Share

6. Unperfect Husband

Tubuh Deric mendarat di tanah tanpa bisa dicegah. Pria itu berusaha bangkit dengan memfokuskankan kekuatan pada kedua tangan. “Jangan khawatir, aku baik-baik saja,” ucapnya.

“Tak ada yang mengingankan hal itu darimu,” sahut Jonathan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Wajah Deric kembali menempel ke tanah saat tangannya gagal menjalankan tugas. Meski begitu, ia tak menyerah untuk mencoba hal sama berulang kali. Hal ini bukanlah masalah besar baginya. Ia sudah pernah mengalami perundungan yang lebih berat dari sekadar ditendang dari teras dan berakhir dengan mencumbu tanah.

Pernah suatu waktu Jonathan dan James mengikatnya di pohon besar di belakang rumah selama semalaman. Keduanya melarang siapa pun untuk melepas ikatan. Barulah saat pagi menjelang, kakak-beradik itu membiarkan Deric pergi dengan tubuh lemas setelah puas tertawa cekikikan.

Tak sampai di sana, beberapa bulan lalu, tepatnya saat keluarga Aberald mendapat undangan dari salah satu rekan bisnis, tiba-tiba saja Jeremy mengajaknya untuk bergabung. Namun, saat berada di tengah perjalanan, Deric tiba-tiba diturunkan secara paksa di tengah jalan tol tanpa alat komunikasi dan uang sepeser pun. Ketika ia pulang kembali ke kediaman, bukannya mendapat sambutan, ia malah disuguhkan dengan hinaan dan cacian.

“Kau persis seperti babi di peternakan,” ejek Jonathan dengan senyum melintang di wajah.

“Jonathan, cukup,” ucap Jeremy.

Jonathan berdecak, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Apa aku melewatkan sesuatu yang menarik?” tanya James yang baru muncul dari pintu utama. Ketika pandangannya tertuju ke arah Deric, ia seketika terbahak sembari memegang perutnya. “Apakah ini hadiah dari Tuhan karena aku bangun di pagi buta seperti ini? Oh, ini pasti hari keberuntunganku.”

“James, diamlah!” Jeremy mengembus napas panjang, lalu mengecek jam di pergelangan tangan. Pandangannya kemudian teralih pada dua adiknya. “Kalian berdua, angkat sampah itu dan dudukkan dia di kursi roda seperti semula.”

“Oh, ayolah,” ujar Jonathan dan James kompak.

“Kenapa selalu aku yang harus berurusan dengan pria berkaki roda itu?” keluh James.

“Karena kau yang paling dekat dengannya,” jawab Jeremy.

James dengan berat hati menyusul Jonathan yang sudah ada di samping Deric.

“Padahal aku tak keberatan jika harus memeluk tanah ini lebih lama,” kata Deric dengan kekehan kecil.

 “Kau selalu saja bicara omong kosong!” bentak Jonathan sembari mengangkat kursi roda dari tubuh Deric. “Ingat, kau berhutang nyawa padaku. Dasar sialan!”

“Sayangnya aku tak punya barang berharga sebagai bayaran,” sahut Deric yang berusaha mengangkat tubuhnya lagi.

“Bahkan hidupmu pun tak berharga,” komentar James sinis.

“Cepatlah!” Jeremy yang tengah berkacak pinggang memerintah.

Jonathan dan James secara kompak mengangkat tubuh Deric dengan cara menjiwir lengannya seperti tengah mengangkat kotoran dari lantai. Kalau saja Jeremy tak memerintah, keduanya tak sudi untuk membantu pria lumpuh ini untuk kembali ke kursi roda.

Tepat di saat raga Deric hampir mendarat di kursi, pandangan Jonathan dan James tiba-tiba teralih pada tiga mobil yang baru saja memasuki rumah, kemudian mendarat tepat di depan mereka. Bola mata kakak-beradik itu sontak berbinar, bak mendapati harta karun dari dasar lautan. Jeremy pun berekspresi tak jauh berbeda dari keduanya.

Jontahan dan James sontak melepas genggaman pada lengan Deric hingga tubuh pria itu kembali bermesraan dengan tanah.

“Itu ... mobil keluaran terbatas dari perusahaan Otopixel,” ujar James dengan mulut setengah terbuka.

“Apa aku tak salah lihat?” Jonathan beberapa kali mengucek matanya. “Mobil ini hanya diproduksi sebanyak seratus unit dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memilikinya. Bahkan bila kau memiliki uang tak berseri sekalipun, kau belum tentu bisa memilikinya.”

Deric cukup tertarik dengan pembahasan kedua kakaknya. Untuk itu, ia kembali memusatkan tenaga di kedua tangan. Dalam usahanya untuk mematahkan gravitasi, punggungnya tiba-tiba diinjak oleh ketiga saudaranya secara bergantian. Napasnya menjadi sesak sebab dadanya tertekan cukup kuat.

