Share

Chapter 7: Tertangkap

Sesampainya dirumah Pak Akbar, Pak Akbar lebih dahulu menyuruh Ranti agar membersihkan dirinya serta memberikan beberapa pakaian yang ditinggalkan mendiang istrinya untuk dipakai oleh Ranti. Dengan tatapan yang menanti penjelasan, Pak Akbar menatap Kevin yang kini tengah duduk di hadapannya.

“Jadi, apa benar yang Bian katakan jika kalian adalah buronan?” tanya Pak Akbar dengan hati-hati.

“Kami bukannya melakukan hal yang buruk, tapi ada hal yang mengharuskan kami untuk melarikan diri dari kota,” jawab Kevin membuat Pak Akbar hanya mengangguk pelan.

“Bapak juga yakin jika kalian bukan orang jahat, tapi sebelumnya kalian tinggal dimana?” tanya Pak Akbar lagi membuat Kevin merasa ragu akan menjawabnya.

“Um … itu, kami tinggal di Villa yang ada di atas bukit,” jawab Kevin lagi sembari menggaruk-garuk tengkuknya tanda tak yakin apakah ia harus menjawab pertanyaan itu

“Ternyata kau anak wanita itu ya, Reni Hardayanti?” kali ini Kevin mengiyakan pertanyaan terakhir yang dilontarkan Pak Akbar.

          Pak Akbar dulunya juga pernah bekerja dengan Ibu Kevin sebagai tukang reparasi ketika Ibunya Kevin masih tinggal di Villa tersebut. Namun ada juga beberapa perlakuan Reni yang Pak Akbar tidak sukai, wanita itu memiliki sifat yang sangat sombong bahkan tidak menghindari fakta jika Pak Akbar sempat diperlakukan tidak adil selama bekerja disana. Namun semua itu hanyalah cerita dimasa lalu dan Pak Akbar tidak ingin mengingatnya lagi.

          Setelah dilihatnya Ranti yang telah usai membersihkan dirinya, kini Kevin bergantian untuk membersihkan diri. Pak Akbar menyadari jika Ranti mungkin saja sedang tidak sehat karena wajah gadis itu terlihat pucat, bahkan sesekali Ranti masih terlihat menggigil kedinginan. Dengan baik hatinya, Pak Akbar membuatkan Ranti air rebusan jahe untuk menghangatkan dirinya.

“Tunggu disini, Bapak akan kerumah tetangga untuk meminta beberapa makanan untuk kalian,” ujar Pak Akbar yang diangguki begitu saja oleh Ranti.

          Ranti melihat sekeliling, melihat setiap sudut ruangan dan ia menemukan sebuah foto yang bertengger di sudut ruangan, foto Pak Akbar beserta istrinya.

“Bagaimana bisa kau mengenali Pak Akbar?” tanya Ranti saat Kevin baru saja keluar dari kamar mandi dan pemuda itu tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Kemarin aku mencari kerja dan Pak Akbar menawarkan ku pekerjaan di peternakan kudanya,” sahut Kevin yang kemudian ikut duduk di sebelah Ranti.

“Apa beliau hanya tinggal disini sendirian?” tanya Ranti lagi yang langsung diangguki oleh Kevin.

“Kemana Pak Akbar?” tanya Kevin balik.

“Pergi mencari makanan katanya,” jawab Ranti singkat.

.

          Disisi lain, Pak Akbar berlarian menuju rumah Bu Sasmi dengan hujan yang akan mulai membasahi bumi lagi. Namun benar saja yang dirasakan Pak Akbar jika Bu Sasmi bahkan Bian sudah menunggu kedatangannya, dengan tatapan penuh rasa penasaran, Bu Sasmi melayangkan pertanyaan untuk di jawab oleh Pak Akbar segera.

“Jadi bagaimana Pak, apa benar yang Bian katakan jika dua anak itu adalah Buronan?” tanya Bu Sasmi yang membuat Pak Akbar berbisik pelan.

“Bukan, anak itu si Kevin adalah anak dari wanita sombong itu, Reni Hardayanti,” mendengar akan hal itu sepertinya Bu Sasmi sedikit mengerti dengan apa yang terjadi

“Jadi anak itu melarikan diri dari Ibunya?” tanya Bu Sasmi lagi.

