Share

MALAM PERTAMA DENGAN CALON IPAR

Mentari tersenyum penuh kemenangan, sore itu Rembulan memintanya untuk mengantarkan  makanan kesukaan Aldo ke apartemen lelaki itu. Hal itu jelas saja memudahkan rencananya untuk menjebak Aldo. 

"Hai Mas, aku diminta Bulan untuk membawakan makanan ini. Katanya, ini masakan kesukaan Mas. Mama sendiri yang memasaknya," kata Mentari saat Aldo membukakan pintu. Lelaki tampan itu baru saja pulang. 

"Aku kira tadi Bulan, kalian ini memang sangat mirip, ya." 

"Boleh aku masuk?" tanya Mentari. 

"Tentu saja, ayo masuklah. Kita juga tidak pernah bicara banyak sebelumnya. Ayo masuklah ... aku juga sedang tidak ingin makan sendiri."

Dengan luwes, Mentari menyiapkan makanan yang telah ia bawa dari rumah. Tadi, mamanya memang memasak makanan itu. Tetapi, karena saudari kembarnya itu sedang dalam masa pingitan, tentu saja dia tidak boleh keluar rumah dan menemui calon suaminya. Kata orang Jawa itu pamali. 

Aldo yang baru selesai mandi harus menelan salivanya saat melihat makanan kesukaannya terhidang di meja makan. 

"Wah, ini makanan kesukaan aku semua. Tante Ayu yang membuatnya?" tanya lelaki itu.

"Iya, ini semua mama yang membuatnya. Tentu dibantu oleh calon istrimu," kata Mentari sambil menyendokkan nasi ke piring Aldo.

"Kamu nggak makan?" tanya Aldo. 

"Nggak, aku udah kenyang. Aku temani saja, ya. Tadi sebelum ke sini, aku sudah makan bersama papa dan mama," jawab Mentari sambil tersenyum.

Aldo pun makan dengan sangat lahap tanpa ia sadari jika di dalam makanan itu sudah dicampur dengan sesuatu yang akan merusak kehidupannya ke depan. 

 **

 "Siapa kau?Kenapa kau bisa tidur di kamar ini?!" seru Aldo saat melihat seorang gadis berambut panjang tidur di sampingnya. Sementara gadis yang sedang tertidur itupun langsung terbangun saat mendengar teriakan Aldo. Namun, berbeda dengan reaksi Aldo, gadis itu justru membalikkan tubuhnya dengan santai dan tersenyum manis.

“Bu-Bulan?Ka-Kamu?

“Stt ... duh, Aldo sayang setelah apa yang kita lakukan semalam kamu masih tidak bisa membedakan kami? Lihat ini, ada tanda lahir di leherku. Aku Mentari, Sayang. Dan kamu semalam sangat luar biasa sekali. Aku sampai tidak merasakan sakit sama sekali di malam pertama kita.”

"Kau sudah tidak waras Tari?!"hardik Aldo sambil buru-buru mengenakan pakaiannya yang berserakan di lantai.

"Kenapa jadi aku?!Kamu yang semalam tiba-tiba  mencium dan memelukku lalu kamu juga sudah mengambil makhkota keperawananku!" seru Mentari.

"Ka-kau masih virgin?" tanya Aldo pada Mentari. Dan segera ia menyadari bahwa pertanyaannya itu salah karena mata Mentari langsung melotot seolah ingin menelannya.

Gadis itu langsung meradang, "Kau pikir aku wanita murahan yang suka mengobral tubuhku ke sana ke sini? Aku memang seorang artis tapi aku tidak pernah menjual tubuhku.”

Aldo meremas rambutnya, tanpa sengaja ia melihat noda darah di atas sprei. Ia yakin sekali jika itu adalah-

“Aku akan menikah dua hari lagi dengan Bulan, kamu gila Tari!” serunya putus asa.Ia berusaha mengingat apa yang sudah terjadi semalam.

“Iya ... aku memang sudah gila, Sayang,” kata Mentari sambil melemparkan selimut yang menutupi tubuhnya yang polos.

Aldo meraih selimut yang dilemparkan oleh Mentari dan menutupi tubuh Mentari.

"Maaf kalau pertanyaanku menyinggung perasaanmu, tapi apa yang kita lakukan adalah kesalahan, Mentari," kata Aldo lirih. Sungguh ia menyesali apa yang sudah terjadi.

“Kamu yakin tidak ingin menikmati tubuhku lagi?Semalam kamu begitu memujaku ... ya meski yang kamu panggil adalah Bulan. Tapi, permainanmu luar biasa,” kata Mentari.

Aldo berusaha untuk bangkit tetapi Mentari dengan cepat menaiki tubuh Aldo dan mencium, bibir lelaki itu.

Aldo memang tidak pernah mencintai Mentari, meski wajah gadis itu bak pinang dibelah dua dengan Rembulan tapi tetap saja ia mencintai Rembulan. Tapi, Aldo hanya lelaki biasa yang lemah. Seperti kucing jika disodori ikan segar tentu tidak akan menolak. Apa lagi jika ikan segar itu begitu pintar memainkan emosi dan nafsunya.

