Share

Bab 6

"Nggak, Mas. Makasih. Mas atur sendiri saja nanti, aku tinggal masak." Aku menunjukkan senyum termanisku.

Mendengar jawabanku tentu membuat kening Mas Rudi berkerut.

"Serius nggak mau?" Binar kebahagiaan terpancar dengan jelas pada wajah itu.

Ah, emang benar-benar langka suamiku yang satu ini. Kupikir ia akan membujukku agar menerima uang pemberiannya, akan tetapi di luar prediksiku.

Aku menganggukkan kepala dengan yakin, tak lupa pula kutunjukkan senyum termanisku walau sebenarnya gemas sekali pada lelaki itu. Ingin kuuyel-uyel, kubejek-bejek kepalanya hingga menjadi bentuk persegi panjang.

"Oh, oke." Mas Rudi memasukkan kembali uang seratus lima puluh ribu itu ke dalam dompetnya.

Terlihat gurat kelegaan terpancar dari wajah itu.

Lihat saja, Mas, setelah ini kamu akan pusing sendiri mikirin kebutuhan dapur dan sumur.

****

Siang ini aku merebahkan tubuhku di depan televisi sembari menyalakan kipas angin. Kali ini aku bisa bertingkah sesuka hatiku. Bagaimana tidak, ibu mertua yang selalu memantau setiap aktivitasku kini tak ada di sini lagi.

Ya, ibu mertua sudah pergi ke anak pertamanya. Sedangkan Mas Rudi masih di tempatnya bekerja.

Saat perutku terasa lapar, bergegas aku pergi ke dapur. Memindahkan satu porsi nasi dan juga lauk ke dalam piringku.

Sudah menjadi kebiasaanku makan menu yang sama di setiap jam makan.

Ya, aku hanya masak sekali setiap hari. Itu dijadikan tiga kali makan, untuk aku, Mas Rudi dan juga ibu mertuaku.

Sebenarnya aku bosan makan menu yang sama sehari tiga kali, tapi apa boleh buat, keadaan yang memaksaku untuk menerima semuanya ini.

****

Alarm di ponselku berbunyi, dengan kedua kelopak mata yang terpejam aku meraba-raba guna mencari keberadaan benda pipih milikku, sedikit kedua kelopak mataku hingga aku bisa melihat saat ini sudah pukul setengah lima.

Cepat kumatikan bunyi alarm lalu aku mulai membersihkan tubuh, berwudhu lalu mengerjakan kewajibanku sebagai seorang umat muslim.

"Mas, bangun ...." Aku menggoyang-goyangkan tubuh Mas Rudi yang masih tertidur pulas.

"Mas! Bangun, dong!" Sedikit kutinggikan nada suaraku.

Mas Rudi hanya menggeliat pelan lalu kembali terdiam dengan kedua mata yang masih terpejam.

"Mas!"

"Apa sih, Nik? Aku masih ngantuk, ganggu orang tidur saja sih!" sungut Mas Rudi.

"Udah jam lima, waktunya belanja, Mas! Beli beras sama sayur, Mas. Nanti keburu kesiangan loh!"

Mas Rudi tak memperdulikan ucapanku. Lelaki itu masih terpejam. Yang ada malah kudengar napasnya yang teratur, pertanda ia kembali terlelap.

Cepat kutarik tangan Mas Rudi, hingga membuat tubuh itu sedikit terangkat.

Lelaki itu mendes*h pelan.

Saat kedua kelopak mata itu terbuka, kulempaskan tangan Mas Rudi. Ia keluarkan helaan napas berat.

"Ada apa sih? Masih jam lima loh ...," ucapnya setelah melihat ke arah jam yang menggantung di dinding.

"Waktunya belanja, Mas. Kalau nanti, keburu kesiangan. Kamu mau berangkat kerja dengan perut kosong?" ucapku.

"Buruan ke kamar mandi, sholat. Habis gitu belanja."

Mas Rudi bangkit lalu beringsut dari ranjang. Lelaki itu melangkah dengan terseok-seok menuju keluar kamar.

Kuhenyakkan tubuhku di tepi ranjang, setelahnya kubuka laci meja yang ada di samping ranjang. Kuambil secarik kertas yang sudah kusiapkan semalam. Kertas yang satu lembarnya sudah kusobek menjadi empat bagian dan akan kugunakan untuk mencatat barang belanjaan yang perlu dibeli oleh Mas Rudi.

Tak banyak yang kutulis, sebab sengaja untuk lima hari ke depan akan kubuat menu sesederhana mungkin untuk menekan pengeluaran. Bukan tanpa alasan, aku hanya ingin membuat Mas Rudi merasa baik-baik saja dalam mengatur uang belanja seratus lima puluh ribu untuk lima hari ke depan.

Setelah itu?

Ah! Lihat saja nanti!

"Mas, mau menu apa hari ini?" tanyaku setelah Mas Rudi sudah kembali ke kamar dan sedang menyisir rambutnya.

