Share

Chapter 5: Pengejaran

        

Ranti  terbangun dari tidurnya, kemudian gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari keberadaan Kevin. Namun sepertinya pemuda itu sudah sejak pagi tadi berangkat untuk bekerja, karena Ranti tak dapat menemukannya saat gadis itu mencari-cari disegala ruangan. Ranti pun akhirnya merasa bosan karena ia tidak tau harus melakukan apa ketika hanya bisa diam dirumah saja. Akhirnya gadis itu pun memutuskan untuk keluar rumah sebentar saja, karena apa salahnya jika ia pergi untuk menghirup udara segar di pagi hari. Ranti akhirnya pergi untuk mandi dan bersiap-siap, setelah itu Ranti terkejut saat menemukan di atas meja makan sudah ada dua pasang pancake yang Kevin siapkan untuknya.

“Manis sekali,” ucap Ranti saat mendapati pancake buatan Kevin di hiasi dengan selai blueberry berbentuk gambar hati di atasnya.

Sambil menyantap makanannya, Ranti terlihat sesekali tengah berpikir apakah dengan melarikan diri seperti ini adalah hal yang benar untuk dilakukan? Terlebih sekarang Ranti sangat penasaran mengenai kabar Ibu dan Adiknya. Tapi Kevin kemarin sudah bilang jika ia meminta Ibunya untuk membantu keluarga Ranti bukan? Dan Ranti harap sekarang Ibu dan adiknya akan baik-baik saja. Ranti pun berubah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap ponselnya yang sedari tadi ia genggam. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk menghubungi Ibunya karena Ranti memutuskan untuk percaya kepada Kevin, lalu ketika keadaan dirasa sudah cukup baik, sudah pasti ia dan Kevin akan kembali lagi ke kota.

“Aku ingin menghubungi Ibu, tapi masih belum berani,” ucap Ranti dengan perasaan yang sedikit tercampur aduk berperang akan batinnya sendiri.

.

          Dilain sisi, Laila berusaha untuk mencari Ranti dengan berusaha bertanya pada teman-teman Ranti yang ia kenal. Mirisnya, Lisa sudah lebih dulu dibawa oleh Toni tanpa berusaha terlihat peduli dan turut mencari keberadaan Ranti juga. Hingga tiba-tiba seorang wanita tampak memperhatikannya dari jauh. Wanita tersebut terlihat glamour dengan apa yang dikenakannya, terlihat sangat berkelas. Wanita itu tak lain adalah Ibu Kevin, Reni. Reni menghampiri Laila secara tiba-tiba, ia menampar Laila dengan tangannya sendiri membuat Laila merasa berang terhadap wanita sombong itu.

“Apa maksudmu yang tiba-tiba menamparku seperti ini?” tanya Laila dengan mata yang melotot sembari memegangi pipinya yang mulai kemerahan.

“Dimana kau sembunyikan anakku?” tanya Reni balik yang membuat Laila terlihat kebingungan karenanya.

“Kenapa kau harus tanyakan padaku, jelas-jelas itu anakmu sendiri dan tidak ada sangkut pautnya denganku,” jawab Laila yang tidak tau siapa sebenarnya yang sedang dicari oleh wanita aneh itu.

Beberapa orang berjaskan hitam, menangkap Laila dan memasukkannya pada sebuah mobil yang memang membawa Reni datang padanya tadi. Beberapa kali Laila berteriak meminta tolong, namun sepertinya tidak ada yang akan menolongnya karena tidak ingin ikut campur dengan apa yang telah terjadi.

“Untungnya aku menemukanmu dengan cepat tanpa harus repot-repot datang kerumah kotormu itu. Kau harus tau karena anak perempuanmu, putra kesayanganku Kevin harus melarikan diri dari rumah. Jadi jika kau tidak memberitahu keberadaannya, kau tidak akan aku lepaskan sampai akhirnya Kevin berhasil ditemukan,” kini Laila akhirnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini setelah apa yang dikatakan Reani barusan.

