Share

Tetangga Baru

Tetanggaku Simbiosis Parasitisme Part 01

#Tetangga Baru

By : Leni Maryati

Namaku Akila Prameswari, hanya seorang Ibu rumah tangga. Masa mudaku setelah lulus kuliah sebenarnya aku juga bekerja, mengajar di salah satu sekolah swasta, namun setelah menikah suami memintaku untuk fokus jadi ibu rumah tangga saja. Dia memintanya saat kita belum resmi menikah dan akupun menyanggupinya.

Aku menikahi lelaki pujaanku, sesorang yang menjadi kakak seniorku dibangku perkuliahan, Namanya Farrel. Kami sudah saling mengenal sejak SMA namun bisa dekat saat di kampus dalam 1 organisasi.

Kini penikahanku sudah berjalan hampir 4 tahun, Pernikahan kami sudah dikaruniai seorang putri nan cantik jelita, sekarang usianya 3 tahun. Chacha nama putri semata wayang kami.

Setiap hari setelah semua pekerjaan rumah selesai, rutinitasku hanya menemani chacha bermain. Suamiku bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, sebenarnya fleksibel juga kadang cuman setengah hari saja.

Suamiku memiliki 2 toko bangunan, jadi dia ke toko hanya untuk mengecek stok barang dan belanja barang-barang yang kosong. Lebih banyak berkutat dengan komputer, dia orangnya perfeksionis soal pembukuan. Sedangkan yang melayani pelanggan lebih ke karyawannya.

Aku merasa nyaman tinggal disini, meskipun jauh dari orang tua dan mertua, namun tetangga-tetangga disini baik-baik terhadapku dan suami. Kebanyakan mereka umurnya lebih tua dari kami.

Sebelah kanan rumahku ada Bu Ratna, beliau seorang janda dengan 2 anak, laki-laki dan perempuan. Namun anak laki-lakinya sekarang sudah ngontrak dengan istrinya, karena bu Ratna dan menantunya sering selisih paham. Anak perempuannya masih kelas 2 SMA.

Sebelah kiri rumah ada bu Yati, Beliau buruh cuci untuk menghidupi kedua anaknya, anak pertama sudah bekerja sedang anak keduanya masih sekolah. Suaminya hanya kerja serabutan. Kadang kerja kadang enggak, malah sering nganggur.

Di depan rumah Bu Yati, ada Rumahnya Bu Nur. Beliau Pendatang dari Purwokerto, suaminya yg asli sini. Rela diboyong suaminya tinggal disini dan sekarang sudah memiliki 3 anak. Sedangkan di depan rumah Bu Ratna masih lahan kosong. Entah milik siapa tanah itu.

Lalu di depan rumahku sendiri sebenarnya tadinya juga lahan kosong. Namun sebulan ini sudah dibangun sebuah rumah sederhana. Kulihat kemarin sudah proses pemasangan kusen-kusen jendela dan pintu.

Saat kutanya ke suami katanya yang membangun rumah didepan itu mbah Harso, Suami mengerti soal orang-orang sekitar sini sebab dia semasa kecil sudah sering ke desa ini, tempat dimana nenek dan kakeknya tinggal.

Tanah tempat berdirinya rumah kami merupakan warisan dari kakek suami yang di wariskan ke orang tuanya, namun kedua orang tuanya lebih memilih membeli rumah yang sudah jadi. Sehingga suami yang memiliki tanah ini sekarang.

Kadangkala aku memanggil Budhe Yati untuk menyetrika baju kami, hitung-hitung untuk membantu tetangga. Menurut cerita dari Budhe Yati, Mbah Harso tinggalnya di desa sebelah. Tanah yang sedang Mbah Harso bangun rumah merupakan tanah yang ia beli beberapa tahun lalu. Ia membuat rumah itu untuk anak lelakinya.

Anaknya sudah bertahun-tahun merantau ke Bandung dan jarang pulang karena memiliki istri asli orang Bandung. Namun anaknya siap mencari kerja di sini kalau sudah punya rumah, Akhirnya mbah Harso membuatkan rumah agar anaknya pulang.

