Share

3 : Lupa Membayar

Dari pagi hingga sore, Irene hanya tergolek dikasurnya. Setelah tadi malam ia menangis berjam-jam lamanya hingga matanya bengkak. Hari ini ia memutuskan absen dari kantor dan memilih untuk istirahat total. Karena, ia tidak yakin akan fokus dengan pekerjaannya jika ia tetap memilih untuk hadir di kantor. 

Matahari yang tadinya dari Barat, kini sudah menuju ke arah timur. Kelopak mata Irene pelan-pelan terbuka. Matanya masih sedikit bengkak. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku. Ia berusaha bangun untuk duduk dipinggir kasur. Dia meraih HP yang ada di atas meja, lalu melihat jam yang ditampilkan. Jam menunjukkan pukul 16.00. Dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Pasalnya ia belum mandi sama sekali dari tadi malam.

Irene merasa plong seusai mandi. Ia menyisir rambut dengan tenang. Namun, matanya kosong. Ia masih merasakan sedih dan kecewa. Tiba-tiba ia tersadarkan sesuatu. Ia lupa membayar makanan di cafe "Love Latte" !!

Dengan terburu-buru, setelah berganti baju dan lain-lain, Irene keluar dari apatemennya untuk menghentikan taxi. Sopir taxi bergegas menjalankan mobilnya menuju tujuan Irene.

Suasana di Cafe Love Latte sedang ramai-ramainya. Alex sibuk menangani pesanan dari pembeli. Di dapur, Rey dengan cekatan meracik kopi pesanan pembeli.

"Rey" Alex berbisik tepat ditelinga Rey.

Rey sedikit tersentak. Alex menyenggol-nyengol bahu Rey. "Gimana lo sama Ana? Ada perkembangan?"

Rey mengernyit. "Belum ada apa-apa. Gue masih bingung" jawab Rey sambil terus menyiapkan kopi.

"Kenapa bingung? Lo udah setahun suka sama dia. Masa gak ada progress sama sekali sih?" Alex terus mencerca Rey dengan ribuan pertanyaan.

Rey menghela nafas pendek, "Gak tau.... Gue ngerasa... Ana belum mau pacaran. Dia-"

Belum sempat Rey melanjutkan, tiba-tiba Alex sedikit berteriak. "Woi cewe yang tadi malem!" 

Rey terkejut dan bertanya siapa yang dimaksud Alex. Alex menunjuk kursi yang sedang diduduki seorang perempuan cantik. Ya, dia Irene.

Tanpa basa-basi Alex bergegas ke tempat Irene untuk mencatat pesanannya. Rey yang melihat tingkat laku Alex hanya bisa menggelengkan kepala. 

"Mau pesan apa kak?" Alex menanyakan pesanan Irene. 

Irene langsung menjawab, "ah, saya gak mau pesan... Cuma mau bayar pesanan saya yang tadi malam. Masnya inget sama saya gak?"

Alex langsung saja menjawab, "oh ya inget dong kak" 

Sambil mengeluarkan uang dari dompetnya, Irene mengatakan, "maaf ya udah menyusahkan"

Alex tak langsung mengambilnya, melainkan berkata, "sebentar kak, yang membayar kemarin bukan saya, tapi teman saya. Sebentar saya panggilin dulu ya kak". Irene mengangguk.

"REY!" Panggil Alex dengan suara lantang.

Rey yang mendengar panggilan Alex langsung menoleh ke sumber suara. Alex melambaikan tangannya beberapa kali sebagai bahasa tubuh agar Rey segera bergegas ke arahnya. Rey langsung berlari ke arahnya. 

Alex menjelaskan pada Rey mengenai tujuan Irene. Mata Rey beralih ke Irene. Langsung saja Irene menyodorkan uang pada Rey, namun ia tolak dengan halus dan berkata bahwa dia ikhlas. Irene yang merasa tidak enak, berusaha membujuk Rey agar menerima uangnya.

Alex yang sedari tadi melihat pemandangan tersebut, langsung menengahi, "Begini aja kak, gimana kalau kakak mentraktir kita berdua saja di tempat lain, jadi lunas deh" Alex tersenyum riang. Rey yang mendengarnya langsung kaget dan menyenggol tangan Alex. Daripada berlama-lama, Irene langsung mengiyakan

"Kita selesainya 30 menit lagi kak. Kakak tunggu saja disini" Kata Alex.

Irene menjawab dengan oke.

Irene melihat-lihat pemandangan di luar cafe melalui jendela. Tiba-tiba rintik hujan terjatuh dari langit. Dia memandangi rintik-rintik hujan dari titik awal jatuhnya. Sehingga kepalanya mendongak. Sejuknya udara hujan sore itu membelai pipi Irene. Membuat fikiran berantakannya kian lama kian meluruh. Rasanya lega namun juga menyakitkan. Pasalnya, memori kesakitan kala mendengar penjelasan David secara langsung tadi malam dan juga kehadiran wanita yang akan menjadi calon pengantin mantan kekasihnya itu terus berputar-putar di kepala. Luka di hatinya bukan karna ia membenci kekasihnya, namun karena cintanya yang tak bisa pergi. Perlahan bulir air menumpuk di pelupuk matanya. Sedetik saja matanya mengedip, bulir itu akan langsung terjatuh. 

"Kak?"

Panggilan dari Rey membuat Irene tersentak dan mengedipkan matanya. Bulir air itupun tertetes jatuh. 

Rey yang melihat air mata Irene sedikit terkejut. Namun, Rey berpura-pura seakan tidak melihatnya. 

"Ini kopi paling recommended disini" ucap Rey

Irene membelakangi Rey untuk mengusap air mata di pipinya.

Irene berterima kasih dan menanyakan nama kopinya karena rasanya sangat enak. Rey mengatakan namanya "Love latte", seperti nama kafenya. Irene hanya mengangguk-angguk dan teringat bahwa kemarin ia memesan kopi ini untuk David. 

Melihat Irene yang melamun, entah kenapa mata Rey tak bisa beralih dari menatap wajah Irene. Ada suatu magnet yang membuat matanya terjaga menatap lekat Irene. Sedetik kemudian, Irene menatap balik Rey. Seketika Rey kelabakan dan mengalihkan matanya ke arah lain.

Rey melihat Irene tersenyum tipis dengan mata yang menatap lembut. Rey sedikit terpesona. Namun dengan cepat Rey mengedip-ngedipkan matanya untuk kembali fokus. Rey meminta izin pada Irene untuk kembali bekerja dan Irene menjawab dengan anggukan.

           Di dapur, ada Alex yang sedang bersedekap tangan. Senyumnya tipis dan matanya menyipit. Ketika Rey sampai didekatnya, Alex membisikan sesuatu yang membuat pupil mata Rey melebar.

"Ana nungguin di luar"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status