Share

Brosur dan Penghinaan

May menuruti permintaan Ariadna. Dia mendekati orang-orang berpakaian hitam untuk ikut mendengarkan promosi mereka.

Ariadna berjalan perlahan di belakang May sambil menguping omongan orang-orang sok tahu itu.

“Mas, saya minta brosurnya satu, dong,” pinta May.

Salah satu orang yang didekati May langsung menyambut dengan sapaan manis. “Hai, kakak cantik. Jangan lupa datang ke rumah makan kami, ya! Awas, jangan sampai salah alamat. Jangan sampai kakak masuk ke restoran seberang yang serakah itu. Harganya selangit! Padahal bahannya ngambil sisa di pedagang sayur. Parah banget, ‘kan?!” tawar promotor bersuara nyaring.

“Maaf. Tapi, kalian sadar nggak kalau strategi pemasaran kalian ini menyimpang? Kalian nggak berhak menjatuhkan restoran orang lain demi menarik pembeli,” tegur May.

Tapi, orang misterius itu mengelaknya, "Persaingan bisnis jaman sekarang nggak ada yang sehat, Kak. Kalau nggak begini, kami bisa gulung tikar! Kita harus lebih galak dan nekat. Segala macam cara harus kita coba, Kak!”

“Berarti, kalian juga harus siap kalau pihak yang kalian hina akan melakukan serangan balik. Kamu sendiri yang ngomong kalau persaingan bisnis nggak ada yang sehat!” omel May.

Lagi-lagi promotor itu melawan lagi. “Mereka nggak akan berani, Kak. Pihak kami lebih kuat dan kokoh. Biarpun mereka melayangkan serangan balik, pada akhirnya akan kalah juga.”

Ariadna dan May tak habis pikir. Pekerja-pekerja di rumah makan itu benar-benar tidak menerapkan rasa kemanusiaan.

Mereka terang-terangan melakukan hal yang salah dan sama sekali tidak terbebani.

Sampai-sampai, mereka sudi bermain kotor hanya untuk meraup uang yang melimpah. Benar-benar serakah!

Saat sang promotor menyerahkan brosur itu kepada May, kedua biji mata wanita itu langsung membaca setiap informasi yang tertulis pada selembar kertas berwarna merah yang licin dan tipis.

Kata-kata persuasif, gambar-gambar, serta alamat lengkap rumah makan tertulis di brosur itu.

“Rumah Makan Padang Jaya!” May tersentak. Kertas itu langsung ia berikan pada Ariadna yang berdiri di belakang tubuh si pemberi brosur.

Ariadna tak kalah terkejutnya melihat apa yang tertulis di brosur. Sebuah promosi dari satu Rumah Makan Padang baru bernama RM. Padang Jaya.

“Ini kan … Rumah Makan Padang di seberang restoranku? Jadi, yang mereka hina dari tadi itu ... restoranku?” sentak Ariadna.

Secepat kilat, Ariadna langsung menarik paksa topi hitam yang dikenakan sosok asing di depannya.

Dia berharap dapat menangkap wajah pelaku dan menghakiminya saat itu juga.

“Kurang ajar! Jadi kalian semua yang bikin restoranku rugi?” bentak Ariadna.

Sontak sang promotor yang topinya sudah berada dalam cengkeraman tangan Ariadna, kaget hingga mematung.

Laki-laki itu terkejut sejadinya. Tanpa menoleh ke belakang, dia berlari tunggang-langgang dengan seruan kepada teman-temannya.

“Guys! Ayo pergi! Kita ketahuan!” pekik lelaki itu.

Mendengar kode yang disampaikan salah satu rekannya, semua promotor berpakaian serba hitam itu ikut berlari sekencang-kencangnya.

Mereka tidak peduli meski sedang memberikan penjelasan kepada orang. Aktivitas itu seketika terhenti demi berlari sejauh-jauhnya.

“Hey! Anjing! Jangan kabur! Siapa kalian! Brengsek!” teriak Ariadna.

Sayangnya, rombongan misterius itu sudah pergi jauh sebelum dia sempat mengejarnya.

Terlebih lagi, sepatu high heels yang terpasang cantik di kedua kakinya, menahan Ariadna untuk berlari mengejar para manusia pembuat onar.

"Ini ulah mereka, May! Mereka nggak main setan, mereka main sabotase! Ini curang, May! Pasti satpam tadi tahu permainan ini! Nggak bisa aku diemin. Kali ini aku bakal lempar batu ke kepala bos dan para pekerjanya!" amuk Ariadna menggebu.

Batinnya terbakar melihat restorannya dihancurkan secara diam-diam. Sudah jelas para promotor tadi adalah bagian dari RM. Padang Jaya.

"Pokoknya aku mau ke sana sekarang! Ayo!"

Wanita berambut ikal itu langsung meremas brosur di tangannya hingga membentuk bola kertas kecil yang berantakan.

Dimasukkannya gumpalan kertas itu dalam saku celananya. Sedangkan topi hitam sang promotor yang masih ada di tangan kanannya, dia serahkan pada May.

“Bawa topi ini, May. Kita sumpal ke mulut bos rumah makan itu!" hardik Ariadna. 

Kakinya melangkah cepat menghampiri sepeda motor. Kendaraan yang belum ada tiga puluh menit terparkir, terpaksa harus ia keluarkan lagi.

Perasaan Ariadna campur aduk. Sedih, kesal, dan marah.

Tanpa berpikir panjang, Ariadna dan May kembali menghampiri RM. Padang Jaya. Laju kendaraannya tiga kali lebih cepat dari sebelumnya.

Bukan tangan yang mengendalikan, namun rasa marah Ariadna yang membabi buta.

Waktu yang ditempuh pun lebih cepat dari sebelumnya. Kurang dari tiga puluh menit, kendaraan Ariadna sudah terparkir lagi di depan The Filantropi.

“Loh? Kok kalian balik lagi? Ada yang ketinggalan?” tanya Daniel.

Lelaki itu tengah membawa sekantong sampah dapur untuk ia pindahkan ke tempat pembuangan sementara.

“Nggak usah banyak tanya, Dan! Kamu fokus aja sama kerjaanmu,” jawab Ariadna ketus.

Daniel terheran-heran mendengar jawaban bosnya. Wanita itu kembali dengan sikap yang jauh lebih buruk.

“Nanti aku jelasin, Mas,” sahut May sambil berlari mengejar Ariadna yang berjalan terlebih dahulu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status