“Jadi kau pikir karena putriku, anakmu melarikan diri dari rumah? Yang sebenarnya terjadi adalah anakmu lah yang membawa anakku pergi. Aku sudah berusaha mencari keberadaan anakku, tapi sepertinya mereka pergi jauh dari kota ini,” ujar Laila yang membuat Rani berubah menjadi sedikit terkejut akan apa yang dikatakan Laila barusan.

“Apa? Jadi anakmu juga melarikan diri? Kupikir Kevin selama ini bersembunyi di rumah kalian,” kini Reni menunjukkan sebuah pesan yang Kevin kirimkan kepada dirinyanya di hari dimana Kevin melarikan diri dari rumah untuk kedua kalinya.

Pesan itu tentu saja berisikan permohonan dari Kevin kepada Ibunya agar mau membantu Laila mendapatkan hak asuh atas Ranti dan juga Lisa, namun Reni bukanlah wanita yang akan mudah mengatakan iya, terlebih yang ia mau hanyalah keberadaan Kevin sekarang. Wanita itu tak mau ambil pusing atas urusan orang lain, jadi tidak ada alasan baginya untuk membantu. Dan sore kemarin kejadiannya diluar dugaan, setelah apa yang Kevin lakukan sore itu telah merubah segalanya. Setelah Ibunya mengizinkan Kevin untuk pergi lagi dari rumah, Ayah Kevin mengatakan akan memberikan Reni sebagian sahamnya jika wanita itu berhasil menemukan keberadaan putra mereka. Itu sebabnya Reni menginginkan agar anak kembali pulang, jadi ia bisa mendapatkan sebagian saham suaminya. Dan mau tidak mau, Reni sendiri yang harus turun tangan dalam mencari keberadaan Kevin. Namun Reni pikir tadinya mencari Kevin adalah pekerjaan yang mudah karena wanita itu mendapatkan pesan dari anaknya yang mengarah pada keberadaan keluarga Ranti . Bahkan terakhir kali nomor ponsel itu dilacak, lokasi keberadaan Kevin berada di lokasi sekitaran rumah Ranti ketika Kevin menjemut gadis itu kerumahnya sebelum membawa Ranti kabur. Tapi ternyata semua ini tidaklah mudah disaat Reni tau jika kedua remaja itu melarikan diri bersama, bahkan ia tidak tau kemana kedua remaja itu akan pergi.

“Romi, kerahkan semua anak buahmu untuk mencari keberadaan Kevin. Dan pastikan mereka tidak memesan tiket keluar kota. Cari data keberangkatan yang mengatas namakan dirinya dan Ranti, mau itu di stasiun kereta atau bandara sekalipun,” perintah Reni kepada anak buahnya yang bernama Romi yang kemudian mengangguk paham sambil tetap fokus menyetir di jalan.

.

          Kembali kepada Ranti yang kini tengah berjalan-jalan di sebuah pemukiman yang ramai akan penduduk, beberapa orang menyapa Ranti hangat. Bahkan ada beberapa yang menawarkannya untuk duduk bersama sambil memberikan beberapa cemilan pagi kepadanya dan tentu saja Ranti tidak bisa menolak.

“Kalau boleh tau, siapa namamu?” tanya seorang wanita yang tersenyum sembari menyodorkan sepotong kue bolu pandan kepada Ranti.

“Nama saya Ranti, Bu,” jawab Ranti yang dengan sopannya juga menerima kue bolu buatan Ibu tersebut.

“Nama yang cantik, perkenalkan Ibu namanya Ibu Sasmi. Kamu boleh sesekali mampir kerumah Ibu, kalau mau. Ibu soalnya seneng sama anak perempuan, apalagi yang cantiknya seperti kamu. Maklum saja karena anak Ibu laki-laki semua,” tawa Bu Sasmi membuat Ranti ikut juga ikut tertawa karenanya.