*****

tok tok tok

Terdengar pintu rumahku diketuk oleh seseorang. Kulihat jam dinding baru menunjukkan pukul 1 siang. Sepertinya bukan Mas Farel suamiku, dia kalau pulang pasti mengucap salam langsung masuk rumah.

Aku menutup pintu kamar sepelan mungkin, Chacha masih tertidur pulas dengan boneka beruang dipelukannya.

kriet...

Aku membuka pintu dapur ke arah halaman pelan. Kulihat istrinya Mbah Harso duduk di kursi yang sengaja aku taruh diteras. Karena tamu di sini jika hanya perlu sebentar biasnaya sungkan kalau diajak masuk ke dalam ruang tamu, kebanyakan mereka hanya sekedar duduk di teras. Teman-teman suamikupun juga begitu. Jadi pintu depan ruang tamu juga jarang aku buka.

Aku berusaha mengingat-ingat nama istrinya Mbah Harso, kalau tidak salah mas Farrel pernah mengatakan kalau namanya Mbah Karni.

"Eh... Mbah Karni... masuk mbah," Aku menyapa mbah Karni dan mengajaknya untuk masuk ke ruang tamu. Tapi, beliau menggeleng.

"Ndak usah nduk, Mbah cuman mau nganter berkat syukuran rumah gubug mbah... Besok anak mbah datang dari Bandung dan rencananya langsung menepati rumah itu." ucapnya.

"Rumah tembok bagus kayak gitu kok dibilang gubug sih mbah..." Aku menimpali guruannya. Aku duduk di samping mbah Karni.

"Rumah masih bata merah begitu nduk, dananya terbatas. Lantainya aja masih tanah, soalnya Basuki sudah di PHK dari pabriknya, mumpung istrinya mau diajak tinggal disini ya jadi cepat-cepat tak buatin rumah, "

Oh nama anaknya Basuki. Kasihan juga ya Mbah Harso, biar anak bisa tinggal dengannya dia harus membuatkan rumah. Namanya orang tua pasti akan melakukan apapun demi anak.

"Ga apa-apa mbah, nanti bisa diperbaiki sambil jalan, yang penting sudah bisa ditempati,"

"Iya, nduk..."

"Eh...Sebentar mbah..." Aku beranjak dari dudukku langsung menuju dapur membuatkan Mbah Karni teh hangat, hanya kuberi gula sedikit biasanya orang tua tidak terlalu suka manis.

Aku meletakkan teh itu keatas nampan dan beberapa cemilan kecil.

"Ini mbah, diminum dulu..." ucapku seraya meletakkan cemilan dan minuman di atas meja.

"Loh..loh.. kok repot-repot to nduk... simbah cuman sebentar ini."

"Ga apa-apa mbah... Nanti kalau Putra simbah sudah pulang, simbah pasti akan sering kesini dan jadi tetangga kami."

"Disini tetangganya baik-baik ya nduk, termasuk kamu. Moga aja nanti istrinya Basuki betah tinggal disini."

Aku hanya tersenyum menanggapinya. Setelah berbincang ngalor ngidul. Akhirnya mbah Karni pamit pulang. Beliau mau membereskan rumahnya yang kotor terutama peralatan masak. Ia tadi masak sendiri nasi berkat syukuran untuk dibagikan ke tetangga sekitar sini, tidak membeli jadi seperti ibu-ibu lain yang mampu. Ia masak di rumahnya hanya dibantu kerabat dekatnya.

Mbah Harso hanya tinggal berdua dengan Mbah Karni, sebab dia hanya punya dua anak. Anak pertamanya yang perempuan diboyong suaminya tinggal di Jakarta dan hanya pulang saat lebaran saja. Sedangkan putra keduanya yang bernama Basuki tadi, menikah dengan orang Bandung. Ia bekerja di pabrik bahkan bertahun-tahun jarang pulang katanya terkendala ongkos, apalagi anaknya sudah 3.

Makanya saat Basuki menelepon sudah di PHK dan mau pulang ke kampung mbah Harso senang sekali, setidaknya dimasa tuanya ada salah satu anaknya yang tinggal dekat dengan mereka walaupun tidak serumah.

Kasihan juga ya Mbah Harso, anak dua jauh-jauh semua. Semoga saja mas Basuki nanti bisa jadi sandaran kedua orang tuanya dikala senja.

