Share

CHAPTER 4: AROMA KHAS

Eugene masuk ke dalam ruangan kantor dengan interior modern yang sangat bersih dan setiap sudutnya sangat rapi tanpa cacat sedikitpun, ia mengerutkan keningnya menatap pria dengan rambut hitam, mata sipitnya terpejam, kerutan kecil tampak menghiasi keningnya, kacamata dengan bingkai besi berwarna perah tergantung di hidungnya yang tinggi, dan bibir merahnya tertutup rapat tidak seperti biasanya. Melihat pemandangan aneh itu Eugene menunduk lalu mengetuk keras meja kaca di hadapannya membuat pria yang tidak menyadari kedatangannya membuka mata tajamnya kaget

“hey, Hong Ni El ada apa denganmu? Tidak biasanya kau seperti ini?” Tanyanya curiga.

Ni El hanya menghembuskan nafas besar dari mulutnya lalu kembali memejamkan matanya mengabaikan Eugene. Ia mengayunkan tangannya pelan “jika yang ingin kau bicarakan tidak penting, lebih baik pergilah!” Usirnya halus. Tawa kecil Eugene pun pecah mendengar hal yang seakan sudah biasa baginya itu, ia meletakkan map hitam yang di bawanya ke atas meja Ni El

“baiklah, bacalah laporan ini! Jika ada masalah hubungi aku, aku pergi dulu,” pamitnya santai.

Ni El pun membuka matanya cepat “tunggu!” Tahannya cepat, ia menggerakkan dagunya ke arah meja tamu di seberang meja kerjanya “urus itu untukku, gantikan aku nanti!” Perintahnya. Eugene pun menoleh ke arah meja tamu lalu duduk di sofa depan meja itu, ia membaca satu persatu lembaran biodata itu teliti. Matanya melebar melihat lembar biodata seorang wanita yang tak lain adalah aku

“dia berhasil lolos rupanya,” sahutnya bangga.

Ni El mengerutkan keningnya lalu mengangkat pandangannya menatap Eugene “ada yang kau kenal?” Tanyanya penasaran, Eugene pun mengangguk kecil “hmm, Sophie,” sebutnya sambil menunjukkan lembar biodataku.

Kening Ni El berkerut semakin dalam menengar namaku “siapa? So Hee?” Tanyanya lagi.

Tawa Eugene pecah mendengar Ni El yang salah menyebut namaku “Sophie, S-O-P-H-I-E nama asing, dasar bodoh!” Timpalnya menghina.

Ni El hanya mengangguk kecil “orang asing rupanya, dari mana kau mengenalnya?” timpalnya sambil kembali memejamkan matanya menenangkan diri, Eugene kembali menatap fotoku di lembar biodata “dia adik kelasku saat aku sekolah di Indonesia, dia sangat cantik dan baik,” ungkapnya bangga. Senyum kecil mengembang di ujung bibir Ni El, ia menggeleng kecil lalu menghembuskan nafas besar dari mulutnya

“pokoknya urus itu untukku,” perintahnya santai.

Eugene mengangguk kecil lalu mengumpulkan lembar biodata di atas meja itu, ia bangkit dari duduknya “baiklah, aku akan mengurusnya,” sahutnya santai lalu meninggalkan ruangan Ni El cepat.

Kerutan di kening Ni El terlihat semakin dalam semakin keras ia berusaha mengingat wanita yang meninggalkannya begitu saja. Aroma yang di tinggalkan wanita itu tak bisa hilang dari ingatannya, hidungnya terus mencium aroma itu, aroma yang hanya ia cium dari tubuh wanita misterius yang menghilang bagaikan mimpi ketika ia membuka matanya.

000

Ni El berjalan dengan sekertarisnya di Lobi perusahaan menuju pintu utama, semua yang melihatnya lewat langsung menghentikan kegiatan mereka dan membungkuk sopan meskipun ia tidak menghiraukannya. Eugene yang berjalan dengan para karyawan baru dari arah berlawanan pun menghadangnya cepat lalu menoleh ke belakang

“ini rekan kerja saya, sekaligus pemilik DeRoz, Hong Ni El,” jelasnya memperkenalkan.

