Share

4. Keluarga?

Membuka pintu rumahnya, lalu masuk tanpa rasa bersalah sedikitpun, Cala berniat ingin pergi ke kamarnya langsung, sampai sebuah suara dari arah sampingnya membuatnya menghentikan langkah.

"Ingat pulang Raga?"

Cala memalingkan muka ke sumber suara berasal dan mendapati orang yang menyandang status sebagai nyonya rumah ini sedang duduk dengan postur anggun sambil menyesap teh, dan ditemani dengan sifon cake yang diletakkan di atas meja. 

Ketika Ressi menyapa pria yang tak lain adalah suaminya, ekspresi wajahnya tampak datar seakan yang kini menatapnya balik bukan suaminya melainkan orang asing. 

Cala terdiam mendengar sapaan sarkas itu dan memandang wanita tersebut dengan raut datarnya.

"Aromamu persis seperti wanita murahan itu ... menjijikkan!" ujar Ressi lagi menyindir Cala dengan senyuman manis yang dibuat-buat. 

Suara yang Ressi ucapkan terdengar lembut dan tidak ada kesan menunjukkan emosi lain dari wanita itu sama sekali. Namun, bagi Cala yang mendengarnya, kemarahan segera bergumul di rongga dada pria tersebut.

"Tarik kata-katamu, Ressi!" ujarnya keras sambil mengetatkan rahangnya menahan kemarahan. 

"Yang mana Raga? Kata-kataku yang mana yang harus aku tarik?" dengan sikap menantang, Ressi balik bertanya, "Kamu tahu sendiri aku tidak banyak mengeluarkan kata-kata bukan?"

Kelembutan dan kepolosan Ressi yang tampak munafik itu justru terasa amat memuakkan bagi Cala kini. Sehingga tanpa berkata-kata, pria itu segera meninggalkan ruangan tersebut.

Setelah Cala meninggalkan tempat itu dan meninggalkan Ressi seorang diri, pegangan wanita itu pada cangkir tehnya jadi goyah. Jantungnya terasa seperti akan meledak karena kebencian, kebencian yang menggunung pada wanita yang menjadi tempat Cala menghabiskan akhir pekannya. Meski di waktu normal sang suami menghabiskan waktu dengannya dan Valeri, itu hanya kepalsuan belaka yang pria itu tunjukkan demi menjaga citranya. 

Dengan gemetaran Ressi meminum tehnya demi menenangkan suasana hatinya yang berkecamuk. Tak masalah, lagipula kenyataannya yang semua orang tahu, dia-lah yang menyandang nama Ragananta di belakang namanya. Sedangkan wanita murahan itu hanya berstatus wanita simpanan saja. Setidaknya, dia selangkah lebih maju daripada model menjijikkan itu. 

Usai membersihkan diri, Cala kembali keluar menuju ruang makan. Matanya terpejam dengan tarikan nafas yang kasar ketika mendapati Ressi telah duduk di sana dengan Valeri.

Setelah berhasil memenangkan diri, Cala mengatur senyum semanis mungkin. Dia memeluk sang istri lalu mencium pelipis wanita itu singkat. Setelahnya, dia berganti memeluk Valeri dan menghujani gadis kecil itu dengan ciuman di seluruh wajahnya. Sampai gadis itu terkekeh geli, dan meminta agar daddynya berhenti melakukan itu.

"Daddy enough! Please, stop it ... hahaha ini geli, Dad."

"Owh, my baby girl. This is not enough, Daddy sangat merindukanmu," Cala memasang wajah sedih saat menatap putrinya.

"Really, Daddy? You miss me? Kalau rindu pada Valeri kenapa Daddy tidak di rumah kemarin?" tanya gadis itu dengan wajah polosnya yang tampak tak berdosa. 

Inginnya Ressi mengatakan 'skakmat' sambil menyeringai lebar. Namun sebagai gantinya, yang dia lakukan hanya menatap keduanya dengan senyuman lembut.

"Sudah, jangan ganggu daddy, Sayang. Ayo kita makan, nanti kamu bisa terlambat ke sekolah."

Dengan semangat Valeri segera menghadap piringnya, melanjutkan sarapan seperti ucapan sang ibu. "Okay, Mom."

Ressi selalu berusaha menjadi istri dan ibu yang baik bagi Cala dan Valeri. Dengan telaten dia mengambilkan makanan untuk keduanya. Baru setelah suami dan anaknya terlayani dengan baik, dia akan mulai mengisi piringnya sendiri dengan makanan. 