Aku membuka bungkusan nasi berkat itu, wow... harumnya menguar. Ternyata nasinya nasi uduk. Mas Farrel pasti seneng banget ini.

Aku memabawa nasi berkat itu masuk ke dalam rumah. Ku lihat Chaca masih terlelap tidur, sebaiknya aku buat cemilan aja untuk Chaca. Kentang goreng tepung kesukaannya.

*****

Pukul setengah 5 sore, suamiku pulang dari tokonya. Aku langsung membuatkannya Lemon tea hangat.

"Ini mas..." Ia masih duduk di teras. "Mas mau mandi dulu apa makan dulu?" tawarku. Kalau mas Farrel terlalu lapar, ia pulang biasanya makan terlebih dahlulu. Katanya kalau nunggu mandi dulu selera makannya berkurang tidak senikmat saat pulang kerja masih capek langsung makan.

"Mandi saja dulu. Sudah gerah ini. Tadi ikut nurunin barang soalnya pelanggannya banyak." terangnya.

" Alhamdulillah... Aku ambilin handuk dulu ya mas," ujarku seraya beranjak masuk ke dalam rumah.

10 menit kemudian mas Farrel sudah keluar dari kamar, Ia mengenakan kaos oblong biru dan bokser senada. Rambutnya masih basah. Ia kalau mandi pasti selalu menyiram rambutnya.

Kami duduk di ruang keluarga, Aku sudah menyiapkan makanan dan minuman untuk mas Farrel di atas meja.

"Makan mas..."

Ia hanya mengangguk dan mengambil makanan itu. Saat selesai mengunyah suapan pertama mas Farrrel keningnya berkerut seolah bertanya.

"Ini nasi uduk ya... Kamu buat nasi uduk?" tanya mas Farrel.

"Enak mas? itu tadi nasi berkat syukuran rumah pemberian istrinya mbah Harso. Katanya besok anaknya itu pulang dari Bandung dan rencanya langsung menempati rumah itu," terangku.

"Masih hangat... enak!" puji mas Farrel.

"Iya, tadi bunda panasin dulu biar lebih enak."

Mas Farrel kembali khusyuk menikmati nasi uduk kesukaannya. Aku juga sibuk menyuapi Chacha kentang goreng kesukaannya.

"Enyak bun... kentangnya," cicit Chaca. Ia ngomongnya masih cedal bahkan ada beberapa kata yang tidak terlalu jelas diucapkannya.

"Habiskan ya..." Ia mengangguk.

*****

Pagi hari sekitar pukul 9 aku duduk pinggir jalan depan rumah, berjemur sama Chaca agar mendapat udara segar. Budhe Nur biasanya juga ikut duduk untuk berjemur juga. Katanya dengan berjemur batuknya berkurang, Ia akan terbatuk-batuk kalau bangun tidur kedinginan. Mungkin Budhe Nur ini alergi dingin. Kita berdua biasanya ngobrol santai, tentang apa yg mau dimasak atau hal-hal obrolan sepele lainnya.

Didepan rumahku ada jalan desa yang memisahkan rumahku dengan rumah mbah Harso. Aku dan suami belum membuat pagar rumah, karena terkendala kebutuhan yang lain, baru ada tiang-tiang pagarnya. Di depan tiang pagar ada pembatas jalan berupa tembok semen. Biasanya digunakan ibu-ibu untuk duduk dipinggiran jalan sambil mengobrol.

Saat aku asyik mengobrol sama Budhe Nur ada mobil pick up berhenti di depan rumah Mbah Harso. Mobil itu membawa 2 kasur busa dan 1 almari serta beberapa perabot rumah tangga lainnya seperti kompor, piring, gelas, dll.

Terlihat Mbah Harso keluar dari mobil bersama sopirnya. "Lagi berjemur ibu-ibu..." sapa Mbah Harso ramah.

"Njih.. mbah..." jawab kami bebarengan.

"Sudah mau ditinggali mbah rumahnya?" tanya budhe Nur.