Semua yang ada di barisan itu hanya membungkuk sopan, tidak ada yang berani mengangkat wajah mereka termasuk aku. Setelah ia berjalan mewati kami, aku pun ikut menengakkan tubuhku kembali lalu berbaik mengikuti arahan Eugene. Langkah Ni El terhenti mencium aroma yang tidak asing setelah ia berjalan melewatiku, ia menoleh cepat menatap punggungku lurus terdiam di tempatnya.

Aku dan para pekerja baru duduk di sebuah ruang kaca besar dengan map hitam polos masing – masing di hadapan kami. Eugene menepuk tangannya sekali memecah keheningan membuat kami kompak menoleh menatapnya lurus

“di hadapan kalian sudah ada kontrak kerja yang harus kalian tanda tangani, kalian bisa membacanya lebih dulu, jika ada pertanyaan atau ada yang tidak sesuai dengan pembicaraan sebelumnya kalian bisa langsung menyampaikannya padaku,” jelasnya tenang. Eugene membuka tangannya “silahkan membacanya lebih dulu!” Tambahnya. Kami pun menggerakkan tangan kami kompak membuka map di hadapan kami, tiba – tiba pintu kaca ruangan itu terbuka cepat membuat kami langsung menoleh serentak ke arah pintu. Semua orang langsung berdiri secepat mungkin dan membungkuk sopan menyapa pria yang datang itu.

Mataku melebar kaget melihat wajah yang masih sangat segar di ingatanku itu, tiba – tiba telah terpajang di hadapanku. Aku pun lanngsung mengangkat map di tanganku cepat menutupi wajahku sambil memejamkan mataku rapat

“kesialan apa ini?” Tanyaku dalam hati mengutuk nasibku.

Mata tajam Ni El langsung terguling ke arahku, keningnya semakin berkerut tajam melihat tingkah anehku. Eugene pun mengikuti arah pandangan Ni El lalu menunduk di depanku

“Sophie, ada apa? Turunkan mapmu, dia partner yang aku kenalkann tadi, dia atasanmu,” bisiknya cemas.

Mendengar kata “atasanmu” itu aku memjamkan mataku dan menunduk dalam mengutuki diriku semakin keras. Eugene pun menoleh panik sambil tertawa kecil ke arah Ni El, ia berdeham kecil lalu kembali menatapku “Sophie, apa yang kau lakukan? Turunkan mapmu!” Bisiknya mendesakku, aku menggeleng kuat sambil terus menutupi wajahku menolak permintaan Eugene. Ia pun berdeham kecil lalu mengulurkan tangannya menarik map yang menutupi wajahku, aksi tarik menarik konyol itu terus terjadi sampai akhirnya map yang menjadi perisai itu terlepas dari tanganku. Eugene menyunggingkan senyum panik ke arah Ni El sejenak lalu kembali menatapku

“angkat wajahmu, rapikan rambutmu dengan benar lalu berdirilah dan membungkuk sopan,” desaknya panik.

Aku pun melipat mulutku dengan nafas besar terhembus dari hidungku, aku mengangkat wajahku tegak mulai merapikan rambutku lalu berdiri menghadap pria itu membungkuk sopan sesuai permintaan Eugene.

Mata kami akhirnya bertemu, kerutan kecil yang perlahan semakin mendalam di wajah pria itu membuat jantungku semakin berebar cepat. Perasaan campur aduk memenuhi hatiku, ruangan yang awalnya terasa biasa saja, kini terasa panas bagaikan Neraka untukku. Hatiku kini membisikan harapan

“semoga saja, ia tidak mengingatku!” bisikku berulang kali bagaikan doa yang mengambarkan keputus asaanku.

Tapi mata itu, entah kenapa? Mata itu menatapku seakan ia mengingat semuanya, seakan ia mengenaliku.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status