Share

REFUSE THE DUKE'S CHARM
REFUSE THE DUKE'S CHARM
Penulis: Dindin Thabita

PROLOG

Kekaisaran Agrynnor menguasai hampir seluruh Benua Kaiadia, merampas negara-negara, suku dan bangsa yang tersebar dalam penaklukan besar-besaran dan menjadikan milik imperium Agrynnor. Kaisar Agrynnor berdiri kokoh dengan lambang kekaisaran dan tak pernah berhenti sekalipun menaklukkan daratan. Ia didukung oleh faksi bangsawan dan pasukan militer terkuat. Berada di atas tahta yang direbutnya dari tangan ayahnya sendiri, Kaisar Agrynnor, Zenith Galeas Agrynnor, bertindak kejam atas tanah dan wilayah yang ingin dimilikinya. Ia menggerakkan pedang kekuasaannya pada pasukannya dan tak lelah mengeskpansi tiap wilayah yang ditargetkannya.

            Kaisar Agrynnor memiliki empat keluarga besar yang menyokong kekuasaannya hingga dikenal sebagai empat pilar Agrynnor. Duke Adorien, Marquess Briratrem, Count Etheralin dan Earl Lardoviel merupakan satu kesatuan kekaisaran Agrynnor. Secara turun temurun, Kaisar Agrynnor memberikan kekuasaan penuh pada empat keluarga besar tersebut. Salah satunya adalah empat wilayah kekuasaan yang menjadi milik mereka secara penuh. Adorien, Briratrem, Etheralin, dan Lardoviel.

            Wilayah kekuasaan atau duchy terbesar adalah Adorien. Keluarga Adorien menguasai wilayah terbesar, kekuatan militer terkuat di kekaisaran, namun merupakan wilayah yang memiliki musim dingin lebih panjang dari pada musim panas.

            Gelar Duke of Adorien kini diemban oleh Eras Valentine Adorien yang menjadi kepala keluarga di usia muda. Ia mengepalai administrasi dan pengadilan di wilayahnya sekaligus panglima perang kekaisaran Agrynnor. Eras dijuluki Dewa Kematian Agrynnor dan jasanyalah yang membuat Kekaisaran Agrynnor semakin luas dan besar. Kaisar Agrynnor menyerahkan pasukan kekaisaran untuk dipimpin langsung oleh Eras ke medan perang dan melakukan ekspansi habis-habisan.

            Gelar Duke tak hanya menjadi kepala keluarga namun juga pada suatu wilayah. Tugas yang diemban sejak usia muda membuat Duke of Adorien berwajah kaku dan tegas. Ia bertubuh besar dan tinggi. Tegap dan tampan. Rahangnya kokoh dan kedua bahunya lebar. Pedang lambang keluarganya selalu berada di sabuk, terikat kokoh di lingkar pinggangnya yang ramping. Rambutnya berwarna hitam pekat dengan sepasang mata merah. Itulah ciri khas seorang keturunan Duke dari Adorien. Konon leluhur Adorien telah membuat kesepakatan dengan iblis yang menjadikan mata mereka semerah darah.

Duke Adorien sosok yang dingin dan kejam. Ia tak memiliki hati nurani saat menebas kepala lawannya di medan perang, penguasa wilayah terluas serta pemilik sihir musim dingin yang tanpa ampun.

            Kaisar Agrynnor menatap Duke Adorien yang berlutut di hadapannya dan berkata tenang sambil menggerakkan tangannya. “Jangan bersikap sopan padaku, Duke. Bukankah biasanya kau kurang ajar jika kupanggil?” kaisar tersenyum miring melihat bagaimana tubuh yang besar dibungkus mantel berat itu perlahan berdiri tegak.

            Eras menyipitkan sebelah matanya dan menatap wajah sang Kaisar. Zenith Galeas Agrynnor, usia sang Kaisar tak jauh beda dengannya. Kaisar yang dulunya dianggap sebagai pangeran kegelapan, melakukan pemberontakan dan merebut tahta dari ayahnya sendiri. Tahta berdarah yang membawa Zenith menduduki posisinya dan mulai memperluas daratan yang dipimpinnya.