Ranti akhirnya merasakan ada sedikit kehangatan dihatinya, walaupun hanya sesaat ia merasakan seperti berada di rumah. Untuk sesaat pula, gadis itu bisa melupakan apa yang selama ini menumpuk dan menjadi beban di pikirannya. Bahkan dengan semangatnya, Ranti juga ikut membantu pekerjaan Bu Sasmi dalam memanen biji bunga matahari. Lalu setelah mendengarkan Ibu Sasmi yang bercerita panjang lebar, Ranti tau jika Ibu Sasmi hanya tinggal bersama kedua anak lelakinya dirumah, sementara suaminya hanya beberapa minggu sekali pulang karena bekerja merantau ke sana sini. Tak lama kemudian, di sela percakapan yang dirasa amat menyenangkan itu, seorang pemuda lainnya datang menghampiri Bu Sasmi. Dengan mata yang menatap dingin ke arah Ranti, pemuda itu bertanya dengan tidak sopannya.

“Ibu, siapa dia?” tanya pemuda itu kepada Ibu Sasmi yang jelas jika pemuda itu adalah anak dari Bu Sasmi sendiri

“Oalah iya, ini perkenalkan Ranti dan ia baru saja pindah kesini, orangnya cantik kan?” goda Bu Sasmi membuat Ranti tersipu malu.

“Ranti,” ujar Ranti mengulurkan tangannya untuk berkenalan namun pemuda itu tak menjawab sapaannya.

“Ini anak Ibu yang paling bungsu, namanya Bian dan emang anak ini agak sedikit cuek orangnya tapi Bian pemuda yang berhati hangat kok,” ujar Bu Sasmi sambil sedikit menyenggol lengan Bian agar pemuda itu mau bersalaman dengan Ranti.

“Bian,” ujar Bian singkat sembari menjabat tangan Ranti.

Dengan cepatnya pula Bian melepaskan jabat tangan mereka dan berlarian masuk ke dalam rumah. Ranti hanya tertawa cekikikan karena Bian dirasanya bukan sosok orang yang terlihat jahat atau terkesan cuek, tapi pemuda itu hanyalah sosok pemuda yang pemalu, jadi mungkin saja ia akan sangat malu jika bertemu orang yang baru. Disisi lain, Bu Sasmi memperhatikan gerak gerik keduanya dengan senyum mengembang di wajahnya, Bu Sasmi berkata …

“Neng, mau kerja sama Ibu? Ibu masih punya kebun buah lainnya dan mungkin dalam waktu dekat akan panen besar-besaran, Ibu butuh tenaga kerja lebih sepertinya,” ujar Bu Sasmi yang dibalas dengan senyuman saja oleh Ranti.

“Nanti ya Bu, coba saya tanyakan dulu ke keluarga saya,” jawab Ranti membuat Bu Sasmi paham akan hal itu.

Tadinya Ranti berbohong kepada Bu Sasmi jika ia datang bersama keluarganya untuk pindah ke sana dari kota, tentu saja Ranti tidak bisa mengatakan jika ia baru saja melarikan diri dan datang berdua dengan kekasihnya, Kevin. Dengan langkah lunglai, Ranti berjalan pulang sebelum ia akhirnya pamit harus segera pulang kerumah kepada Bu Sasmi. Untungnya juga, Villa yang ditinggali ia bersama dengan Kevin berada cukup jauh dari pemukiman warga, jadi jelas ia masih bisa bersembunyi tanpa ketahuan oleh siapapun.

Baru saja sampai setengah jalan untuk pulang, Ranti mendapati Kevin yang tengah berlarian menuruni bukit dan menghampirinya. Dengan cekatan pula, pemuda itu menarik lengan Ranti untuk ikut melarikan diri dengannya lagi. Ranti yang tak sempat bertanya hanya menuruti saja, bahkan ia tidak sadar telah melewati Bian yang kebingungan menatap kearah mereka. Tak berada beberapa jauh dari tempatnya berdiri, Bian melihat jika ada beberapa orang berjaskan hitam seperti sedang mencari-cari akan sesuatu.

“Apa kau pernah melihat mereka?” tanya salah satu orang berjas hitam itu kepada Bian.

Bian menyipitkan matanya saat disodori sebuah foto wajah Ranti bersama Kevin disana. Bian pun terlihat kaget dan menggeleng cepat, kemudian dilihatnya jika pria berjas hitam itu mengerahkan seluruh anak buahnya agar berkumpul dan menyudahi pencarian.

“Sebenarnya ada apa ini? Apakah mereka sebenarnya adalah buronan?”

... To be continued ...

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status