“Melihat dirinya sampai melarikan diri seperti ini, mungkin saja anak itu mendapatkan perlakuan buruk dari Ibunya hingga harus melarikan diri,” sahut Pak Akbar kemudian membuat Bu Sasmi mengangguk paham setelahnya.

“Haruskah kita membantu mereka?” tanya Bu Sasmi yang mendapat tatapan bingung oleh Pak Akbar.

“Kenapa harus?” sahut Bian yang sebenarnya tidak mengerti seberapa pentingnya Kevin sampai harus di tolong, padahal Bian merasa bisa saja Kevin ataupun Ranti adalah orang yang jahat.

“Aku juga tak tau harus apa, terlebih mereka masih sangat remaja dan tidak sebaiknya mereka melarikan diri dari rumah. Tapi untuk sementara ini, kita bisa membiarkan mereka untuk tetap tinggal di sini dan jangan sampai warga lain tau tentang hal ini,” ucap Pak Akbar namun sekali lagi Bian merasa jika hal ini bukan sesuatu yang benar untuk dilakukan.

“Lalu bagaimana dengan orang-orang yang berjaskan hitam itu? Lambat laun mereka pasti akan tau jika kita menyembunyikan mereka di desa ini,” ucap Bian yang membuat Pak Akbar kembali bingung akan bertindak seperti apa

.

          Dirumah Pak Akbar, Kevin memperhatikan Ranti dengan masih merasa bersalah. Dilihatnya sesekali gadis itu merapatkan kakinya dan mengaduh kesakitan, namun pemuda itu hanya bisa diam dan tak tau harus melakukan apa. Ranti pun bangkit dari duduknya dan berbaring di sebuah kursi panjang sembari memegangi perutnya.

“Aku lapar,” ucap Ranti namun tak beberapa lama Pak Akbar akhirnya kembali ke rumahnya.

“Ranti, Bapak hanya punya roti,” ucap Pak Akbar yang menyodorkan sebuah roti kepada Ranti begitu juga kepada Kevin.

“Terimakasih,” ucap Ranti sembari memakan roti tersebut.

“Untuk sementara, kalian bisa tinggal dirumah Bapak atau Ranti juga bisa tinggal di rumah Bu Sasmi jika mau. Kalian tau kan jika kalian sedang dicari, jadi untuk sementara kalian bisa bersembunyi di sini,” ucap Pak Akbar membuat Kevin mengangguk paham.

          Dan keesokan paginya, Kevin sudah lebih dulu bangun untuk membantu Pak Akbar memeras susu kuda. Namun masih dalam suasana was-was, Kevin berharap jangan sampai ia tertangkap. Tapi semuanya seketika hanya menjadi harapan semata disaat secara tiba-tiba pengawal Ibunya datang dan berhasil menemukan keberadaan dirinya.

“Ayo Tuan muda, anda harus kembali pulang,” ujar Romi yang tadinya secara perlahan mengendap-endap dan berhasil menarik menangkap Kevin.

“Ada apa ini?” teriak Pak Akbar yang melihat Kevin tengah memberontak ingin melepaskan cengkraman Romi namun beberapa orang lainnya juga ikut memeganginya.

“Apa perlu kita membawa gadis itu juga?” tanya salah satu anak buah Romi yang berhasil menemukan keberadaan Ranti.

“Hei kubilang ada apa ini?” sejak tadi perkataan Pak Akbar tidak di gubris oleh mereka, namun pria itu juga berusaha \membantu Kevin melepas cengkraman beberapa orang yang menangkap pemuda itu, hanya saja dirinya juga sudah ditahan oleh beberapa orang yang datang memenuhi perkarangan rumahnya.

          Tiba-tiba saja Romi dan kawanannya hanya membawa Kevin dan menyeret pemuda itu pergi, sedangkan Ranti dibiarkan begitu saja menangis sesenggukan sembari tersungkur di atas tanah. Beberapa kali Kevin berteriak memanggil-manggil nama Ranti, namun apa daya gadis itu hanya bisa menangis saat ditinggalkan. Beberapa kali Kevin memberontak namun ia kesulitan melepaskan diri. Lalu dari kejauhan, Bian yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa tersenyum licik karenanya. Ranti melihat senyuman itu dan Ranti yakin jika Bian lah yang memberitahukan dimana tempat persembunyian mereka.