Alih-alih mengecek kondisi Deric, Jeremy, Jonathan dan James lebih tertarik untuk mengamati tiga kendaraan mewah di depan mereka lebih dekat. Kilauannya benar-benar memanjakan mata mereka. Kekayaan keluarga Aberald saat ini mungkin hanya bisa membeli suku cadangnya saja.

“Kami diminta Nona Caraline untuk menjemput Tuan Jacob Aberald,” ucap seorang pria yang baru saja muncul dari pintu mobil paling depan. Perkataannya segera menggerus senyum Jeremy dan kedua adiknya. “Di mana beliau sekarang?”

Pria berseragam hitam dengan kacamata senada itu membelah jalan Jeremy dan kedua adiknya saat tak mendapat jawaban. Ia segera berjongkok saat mendapati Deric masih berupaya untuk bangkit.

“Tuan Jacob, apa Anda baik-baik saja?” Pria itu segera mengangkat Deric, lalu mendudukannya di kursi roda.

“Sepertinya bumi senang mendengar keluh kesahku,” jawab Deric. Pakaian dan wajahnya lekat dengan noda tanah. Penampilannya saat ini persis seperti yang dikatakan Jeremy tadi, gelandangan.

Pria tinggi tadi segera berbalik, kemudian menatap Jeremy, Jonathan dan James secara bergantian. “Tuan-tuan, apa ini hasil perbuatan kalian? Nona Caraline pasti akan sangat  murka bila melihat tamu pentingnya dalam kondisi seperti ini. Anda tentu tahu apa yang bisa Nona Caraline lakukan dengan uang dan kekuasaannya.”

James memelotot seperti hendak melahap pria di depannya. “Aku yang—”

“Ini murni kecelakaan,” sela Jeremy sembari menginjak kaki James kuat-kuat. “Kami berjanji akan menjaga ... Jacob dengan baik.”

“Aku pastikan hal ini tak akan terulang,” lanjut Jeremy ketika James akan kembali bicara. Ia menatap tajam pada adiknya, lalu mengulum senyum palsu pada pria di depannya.

“Baiklah.” Pria tinggi itu membenarkan kacamatanya sesaat. “Tunggulah sebentar, Tuan. Kami akan membenahi penampilan Tuan Jacob lebih dulu.”

Pria itu lalu membawa Deric menjauh, kemudian menyerahkannya pada dua wanita yang sudah berdiri di mobil paling belakang. “Tolong, sempurnakan penampilan Tuan Jacob,” perintahnya.

Sepuluh menit kemudian, Deric kembali dengan setelan jas hitam mewah, juga rambut yang sudah tersisir rapi. Penampilannya amat berbeda dibanding beberapa waktu lalu, laksana baru saja menerima sentuhan sihir ibu peri milik Cinderella. Kenyataannya benar-benar berbalik sekarang. Ketiga saudaranya justru seperti kalangan rakyat biasa bila disandingkan dengannya.  

“Aku benar-benar muak melihatnya,” bisik James dengan tatapan terkunci pada Deric, “pria cacat itu sama sekali tak pantas mendapat semua ini.”

Jeremy menjawab dengan suara tertahan, “Tutup mulutmu dan simpan semua kekesalanmu untuk dirimu sendiri.”

“Bukankah yang tengah dikenakan si cacat Deric itu jam tangan Miraclewatch?” Jonathan bertanya dengan mata membola. “Harganya bisa saja mencapai tiga juta dolar lebih di pasaran.”

“Diamlah!” Jeremy berteriak tertahan. “Kalian membuat darahku kian mendidih.”

“Kita harus segera berangkat, Tuan.” Pria tinggi berkacamata hitam itu berujar, lalu berjalan menuju mobil paling depan. Saat Jeremy akan membuka pintu depan bagian samping, pria itu berkata lagi, “maaf, Tuan. Mobil ini hanya diperuntukkan untuk Tuan Jacob.”

Pria itu kemudian menambahkan, “Silakan Tuan gunakan kendaraan pribadi Tuan untuk menuju lokasi acara.”

Bagai dijatuhkan dari ketinggian dan berakhir di bebatuan, Jeremy dan kedua adiknya tertegun. James sendiri hampir saja menjatuhkan mulut ke tanah saking kaget mendengar penuturan pria itu. Harapannya untuk menaiki kendaraan mewah itu seketika sirna.

“Nona Caraline sama sekali tidak berkata apa-apa soal ini sebelumnya,” ujar Jeremy dengan perasaan geram. Ia lebih dahulu berbicara sebelum James berkata yang tidak-tidak.

“Tak semua hal akan dikatakan Nona Caraline pada Anda, Tuan.” Pria berkacamata itu masuk ke mobil setelah mendudukkan Deric di kursi belakang.

Jeremy menggertakkan gigi begitu mendengarnya. Rahangnya mengeras, tetapi bibirnya dipaksa merangkai senyum. “Baik, aku mengerti.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status