            Kaisar mengetuk ujung jarinya dan memajukan tubuhnya ke depan. “Kau tahu alasanku memanggilmu, Eras?”

            “Saya menjunjung tinggi matahari kekaisaran, Yang Mulia Kaisar Agrynnor.” Eras meletakkan sebelah tangannya ke depan dadanya, membungkuk sedikit dengan sopan. “Apakah ini ada kaitannya dengan ekspansi selanjutnya?”

            Kaisar bertepuk tangan dan tertawa senang. “Ah! Kau selalu tahu keinginanku.” Ia menoleh ke kanan, ke arah perdana menterinya. “Berikan catatanku pada Duke Adorien.”

            Eras menerima gulungan yang diyakininya adalah sebuah peta. Ia membuka benda itu dan melihat tanda-tanda silang di setiap wilayah yang negara-negaranya telah ditaklukkan. Kini ada tanda bulatan kecil di sudut peta, negara terakhir yang menjadi target Kaisar.

            “Lovec?” Eras mengangkat mukanya, jelas ada kerutan di dahinya dan sepasang alisnya yang tebal dan hitam itu membentuk tak percaya. “Bukankah mereka selalu mengirim upeti? Kupikir negara ini akan anda abaikan.”

            Kaisar menegak minumannya dengan tenang. Ia menatap Eras dengan sepasang matanya yang berwarna keemasan. “Lovec harus menjadi milik Agrynnor. Tak ada satupun yang luput untuk menjadi milikku. Jika terus dibiarkan, negara kecil bisa saja bergerak menyerang Agrynnor kapan saja dan aku tak mau hal itu terjadi.”

            Yang benar saja? Pikir Eras. Lovec tak pernah menunjukkan gejolak. Negara kecil itu secara teratur mengirim upeti bahkan ada bebarapa gadis bangsawan Lovec mendiami istana selir.

            “Dewa Kematian Agrynnor tak boleh menolak mangsa empuk kali ini.” Suara tenang Kaisar tepat berada di dekat Eras, membuat sang Duke segera menekuk sebelah lututnya dan berkata tegas.

            “Saya akan menerima tugas Yang Mulia Kaisar.” Ia melihat sebelah tangan Kaisar bergerak, menarik pedang Eras dari sarungnya dan meletakkan ujung pedang itu di pundak kanan Eras.

            “Kuberikan kekuasaan padamu Duke Arodien. Taklukkan Lovec dan kembalilah dengan kemenangan seperti biasanya.” Kaisar menurunkan titah secara langsung kepada Eras.

            Eras menunduk dalam. “Saya menjunjung matahari Kekaisaran Agrynnor. Yang Mulia Kaisar Zenith Galeas Agrynnor.”

            Kaisar Agrynnor tertawa puas. Ia meminta Eras berdiri dan mengembalikan pedang sang Duke. “Mau minum bersamaku, Duke?”

            Duke Adorien tersenyum tipis. “Tidak untuk kali ini Yang Mulia. Saya akan mempersiapkan pasukan.”

****

            Suara derap kaki kuda pasukan kekaisaran menyerbu gerbang negara Lovec. Panji-panji kekaisaran Agrynnor berkibar bersamaan serbuan yang tak diduga tersebut. Panah-panah berapi meluncur tanpa ampun, pasukan negara Lovec melakukan serangan balasan. Namun tak ada yang bisa melawan pasukan kekaisaran Agrynnor. Apalagi jika melihat siapa yang berada di garis terdepan.

Duke Adorien bersama jubah perangnya, duduk tegak diatas kuda perang berwarna hitam. Ia bergerak cepat bagai iblis, pedangnya menebas tanpa ampun. Tatapannya hanya terpusat pada satu titik, istana Lovec. Ia dan pasukannya harus menerobos istana, mendapatkan raja dan semua keturunannya tanpa tersisa. Suara-suara kematian berada di belakangnya, kobaran api dan teriakan meminta ampun sama sekali tak menembus rasa ibanya. Ia membabat pasukan istana seperti membabat rumput saja.