"Terserah kamu saja. Oh ya, ibu nggak ada jadi kurangin porsi masaknya."

Aku hanya menganggukkan kepala.

"Bikin sayur bayam sama bakwan jagung saja ya, Mas," usulku yang hanya dibalas dengan anggukan.

Bergegas kutambah daftar bahan yang harus dibeli suamiku.

"Beras sekilo, bayam dua ikat, jagung isi tiga sebanyak dua plastik, daun seledri dua ribu, cabe sama tomat? Ini aja?" tanya Mas Rudi memastikan setelah kuberikan secarik kertas itu. Aku menganggukkan kepala.

"Oke."

"Di warung Mbak Jumilah, Mas. Di sana lengkap."

Mas Rudi melangkah keluar kamar hingga beberapa menit kemudian terdengar suara mesin motor berbunyi.

Sembari menunggu kedatangan suamiku, aku menyiapkan bumbu untuk kuolah, hingga belasan menit kemudian Mas Rudi muncul dengan satu kantong kresek penuh tertenteng di tangannya.

"Ini," ucap Mas Rudi dengan singkat sembari meletakkan barang belanjaannya di depanku.

"Oke, makasih, Mas." Kuhadiahi lelaki itu dengan senyuman.

"Aku tadi beli sekilo beras hanya sepuluh ribu, bayam dua ikat tiga ribu, jagung dua bungkus enam ribu, seledri dua ribu, cabe sama tomat lima ribu. Total belanjaannya nggak sampek tiga puluh ribu. Kalau sehari tiga puluh ribu, sebulan hanya sembilan ratus ribu. Masih sisa dong seharusnya, ini kok kamu malah tiap akhir bulan ngeluh uang habis sih, Nik?"

Aku yang sedang mengulek bumbu untuk membuat bakwan jagung seketika terhenti, aku menatap ke arah Mas Rudi. Kuhela napas dalam-dalam lalu kukeluarkan secara perlahan.

Sabar!

Sabar!

Sabar!

Jangan sampai aku emosi lalu kupuk*l kepala lelaki itu biar otaknya kembali ke tempat semula.

Ingin sekali aku berkata kasar. Apa kebutuhan rumah hanya menyangkut beras dan lauknya saja? Apa dia pikir mencuci tak pakai sabun, apa dia pikir gosok gigi menggunakan pasir?

Arrghh!

Aku semakin dibuat gemas sekali oleh suamiku.

"Mungkin kamu belanjanya sambil beli jajan kan, Nik? Makanya uang cepet habis."

Aku melanjutkan pekerjaanku. Sengaja aku tak menjawab atau berdebat soal masalah seperti itu.

Biarlah ia tau soal semua kebutuhan rumah setelah ia menerima gaji.

Aku yakin, jika dia yang mengatur semuanya, bisa kupastikan jika semua uang yang dia terima akan habis tak bersisa.

"Masih jam enam, aku mau tidur dulu. Ngantuk!"

Mas Rudi berlalu pergi, bergegas aku mulai mengolah menu makanan yang sudah kukatakan tadi. Yaitu sayur bayam, sambal tomat dan juga bakwan jagung.

Setelah kuhidangkan menu itu di meja makan, kubungkuskan sekalian seporsi makanan untuk makan siang Mas Rudi di tempat kerja.

****

Aku duduk di sofa ruang tamu dengan punggung bersandar. Aku yang sedang mengetik kelanjutan karya tulisku seketika terhenti.

Aku mengerutkan kening saat ada panggilan masuk.

Nomor Mbak Reni terpampang sebagai pemanggilnya.

"Ah, ada apa Mbak Reni menghubungiku? Tidak biasanya langsung telepon gitu aja, biasanya kirim pesan dulu, menanyakan sibuk atau enggak, baru ia menelponku." Tak kunjung kuangkat panggilan itu, aku hanya menatap pada layar ponsel milikku itu.

Karena rasa penasaran sebab Mbak Reni yang beberapa minggu terakhir tak menghubungiku, kini tiba-tiba menelponku, akhirnya kuangkat panggilan itu.

"Halo, Mbak. Assalamualaikum ...." Aku membuka percakapan begitu sambungan telepon terhubung.

"Waalaikumsalam, Nik. Kamu lagi ngapain? Lagi sibuk, nggak?" tanya Mbak Reni yang membuatku semakin bingung.

"Enggak, Mbak. Lagi santai saja. Ada apa ya, Mbak?"

"Hm, Nik. Maaf sebelumnya, bukan bermaksud apa-apa. Apa boleh Mbak bertanya sesuatu padamu?"

Seketika jantung seperti berdegup lebih kencang. Sepertinya ada sesuatu hal yang begitu penting. Benar-ubenar tak biasanya.

Iya, Mbak. Tanyakan saja," sahutku.

"Begini, Nik. Apa benar kalau kamu ...."

Bersambung ya.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sarti Patimuan
Jangan bilang mertua ngadu kepada kakak iparnya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status