          Beberapa orang mulai berkerumunan dii halaman rumah Pak Akbar, mereka tak tau sebenarnya apa yang terjadi. Namun beberapa pasang mata mulai menatap Ranti dengan tatapan penuh tanda tanya, bahkan beberapa dari mereka berbisik-bisik dan ada yang menyebarkan gosip jika Pak Akbar menyembunyikan dua anak remaja itu di rumahnya sudah sejak lama. Dengan keadaan lemas, Ranti jatuh pingsan dengan wajah yang terlihat begitu pucat.

.

          Disisi lain, Kevin sudah diberikan obat penenang untuk membuatnya tertidur selama perjalanan. Sesaat setelah membuka mata, pemuda itu sudah berada di dalam ruangan yang sangat familiar dengannya, ruangan itu adalah kamar tidurnya. Sesegera mungkin Kevin bangun dari tidurnya dan berusaha membuka pintu kamarnya namun kamarnya sudah terkunci dengan rapatnya.

“Kau sudah bangun, anakku?” suara itu mengagetkan Kevin yang tidak sadar jika Ibunya sudah berada disana bersamanya dan sedang duduk di sebuah kursi sembari menyilangkan kedua kakinya.

“Ibu, ini apa maksudnya? Aku harus pergi, kasihan Ranti sendirian disana,” ucap Kevin meminta agar Ibunya segera membuka kamarnya yang sudah terkunci dengan rapatnya.

“Tidak, Kevin sudah waktunya kau berubah. Jika kau masih ingin bertemu dengan gadis itu, sudah cukup melarikan dirinya,” sahut Ibunya membuat Kevin kemudian hanya bisa diam seribu bahasa.

          Ibunya menjelaskan akan merencanakan pernikahan atas Kevin dan Aira yang merupakan anak dari rekan bisnis Ibunya. Pada awalnya, Reni berpikir jika anaknya masih sangat muda untuk dinikahkan karena umur Kevin baru saja menginjak angka 19 tahun. Namun Reni berencana untuk memisahkan putranya dari Ranti dan juga akan menggusur kekuasaan suaminya, karena sebelumnya Rio sudah berjanji akan memberikan sebagian sahamnya kepada Reni jika ia berhasil menemukan Kevin. Perlahan-lahan, Reni berencana akan menyerang Rio menggunakan putranya sendiri namun setelah itu ia akan diam-diam melakukan cara lain untuk menggulingkan seluruh kekuasaan suaminya.

“Aku tidak akan mau menikah dengan Aira,” sahut Kevin bersikeras.

“Sekarang begini saja, kita buat suatu kesepakatan. Jika kau mau menikahi Aira, Ibu akan mengabulkan permintaanmu untuk menolong Ibunya Ranti seperti apa yang kau mau, lagipula kau tak bisa menolak. Karena jika kau tetap bersikeras menolak, Ibu akan mengembalikan Ranti pada Ayahnya saja,” kali ini Reni dengan liciknya harus menyudutkan Kevin agar mau melakukan apa yang ia mau.

“Tidak, aku tidak bisa menikahi gadis yang tidak kusukai,” balas Kevin membuat Ibunya hanya bisa tertawa mendengarnya.

“Terserah kau saja anakku, karena jika kau tidak mau, tentu saja kau tidak akan bisa melihat Ranti lagi dan kau akan terus Ibu kurung disini dalam waktu yang lama,” kali ini Kevin tak bisa lagi membantah kemauan Ibunya dan tertunduk merenungi nasib Ranti di sana.

          Setelah Reni keluar dari kamar putranya itu, Reni beranjak pergi untuk bertemu dengan suaminya dan mengatakan jika ia telah berhasil menemukan Kevin dan ia juga berencana menikahkan anaknya itu dengan anak rekan kerjanya agar Kevin tak lagi melarikan diri. Dengan begitu, Rio harus siap mempersiapkan surat peralihan saham yang mengatas namakan Reni.

... To be continued ...

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status