Share

2 : Apa Kelebihan Wanita Itu?

      Air mata Irene sudah berada di ujung. Kepala Irene menunduk. Saat mendongak lagi, pandangannya telah terhalangi oleh sosok David. Ibu David terkaget dan menyuruh David untuk tidak usah menghiraukan keberadaan Irene. Namun David bersikeras menemui Irene untuk menjelaskan semuanya. Akhirnya ibunya mengiyakan dengan terpaksa.

          Di sebuah taman kota, Irene dan David saling berhadapan. Mata merah Irene tak hentinya menatap tajam pada mata David. Sesungguhnya Irene sedang bertanya secara tidak langsung padanya. Mulut Irene sudah tidak kuat mengucapkan sepatah kata. Akhirnya David menghela nafas dan menunduk. Mengucapkan kata-kata rumit yang menusuk relung hati Irene. "Maaf"

Dinding hati Irene akhirnya roboh. Tidak. Sebenarnya sudah ambruk sedari awal ia melihat sosok wanita diruang tamu tadi.

"Untuk apa?" Tanya Irene datar.

David menghela nafas panjang, "Apa perlu kujelaskan?" 

Irene menatap David dengan tatapan tak percaya dan mendesis "Bajingan"

Mata Irene beralih dari David ke kursi taman di depannya. Irene bertanya dengan susah payah, "Dari kapan?"

Kali ini David menghela nafas dengan berat. "Kenapa kamu bertanya itu?".

David menjeda sebentar. "Itu hanya akan semakin menyakitimu"

Bom dalam kepala Irene telah meledak. Ia geram segeram geramnya. "LALU KENAPA KAU LAKUKAN INI PADAKU??!"

Amarah Irene telah memuncak. Mata merahnya meluruhkan hujan air mata yang kian lama kian deras. "APA PEDULIMU?! AKU SUDAH SANGAT SAKIT! HUBUNGAN KITA SUDAH 5 TAHUN, BAGAIMANA BISA AKU TIDAK TERLUKA HAH?!" Emosi Irene sudah tak terkendali.

Mata David melebar. Ia terdiam dan merasa bersalah. Pelan-pelan ia mendekati Irene.

"JANGAN DEKATI AKU!" Cegah Irene. Namun David terus mendekat hingga tangannya dapat meraih bahu Irene. Kemudian dirangkulnya tubuh Irene itu yang lebih pendek darinya. "Maaf..." Lirih David.

Dalam sedetik Irene sudah terlena dengan perlakuan lembut David. Namun, segera ia tersadar akan luka besar dalam hatinya.

"Maaf? Bajingan! Kenapa?" Irene dengan terbata-bata memaki David. Tangisannya pecah, "Kenapa kau begitu kejam... Apa salahku?" Irene merintih dalam tangisnya. Bagaimana bisa David hanya mengatakan maaf? Apakah hubungannya dengan Irene sebatas kata-kata manis? Dan bagaimana dengan semua kenangan indah bersama yang telah mereka buat? Apakah tak berarti apa-apa untuk David?

Dengan sekuat tenaga Irene mendorong dada David untuk melepaskan diri dari rangkulannya. Mata Irene menatap dalam dan menusuk pada David. Banyak hal yang ingin Irene tanyakan pada kekasihnya itu. Namun, hanya satu kalimat yang terlontar, "Apakah dia?" Tanya Irene merujuk pada wanita berambut sebahu di rumah David. David hanya menjawab dengan anggukan. Mata Irene terus menatap lekat sepasang mata David. semakin kesal, Irene bertanya lagi, "apa kelebihannya?"

Helaan nafas frustasi keluar dari bibir David, "Rene... Jangan buat dirimu sendiri terluka"

"Plak!!"

Mata David membelalak. Dengan memegang pipinya yang merah, David beralih menghadap Irene. Matanya meminta penjelasan kenapa Irene menamparnya.

Irene sudah kehilangan kata-kata. Ia tak mengira kalau kekasih yang selama ini ia percaya, cintai dan hormati ternyata adalah seorang pengecut yang tak dapat menyelesaikan masalah penting seperti ini.  "Dasar sampah!" Setelah mengumpati David, Irene melenggang pergi meninggalkan David yang hanya bisa menunduk pasrah.

David tak bisa mengelak, pun dia tak punya hak untuk menghalangi Irene yang marah atau pergi. Yang ia tahu, hati Irene telah pecah berkeping-keping. Dan penyebabnya adalah dia.

Irene telah sampai di apartemennya. Langsung saja Irene membanting tasnya ke kasur. Melepas semua pakaiannya dengan kasar. Pelan-pelan ia melepas high heelsnya. Memandangi high heels tersebut dengan mata berkaca-kaca. High heels itu adalah hadiah ulang tahun Irene yang ke 26 tahun dari David untuknya. Irene menatap tajam high heels itu, kemudian dengan kasar ia lemparkan sepatu itu ke arah kaca hingga kaca tersebut sedikit pecah. Irene menunduk. Suaranya tercekat. Dadanya berdegup kencang menahan luapan tangis yang tak terucapkan. Bahu Irene melorot bersamaan dengan badannya yang terjatuh. Dia menangis sejadi-jadinya. Berteriak dengan lantang. "Bajingan!!!"

BERSAMBUNG

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status