Share

Bab 162

"Heh? Serius ngidam pizzanya Bu Lisa?" tanyaku tak percaya.

Bukannya apa, selama ini ia paling anti makanan dari olahan tepung. Banyak sekali alasannya, yang susah dicerna lah, yang bikin perut begah lah, dan masih banyak lagi.

Sampai kucoret daftar rerotian dari daftar belanja kalau kami sedang ke luar. Semua itu menjadi pengecualian kalau si kembar minta, baru ada menu roti, itu pun tak boleh banyak.

"Iya, dua rius, Kak. Ada cabangnya yang deket sini apa nggak, ya?"

Melihat raut serius di wajahnya, membuat aku mengambil ponsel, lantas menghubungi nomer Bu Lisa.

"Waduh, maaf belum sampai sana Mas Dirga," jawab Mbak Lisa dari seberang telepon. Kulihat wajah ratuku, ia terlihat tak sabar menunggu jawaban.

"Ya udah, makasih ya, Mbak. Nggak papa, ada yang ngidam ini."

Dan akhirnya sambungan telepon itu pun terputus, sebab ada suara yang memanggil Mbak Lisa.

"Gimana, Kak?"

Tuh, kan, nggak sabar dia. Ba
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status