jauh. Mungkin beliau pikir, ya begitulah.”

Phey paham, mungkin maksudnya untuk seseorang yang memiliki kepercayaan yang sama. “Saya janji, akan jaga amanat Bu Halimah baik-baik, kok, Bu,” sahut Phey.

“Iya, Non. Saya aja sempat bingung, ternyata ada beda-beda cadar itu sebetulnya.”

“Oh, begitu, Bu?”

“Ada cador, niqab, ada juga burqa.”

Dahi Phey mengerut. “Terus ini disebutnya apa?”

Bu Puji memaparkan perbedaan antara cador, niqab, dan burqa. Kebetulan yang dibawa yang menggunakan niqab. 

“Jadi niqab itu sebetulnya kain penutup kepala dengan cadar,” kata Bu Puji.

“Oh, kalau cador itu sampai ke bawah-bawah, ya?”

“Iya tutup kepala sampai kaki. Ada yang pakai cadar, ada yang enggak, tetapi saya ambil yang pakai niqab aja buat Non Phey,” kata Bu Puji. “Takutnya malah jadi agak apa, yah? Repot aja begitu kalau bergerak.”

Phey terkekeh pelan. 

“Dicoba dulu deh, Non. Kata Bu Halimah kalau enggak pas, nanti dibetulin lagi.”

“Iya, Bu.”

Tanpa membuang waktu Phey segera masuk ke kamar. Ia segera memakai pakaian yang diberikan Bu Halimah, dan tidak sulit. Malah terbilang mudah, dan tidak merepotkan sama sekali. Gadis itu berdiri di depan cermin buram, menatap postur tubuhnya yang tertutup. 

Phey merasakan sesuatu di dalam hatinya, gelenyar yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Entah apa itu, Phey juga tidak tahu.

“Non? Pakaiannya cukup, enggak?” tanya Bu Puji dari luar kamar.

“Ini pas banget, Bu,” balas Phey.

Lagi-lagi Phey menatap pantulan dirinya dari cermin. Hati Phey mulai merasakan rasa nyaman, bahkan ada rasa merasa lebih cantik. Entah kenapa bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. 

Dia keluar dari kamar, dan menunjukkan penampilannya pada Bu Puji yang menunggu di luar dengan penasaran.

“Ya ampun, cantik sekali.” Bu Puji terkesima.

“Beneran, Bu? Saya cantik?”

“Cantik, Non. Kelihatan apa, ya? Tenang gitu lihatnya, adem,” kekeh Bu Puji.

“Ya sudah, kalau begitu saya mau sapu-sapu di depan.”

Bu Puji tersentak kaget. “Eh, mau apa? Jangan ih, Non.”

“Ih, Ibu … saya bosen. Enggak apa-apa, ya? Kan udah pakai baju tertutup.”

“Nanti saya dimarahi Bapak, lho.”

“Kalau Bapak marah, bilang sama saya, Bu.”

Terdengar suara motor yang dikemudikan begitu kencang melewati depan rumah, hingga membuat Phey dan Bu Puji tersentak kaget.

“Astagfirullahaladzim,” ucap Bu Puji sembari membuka tirai jendela sedikit.

“Siapa, Bu?”

“Enggak tahu. Biasanya pemuda daerah sini, namanya juga anak muda, Non.”

Komen (3)
goodnovel comment avatar
Paulina Nurhadiati Petrus
bu hamilah baik. banget ya mau kasih baju muslimah itu buat phey dan phey terlihat nyaman banget itu pake baju modelan kaya gitu. nah sekarang kan jadi bebas keluar rumah tanpa harus beban ya phey
goodnovel comment avatar
Siti Yusuf
Phey merasa jadi lebih nyaman dan cantik pakai baju serba tertutup yahh
goodnovel comment avatar
Qianas Shopp
Bu Halimah baik bangat ya..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status