Share

HANCUR BERSAMA SELINGKUHAN
HANCUR BERSAMA SELINGKUHAN
Author: Reinee

MURKA SANG SUAMI

"Dasar perempuan jalang! Kamu benar-benar memalukan Aghnia Prameswari!" 

Aku sudah bersiap mendengar kata-kata itu keluar dari mulut mas Dewo. Namun ternyata, yang kulihat hanya kilat dari mata merahnya seperti pedang menghunus sampai ke jantungku. Bibir terkatup rapat seolah membendung sesuatu mengerikan yang akan keluar dari dalam mulutnya. 

Untuk pertama kali dalam hidup, aku merasakan ketakutan yang luar biasa pada sosok pria di depanku. Pria yang menikahiku sepuluh tahun lalu dan telah menghadiahi dua putri cantik dalam perkawinan kami itu biasanya memang sangat irit bicara. 

"Ma-afkan aku, Mas," ucapku terbata. Tubuhku limbung ke lantai saat perih tak mampu lagi membendung air mata. Kebahagiaan yang sempat meluap usai perjumpaanku dengan pria idaman lain beberapa jam yang lalu mendadak hilang begitu saja, berganti sebuah penyesalan yang tak pernah terbayang akan bisa kurasakan sebelumnya. 

Aku bersimpuh, tunduk menatap lantai dingin yang bahkan pagi harinya masih kutapaki dengan jejak riang mengiring hasratku untuk bertemu dengan kekasih hati yang telah mengisi hari-hariku beberapa bulan terakhir.

Sepandai-pandai menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Aku tahu pepatah itu. Tapi sepertinya aku sudah berusaha menyimpan rapat segala hal tentang Narendra. Bahkan tak pernah kubiarkan sedikitpun jejak digital tersimpan setelah chat mesranya selama ini. Apalagi tentang pertemuan-pertemuan rahasia kami. 

Satu hal yang membuatku tak habis pikir. Bagaimana cara Mas Dewo bisa tahu semua itu? Sejak kapan dia mulai mengendus pengkhianatanku? Ironisnya, dia justru mengungkapnya tepat di hari ulang tahunku dan di depan mata anak-anak kami.

Aku merasa begitu kotor saat ini. Bahkan dua putriku pun seperti tak mau mendekat lagi padaku. Keduanya kini hanya berdiri memandang jarak beberapa meter dari tempatku bersimpuh dengan tatapan yang tak mengerti. Dua pasang mata tak berdosa itu kurasakan begitu membenciku.

"Bangun!" seru Mas Dewo lagi. 

Aku pun mendongak, berusaha mengumpulkan keberanian untuk menatap kembali Mas Dewo yang kini tengah berdiri tepat di depanku mengepal tangannya yang masih terlihat bergetar.

"Berdiri!" teriaknya kemudian. 

Jantungku terasa mau lepas mendengar ucap dengan nada tinggi itu. Aku bahkan tak ingat kapan dia pernah berkata kasar seperti itu kepadaku. Ini pertama kalinya dan aku merasa sangat ketakutan.

Dengan susah payah aku mencoba bangkit dari posisi bersimpuh. Namun sebelum dua kaki ini berhasil menumpu dengan sempurna di lantai, tiba-tiba kurasakan tangannya menarik rambut panjangku dengan kasar dan menyeret tubuh ini mengikuti langkahnya yang berat.

"Ibu!!!" Kudengar suara Aqilla, anak bungsuku menjerit dan diikuti tangisan anak pertamaku. Sayangnya, Mas Dewo seolah tuli. Dia tidak peduli dan terus menyeret tubuhku, sampai suara tangis kedua putri kami tak terdengar lagi.

Ternyata, pria itu menarikku sampai ke ruangan di dekat dapur yang selama ini kami sebut dengan gudang.

Brak!

Sesampainya kami di sana, Mas Dewo langsung menendang keras daun pintu yang jarang-jarang kami buka itu. Tanpa menunggu waktu lama,  dia pun mendorong kuat hingga tubuhku merangsek ke dalam, lalu terjerembab di lantai yang sangat kotor dan berdebu.

Sebelum kusadari apa yang terjadi, gudang itu pun telah tertutup rapat, diikuti suara kunci yang diputar dari luar. 