Percikan darah mengotori jubah, ujung pedangnya bahkan kaki-kaki kudanya yang berhasil menginjak musuh. Eras berteriak keras sebagai aba-aba bagi pasukannya. “Serbu gerbang istananya!”

Sorakan para pasukan membahana di udara malam itu. Derap langkah kaki kuda terdengar memekakkan telinga. Lovec berwarna kemerahan. Pertahanan pasukan sudah hampir habis.

“Lindungi Raja! Lindungi Ratu! Lindungi para puteri!”

Namun teriakan-teriakan itu satu persatu menghilang, berganti suara tenggorokan yang memancarkan darah. Eras turun dari kudanya, mengangkat pedangnya tinggi, “Ke ruang singgasana! Habisi tanpa sisa!”

****

“Ayah! Pasukan kita kalah!” para puteri dan dayang bersuara panik, mereka berada menjadi satu di kamar raja yang luas, mendengar suara-suara pasukan musuh yang bersorak menerobos istana.

Raja Lovec meminta Ratu dan para puteri untuk tidak panik. “Tenanglah.” Ia mendengar suara-suara yang mendekati kamarnya. “Masuklah kalian ke ruang rahasia di bawah meja…” sang Raja hendak mendorong istri dan anak-anaknya saat pintu kamarnya telah terbuka lebar.

“Raja. Kita bertemu cukup cepat.”

Raja Lovec mendorong semua keluarganya. “Cepatlah pergi!” namun apa yang terjadi selanjutnya adalah percikan darah yang mengenai gaun tidur sang Ratu.

Teriakan histeris memilukan dan ketakutan terjadi di dalam kamar itu. Eras bergeming. Ia menggerakkan pedangnya dan ingin ini segera selesai. Darah dari ujung pedangnya menetes di lantai kamar dan ia mengembuskan napasnya. Ia akan menarik pasukannya.

“Yang Mulia, gadis ini hampir saja kabur ke ruang bawah tanah.”

Eras menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat seorang gadis berlutut di antara tumpukan mayat ayah, ibu dan saudara-saudaranya. “Kau tak bisa membunuhnya sendirian?” Eras menegur dengan dingin pada salah satu ksatrianya.

“Gadis kecil ini melawan Yang Mulia Duke.”

Menarik, pikir Eras. Ia mendekat, menggerakkan ujung pedangnya tepat di depan dagu wajah yang tertunduk itu, mengangkat wajah itu dan berkata datar. “Kau tak takut mati, gadis kecil?”

Gadis berambut perak dan bermata biru jernih itu membalas tatapan Eras. “Saya bukan gadis kecil! Dan saya tidak takut mati!”

Eras mendengar suara penuh tantangan dari sang puteri. Tentu saja ia adalah salah satu puteri dari Raja Lovec yang malang. Eras tidak suka dengan sinar mata penuh keberanian dari puteri itu dan dengan geram menggerakkan pedangnya hendak membunuh keturunan terakhir sang Raja.

Tiba-tiba sebuah lingkaran sihir melingkupi tubuh sang puteri. Lingkaran berwarna putih itu menyerang pergelangan tangan Eras dan jika ia tidak mengerahkan sihir musim dinginnya untuk melindungi serangan sihir itu, Eras yakin, walau tak sampai melumpuhkannya, dalam beberapa menit tangannya akan terasa kaku. Ia menarik pedangnya dan menghancurkan perlindungan sihir sang puteri.

Percikan air menyentuh wajah Eras dan semua ksatria yang mengepung puteri berambut perak itu. Untuk sejenak, Eras merasa menemukan lawan tangguh. “Siapa kau?” tanyanya kasar, berlutut dan mencengkram dagu gadis itu.

Tanpa gentar, gadis itu menatap tanpa berkedip sepasang mata merah yang menatapnya dengan beringas. “Iris.” Iris mencengkram erat-erat ujung gaun tidurnya. “Iris Odeya Laromannor.”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status