"Iya, tadi subuh anakku baru datang dari Bandung beserta anak dan istrinya, rencananya mulai hari ini mau ditempati. Itu dia udah datang," ujar Mbah Harso sambil menunjuk ke arah barat, dimana terlihat mbah Karni--istrinya Mbah Harso sedang berjalan ketempat kemari berada, dia ga sendirian bersama 5 orang lainnya. Itu pasti mas Basuki dan keluarganya. Terlihat mereka membawa tas besar-besar. Mungkin isinya baju-baju dan peralatan lainnya yang di bawa pulang dari Bandung.

"Assalamu'alaykum..." Mbah Karni menyapa kami.

"Walaykumsalam..mbah.."

"Kenalin Mbak.. Ini Basuki dan istrinya, Niken."

Aku dan Budhe Nur menjabat tangan Basuki dan Niken secara bergantian sambil memperkenalkan nama.

"Akila ini istrinya Farrel, cucunya mbah Kromo. Mungkin kamu masih ingat," tanya mbah Karni pada Basuki.

"Oh..cucunya mbah Kromo," gumamnya. "Bu, aku bantu bapak angkat kasurnya dulu ya." Ujar mas Basuki seraya beranjak ke halaman rumahnya.

Ternyata mas Basuki dan istrinya memiliki 2 putra dan 1 putri. Putra pertama katanya kelas 2 SMP, yang kedua masih kelas 5 SD, dan yang terakhir putrinya baru berumur 5 tahun.

Ku lihat mbak Niken lebih banyak diam. Mungkin ini lingkungan baru baginya atau mungkin masih kecapekan jadi dia lebih banyak diam. Ia hanya terbengong memandangi rumah yang akan ditempati itu.

Mbah Harso, mas Basuki dan supir mobil sudah menggangkat kedua kasur dan almari itu kedalam rumah.

Aku dan budhe Nur juga ikut ke teras rumah mbah Harso, karena mbah Karni yang mengajak kami. Sekalian kami bantu-bantu membawakan tas serta perabot-perabot yang ada di mobil pick up. Chaca masih tenang dalam gendonganku. Dia anaknya ga rewelan diajak kemana-mana.

"Mah... kok lantainya masih tanah sih," tanya anak kedua mbak Niken.

Saat ini kami sedang duduk di teras rumah mereka. Duduk diatas kursi dari beberapa bambu yang digabungkan jadi satu.

"Iya sih mas, masih berdebu," ucap mbak Niken sambil mencebilkan bibir.

Aku dan budhe Nur hanya saling berpandangan mendengar penuturan mbak Niken tadi. Padahal disana masih ada Mbah Harso dan Mbah Karni.

"Sabar ya Dito, nanti kalau bapak sudah dapat kerjaan kita perbaiki rumahnya," ucap mas Basuki bijak.

"Iya, Dito.. Do'ain moga bapakmu cepat dapat kerja." tambah mbah Karni.

"Tapi di Bandung tempat tinggal kita keramik loh, nek..." tukas Dito.

"Di Bandung lantainya keramik tapi itu bukan rumah kita, setiap bulan kita harus bayar. Kalau tidak bayar kita bakal diusir dari rumah itu.

sedangkan kalau disini walaupun masih sederhana, ini rumah kita. Ga perlu bayar dan tidak takut diusir." mas Basuki mencoba memberi pengertian ke anak-anaknya itu.

"Aku mau istirahat dulu mas, capek!" mbak Niken masuk ke dalam kamar dan mengajak putri kecilnya untuk ikut masuk ke dalam rumah.

Muka mbak Niken kenapa terlihat seperti marah ya, apa perasaanku saja.

Aku dan budhe Nur Akhirnya pamit pulang karena masih ada beberapa pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Begitupun Mbah Harso dan Mbah Karni mereka juga pulang nebeng naik mobil pick yang tadi.

Pyarr...

Saat aku hendak menutup pintu dapur terdengar suara seperti gelas atau ntah apa yang terbuat dari kaca pecah.

"Rumah seperti kandang kambing!!!" terdengar samar-sama suara perempuan berteriak dari arah rumah mas Basuki.

Apa yang berteriak itu mbak Niken? Kenapa ya?

Aku menggeleng lemah, mungkin anaknya yang memecahkan gelas. Aku langsung menutup pintu dapur. Chacha juga sudah mengantuk, ini waktunya dia untuk tidur siang.

Tbc

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status