Share

7. Dipandang Hina

Perjalanan menuju kantor dari sekolah Valeri memakan waktu cukup lama, untung saja kantor itu milik Cala sendiri. Lagipula jam kerja di sana cukup fleksibel namun tetap menuntut tanggung jawab besar dari para karyawannya. Yah setidaknya mereka harus tahu diri meski sudah dimudahkan bekerja di perusahaan. 

Jahat?

Ah tidak juga, hanya semua memang butuh timbal-balik kan. 

Sesampainya di kantor, asisten Cala sudah menunggu di pintu depan. Turun dari mobil Cala mulai mendengarkan Dera yang menuturkan apa saja jadwalnya hari ini. Cala tidak suka memiliki asisten perempuan bahkan kalau bisa dia ingin agar pegawai kantornya laki-laki semua. Bukan karena dia mendiskriminasi perempuan, hanya saja perempuan dan mulut pedasnya sudah tidak bisa ditolerir lagi. 

Tapi kantornya juga butuh pekerja wanita setidaknya untuk menarik klien. Ayolah ... Dia juga bukan orang yang munafik, dia hanya menjadikan pegawai wanita sebagai umpan untuk memancing klien. Sisanya, kalau mereka mau melakukan kepentingan mereka ya itu urusan mereka sendiri. Yang penting tidak mempengaruhi kantor dan juga kinerja karyawan itu sendiri.

Namun, di kantor miliknya, Cala menekankan dengan sangat jelas di dalam draft peraturan kantor. Jika seluruh karyawan Caly World dilarang mencampuri urusan pribadi karyawan lainnya, kecuali jika sang empu privasi mengizinkan. Jadi sejak Cala membuat peraturan itu keadaan kantor jauh lebih kondusif, meski mata-mata sinis, kepo dan lain sebagainya hampir mampu melubangi punggungnya.

Selama mereka tidak melakukan secara terang-terangan yang pasti akan susah karena setiap sudut ruangan diawasi oleh cctv. 

Boss selalu benar, ingat!

Jangan mengusik privasi orang lain.

Akan tetapi Cala tidak akan memberikan privasi bagi karyawannya.

Egois?

Sudahlah, itulah resiko menjadi pekerja di kantor Cala. Namun,semua itu juga sebanding dengan gaji, bonus, dan tunjangan yang mereka dapatkan. 

"Terakhir, nona Sissylia membuat janji untuk bertemu dengan Anda makan siang nanti, Pak. Beliau mengatakan jika akan menemui Anda di ruangan Anda."

Untung saja saat mengatakan hal itu, Dera dan Cala sudah berada di dalam lift khusus petinggi kantor.

"Baiklah, jangan lupa katakan pada Feby agar mengijinkan Sissy langsung masuk." ujar Cala memerintah Dera.

"Baik, Pak."

Setelah lift sampai pada lantai tempat ruangannya berada, Cala dan Dera segera keluar dan berjalan dengan sedikit cepat menuju ruangannya. Cala tidak suka jika ruangan asisten berada di dalam satu ruangan dengannya, maka untuk asisten dia meminta pada pihak kontraktor untuk membuat ruangan sendiri, jadi orang akan berpikir jika kantornya memiliki dua pemimpin. Ya memang bisa dikatakan seperti itu sih, karena kalau Cala sedang malas meeting atau bertemu klien maka Dera yang akan melakukannya. Jika saja Dera adalah orang yang memiliki hati yang busuk, maka dia akan menjual informasi perusahaan pada saingan mereka.

Namun, sekali lagi saat Cala mempercayai seseorang maka dia akan menjerat orang itu sampai bernafas pun harus dengan izinnya. Setelah orang itu tunduk pada Cala maka jangankan bernafas, dunia akan Cala berikan untuk orang tersebut. Itu hanyalah perumpamaan saja. Bukan berarti Cala akan benar-benar memberikan dunia untuk orang itu, hanya apapun yang orang tersebut butuhkan akan Cala sediakan.

Masuk ke ruangan masing-masing, Cala mulai tenggelam pada pekerjaannya. Hingga tanpa dia sadari waktu telah beranjak siang. Mendesah lelah, Cala menyandarkan diri pada kursi setelah menandatangani dokumen terakhirnya, dia mengharap agar kekasihnya segera tiba. Lalu dia akan mengisi ulang tenaganya pada kekasihnya itu, sampai ponsel Cala bergetar menandakan ada pesan masuk.

Revan: 

Tuan, nyonya tidak keluar sama sekali dari rumah.

Arcala: 

Baiklah, tetap pantau dan turuti apa yang dia mau. Coba tanya apa dia mau ke dokter, tadi dia tidak menghabiskan makanannya, siapa tahu dia sedang sakit.

Revan: 

Baik Tuan.

Membalik ponselnya, Cala memejamkan mata meresapi pening yang tiba-tiba muncul.

***

Sissylia menetap di dalam mobil beberapa menit setelah dia sampai di kantor milik Arcala, diam mengamati ruangan di lantai atas tempat pria itu berada.

Bukan sekali dua kali dia mendatangi kantor pria itu tapi Sissy tetap merasa asing dengan orang-orang di dalam sana. Hanya di dalam ruangan bersama Cala dia merasa nyaman dan untuk menuju ke sana dia harus bertemu banyak orang.

Menghela nafas sekali lagi Sissy mempersiapkan diri untuk turun.

"Berapa ongkosnya, Pak?"

"Lima puluh ribu, Mbak."

Membuka tas tangan yang dia bawa, Sissy mengambil selembar uang yang disebutkan oleh driver taksi online yang dia tumpangi lalu menyerahkan uang tersebut. Turun dari taksi perasaan Sissy memintanya untuk berbalik saja. Namun hatinya meminta bertemu dengan belahan jiwanya sampai hatinya lah yang menang.

Melangkah perlahan menuju lobi kantor, sambutan yang Sissy rasa tidak cukup tulus dia dapatkan dari orang kantor. Dia tahu jika apa yang dia lakukan itu salah, namun apa yang salah jika cinta sudah melabuhkan diri. 

Seperti kata mereka, bahwa cinta itu buta.

Menghampiri resepsionis, Sissy menguatkan hati sekali lagi untuk memohon izin. Meski mungkin dia memiliki cinta yang salah maka, cukuplah hal itu yang menjadi hal buruk dalam dirinya. Dia ingin membangun citra dan attitude yang baik dalam bersosialisasi dengan orang lain.

Tidak peduli apakah hal itu bisa diterima atau tidak setidaknya dia telah mencoba.

"Mbak, saya ingin bertemu dengan bapak Arcala."

"Sudah membuat janji?"

"Sudah."

"Atas nama siapa Mbak?"

"Sissylia Fransiska."

Resepsionis dengan name-tage Feby itupun sedikit terkejut dan mulai memasang wajah yang tidak mengenakkan bagi Sissy.

'Sabar, sabar sudah biasa seperti ini. Tidak perlu kamu masukkan ke dalam hati, kamu sudah terlatih untuk hal-hal begini bukan.' Sissy membatin meski tidak urung perasaannya terasa perih juga. Dia merasa apakah dirinya pantas mendapat kebencian dari semua orang? 

Bersambung…

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status