Di hadapan sang putri atau orang lain, citra seorang Ressi sebagai istri dan seorang ibu memang tanpa cela. Cala pun mengakuinya. Jika itu pria lain, pasti memiliki Ressi sebagai istri merupakan keberkahan di dalam hidup. 

Pria lain bisa dengan mudah jatuh cinta pada Ressi, namun tidak bagi Cala yang bodoh karena cinta. Seperti sebuah drama, kisah rumah tangga mereka rumit dan penuh intrik untuk saling menjegal dan menjatuhkan.

Bisa dikatakan mungkin Cala cukup egois, sebab dia selalu mengawasi tindak dan perilaku Ressi. Entah Ressi yang bermain bersih, atau memang wanita itu bisa dengan mudah hidup selibat. 

Tidak pernah sekalipun Cala memergoki Ressi berselingkuh, meski banyak kesempatan Ressi miliki untuk melakukan itu. Membuat Cala seperti bajingan yang sebenarnya, yang dengan tidak tahu malu menyeleweng dari keluarga yang terlihat begitu harmonis dan bahagia.

'Cih, bahagia katanya?' batin Cala mengumpati kehidupan yang dia jalani.

"Mom, aku mau tambah sayurnya." Valeri menyodorkan piringnya pada Ressi, membuat Ressi yang hendak menyuap nasi ke dalam mulutnya meletakkan kembali sendok tersebut.

Entah bagaimana, tiba-tiba Cala menyela. "Sama daddy saja ya, biar Mommy makan dulu."

Mendapati perhatian tiba-tiba itu menyebabkan netra Ressi berkaca-kaca. Dia pun menunduk demi menyembunyikan sepasang mata sedihnya. Ia berusaha fokus pada makanan di hadapannya sambil merutuki sang suami yang suka berubah-ubah sikap. 

'Dasar bodoh! Jika kamu tidak mau berbaik hati menempatkan aku di hatimu, maka konsistenlah dengan sikapmu Raga! Jangan menjadi plin-plan seolah kamu memberi akses untukku masuk ke dalam hatimu yang telah dibekukan wanita itu.'

Valeri tertawa riang saat daddynya mengambilkan sayur untuk dirinya. Membuat Cala berfikir, mungkin Valeri memang tidak mewarisi sifat ibunya sedikitpun, namun untuk urusan makan putrinya itu benar-benar mirip dengan ibunya.

Mengelus puncak kepala putrinya, Cala berkata dengan bangga. "Kamu suka sayur ya, mirip ibumu."

Valeri tersenyum riang hingga menampilkan satu lesung pipit yang dalam di pipi sebelah kirinya.

Di sisi lain, Ressi menatap nanar sayur di dalam piring, senyum sedih tersungging di bibirnya. Dengan gemetar dia kembali menyuap makanan sesendok demi sesendok, lalu menelan makanan itu yang entah mengapa terasa sulit ditelan, seolah dia baru saja menelan bongkahan batu sampai dia harus mendorong makanan itu dengan air.

Air mata menggenang di pelupuk mata Ressi. Dia berpikir, setiap kali berada di satu tempat yang sama, kenapa harus seperti ini? Cala seolah melambungkan dirinya tinggi ke langit. Di lain waktu, Cala jua lah yang menghempaskan dirinya sampai ke dasar kerak bumi tanpa belas kasihan.

Tidak sanggup lagi menelan makanannya, Ressi mendorong piringnya menjauh. Lalu, ia meminum air banyak-banyak demi meredakan kelat yang terasa di tenggorokan.

"Mommy sudah selesai makannya? Kok, tidak habis?" Valeri memandang sang ibu dengan raut heran, kemarin saat daddynya tidak ada di rumah, mommy-nya itu terlihat makan begitu lahap dan banyak.

"Iya sayang, mommy sudah selesai. Tidak apa-apa, mommy hanya kurang enak badan saja, Valeri. Ayo segera habiskan makananmu, nanti berangkat sekolah diantar mommy dan om Revan ya."

"Kamu istirahat saja, biar Valeri aku yang antar ke sekolah."

Ressi terpaku mendengar penuturan Cala, dia membeku seolah sedang berada di dunia lain. Seakan yang dia dengar barusan bukanlah Cala yang mengatakannya, namun malaikat yang iba pada dirinya. 

"A-apa ... ?"

Bersambung… 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status