Dan apa yang seharusnya tidak terjadi pun kembali terjadi lagi. Bahkan Aldo dengan penuh nafsu menggumuli tubuh indah Mentari dan mencapai puncaknya bersama.

“Maafkan aku, Tari. Tidak seharusnya ini semua terjadi. Semalam aku tidak tau apa yang membuatku khilaf,” kata Aldo sambil merengkuh tubuh Mentari dalam pelukannya.

Mentari menyembunyikan senyum kepuasaan dalam pelukan Aldo. Ya, semalam ia memang mencampurkan obat perangsang ke dalam makanan yang ia bawa.

“Aku akan bertanggung jawab, Tari.”

“Dengan menikahi Aku?”

“Ya tentu saja. Lalu apa lagi?”

“Tidak! Kau nikahi saja Rembulan.”

“Tapi-“

“Sttt ....”

Dengan cepat Mentari membungkam bibir Aldo dengan kehangatan bibirnya.

“Aku masih akan menjadi milikmu meski kamu menikah dengan Rembulan. Tidak ada seorang pun yang tahu hal ini. Karirku juga akan hancur jika media tau aku merebut calon suami saudaraku sendiri,” kata Mentari.

“Maafkan Aku, Tari.”

“Aku tidak menyesal. Sebenarnya sejak pertama kali aku sudah jatuh cinta kepadamu, Vin. Hanya saja kamu lebih memilih Rembulan. Jadi, sebagai kakak aku rela mengalah.”

**

Masyarakat adat Jawa di Indonesia, punya rangkaian prosesi pernikahan yang terdiri dari beberapa tahap. Salah satu tahapan tersebut adalah prosesi Midodareni, yang dilakukan sebelum pernikahan tiba. Karena kebetulan keluarga Rembulan dan Aldo memiliki darah Jawa, maka menjalani prosesi Midodareni adalah hal yang wajib di lakukan.

Midodareni berasal dari kata widodari atau bidadari yang turun dari langit. Prosesi ini dilakukan setelah mempelai melakukan upacara siraman, yang merupakan tahap pembersihan bagi kedua calon pengantin sebelum hari sakral pernikahan.

Tradisi Midodareni berasal dari legenda Jaka Tarub dan Nawangwulan. Konon dari cerita tersebut, para bidadari datang ke bumi menyambangi calon mempelai wanita yang sedang berdiam diri di kamar menjelang malam pernikahan.

Masyarakat Jawa yang memegang tradisi ini percaya, ini adalah malam saat bidadari mempercantik calon pengantin wanita supaya lebih elok. Calon mempelai wanita tidak tidur dan didampingi oleh sanak keluarga serta pini sepuh.

Ia mendengarkan nasihat dari leluhur dan para tamu wanita tentang bagaimana menjalankan kehidupan rumah tangga. Prosesi ini juga berisi doa-doa pada Sang Pencipta untuk calon mempelai agar selalu diberi berkah, rahmat, serta kebahagiaan.

Ayunda hanya tertawa melihat Rembulan yang sedikit merengut.

"Kenapa sih, Ma aku nggak boleh ketemu Aldo? Udah di pinggit juga, loh," protes Rembulan.

"Ya ampuun, Rembulan sayang. Besok itu sudah pernikahan, kau tidak sabaran sekali sih."

"Aku sudah bosan, Ma. Tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh ke mana-mana. Padahal, biasanya aku bisa sesuka hatiku mau ke mana pun. Dan juga tidak bisa bekerja,” jawab Rembulan.

"Ikuti saja prosesnya Bulan sayang. Nanti malam, kita akan ke hotel setelah acara midodareni ini selesai. Kamar pengantinmu sudah siap di hotel. Bahkan perias pengantin sudah ada di sana," kata Ayunda.

Rembulan mengembuskan napasnya perlahan. Sebenarnya, ia merasa sedikit senewen karena tegang dan berdebar-debar.

“Ma, semua sudah berjalan sesuai dengan rencana, kan? Dua hari aku bahkan tidak bisa menghubungi Mas Aldo. Apa dia tidak apa-apa?”

“Bulan, nggak usah lebay. Yang penting kan semua sudah berjalan sampai dengan sejauh ini,” celetuk Mentari yang memang sedang berada di kamar. Mendengar hal itu Ayunda langsung mendelik.

“Nggak usah bicara yang aneh-aneh, Tari,” tegur Ayunda.

“Aku nggak bicara aneh-aneh, Ma. Hanya tidak bisa dihubungi saja ribet. Besok kan kalian juga menikah,” jawab Mentari ketus. Ayunda baru saja hendak membuka suara tetapi Rembulan dengan cepat menyentuh tangan sang ibu dan menggelengkan kepalanya perlahan. Ia tidak ingin ada keributan di malam yang sakral ini.

Mentari hanya berdecak dan kemudian melangkah keluar kamar. Sementara Ayunda hanya bisa menghela napas panjang.

“Heran ... anak itu kenapa adatnya menyebalkan sekali. Beda jauh denganmu dan kakakmu Buana.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status