Rupanya, inilah cara Mas Dewo menghukumku. Bukan dengan mengotori mulutnya dengan caci maki, tetapi mengurungku di tempat barang-barang berkas tak terpakai di rumah kami.

"Aw!" Aku meringis menahan perih tak terkira. Rasanya, rambutku seperti usai dicabut paksa dari batok kepala karena Mas Dewo menariknya sangat kuat tadi. Dengan masih berlinangan air mata, kucoba menggeser tubuh untuk duduk bersandar di dinding gudang yang gelap dan pengap itu.

Demi apapun, aku tak pernah menyangka Mas Dewo bisa berbuat sekejam ini padaku! Dia yang sehari-harinya terlihat pendiam, tak banyak bicara, dan biasanya juga tak terlalu peduli dengan apa yang kulakukan, kali ini benar-benar membuatku shock.

Di tengah kesakitanku meringis bersandar pada tembok lembab gudang, tiba-tiba ada getaran yang kurasakan dari dalam saku cardigan panjangku. 

"Ponselku!" pekikku dalam hati. 

Rupanya, aku masih menyimpan benda pipih yang selama ini aku sembunyikan dari suamiku itu di saku baju bagian dalam. Benda pipih berukuran tak terlalu besar namun berharga mahal yang dihadiahkan Narendra untukku beberapa bulan yang lalu.

 

“Haruskah kuhubungi Narendra agar dia bisa membantuku keluar dari ruang sempit ini? Tapi, mungkinkah aku bisa hidup tanpa anak-anakku nantinya jika aku memilih untuk pergi bersama dengan Narendra?” lirihku pelan.

Jika aku dan Mas Dewo sampai bercerai, bukankah hak asuh anak-anakku otomatis akan jatuh ke tangannya karena akulah yang telah menyelingkuhinya? Lagipula, pekerjaan suamiku yang seorang Pegawai Negeri Sipil itu tentu jauh lebih dipercaya daripada aku yang hanya seorang penulis freelance.

Satu, dua, tiga menit berlalu. Berulang kali, kupejamkan mata untuk menentukan keputusan terbaik. Aku segera mengakhiri kebimbangan dengan membuka akun perpesanan di ponsel.

[Tolong aku! Kamu harus selamatkan aku, Re. Suamiku mengurungku di gudang. Dia sudah tahu semuanya tentang kita.]

Beberapa menit menunggu, tapi centang dua itu tak kunjung jadi biru. 

Hatiku mulai gelisah. Campur aduk antara rasa nyeri di badan dan sesak di dada–menanti yang tak pasti.

Seketika, mataku terpaku pada warna biru di layar. Narendra telah membaca pesan dariku! Hatiku bersorak, tetapi kegembiraan itu tak berlangsung lama karena tak ada balasan apapun darinya. Narendra bahkan tak terlihat online lagi setelahnya. 

“Apa pria itu hanyalah seorang pengecut yang tersesat sampai ke hatiku? Bukankah, selama ini dia selalu berjanji untuk membahagiakanku? Bahkan, dia selalu mengkhayalkan kami akan bersama dalam sebuah biduk rumah tangga suatu hari kelak walau kami tak pernah tahu kapan itu akan terjadi.” Suara batinku berkecamuk.

Aku masih ingat dengan jelas segala hal yang dikatakannya. Pria itu berkata bahwa andai aku mau bicara jujur saat merasa tak bahagia dengan Dewo, saat itu juga dia akan menjemput dan membawaku pergi dari rumah ini. 

“Mungkinkah itu hanya rayuan gombal?” Tanpa sadar, aku mulai menggigit bibirku resah.

Belum selesai dengan pertentangan batinku, akun Narendra tiba-tiba terlihat sedang mengetikkan sesuatu. Segala kekhawatiran yang tadi melingkupi hatiku seakan lenyap dan berganti dengan kegembiraan.

[Hei, Jalang! Membusuklah kamu di situ! Suamiku tidak akan pernah datang untuk menolongmu.] balas akun itu.

Deg!

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Fatma Wati
biarkanlah dan ikhlaskanlah
goodnovel comment avatar
Arif Zaif
lanjut kak author
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status